NovelToon NovelToon
Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Mantan Suamiku Ternyata Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyelamat / Dokter Ajaib
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.

Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.

Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.

Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Investasi

Othan mengetuk meja, menarik perhatian semua orang.

“Semuanya, aku punya kabar baik buat kalian. Karimi Pharmaceuticals sedang berencana menambah jumlah pemegang saham, jadi saat ini kami membuka kesempatan untuk investor baru. Ada yang tertarik?”

“Investor baru?” Semua orang langsung tertarik.

Karimi Pharmaceuticals adalah perusahaan besar di industri farmasi dengan jumlah saham yang sangat terbatas. Itulah sebabnya pengumuman Othan membuat semua orang di meja terkejut.

“Bukannya perusahaan kalian sudah berjalan sangat baik, Pak Karimi? Kenapa tiba tiba membuka kesempatan seperti ini?” tanya Tiffany penasaran.

“Tentu saja bisnis kami berjalan baik. Kami hanya berencana membawa perusahaan ini ke bursa saham. Seperti yang kalian tahu, perusahaan kami tidak kekurangan talenta ataupun kemampuan bersaing. Pembukaan saham ini hanya untuk menambah dana agar kami bisa memberi bonus besar untuk karyawan musim ini,” jelas Othan sambil tersenyum. “Pengumuman ini belum kami umumkan ke publik, dan jumlahnya terbatas. Kalau ada yang tertarik, aku bisa sisakan beberapa slot buat kalian.”

Ucapan itu langsung membuat semua orang tertarik. Berinvestasi di Karimi Pharmaceuticals jelas berpotensi menghasilkan keuntungan besar.

“Hitung aku juga, Pak Karimi! aku punya 84 M buat investasi!” seru Rorry bersemangat.

“135 M dari aku!” Sarrah ikut menyahut.

Othan tersenyum puas. “Baik, dua slot untuk kalian.”

“Hey, aku juga mau ambil saham! aku punya 50 M!”

“80 … 80 M dari aku. Itu semua tabungan seumur hidup aku!”

Keluarga itu langsung saling berebut bicara. Mereka khawatir tidak kebagian saham. Benar benar contoh mental ikut ikutan.

“Kalau kamu gimana, Tiffany? Mau ambil berapa saham?” Othan menoleh ke arahnya. “Karena hubungan kita, aku bisa kasih tambahan slot buat kamu.”

“Aku .…” Tiffany berpikir sejenak.

Dia sudah belajar banyak selama membangun kariernya sampai sekarang. Karena itu dia tahu, keputusan bisnis tidak boleh dibuat berdasarkan perasaan pribadi.

“kamu gak percaya sama aku, Tiffany? aku kasih kesempatan ini karena kamu penting buat aku. Tapi kalau kamu gak mau juga gak apa apa. Masih banyak orang lain yang mau ambil saham ini,” kata Othan santai.

“Bukan begitu maksud aku. Cuma sebentar lagi aku juga akan jadi pemegang saham di perusahaan keluarga Wiraningrat, jadi aku harus lebih hati hati mengatur dana aku,” jelas Tiffany.

“Sekarang kamu punya berapa dana?”

“gak banyak. Paling 170 M.”

“Itu sudah lebih dari cukup! Jujur saja, buat kerja sama dengan keluarga Wiraningrat sebenarnya gak perlu dana sebesar itu. Kenapa gak sekalian investasi di perusahaan aku saja? Dividen kami setiap tahun sangat besar.”

“Dia benar, Tiffany. Ini kesempatan sekali seumur hidup!” seru Sarrah.

“Iya, Kak. kamu bisa percaya sama Pak Karimi. Dia sudah sering bantu kamu,” tambah Rorry.

“Kalau kamu percaya sama aku, Tiffany, investasikan uang kamu di perusahaan aku. Tapi kalau gak juga gak apa apa,” kata Othan akhirnya.

“Ba … baiklah.”

Setelah ragu beberapa saat, Tiffany akhirnya mengangguk. Dia melakukannya untuk membalas bantuan Othan selama ini. Lagi pula, Othan sudah mendesaknya berkali kali. Menolak sekarang justru terasa tidak sopan.

