Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,
Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,
"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,
Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secercah bayangan
"Kudengar, tadi ada keributan di luar sana." celetuk Ryan merendahkan suara,
Berdiri di belakang Ana yang tengah sibuk membersihkan tangan di depan wastafel. Tanpa menoleh, Ana hanya melirik singkat dari kaca,
Mendapati pria bercelana pendek, dengan kemeja pantai yang tak dikancing, dia bersandar sambil memegang segelas minuman.
"Sejak kapan dia di sana?" batin Ana merasa risih, memilih tuk mengabaikan.
Masih diam tak menyahuti. Ana sengaja berlama-lama, mencuci tangannya berulang kali, berharap pria itu segera pergi.
"Cih! Apa sih yang dia cuci? Lama amat." gerutu Ryan dalam hati,
"..." Dia terdiam masih menunggu. Melihat gadis yang baru saja mengibaskan tangan,
"Hadeh...males banget," batin Ana memutar matanya dengan malas.
Bersiap membalikkan badan sambil memasang senyum. "Eh, sejak kapan Pak Ryan di sini? Maaf kalau menunggu lama..."
"Saya habis membersihkan tangan dari kotoran babi,"
"Babi?" Ryan diam berpikir keras,
Dengan wajah polos berpikir ada babi berkeliaran di sekitar vila.
"Oh, tenang saja. Aku sedang bersantai menikmati pemandangan indah dari sini,"
"Pemandangan?" lugas Ana mengernyit,
Sekilas menoleh hanya menemukan pintu kaca yang memperlihatkan lautan. Jika dibandingkan ruangan lain, tempat itu hanyalah area kamar mandi biasa.
Ana kembali menatap wajah yang tersipu malu. Lalu tersadar maksud pemandangan tadi,
"Tadi aku sempat bertanya pada Max, ternyata kamu ini mahasiswa magang...pantas saja terlihat sangat muda dan cantik,"
"Max? Dia sudah berani memanggil namanya...dasar tidak tahu sopan santun! Apa dia tidak tahu, kalau usinya jauh lebih muda?" batin Ana menggerutu kesal,
"Iya, saya baru berusia 20 tahun. Tapi bukankah anda juga punya asisten yang lebih cantik dari saya?" imbuhnya memasang wajah polos.
"Maksudmu Syla? Tidak, tidak...menurutku kamu jauh lebih cantik darinya."
"Waduh, kalau Bu Syla dengar takutnya salah paham."
"Salah paham? Oh...ini ga seperti yang kamu pikir. Dia itu cuma asistenku saja, tidak lebih!" Ryan menggeleng pelan,
"Masa sih? Padahal kalian kelihatan serasi," sahut Ana menekuk bibir.
"Ngaco...padahal dia itu naksir atasanmu,"
"Ha?!" Ana tertegun,
Entah hanya dusta atau asal bicara, namun kalimat itu berhasil mengusiknya.
"Kenapa kaget gitu? Jangan-jangan, kamu juga naksir sama Max..." tuduh Ryan menyeringai,
"Iya sih, dia emang tampan. Tapi usia kalian berbeda jauh...lagian sayang banget kalau gadis secantik kamu cuma nyari yang modal ganteng,"
Ryan melangkah mendekat, berdiri di samping, perlahan mengalungkan lengan.
"Minimal itu, punya suami direktur perusahaan besar...seperti aku." bisiknya penuh percaya diri, semakin merangkul tubuh Ana.
"Maaf, saya tidak tertarik sama duda."
"Eh?!" Ryan terdiam kikuk,
Menatap punggung gadis yang langsung pergi meninggalkannya. Tak disangka mendapat penolakan,
Sebelumnya dia berpikir, Ana hanyalah gadis polos yang gampang dirayu dengan uang. Jadi Ryan berencana menggoda lalu mempermainkan gadis itu, untuk membalas hinaan tempo hari.
"Syla menyukai om Neil...sejak kapan?" Ana berpikir keras,
Benaknya terus terbayang setiap ucapan seseorang, tanpa sadar kaki itu melangkah keluar, menghampiri tempat terindah yang sering didatangi.
Taman bunga buatannya saat masih hidup sebagai Reta.
"Selama ini, aku berpikir mereka berselingkuh dan bersekongkol membunuhku. Tapi ternyata tidak..."
"Kukira mereka saling mencintai dan sengaja membunuhku agar bisa bersama, menikmati semua harta keluargaku."
"Tapi, apa ini? Kalau dia ingin mendapatkan Om Neil...kenapa tidak jujur saja? Aku kan bisa membantunya,"
"Dari kuliah kita selalu bersama...apa Syla sudah menyukai om Neil dari awal mereka kenal?"
