"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arch 2: DURI MULAI TUMBUH
📖 BAB 11: PERTEMUAN RAHASIA
Di senja yang sunyi, aku belajar meracik luka
Mengubah tangis jadi racun, air mata jadi baja
Mereka pikir aku rebah, padahal sedang mengukur lompatan
Mereka kira aku mati, padahal baru saja lahir—
Dari abu pengkhianatan, mawar ini tumbuh
Dengan duri yang haus akan balas.
---
Kafe Pinggiran, Pukul 22.47 WIB
Hujan mengguyur Jakarta tanpa ampun malam itu. Alana memarkir mobilnya—bukan Mercy hitam yang biasa ia kendarai, tapi Honda Jazz tua milik pembantunya yang ia pinjam dengan alasan "mau ke pasar tradisional". Ia mematikan mesin, menatap gedung-gedung pencakar langit di kejauhan yang mulai kabur oleh derasnya air.
Di salah satu gedung itu, Richard sedang berpesta. Ia tahu persis karena Viola mengunggah story Instagram seminggu yang lalu: "Dinner romantis dengan cinta sejati ❤️" dengan latar restoran Italia paling mahal di lantai 52.
Alana tersenyum pahit.
Biarkan mereka terbang tinggi. Semakin tinggi mereka terbang, semakin sakit saat jatuhnya nanti.
Ia membuka payung murahan—sengaja ia pilih yang paling lusuh di rumah—dan melangkah masuk ke kafe bernama "Senja". Kafe ini kecil, hanya sepuluh meja, pencahayaan temaram, dan pemiliknya adalah seorang janda tua yang tuli. Lucas yang memilihkan tempat ini. Katanya, "Di sinilah kita bisa bicara tanpa takut ada kuping-kuping berdasi."
Lonceng kecil di pintu berbunyi. Alana mengibaskan payung, menutupnya, lalu matanya segera mencari sudut paling gelap. Di sana, di meja dekat dapur, Lucas sudah duduk dengan secangkir kopi hitam yang tak tersentuh.
Lucas Tan. Rambutnya gondrong sebahu, berkacamata minus tebal, dan selalu memakai hoodie abu-abu meski di ruangan ber-AC. Penampilannya persis seperti mahasiswa jurusan IT yang begadang tiga hari berturut-turut—karena memang itu dia. Tapi di balik penampilan acak-acakannya, Lucas adalah jenius yang dulu menjadi tangan kanan ayah Alana. Ayah Alana pernah berkata, "Lucas ini seperti pisau Swiss. Kelihatannya kecil, tapi bisa membongkar apa saja."
"Kamu telat tujuh menit," sapa Lucas tanpa menoleh. Matanya masih fokus pada layar laptop jadul yang penuh stiker anime.
"Maaf. Macet di pertigaan," jawab Alana sambil duduk. Ia meletakkan tas kanvasnya—lagi-lagi, tas murahan—di samping kursi.
Baru sekarang Lucas menatapnya. Alisnya terangkat. "Penampilanmu... wow. Gaun lusuh, rambut dicepol asal, nggak pakai make-up. Kamu benar-benar menyamar jadi pembantu."
"Tepat." Alana memesan teh manis hangat dari pelayan tua yang tersenyum ramah. Setelah pelayan pergi, ia berbisik, "Richard memasang dua orang di rumah. Sopir dan tukang kebun itu sebenarnya mata-matanya. Mereka lapor tiap kali aku keluar rumah."
"Bajingan." Lucas menggerutu, lalu memutar laptopnya ke arah Alana. "Tapi biar dia pasang seribu mata-mata sekalipun, dia nggak akan bisa lihat ini."
Layar laptop menampilkan deretan angka yang rumit. Alana bukan orang awam dalam bisnis—ayahnya mendidiknya sejak kecil—tapi ini berbeda. Ini bukan laporan keuangan biasa.
"Apa ini?" tanyanya pelan.
"Ini jejak digital." Lucas menekan tombol enter, dan tampilan berubah menjadi diagram alir yang kompleks. "Selama tiga bulan, aku menyusup ke server pribadi Richard. Server yang katanya 'tak tertembus' dengan enkripsi militer."
Alana menatap Lucas takjub. "Kamu bisa?"
Lucas tersenyum sinis. "Enkripsi militer buatan lokal. Anak SMA kelas coding juga bisa bobol kalau dikasih waktu seminggu. Richard terlalu percaya diri. Dia pake jasa konsultan IT temen kuliahnya yang abal-abal."
Layar itu kini menampilkan tabel. Alana membaca perlahan, matanya melebar seiring setiap baris yang ia cerna.