Lagipula, investasi ini juga tidak terlihat buruk.

Begitulah, 170 Miliar milik Tiffany pun langsung dijanjikan untuk Karimi Pharmaceuticals.

“Kalau kamu gimana, Hans? Mau beli saham juga?” tanya Othan tiba tiba dengan senyum sinis yang sama sekali tidak dia sembunyikan.

“Oh ya, 15 Miliar adalah minimal investasi. Kalau kamu punya uang sebanyak itu, kamu juga bisa coba cari untung besar.”

“Makasih, tapi gak perlu.”

“Heh, begitu ya? kamu gak tertarik? Atau … kamu memang gak punya uang segitu?” Othan tersenyum. “Gini saja. Demi Tiffany, aku kasih keringanan. Kalau kamu bisa keluarin 1 Miliar saja, aku kasih saham senilai 170 M buat kamu.”

Hans menjawab santai, “gak usah. aku gak tertarik sama perusahaan yang sebentar lagi bakal gulung tikar.”

Ucapan itu langsung membuat Othan terdiam.

“Apa yang kamu bilang?”

Othan terpaku, mengira dia salah dengar.

“aku bilang aku gak tertarik sama bisnis yang sebentar lagi bakal bangkrut,” ulang Hans.

“Bangkrut?”

Semua orang terlalu terkejut untuk langsung bereaksi.

“Berani beraninya kamu! Itu omong kosong!”

Othan memang kaget, tapi dia segera menyangkal. “Karimi Pharmaceuticals setiap hari menghasilkan keuntungan besar dan sedang berada di puncak kejayaan. Mana mungkin kami bangkrut? Jangan menyebarkan ketakutan!”

“Takut atau gak, cuma kamu yang tahu. Yang jelas, aku dengar Karimi Pharmaceuticals akan segera diselidiki karena menjual obat ilegal. Tinggal tunggu waktu sebelum perusahaan itu bangkrut,” kata Hans.

Kata kata itu benar benar mengejutkan.

“Obat palsu? Diselidiki?”

Sekarang semua orang semakin bingung.

Semua mata langsung tertuju pada Othan.

“Omong kosong! Semua itu omong kosong!”

“Hans, berhenti menyebarkan rumor. Karimi Pharmaceuticals adalah perusahaan yang taat hukum. Mana mungkin sampai diselidiki? aku bisa menuntut kamu karena pencemaran nama baik!” ancam Othan.

Meski ucapannya terdengar tegas, sebenarnya hatinya kacau.

Memang benar Karimi Pharmaceuticals sedang diselidiki dan kemungkinan besar akan bangkrut.

Itulah sebabnya dia berniat membawa perusahaan itu ke bursa saham untuk mengumpulkan dana sebelum kabur membawa uang.

Namun berita itu sudah ditekan agar tidak bocor.

Bagaimana Hans bisa tahu?

“Hans, omong kosong apa yang kamu bicarakan? Mana mungkin perusahaan sebesar Karimi Pharmaceuticals bisa bangkrut?” tegur Sarrah.

“Benar! Semua orang tahu perusahaan itu punya aset bagus dan sedang di puncak kesuksesan. Berhenti menyebarkan kebohongan!” tambah Rorry.

Jelas sekali mereka meragukan Hans. Bagaimanapun, keluarga Karimi sudah lama berdiri di Jakarta. Reputasi mereka juga selalu baik, jadi sulit dipercaya kalau perusahaan mereka punya masalah.

“Ini fakta. Karimi Pharmaceuticals sebentar lagi bakal bangkrut. Dan yang kalian sebut ‘penambahan modal dan ekspansi saham’ itu cuma akal akalan buat ngambil uang orang.”

Othan bahkan sampai menghubungi Torra untuk meminjam uang. Itu saja sudah cukup membuktikan bahwa perusahaan itu memang sedang diselidiki dan menuju kebangkrutan.

“Omong kosong! aku cuma mau bantu kalian karena kita dekat. Kalau kalian gak mau menerima tawaran aku juga gak masalah. Tapi berani beraninya kamu memfitnah aku seperti ini. Apa sebenarnya maksud kamu?” teriak Othan.

