NovelToon NovelToon
Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Taipan Abadi: Kebangkitan Menantu Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Arya, seorang pewaris sekte abadi yang dikhianati dan kehilangan kekuatannya, terperangkap dalam tubuh seorang "menantu benalu" yang dihina oleh keluarga istrinya di kota metropolitan modern. Dengan ingatan masa lalu dan sisa kekuatan spiritualnya, ia harus membangun ulang fondasi kekuatannya, menaklukkan dunia bisnis, melindungi wanita yang ia cintai, dan perlahan mengungkap rahasia alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Darah di Menara Emerald dan Tarian Bulan Beku

​Langit sore Kota Emerald tampak keemasan saat matahari mulai turun ke ufuk barat. Di lantai 88 Menara Emerald, yang kini menjadi pusat kendali gabungan antara Emerald Group dan Grup Kusuma, kesibukan berjalan seperti biasa.

​Nadia duduk di balik meja kerja mahoni raksasa, meneliti laporan akuisisi lahan pelabuhan yang baru. Di pergelangan tangan kirinya, gelang perak bermotif sisik naga memantulkan cahaya senja dengan pendar yang sangat lembut. Sejak pagi tadi, ia merasa energi di tubuhnya terus mengalir tanpa henti, membuatnya tidak merasa lelah sedikit pun meski telah bekerja belasan jam.

​Di ruang keamanan lantai dasar, Han Shixiong sedang memantau layar CCTV bersama kepala keamanan barunya. Sejak insiden Sekte Pedang Awan, Han telah melipatgandakan jumlah personel elit yang berjaga.

​Namun, sistem keamanan tercanggih di dunia fana tidak pernah dirancang untuk menghentikan iblis.

​KRAAAK!

​Pintu kaca putar raksasa di lobi depan tiba-tiba meledak menjadi serpihan debu tanpa ada yang menyentuhnya. Alarm berbunyi memekakkan telinga.

​Dari balik debu kaca yang berterbangan, tiga sosok berjubah hitam melangkah masuk dengan santai. Sirius, Orion, dan Vega. Kehadiran mereka membawa hawa kematian yang begitu pekat hingga beberapa resepsionis wanita langsung jatuh pingsan hanya karena mencium bau anyir darah yang menguar dari jubah Sirius.

​"Tamu tak diundang! Angkat senjata!" teriak komandan jaga. Tiga puluh penjaga elit bersenjata senapan serbu langsung mengepung lobi, moncong senjata diarahkan tepat ke kepala ketiga penyusup itu.

​"Manusia Timur yang menyedihkan," Orion tertawa parau dari balik tudung jubahnya. Ia mengangkat tongkat besinya dan mengetukkannya ringan ke lantai marmer.

​DUM!

​Gelombang kejut kasat mata meledak menyerupai riak air. Tiga puluh penjaga elit itu terhempas serentak seolah ditabrak kereta api tak kasat mata. Senapan mereka bengkok, dan tulang rusuk mereka patah berderak. Hanya dalam hitungan detik, lobi yang dijaga ketat itu berubah menjadi lautan tubuh yang mengerang kesakitan.

​Vega, sang Kesatria Bayangan, terkekeh mendesis. Tubuhnya tiba-tiba meleleh menjadi bayangan hitam di lantai, melesat dengan kecepatan peluru menuju lift VIP yang langsung terhubung ke lantai 88.

​Di ruang monitor, Han Shixiong membelalakkan matanya. Teror kembali mencengkeram jantungnya. "M-mereka bukan dari utara... Pakaian itu... Asosiasi Kuil Barat?!"

​Han segera menekan tombol darurat merah di mejanya. Pintu-pintu baja setebal sepuluh sentimeter langsung turun menutup setiap akses menuju lantai 88. "Evakuasi Nyonya Nadia sekarang juga! Aktifkan mode pertahanan mutlak!"

​Namun, pertahanan itu hanyalah kertas di hadapan Kesatria Kiamat.

​Di lantai 88, Nadia baru saja mendengar bunyi alarm ketika pintu ruang kerjanya tiba-tiba mendesis. Bayangan hitam merembes masuk melalui celah bawah pintu baja yang tertutup rapat, lalu perlahan bangkit dan membentuk sosok manusia berjubah, Vega.

​"Ratu Emerald, kurasa?" Vega mendesis, mata kuningnya menatap Nadia dengan tatapan predator. "Cukup cantik untuk seorang bidat. Saint pasti akan senang jika kami membawa kepalamu utuh."

​Sesaat kemudian, pintu baja tebal di belakang Vega meledak ke dalam. Sirius dan Orion melangkah masuk melewati puing-puing baja yang meleleh, disusul oleh Han Shixiong yang terlempar masuk dan berguling di atas karpet. Han memuntahkan darah, dadanya lõsuk akibat tendangan Orion.

​"Paman Han!" Nadia berseru panik, bergegas bangkit dari kursinya.

​Sirius, sang Kesatria Darah, mengangkat tangannya. Seutas energi merah pekat melesat dan melilit leher Han, mengangkat pria tua itu ke udara.

