NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Us

---

Pukul 05.00 pagi, lampu dapur rumah nomor 11 menyala lebih dulu dari rumah mana pun di Griya Asri.

Endy—pria berusia 48 tahun dengan sedikit uban di pelipis dan senyum yang tak pernah luntur—sedang sibuk di dapur kecilnya. Gerakannya terukur, penuh kebiasaan yang sudah ia lakukan ribuan kali. Tangan kanannya menuang biji kopi ke dalam penggiling, tangan kirinya memanaskan air di kompor. Di sebelahnya, sebotol kecil berisi campuran rempah: kayu manis bubuk, sedikit kapulaga, dan sejumput cengkeh yang sudah dihaluskan.

Resep rahasia. Resep warisan mendiang ibunya.

"Endy... masih pagi banget..." suara Soo Young terdengar dari ambang pintu dapur. Wanita Korea itu berdiri dengan kimono tipis berwarna merah muda, rambut hitam panjangnya tergerai sedikit berantakan, mata masih sayu karena baru bangun.

Endy menoleh, tersenyum. "Bangunin kamu, ya? Maaf."

"Bukan kamu yang bangunin. Aku kedinginan, kamu nggak di samping." Soo Young mendekat, memeluk Endy dari belakang, menempelkan wajahnya di punggung suaminya.

Endy tertawa kecil. "Umur udah kepala empat, masih kayak anak muda."

"Emang. Nggak boleh?"

"Boleh, boleh banget." Endy berbalik dalam pelukan Soo Young, mengecup kening istrinya. "Udah dingin, balik tidur lagi. Nanti kopinya kuantar ke kamar."

Soo Young menggeleng, menguap. "Nggak, aku temani. Biar cepet melek."

Ia duduk di kursi dapur, menyaksikan Endy bekerja. Pemandangan ini sudah ia saksikan ribuan kali selama lima belas tahun pernikahan mereka. Tapi tidak pernah, tidak sekali pun, ia bosan melihatnya. Ada sesuatu yang menenangkan dari cara Endy bergerak di dapur—penuh perhatian, penuh cinta.

"Kopi hari ini pakai rempah?" tanya Soo Young.

"Iya. Kayu manis, kapulaga, cengkih. Biar hangat di badan. Udara lagi dingin akhir-akhir ini."

"Kamu inget terus ya resepnya."

"Resep ibu, masa lupa." Endy menuang air panas ke dalam dua cangkir. "Dulu ibu bilang, kopi itu bukan cuma soal rasa, tapi soal kehangatan. Kalau diminum berdua, rasanya pasti lebih enak."

Soo Young tersenyum. Mendiang mertuanya itu adalah salah satu orang terbaik yang pernah ia kenal. Wanita sederhana yang menerima menantu asing dengan tangan terbuka, mengajarinya masakan Indonesia, dan selalu bilang, "Nak Soo Young, Endy itu anak baik. Tapi kadang keras kepala. Kalau lagi keras kepala, diamkan aja, nanti sadar sendiri."

Endy meletakkan dua cangkir kopi di meja, lalu duduk di hadapan Soo Young. "Coba, cicip."

Soo Young menyesap pelan. Hangatnya kopi merambat dari tenggorokan ke seluruh tubuh. Aroma rempahnya lembut, tidak menyengat, menyatu sempurna dengan pahitnya kopi.

"Enak banget," pujinya.

Endy tersenyum bangga. "Rahasia resep ibu, dipadu dengan tangan dingin suamimu ini."

"Dingin apanya, hangat."

Mereka tertawa bersama. Pagi di rumah nomor 11 selalu dimulai seperti ini: kopi, obrolan ringan, dan senyum. Tidak perlu kata-kata besar, tidak perlu kemewahan. Cukup kebersamaan.

---

Dua jam kemudian, pukul 07.30, mereka duduk di teras depan. Soo Young membawa buku bacaan—novel Korea terbaru yang dikirim adiknya dari Seoul. Endy membaca koran digital di ponselnya. Sesekali mereka saling melempar komentar tentang apa yang dibaca.

"Di koran ada apa?" tanya Soo Young.

"Biasa. Politik panas terus. Harga kebutuhan naik." Endy menghela napas. "Duh, makin ke sini makin serem aja dunia."

"Tapi kita di sini tenang-tenang aja."

"Iya, untungnya." Endy menatap istrinya. "Kamu baca buku apa?"

"Ini, novel tentang pasangan tua yang pensiun terus keliling dunia naik kapal."

"Tertarik?"

"Masa iya? Kita kan masih kerja."

"Nanti, kalau pensiun. Kita bisa keliling dunia. Naik kapal atau apa gitu."

Soo Young tersenyum. "Janji?"

"Janji. Tulis di buku agenda." Endy tertawa. "Tapi jangan lupa, aku nanti udah tua banget. Mungkin jalannya udah pakai tongkat."

"Ya aku juga. Kita pakai tongkat bareng-bareng."

Mereka tertawa membayangkan diri sendiri di masa depan. Tawa yang mudah, tawa yang lahir dari keyakinan bahwa masa depan itu pasti mereka lalui bersama.