PT Wijaya Semesta — Transfer keluar: Rp 47.000.000.000
Tujuan: Rekening atas nama CV Karya Mandiri (terafiliasi Richard)
Keterangan: "Biaya konsultasi manajemen"
PT Wijaya Properti — Transfer keluar: Rp 83.500.000.000
Tujuan: Rekening atas nama PT Riva Grup (milik sahabat Richard)
Keterangan: "Investasi joint venture"
PT Wijaya Energi — Transfer keluar: Rp 120.000.000.000
Tujuan: Rekening di Kepulauan Cayman
Keterangan: "Ekspansi internasional"
Dan masih puluhan baris lainnya. Totalnya... Alana menghitung dalam hati, jantungnya berdegup kencang.
Rp 248.700.000.000
Dua ratus empat puluh delapan miliar tujuh ratus juta rupiah.
"Astaga," bisik Alana. Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Bukan. Ini adalah getaran yang sama saat seorang pemburu melihat rusa besar masuk perangkap.
"Uang itu," Lucas menjelaskan sambil menunjuk satu per satu, "adalah dana perusahaan yang dia mark-up sebagai biaya fiktif, proyek palsu, dan investasi bodong. CV Karya Mandiri? Itu perusahaannya mantan pacarnya. PT Riva Grup? Dimiliki sahabatnya yang jadi 'penampung'. Dan rekening di Cayman itu..."
"Rekening pribadinya," potong Alana dingin. "Untuk jaga-jaga kalau suatu saat ketahuan."
Lucas mengangguk. "Kamu kenal suamimu sendiri."
Alana tertawa. Tawanya pendek, tanpa humor. "Kenal? Aku menikah dengannya tiga tahun, Lucas. Tiga tahun dia menguras perusahaan ayahku, tidur dengan sahabatku, dan menganggap aku bodoh." Ia menatap Lucas tajam. "Tapi ternyata, orang bodoh itu dia. Karena dia nggak pernah tahu aku punya kamu."
Lucas tersipu. Bukan karena malu, tapi karena haru. "Aku nggak akan bisa ngelakuin ini kalau bukan karena almarhum Pak Hendra. Beliau yang bayarin kuliahku sampai S2, beliau yang percaya aku bisa waktu yang lain ngatain aku 'anak IT culun'. Ini..." ia menunjuk laptop, "...ini bayaran utang budiku."
Alana meraih tangan Lucas. Digenggamnya erat. "Terima kasih."
Untuk pertama kalinya malam itu, Lucas menatap Alana langsung. Matanya berkaca-kaca. "Kita akan hancurin dia, Lan. Kita hancurin semua yang udah nyakitin kamu."
"Bukan kita." Alana melepaskan genggamannya, lalu tersenyum—tapi senyum yang dingin, senyum yang membuat bulu kuduk merinding. "Aku. Aku yang akan hancurin mereka. Kamu cukup bantu dari belakang."
Lucas mengangguk paham. "Oke. Jadi, langkah selanjutnya apa?"
Alana menghela napas panjang. Ia menyesap teh manisnya—hangat, manis, menenangkan. Tapi di dalam dadanya, api sudah menyala.
"Kita butuh tiga hal," ujarnya pelan. "Pertama, bukti yang lebih kuat. Bukan hanya angka-angka di server, tapi dokumen fisik. Tanda tangan Richard di setiap transaksi. Kalau bisa, rekaman percakapannya saat ngomongin ini dengan komplotannya."
"Bisa diatur. Aku udah pasang keylogger di semua perangkatnya. Juga spyware di ponsel Viola." Lucas mengetuk-ngetuk keyboard. "Mereka ngobrol segala hal lewat WhatsApp. Mulai dari rencana bisnis kotor sampai... yah, hal-hal mesum."
Alana mengangguk datar. Tak ada lagi sakit hati. Yang ada hanya tekad baja. "Kedua, kita perlu sekutu di dalam dewan komisaris. Setidaknya dua orang yang bisa kita percaya."
"Pak Chandra?"
Alana menggeleng. "Pak Chandra sudah pensiun. Tapi anaknya, Michelle, sekarang duduk di jajaran direksi PT Wijaya Properti. Michelle benci Richard karena pernah dilecehkan di rapat."
"Lo tahu dari mana?"
Alana tersenyum tipis. "Perempuan selalu tahu, Lucas. Kami punya radar khusus untuk pria brengsek."
Lucas terkekeh. "Oke, Michelle masuk daftar. Terus ketiga?"
Alana diam sejenak. Jari-jarinya menelusuri bibir gelas, menciptakan lingkaran basah di meja kayu. Matanya menerawang ke luar jendela, ke arah gedung-gedung tinggi yang lampunya mulai satu per satu padam.
"Ketiga... aku butuh panggung."
"Panggung?"