“Pak Rinaldi, kalau kamu gak bisa bantu kami ya sudah. Tapi kenapa harus bikin masalah saat Othan cuma ingin membantu? kamu benar benar licik!”

“Benar! Orang ini pasti memfitnah Othan karena iri!”

“Hans, kamu benar benar menjijikkan!”

Semua orang langsung ikut bersuara satu per satu.

Hans miskin, sementara Othan punya uang dan kekuasaan. Di antara mereka berdua, jelas mereka lebih memilih percaya pada Othan.

Hans hanya bisa mengerutkan kening melihat keributan itu. Dia tidak menyangka niat baiknya malah dibalas dengan reaksi seperti ini. Hal itu sekali lagi membuktikan bahwa orang tanpa uang atau kekuasaan tidak akan pernah dipercaya.

“Hans, kamu punya bukti kalau Karimi Pharmaceuticals bakal bangkrut?” tanya Tiffany tiba tiba.

Dia sudah menginvestasikan 135 M. Tentu saja dia harus berhati hati.

“aku gak punya bukti. Tapi apa yang aku bilang itu benar. Kalau kamu gak percaya, kamu bisa cek sendiri. Informasinya pasti bisa dilacak,” jawab Hans dingin.

Ekspresi Tiffany langsung menggelap.

Jadi maksudnya Hans hanya menebak?

Dia bahkan sempat menaruh harapan besar padanya. Ternyata semuanya hanya tuduhan tanpa dasar. Sepertinya ini hanya karena rasa iri yang berubah menjadi kebencian.

“Semuanya, karena Hans bilang aku penipu, lebih baik kita batalkan saja soal saham ini. Daripada nanti aku dibilang menipu kalian semua.”

Melihat situasi sudah tepat, Othan sengaja berpura pura seperti orang yang diperlakukan tidak adil.

Ucapan Othan membuat semua orang langsung gelisah.

Bagaimana mungkin mereka membuang kesempatan untuk menghasilkan banyak uang begitu saja?

"Othan, abaikan aja orang ini. Dia jelas iri sama kamu. Tapi kita gak. Kita semua percaya sama kamu!" Sarrah langsung menyatakan sikap.

"Benar! Othan, kamu udah janji soal saham itu ke kita. Jangan sampai kamu lupa!"

Yang lain langsung mengangguk setuju. Sambil bicara, mereka berbalik dan menatap Hans dengan tajam.

"Hans Rinaldi, jangan halangi kita buat cari uang! Kalau gak, aku gak bakal tinggal diam!"

"Iya! Kalau kamu masih mau ngomong omong kosong, mending pergi saja!"

Kerumunan itu terus berceloteh, saling menimpali satu sama lain. Dalam pandangan mereka, Hans sedang memfitnah Othan dan menghalangi mereka mendapatkan keuntungan. Niatnya jelas jahat.

"Kalian semua benar benar percaya sama Othan? gak ada satu pun yang pernah curiga kalau dia mungkin bohong?" tanya Hans sambil mengernyit.

"Itu bukan urusan kamu! Kita mau ngapain juga terserah!" Rorry menatapnya tajam.

"Benar! Bahkan kalau kita sampai ketipu pun, itu pilihan kita sendiri! gak ada hubungannya sama kamu! Sok ngurus banget!" Sarrah memandangnya dengan jijik.

Hans hanya menyeringai. Entah ia sedang menertawakan diri sendiri atau memang meremehkan mereka.

"Kalau kalian memang suka nyerahin uang kalian begitu saja, anggap aja aku gak pernah ngomong apa apa." Dia menggeleng pelan.

Susah menasihati orang orang keras kepala seperti mereka. Mata mereka sudah tertutup oleh uang. Tidak ada gunanya memperingatkan mereka lagi. Kalau dipaksa, dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

Bahkan diam diam dia menantikan bagaimana reaksi mereka saat sadar sudah ditipu.

"Kalau kamu gak punya sesuatu yang baik buat diucapkan, mending diam! Benar benar memalukan!" sembur Sarrah.

Kalau bukan karena Qorrim, dia sudah lama mengusir Hans.

"Sudahlah, ini cuma salah paham. Mungkin Hans salah dengar berita," kata Qorrim, mencoba menenangkan suasana.