Dari rumah sebelah, Irene muncul di halaman depan bersama Rafa. Bocah tiga tahun itu berlari ke arah pagar rumah nomor 11.

"Om Endy! Tante Soo Young!" teriak Rafa.

Endy melambai. "Hei, Rafa! Udah sarapan?"

"Udah! Rafa makan pancake!"

"Wah, enak dong."

Soo Young bangun, berjalan ke pagar. Ia mengelus kepala Rafa. "Rafa mau ikut Tante berkebun nanti sore?"

"MAU! Rafa mau!" Rafa melompat-lompat kegirangan.

Irene mendekat, tersenyum. "Maaf, Tante, jangan sungkan bilang kalau Rafa ganggu."

"Nggak ganggu sama sekali. Seneng malah ada yang temani." Soo Young menatap Irene. "Nanti sore jadi ke taman?"

"Iya, janjian sama yang lain. Jam 4 ya?"

"Siap. Aku bawa kue bikinan sendiri."

"Asik! Aku bawa es buah."

Mereka ngobrol sebentar sebelum Irene dan Rafa kembali ke rumah. Soo Young duduk lagi di samping Endy.

"Aku suka banget sama lingkungan sini," ucap Soo Young tiba-tiba.

Endy menoleh. "Kok tiba-tiba?"

"Abis lihat Rafa. Lihat Irene. Lihat semua orang. Rasanya... hangat. Seperti kampung halaman."

Endy meraih tangan Soo Young. "Iya. Kita beruntung bisa tinggal di sini."

"Mungkin ini yang namanya keluarga pilihan ya. Bukan cuma keluarga darah, tapi orang-orang di sekitar yang peduli sama kita."

"Kamu sedih? Kangen keluarga di Korea?"

Soo Young diam sejenak. "Kadang. Tapi video call tiap minggu cukup membantu. Lagian, sekarang aku punya keluarga baru di sini. Kamu. Irene, Jane, Jisoo, Chaeyoung. Semua."

Endy mengecup punggung tangan Soo Young. "Kamu nggak pernah sendiri, Soo. Ingat itu."

"Aku tahu. Makasih."

---

Pukul 10.00, mereka pindah ke halaman belakang. Halaman belakang rumah nomor 11 adalah kebun mini yang dirawat dengan penuh cinta. Ada puluhan pot tanaman: mawar, melati, lavender, rosemary, tomat ceri, cabai rawit, dan beberapa jenis tanaman hias yang tidak diketahui namanya.

Soo Young memakai topi lebar dan sarung tangan berkebun. Endy memakai topi koboi—hadiah dari keponakannya yang baru pulang dari Amerika—dan celana pendek.

"Mau mulai dari mana?" tanya Endy.

"Tanaman tomatnya perlu dipupuk. Yang mawar juga, tapi pakai pupuk yang berbeda." Soo Young berjongkok di depan pot tomat. "Ini tomatnya mulai berbuah. Lihat."

Endy mendekat. Beberapa tomat cherry kecil berwarna hijau mulai muncul di sela-sela daun. "Wah, bentar lagi panen."

"Iya. Nanti kita bagi-bagi ke tetangga."

"Boleh. Jisoo pasti seneng. Jane juga, katanya lagi ngidam buah."

Soo Young tersenyum. "Iya, aku tahu. Nanti aku bikinin salad buah spesial buat Jane."

Mereka berkebun selama dua jam. Endy menyiram tanaman, Soo Young memupuk. Endy mencabuti rumput liar, Soo Young memangkas daun-daun kering. Mereka bekerja dalam ritme yang selaras, tanpa perlu banyak bicara. Sesekali Soo Young memberi instruksi, Endy menurut. Sesekali Endy bercanda, Soo Young tertawa.

Inilah harmoni yang mereka bangun selama lima belas tahun. Bukan hanya tentang romansa besar, tapi tentang keseharian. Tentang memilih untuk bersama, meski dalam hal sekecil berkebun.

---

Pukul 12.30, mereka berhenti karena matahari mulai terik. Keduanya berkeringat, lelah, tapi bahagia.

"Kamu mandi dulu," kata Endy. "Aku beresin peralatannya."

"Kamu yakin?"

"Iya, yakin. Cepet mandi, nanti kita makan siang."

Soo Young mengecup pipi Endy cepat, lalu masuk ke dalam rumah. Endy membereskan peralatan berkebun: mengembalikan pupuk ke rak, mencuci sarung tangan, menyimpan gunting tanaman. Gerakannya pelan, tidak terburu-buru.

Dari kejauhan, ia melihat Leon—tunangan Chaeyoung dari Australia—sedang jogging di sekitar kompleks. Pria itu melambai. Endy membalas lambaiannya.

Leon mendekat, berhenti di depan pagar. "Hey, Endy! Good morning!"

"Morning, Leon. Jogging?"

"Yeah. Trying to keep fit. Chaeyoung said I eat too much." Leon tertawa, menepuk perutnya yang masih rata.