"Aku butuh malam di mana semua orang penting berkumpul. Para pemegang saham, investor, media. Aku butuh mereka melihatku bukan sebagai 'janda korban' atau 'putri bangkrut', tapi sebagai..." ia berhenti, mencari kata yang tepat.
"Sebagai ancaman," Lucas menyelesaikan.
Alana menoleh, matanya berkilat. "Sebagai ratu."
Hening. Hanya suara hujan dan denting gelas dari dapur yang terdengar.
Lucas menutup laptopnya perlahan. Ia menatap Alana dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara kagum, takut, dan harap.
"Lo berubah, Lan."
"Berubah jadi apa?"
"Dulu lo secantik mawar di taman istri orang kaya. Sekarang..." Lucas menelan ludah. "Sekarang lo mawar berduri. Yang siap merobek siapa pun yang berani mendekat."
Alana tersenyum. Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya hangat. Tulus.
"Karena aku belajar dari yang terbaik," katanya. "Dari ayahku. Dari pengkhianatan mereka. Dan dari..." ia menunjuk Lucas, "...teman sejatiku."
Lucas tersipu lagi. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan, berpura-pura membereskan laptop.
"Oke, oke, cukup dramanya. Kita harus pulang sebelum sopir lo curiga. Aku antar lo ke mobil."
Mereka bangkit bersamaan. Alana merogoh tas, mengeluarkan uang lima puluh ribu untuk membayar teh dan kopi yang tak diminum Lucas. Tapi saat ia hendak meletakkannya di meja, Lucas menahan tangannya.
"Nggak usah. Aku udah bayar dari awal."
"Lucas..."
"Cepet, Lan. Hujan makin deres."
Mereka berdua melangkah keluar. Dinginnya malam langsung menyergap. Alana membuka payung, tapi Lucas menolak ketika ditawari bergabung.
"Aku naik motor. Udah biasa kehujanan," katanya sambil meraih helm jadul dari jok motor bebek butut di samping kafe.
Alana memandang motor itu. "Kamu masih naik ini?"
"Iya. Biar nggak dicurigai. Orang lihat aku, yang muncul di benak mereka cuma 'anak IT cupu'. Padahal..." ia menepuk laptop dalam ranselnya, "...aku bisa bobol rekening mereka semua kalau mau."
Alana tertawa kecil. "Lucas, suatu hari nanti, aku akan beliin kamu mobil."
"Janji?"
"Janji."
Lucas memasang helm, menstarter motor. Suaranya nyaris tak terdengar di balik deru mesin tua. "Lo hati-hati di jalan, Lan. Jangan pernah percaya siapa pun. Termasuk aku."
Alana mengerjap. "Apa?"
Tapi Lucas sudah melaju, menerabas hujan, menghilang dalam gelap.
Alana terdiam beberapa saat. Lalu ia membuka pintu mobilnya, duduk di kursi pengemudi, dan membiarkan air hujan di rambutnya menetes perlahan.
Ia mengeluarkan ponsel. Menekan nomor yang tak ada di kontak.
Suara berat menjawab setelah dua dering. "Halo?"
"Ini Alana. Aku butuh bantuanmu."
"Apa yang kau butuhkan?"
"Aku butuh undangan ke acara amal yayasan Hartawan bulan depan. Acara yang dihadiri semua orang penting."
Hening di ujung sana. Lalu suara itu berkata, "Kau tahu itu acara exclusive, 'kan? Hanya orang-orang pilihan yang diundang."
"Aku tahu. Makanya aku telepon kamu."
"...Baiklah. Aku usahakan. Tapi ada imbalannya."
"Apa?"
"Kau harus janji akan hadir sebagai dirimu yang sebenarnya. Bukan sebagai korban. Tapi sebagai pewaris Wijaya Group yang sah."
Alana tersenyum di tengah gelap mobil.
"Deal."
Ia menutup telepon, menyalakan mesin, dan melaju meninggalkan kafe Senja.
Di spion tengah, ia melihat bayangannya sendiri. Basah, lepek, tanpa riasan. Tapi matanya—matanya menyala seperti bara.
Dua ratus empat puluh delapan miliar.
Dua pengkhianat.
Satu panggung.
Mawar ini sudah siap mekar.
Dan durinya sudah siap menusuk.
Di rumah mewah di Pondok Indah, Richard sedang bersulang dengan Viola. Sampanye Perancis, tiram segar, dan musik jazz mengalun lembut.
"Untuk kita," Richard mengangkat gelas.
"Untuk kita," sahut Viola, bibirnya merekah merah.
Mereka tak tahu, di kafe pinggiran yang jauh dari gemerlap, seekor mawar sedang menumbuhkan duri-duri baru.
Duri yang akan segera merobek bahagia palsu mereka.
Duri yang haus darah.
[Bersambung (ノ゚0゚)ノ→
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