"Iya, cuma salah paham."

Jeddah tersenyum lalu mengalihkan pembicaraan. "Oh iya, Tiffany. Tadi kamu bilang mau buka perusahaan bareng keluarga Wiraningrat. Gimana perkembangannya?"

"Aku sudah resmi jadi partner keluarga Wiraningrat dan kontraknya juga sudah ditandatangani. Perusahaan baru kami bakal resmi berdiri dua hari lagi. Waktu itu juga bakal ada acara pembukaan. Kalau kalian sempat, silakan datang," kata Tiffany sambil tersenyum.

Sejak awal, memang itu tujuannya bekerja sama dengan keluarga Wiraningrat.

"Serius? Wah keren! aku pasti datang!" jawab Jeddah dengan gembira.

"Tiffany, kita gak nyangka kamu bisa kerja sama dengan keluarga Wiraningrat. Mulai sekarang posisi kita di Jakarta pasti bakal lebih kuat," ujar Qorrim dengan lega.

"Othan banyak membantu dalam urusan ini. Kalau bukan karena dia yang mengatur semuanya, kami bahkan gak akan punya kesempatan bekerja sama dengan keluarga Wiraningrat," kata Tiffany sambil menoleh ke arah Qorrim.

"Pa, bukan cuma itu. Tadi waktu Bimbo coba cari masalah sama Tiffany, Othan langsung panggil Pak Palumbo buat bantu dia keluar dari situasi itu!" tambah Rorry.

"Oh ya? Kalau begitu Papa harus berterima kasih sama kamu, Othan." Rorry mengangkat gelasnya untuk bersulang.

"Gak apa apa. aku cuma bantu sedikit," jawab Othan sambil mengangkat gelasnya juga.

"Hebat juga kamu bisa manggil Pak Palumbo. Berarti pengaruh kamu besar. Tapi lucunya, masih ada orang yang gak tahu diri sampai berani bilang keluarga Karimi bakal bangkrut. Benar benar lelucon," kata Rorry dengan nada merendahkan.

Hans hanya menyesap anggurnya dengan tenang, seakan tidak mendengar apa apa.

Walaupun dia tahu kebenarannya, dia tidak tertarik menjelaskannya. Mereka tidak akan percaya. Nanti juga semuanya akan terbukti saat keluarga Karimi benar benar bangkrut.

Seiring minuman terus mengalir, suasana meja makan menjadi semakin santai.

Berbeda dengan Hans yang seakan tersisih, Othan justru menjadi pusat perhatian.

Semua orang mengelilinginya, menyapanya dengan hangat, dan tertawa lepas bersamanya.

Namun tidak satu pun dari keluarga Rasheed menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang tenggelam dalam masalah yang mereka ciptakan sendiri.

1
Sihol Siallagan
sehari cuman satu,
hmmm😔
Sihol Siallagan: maunya sehari 3 chapter loh🤭
total 3 replies
james malalantang
Ceritanya bagus tidak bertele-tele.
james malalantang
Mati kamu jaguar.
james malalantang
Orang sombong pasti kalah, beda dengan hans.
james malalantang
Mikael pasti merasakan ketakutan kalau sudah mengetahui kekuatan hans.
james malalantang
kesombongan dokter tirta mulai terlihat.
james malalantang
Bimbo orang baik seperti hans jangan di lawan.
james malalantang
Kemarahan bimbo tidak ada gunanya, karena hans orang benar.
james malalantang
Hans memang laki-laki perkasa.
james malalantang
Othan menunjukkan kesombongan di depan tifany, namun merasa gemetar melihat bodyguard danilo.🤣
james malalantang
Tifanny masih di tolong oleh hans, memang hans orang baik.
james malalantang
Hans memang pria idola bagi wanita terpandang.
james malalantang
Mantap
james malalantang
Mantap pembuktian dari hans.
james malalantang
Kasian kalung peninggalan ibunya.
james malalantang
mengecewakan saat HUT perkawinan mendapatkan surat cerai.🤣
sitanggang
kenapa gak SARIMI sekalian🤣🤣🤣
Piw Piw: awkwkwkwk sarimi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!