NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 – Satu Kota, Dua Jadwal

 

Alya tiba di Jakarta saat hujan baru belajar turun dengan serius—gerimis yang cukup membuat jaketnya lembap di bahu, aspal mengeluarkan bau bensin lama, dan pengemudi ojek di depan hotel menyalakan rokok seolah itu cara memanggil matahari. Hotelnya bersih, kaku, berkaca, tepat untuk proyek audit yang menuntut rapi. Tim lokal menyambutnya hangat, tapi tetap: ia _expat lead_ yang datang untuk memeriksa. Tiga hari pertama ia habiskan di ruang rapat ber-AC dingin dengan PowerPoint yang bergerak lambat, makan siang di kantin dengan ayam goreng yang rasanya sama persis tiap hari, dan malam-malam di kamar menulis ringkasan serta mengirim pesan ke Arka: _sehat?_, _sampai mana?_, _kangen_. Balasan Arka konsisten: _sehat_, _lagi call_, _nanti telepon_. Tak ada yang salah. Tak ada yang utuh.

Jumat sore Arka memberi kabar: ia akan mendarat Sabtu subuh untuk urusan Sydney yang dipindah ke Jakarta—investor minta tatap muka. “Kebetulan?” tanya Alya lewat telepon. “Kita selalu kebetulan,” jawab Arka. Mereka janji Sabtu, lalu Sabtu pagi Arka panggil dengan suara serak: investor menggeser jadwal ke siang. Alya mengangguk sendiri di kamar, menulis di jurnal: *Satu kota, dua jadwal.* Ia mengetik balasan: _Jam tujuh malam?_ Arka: _Oke. Maaf, Al._

Kafe di Menteng, meja bundar dekat jendela. Mereka bertemu jam 19.28. Tiga minggu terpisah, tapi tidak ada slow-motion: Arka datang dengan kemeja yang sudah lecek di punggung, Alya dengan tas laptop yang membuat satu bahunya lebih rendah. They order: kopi tubruk panas untuk Alya, es kopi susu untuk Arka, air putih dua gelas yang tidak akan habis. “Kamu kurusan,” kata Arka. “Kamu juga,” jawab Alya. Tawa singkat, lalu jeda—bukan jeda dramatis, tapi jeda sibuk orang yang lelah, seperti dua ponsel lelet menunggu sinyal.

Percakapan dimulai logistik. Penerbangan Arka besok subuh, presentasi Alya Senin pagi, tanaman di apartemen Melbourne yang kemungkinan besar sudah mati, dan paket sabun kayu putih yang belum dibongkar. Di sela-sela, mereka menyentuh hal lain: investor Arka meminta pivot, tim Alya mewaspadainya sebagai “jakarta office” yang perfeksionis. Ada keluhan kecil yang saling mengintip. Alya menahan daftar yang memalukan: ia rindu didengar, bukan dijawab; ia capek jadi orang yang selalu mengerti; ia jengkel pada komitmen yang mereka buat sendiri. Arka tampak menahan daftar sendiri: lelah membuktikan diri, takut gagal dalam diam, cemas bahwa mereka terlalu sopan untuk bertengkar.

Pada satu jeda, Arka berkata: “Maaf soal Arka.” Alya mengernyit. “Maaf soal apa?” “Maaf kita tes janji di minggu-minggu pertama. Harusnya kita tes pas lomba lari, bukan pas jam kerja beda benua.” Alya tertawa—legit kali ini—dan Arka mengangkat tangan: “Jangan ‘kamu nggak salah’, aku tahu aku salah di _timing_.” Alya membalas: “Aku juga. Tadi siang aku marah sama direktur keuangan cuma karena dia minta revisi format tabel—padahal sebenarnya aku marah karena kamu tidak di dapur waktu aku pulang.” Pengakuan-pengakuan kecil itu melonggarkan ketegangan, membuat mereka cukup jujur untuk diam bersama tanpa mengisi dengan logistik.

Mereka pulang naik mobil berbeda; kafe tutup, pelayan mengingatkan sejak lima menit lalu. Di mobil, Alya mengetik dan menghapus pesan tiga kali: _makasih sudah datang_, _besok hati-hati aku…_; akhirnya ia kirim: _Sampai Melbourne._ Arka membalas:

_Sampai Melbourne_—bukan _sampai apartemen_, karena apartemen itu milik dua orang yang sedang belajar cara pulang lewat huruf.

Malam di kamar hotel, Alya menelepon. Arka mengangkat di nada pertama. Tak ada laporan;

ia hanya ingin mendengar napas. Arka bercerita soal pivot investor, jeda di kalimatnya mengizinkan Alya mendengar kelelahan yang ia simpan siang tadi. “Aku takut mengecewakan,” kata Arka. “Bohong kalau aku bilang aku nggak takut hal yang sama,” jawab Alya.

Lama mereka diem, lalu Arka bilang mau tidur. Alya mematikan lampu, menulis satu baris di jurnal: _Komitmen beratnya di hari biasa, bukan di hari luar biasa. izinnn bang

1
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!