"Hahaha. Chaeyoung benar. Indonesia punya banyak makanan enak."

"Too many! I love nasi goreng, sate, rendang... I think I'll be fat soon."

Mereka tertawa bersama. Endy membuka pagar, mempersilakan Leon masuk sebentar. "Mau minum? Air putih?"

"Sure. Thanks."

Endy mengambil dua botol air mineral dari kulkas kecil di teras belakang. Mereka duduk di kursi taman, menikmati air dingin di tengah terik.

"Leon, kamu betah di sini?" tanya Endy.

"Very much. Chaeyoung is here. The neighborhood is nice. Everyone is friendly." Leon menatap Endy. "You and Soo Young... you've been married for long?"

"Fifteen years."

"Wow. Fifteen years and you still look happy. What's the secret?"

Endy berpikir sejenak. "Secret? I don't know if there's a secret. Maybe... we just choose each other, every day."

Leon mengernyitkan dahi. "Choose each other every day?"

"Yeah. Love isn't just a feeling. It's a choice. Every morning, I wake up and choose to love her. Even when she's grumpy, even when we fight, I choose her. And she does the same."

Leon mengangguk pelan, merenung. "That's beautiful. I hope Chaeyoung and I can be like that."

"You will. Just keep choosing each other."

Mereka berbincang sebentar lagi sebelum Leon pamit melanjutkan joggingnya. Endy masuk ke rumah, menemui Soo Young yang sudah selesai mandi dan sedang menyiapkan makan siang di dapur.

"Siapa tadi?" tanya Soo Young.

"Leon. Lagi jogging, mampir minta minum."

"Ngobrol apa?"

"Tanya rahasia pernikahan awet." Endy tersenyum, memeluk Soo Young dari belakang. "Aku bilang, rahasianya pilih kamu setiap hari."

Soo Young tertawa. "Dasar. Nanti Leon mikir kita lebay."

"Biarin. Yang penting kita bahagia."

Mereka makan siang bersama, ditemani siaran berita di televisi. Sederhana. Biasa. Tapi bagi mereka, tidak ada yang lebih indah dari kebiasaan yang dilakukan bersama orang yang dicintai.

---

Sore harinya, pukul 16.00, mereka berjalan ke taman kompleks. Soo Young membawa kue tradisional Korea buatannya—tteok, kue beras manis berwarna-warni. Endy membawa termos berisi kopi untuk para suami.

Di taman, para wanita sudah berkumpul: Jane duduk di bangku taman dengan tangan di perut, Irene mengawasi Rafa yang berlarian dengan Amora, Jisoo tersenyum lelah setelah seharian bekerja dari rumah, dan Chaeyoung datang bersama Leon yang membawa kamera.

"Wah, bawa apa, Tante Soo Young?" tanya Chaeyoung melihat kue warna-warni.

"Tteok. Kue beras Korea. Coba."

Semua mencoba dan memuji. Leon dengan antusias mengambil foto kue itu dari berbagai sudut.

"Ini enak banget, Tante!" puji Irene. "Rafa, sini cobain!"

Rafa berlari, mengambil satu potong, langsung memasukkan ke mulut. "Mau lagi!"

Semua tertawa. Soo Young tersenyum senang. Inilah yang ia sukai dari komunitas ini: berbagi, memberi, dan menerima dengan tulus.

Para suami duduk di bangku lain: Endy menuang kopi untuk Mario, Elgi, dan Leon. Mereka mengobrol tentang pekerjaan, tentang berita terbaru, tentang rencana liburan.

"Mario, gimana kabar Jane?" tanya Elgi.

"Alhamdulillah, sehat. Mualnya berkurang katanya." Mario tersenyum bangga. "Dia kuat banget."

"Kamu juga kuat, jadi suami siaga," ledek Endy.

Mario tertawa. "Masih belajar. Untung ada contoh kayak Om Endy."

Endy mengangkat alis. "Aku? Contoh?"

"Iya. Liat Om sama Tante Soo Young, romantis terus. Jadi pengen kayak gitu sampe tua."

Endy tersenyum, menatap istrinya yang sedang tertawa bersama para wanita di taman. "Kuncinya satu, Nak: jangan pernah berhenti memilih dia. Setiap hari, pilih dia lagi."

Mario mengangguk, merenung. Di sebelahnya, Leon mencatat dalam ponselnya—mungkin untuk diingat-ingat.

Matahari mulai condong ke barat, menerangi taman dengan cahaya jingga yang hangat. Anak-anak tertawa bermain. Para wanita berbincang. Para suami berbagi cerita.

Di Griya Asri, sore itu sempurna. Bukan karena tidak ada masalah, bukan karena hidup tanpa cela. Tapi karena di sini, ada orang-orang yang saling memilih. Setiap hari. Berulang-ulang. Tanpa bosan.

Dan di rumah nomor 11, malam nanti, akan ada kopi lagi. Dua cangkir. Dengan rempah rahasia. Dinikmati oleh dua orang yang sudah lima belas tahun saling memilih.

Rutinitas yang romantis. Romantis dalam kesederhanaannya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!