​"Jangan bergerak, Nyonya," ancam Sirius dingin. "Atau anjing peliharaan suamimu ini akan kehilangan kepalanya. Kami datang bukan untuk berbisnis. Hubungi suamimu, si 'Dewa Laut' itu. Suruh dia datang ke sini sekarang juga, dan serahkan pusaka dari pulau karang, atau aku akan mengulitimu perlahan dari ujung kaki."

​Nadia berdiri kaku. Tiga pria di depannya ini memancarkan aura pembunuh yang jauh lebih gelap dan lebih kejam daripada para tetua Sekte Pedang Awan. Namun, anehnya, Nadia tidak gemetar.

​Ia mengingat kata-kata Arya pagi ini: Kekuatan sejati bukan untuk menindas semut, tapi untuk memastikan bahwa kau tidak akan pernah lagi dipaksa menunduk.

​Nadia menarik napas panjang. Udara di sekelilingnya mendadak turun beberapa derajat.

​"Kalian membuat lantai kantorku kotor," ucap Nadia dengan nada yang sangat dingin, meniru ketenangan absolut suaminya.

​Orion tertawa terbahak-bahak. "Oh, lihat! Semut betina ini mencoba menggonggong! Biar aku yang mematahkan kakinya!"

​Orion melangkah maju, tangannya yang besar terulur untuk mencengkeram rambut Nadia.

​Pada detik itu juga, Nadia menjentikkan pergelangan tangan kirinya. Gelang perak bermotif naga itu memancarkan cahaya yang membutakan.

​TRANG!

​Dalam sekejap mata, sebilah pedang kristal es yang memancarkan kabut dingin abadi muncul di genggaman Nadia. Tanpa ragu, Nadia mengalirkan Qi dari tahap pertama Kondensasi-nya dan mengayunkan Bulan Beku ke arah tangan Orion yang terulur.

​CRASSH!

​"AAARRRGGHH!"

​Jeritan melengking yang bukan berasal dari Nadia, melainkan dari Orion, bergema di ruangan itu. Tangan kanan sang Kesatria Penghakiman terputus sebatas siku. Darah yang menyembur dari lukanya seketika membeku menjadi serpihan es merah sebelum sempat mengenai karpet.

​Sirius dan Vega membelalakkan mata, mundur selangkah karena terkejut. Tangan Orion, yang telah diperkuat dengan sihir Kuil hingga sekeras baja, dipotong semudah memotong mentega oleh seorang wanita fana!

​"S-Senjata Spiritual Tingkat Tinggi?!" Sirius berseru, menatap pedang di tangan Nadia dengan keserakahan yang meledak. "Bukan, itu adalah pusaka dari Baja Bintang! Bagaimana mungkin wanita fana sepertimu memiliki Qi untuk mengendalikannya?!"

​Nadia tidak menjawab. Wajahnya pucat karena ini adalah pertama kalinya ia melukai seseorang, namun matanya memancarkan tekad baja. Suhu ruangan kini berada di bawah titik beku. Ia berdiri memegang pedangnya, melindungi Han Shixiong yang terbatuk di belakangnya.

​"Sialan! Beraninya kau, pelacur!" raung Orion, matanya merah karena rasa sakit dan penghinaan. Ia menggunakan tangan kirinya untuk mengangkat tongkat besinya, bersiap menghancurkan kepala Nadia.

​"Tunggu, Orion!" Sirius berteriak, menyadari fluktuasi energi aneh dari pedang itu.

​Namun Orion sudah diliputi amarah. Ia menghantamkan tongkatnya dengan kekuatan penuh yang bisa meruntuhkan gedung.

​Nadia mengangkat pedangnya untuk menangkis, bersiap menerima benturan yang mungkin akan menghancurkan tulang tangannya karena perbedaan kekuatan murni mereka.

​Namun, tongkat besi itu tidak pernah menyentuh pedang Nadia.

​BLAM!

​Tongkat baja seberat ratusan kilogram itu mendadak berhenti di udara, hanya satu inci di atas ujung pedang Nadia. Di sana, entah sejak kapan, dua jari—telunjuk dan jari tengah—telah menjepit ujung tongkat raksasa tersebut dengan sangat santai.

​Suhu ruangan yang tadinya beku karena Bulan Beku, mendadak berubah menjadi neraka es yang sesungguhnya. Tekanan spiritual absolut meledak, membuat kaca-kaca gedung di seluruh lantai 88 hancur serentak menjadi debu.

​Sebuah suara yang sangat tenang, namun memuat niat membunuh yang cukup untuk memusnahkan sebuah negara, terdengar mengalun di telinga ketiga Kesatria Kiamat.

​"Kau memanggil istriku dengan sebutan apa tadi, babi kotor?"

​Di samping Nadia, berdiri sosok Arya. Matanya memancarkan cahaya emas murni yang menyala dalam kemurkaan.

1
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update
Sofian Dzikrul Hidayah
kpn update nya
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
mlh gx update
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
up thor
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Sofian Dzikrul Hidayah
up
Sofian Dzikrul Hidayah
lnjut thor
Dirman Ha
ih gk
Dirman Ha
hbk
Dirman Ha
hv gb bn
Dirman Ha
jg gb BBM
Dirman Ha
ig di
Dirman Ha
jg CV
Dirman Ha
ih gb np
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!