NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bulan madu kedua

Malam datang perlahan di pegunungan.

Udara menjadi lebih dingin.

Kami makan malam sederhana di villa.

Ashar bahkan mencoba memasak mie instan dengan gaya yang sangat serius.

Aku menatapnya sambil menahan tawa.

“Ashar.”

“Iya?”

“Kamu tahu mie instan tidak butuh teknik khusus kan?”

“Aku tahu.”

“Tapi kamu terlihat seperti sedang membuat ramen restoran.”

Dia tersenyum kecil.

“Aku ingin membuat kesan.”

Aku tertawa.

“Mie instan romantis.”

“Jangan meremehkan mie instan.”

Setelah makan malam, kami duduk di depan perapian.

Api kecil menyala hangat.

Ashar terlihat lebih santai.

Kami berbicara banyak malam itu.

Tentang masa kecil.

Tentang impian.

Tentang hal-hal yang belum pernah kami ceritakan.

“Aku sebenarnya selalu takut menikah,” kata Ashar tiba-tiba.

“Kenapa?”

“Aku tidak pernah punya contoh.”

Ia menatap api di perapian.

“Ayahku pergi ketika aku masih kecil.”

“Ibuku bekerja terus.”

“Aku belajar semuanya sendiri.”

Aku memegang tangannya.

“Kamu melakukan dengan sangat baik.”

Ia tersenyum kecil.

“Mungkin karena kamu sabar.”

Kami saling menatap.

Dan suasana di antara kami berubah lagi.

Lebih hangat.

Lebih dekat.

Ashar berdiri.

Lalu mengulurkan tangannya.

“Mala.”

“Iya?”

“Boleh aku mencoba lagi?”

Jantungku berdetak cepat.

Aku meletakkan tanganku di tangannya.

“Boleh.”

Kami masuk ke kamar.

Lampu kamar redup.

Ashar mendekat dengan langkah yang masih sedikit canggung.

Tetapi kali ini…

Ia tidak terlihat setakut sebelumnya.

Tangannya menyentuh pipiku.

“Aku mungkin masih kikuk,” katanya.

“Aku juga.”

Ia tertawa kecil.

“Itu membuatku merasa sedikit lebih baik.”

Kami berciuman lagi.

Lebih lama dari sebelumnya.

Lebih hangat.

Dan untuk pertama kalinya…

Ashar tidak langsung mundur ketika aku mendesah pelan.

Ia berhenti sejenak.

Menatapku.

“Kamu baik-baik saja?”

Aku mengangguk.

“Lebih dari baik.”

Ia menarik napas dalam.

Seperti seseorang yang akhirnya melompat dari tepi kolam.

Dan malam itu…

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah…

Aku merasa Ashar benar-benar mencoba melewati ketakutannya.

Kami akhirnya tertawa di tengah suasana yang terlalu tegang.

Karena Ashar tiba-tiba berkata dengan wajah serius:

“Aku lupa satu hal.”

“Apa?”

“Aku membaca bahwa suami harus menciptakan suasana romantis.”

“Lalu?”

“Aku lupa menyalakan lilin.”

Aku tertawa keras.

“Ashar!”

Ia terlihat malu.

“Aku terlalu fokus.”

Aku memeluknya sambil masih tertawa.

“Ashar… kamu lucu.”

Ia menghela napas.

“Aku tidak yakin itu pujian.”

“Itu pujian.”

Kami saling menatap lagi.

Dan untuk pertama kalinya…

Ketakutan yang selama ini berdiri di antara kami mulai terasa lebih kecil.

Seperti bayangan yang perlahan menghilang ketika lampu dinyalakan.

Malam itu belum sempurna.

Tetapi untuk pertama kalinya…

Aku merasa kami benar-benar bergerak maju.

Ashar mengangkat tangannya perlahan.

Menyentuh pipiku.

Sentuhan yang sangat lembut.

Seperti pertama kali.

Ia menciumku.

Ciuman yang pelan.

Tetapi lebih yakin dibanding sebelumnya.

Aku membalasnya.

Dan untuk beberapa detik, dunia terasa berhenti.

Tidak ada suara selain napas kami.

Tidak ada pikiran selain perasaan hangat yang perlahan mengalir.

Kami tertawa kecil ketika kepala kami sempat saling bertabrakan.

“Maaf,” kata Ashar cepat.

“Tidak apa-apa.”

“Kupikir aku terlalu cepat.”

“Tidak.”

Aku tersenyum.

“Kita cuma tidak sinkron.”

Ia mengangguk pelan.

“Kita perlu latihan.”

“Seperti menari?”

“Kurang lebih.”

Kami mencoba lagi.

Kali ini lebih hati-hati.

Dan perlahan kecanggungan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut.

Lebih hangat.

Ashar memelukku.

Pelukan yang sedikit canggung tetapi tulus.

Aku bisa merasakan detak jantungnya di dadaku.

Cepat.

Sangat cepat.

“Ashar,” bisikku.

“Hm?”

“Kamu gugup sekali.”

“Ya.”

Aku tertawa pelan.

“Kenapa jujur sekali?”

“Aku tidak pandai berbohong.”

Aku mengangkat wajahku dan menatapnya.

“Tidak apa-apa.”

Ia menarik napas panjang.

Seperti seseorang yang akhirnya memutuskan untuk melompat.

“Mala.”

“Iya?”

“Kalau aku terlihat bodoh… jangan tertawakan aku terlalu keras.”

Aku hampir tertawa lagi.

“Aku janji.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!