Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 3
Matahari mulai turun, membiarkan semburat jingga terpantul di permukaan sungai kecil yang mengalir tenang di depanku.
Di parkiran kampus tadi, Dhea dan Diva sudah pamit duluan karena ada urusan mendadak. Biasanya kami pulang bersama tapi hari ini aku justru merasa lega bisa sendiri. Aku butuh ruang. Aku butuh menjauh dari bayang-bayang rumah, meski hanya sebentar.
Aku melajukan motor matic-ku dengan pelan, membiarkan angin sore menerpa wajah, hingga akhirnya aku tiba di taman pinggir sungai ini. Ini adalah tempat rahasiaku. Setiap kali kepalaku terlalu bising oleh teriakan di rumah, atau dadaku terlalu sesak oleh beban yang tak sanggup kuceritakan, aku akan duduk di sini.
Aku duduk di salah satu bangku kayu yang menghadap ke air. Aku melamun, menatap riak sungai yang seolah membawa pergi sedikit demi sedikit lelahku. Masalahku terlalu banyak, terlalu rumit untuk diurai dengan kata-kata. Aku hanya ingin diam.
Sampai tiba-tiba... sebuah sentuhan mendarat di pundakku.
"Hana?"
Aku tersentak hebat.
Tubuhku menegang seketika jantungku berdegup kencang seolah baru saja ditarik paksa dari kedalaman air. Aku menoleh dengan tatapan waspada, napasku memburu refleks pertahanan diri yang selalu muncul setiap kali ada yang menyentuhku tanpa aba-aba.
Namun, ketakutan itu perlahan surut saat mataku menangkap sosok tinggi yang berdiri di belakangku.
"Tomi?" suaraku sedikit bergetar.
Tomi tampak terkejut melihat reaksiku yang berlebihan. Ia langsung menarik tangannya kembali, wajahnya memancarkan rasa bersalah yang tulus.
"Eh, sori... sori banget, Hana. Aku nggak maksud buat kagetin kamu."
Ia berjalan memutar dan berdiri di samping bangku, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara cemas dan ingin tahu.
"Tadi aku nggak sengaja lihat motor kamu di parkiran taman, jadi aku mampir. Kamu... kamu nggak apa-apa?"
Aku berusaha menenangkan detak jantungku, meremas jemariku sendiri untuk menyembunyikan getaran kecil di sana.
"Nggak apa-apa. Cuma... kaget aja."
Tomi tidak langsung pergi. Ia justru menunjuk ujung bangku yang masih kosong dengan isyarat mata. "Boleh aku duduk sebentar? Atau kamu lagi pengen sendiri?"
"Boleh, duduk aja," ucapku pelan, sambil menggeser dudukku sedikit untuk memberinya ruang.
Tomi duduk dengan jarak yang cukup sopan, tidak terlalu dekat hingga membuatku merasa terintimidasi.
"Hana, sekali lagi aku minta maaf ya. Aku benar-benar nggak sengaja kagetin kamu tadi. Tapi, kok kamu malah ke sini? Nggak langsung pulang?"
tanyanya sambil menatap aliran sungai di depan kami.
Aku memaksakan tawa kecil untuk menutupi kegugupanku.
"Eh, nggak apa-apa kok. Pulang kok, cuma... lagi pengen di sini aja. Lagi suntuk banget mikirin tugas kampus, hehehe," jawabku berbohong.
Aku belum siap membagi beban tentang rumah kepada orang yang baru kukenal beberapa jam.
Tomi mengangguk-angguk ia sepertinya tahu aku sedang menyembunyikan sesuatu, tapi ia cukup baik untuk tidak mendesak.
"Oh, jadi kamu tipe yang suka tempat tenang kayak gini ya kalau lagi pusing?"
"Hehe, iya," jawabku dengan senyum canggung.
Sejenak kami terdiam. Hanya ada suara gesekan daun dan aliran air. Suasananya mendadak terasa kikuk bagiku.
"Hana, nggak usah secanggung itu sama aku," ucap Tomi tiba-tiba, membuatku menoleh. Ia tersenyum sangat tulus tipe senyum yang membuat matanya ikut mengecil.
"Anggap aja aku teman lama yang kebetulan ketemu di sini. Aku bukan tipe orang yang bakal nanya macem-macem kalau kamu emang nggak mau cerita. Kita bisa duduk diam aja kalau itu yang kamu butuhin."
Mendengar itu, bahuku yang tadinya tegang perlahan mulai rileks. Kami pun mulai mengobrol hal-hal ringan tentang kopi kesukaannya, tentang betapa macetnya Kota S, sampai hal-hal konyol yang terjadi di kelas tadi. Tomi punya cara bicara yang menenangkan seolah dia adalah peredam suara bagi bisingnya pikiranku.
Tanpa terasa, langit sudah berubah menjadi oranye gelap. Jarum jam di pergelangan tanganku sudah menunjuk angka lima sore.
"Wah, udah jam lima lewat," ucapku sambil berdiri.
"Aku harus balik sekarang."
Tomi ikut berdiri, ia membersihkan celananya dari debu.
"Eh, iya ya. Keasyikan ngobrol sampai lupa waktu Kamu hati-hati ya di jalan. Jangan bengong terus pas naik motor."
"Iya, Tom. Makasih ya udah nemenin," jawabku tulus.
"Sama-sama, Han. Sampai ketemu besok di kelas."
Aku menghidupkan mesin motor dan mulai melaju. Di sepanjang jalan, perasaanku campur aduk. Ada sedikit sisa kehangatan dari obrolan tadi, tapi semakin dekat dengan pagar rumah, rasa malas itu kembali menyergap. Rumah bagiku adalah medan perang, dan aku tidak pernah tahu senjata apa yang akan menyambutku di dalam.
Aku mematikan mesin motor di depan teras. Sunyi.
Saat aku melangkah masuk, tidak ada suara teriakan atau barang pecah. Rumah terasa sepi dan dingin seperti bangunan tak berpenghuni. Hanya ada Bi Inah yang sedang mengelap meja di ruang makan.
"Eh, Non Hana baru pulang?" sapa Bi Inah lembut.
"Iya, Bi. Papa sama Mama mana?" tanyaku sambil meletakkan tas.
"Bapak belum pulang, Non. Kalau Ibu... tadi habis marah-marah terus pergi lagi, katanya ada urusan," jawab Bi Inah dengan nada prihatin yang sudah biasa kudengar.
Aku hanya mengangguk pelan. Sepi ini memang lebih baik daripada keributan, tapi entah kenapa, sepi ini juga terasa sangat menyesakkan. Aku berjalan menuju kamar, mengunci pintu dan kembali masuk ke dalam "ruang" yang paling kukenal kesendirian.