"Padahal kita sahabat. Aku masih tidak mengerti kenapa dia bersekongkol dengan Ryan..."
"Hhh! Naif sekali, aku hampir gila memikirkan semua ini." sontak Ana tersenyum sepat,
Masih mencoba memahami apa keinginan mereka hingga tega membunuhnya. Terus saja berdiri, berkutat dengan lamunan,
Tak menyadari pria yang baru saja berdiri di belakang.
"Aku sudah mencarimu kemana-mana. Ternyata kamu malah bersantai di sini," tegur Max mengernyit menatap kesal punggung Ana.
"Apa kamu lupa, kamu datang sebagai asistenku. Jadi jangan menghilang seenaknya---"

"Hhh?!" Max tertegun sejenak,
Saat gadis itu menoleh, cahaya mentari membuat pipinya merona, angin pantai menerpa rambut panjangnya. Ana menyengir polos sambil menyibakkan rambut,
Tak tahu kenapa, sekilas Max melihat sosok Reta yang telah lama tak menoleh padanya. Mendiang keponakan itu hadir bagai bayangan di samping Ana,
"Bapak?" panggil Ana menyadarkan pria yang tak berkedip menatapnya lekat.
"Hm...?" Max berdehem langsung membuang muka,
Berusaha menenangkan diri. Berpikir jika tubuhnya kekurangan tidur sampai berhalusinasi,
"Maaf, saya tidak sengaja melihat bunga mawar jadi mampir sebentar."
Max melirik malas, memandang wajah merah yang kepanasan, jelas sekali jika Ana telah lama berdiri di bawah terik.
"Pipimu sudah gosong begitu. Ga ada gunanya alasan,"
"Hh?! Benarkah..." Ana tersentak, langsung menyentuh kedua pipi yang terasa panas.
Wajahnya tampak panik, menyayangkan kulit putihnya yang mulai terbakar.
"Barusan aku berbicara dengan Pak Wira,"
"Pak Wira?" Ana memiringkan kepala, bertanya polos sebelum teringat.
"Aa...apa itu pria gendut yang saya tendang tadi?"
"Iya benar. Dia pria yang kamu tampar dan kamu tendang sampai tenggelam," sahut Max mengangguk singkat, menjelaskan rinci keributan yang Ana buat.
"Dokter sudah memeriksa, katanya cuma perlu istirahat."
"Syukurlah..." Ana mengangguk santai,
"Ternyata dia tidak bisa berenang dan punya penyakit asma. Untung saja, segera ditolong...kalau tidak! Kita berdua akan masuk penjara karena percobaan pembunuhan,"
"Itu pasti gara-gara perutnya yang besar. Padahal berenang kan sangat bagus bagi penderita asma," oceh Ana tak merasa bersalah.
Berpose menirukan sambil menggendong perut,
"Hehe...maaf, saya salah." lugasnya menyadari tatapan sinis yang Max berikan.
"Terus bagaimana...Apa dia menuntut bapak?"
"Tidak. Dia hanya menyuruhmu minta maaf kepadanya--"
"Saya tidak mau." tegas Ana dengan yakin, menyela pembicaraan.
"Saya tidak mau minta maaf. Saya tidak menyesal dan tidak merasa bersalah,"
"Yang saya lakukan hanya membela diri, karena si gendut itu berusaha melecehkan saya."
"Aku tahu. Aku tidak akan memaksamu," sahut Max merendahkan suara.
Tak keberatan menerima keputusan Ana,
"Kupikir dia akan memaksa," pikir Ana terheran.
"Terus, dia juga menyuruhku buat memecatmu."
"Pecat? Apa aku akan diberhentikan. Waduh, hilang sudah gaji bulananku..." batin Ana menunduk lesu,
"Tenang saja, aku tidak akan memecatmu."
"Hng?" Ana mendongak takjub,
"Lain kali tidak usah menghawatirkan koper besarmu."
"Tinggalkan saja dan larilah kepadaku...aku sadar kamu lemot, tapi tubuh kurusmu pasti bisa melakukannya."
"Eh, loh? Kenapa rasanya kayak lagi dihina, ya..." batin Ana tersinggung.
"Masalah tadi juga salahku. Aku bersalah karena meninggalkanmu begitu saja..."
"Harusnya aku menoleh ke belakang dan memastikanmu ada di sampingku."
Ana tercengang takjub, pertama kali mendengar Max meminta maaf bahkan mengakui kesalahan yang tidak disengaja.
Bahkan di kehidupan sebelumnya. Max tidak pernah selembek itu,
"Lain kali, aku akan bawa tali biar kamu tidak lepas dan selalu di sampingku."
Max mengangkat tangan cukup rendah, berlagak seperti menuntun.
"Dasar om sialan?! Apa kamu pikir, aku ini anjing liar?"