Kata orang, cinta itu buta. Buat Kara Anindita, cinta itu bukan cuma buta, tapi juga bikin miskin mendadak.
Demi menikah dengan Rio Pratama—cowok biasa yang dia pikir tulus mencintainya apa adanya—Kara rela melakukan "prank" terbesar dalam hidupnya. Dia menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal Anindita Group, raksasa properti nomor satu di negeri ini. Kara menukar kartu kredit unlimited-nya dengan uang belanja recehan, menukar penthouse mewahnya dengan kontrakan petak yang atapnya bocor, dan menukar gaun desainernya dengan daster diskonan di pasar kaget.
Kara pikir, hidup sederhana asal penuh cinta itu indah.
Tapi ternyata, "tulus" itu ada masa kedaluwarsanya.
Tiga tahun menikah, setelah karier Rio menanjak (yang Rio nggak tahu, itu berkat koneksi "orang dalam" Kara), sikap suaminya berubah 180 derajat. Rio mulai sombong, gila hormat, dan menganggap pengorbanan Kara sebagai kewajiban istri yang tidak berpenghasilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21: Pria Es di Pesta Topeng
Tiga bulan pasca perceraian.
Di dalam Walk-in Closet seluas lapangan badminton, Kara Anindita berdiri di depan cermin setinggi langit-langit.
Dia mengenakan gaun malam Versace berwarna emerald green dengan belahan paha tinggi yang memamerkan kaki jenjangnya. Di lehernya, melingkar kalung berlian Cartier seharga satu unit apartemen mewah.
"Nona, ini buket bunga dari Tuan Richard, anak pemilik Bank Asia. Dia ngajak dinner besok," lapor asisten baru Kara, Maya, sambil membawa buket mawar merah raksasa yang saking besarnya sampai menutupi wajah Maya.
Kara melirik bunga itu sekilas sambil memasang anting. "Buang."
"Hah? Dibuang lagi, Nona? Ini yang kelima hari ini lho. Sayang banget..."
"Maya," Kara berbalik, menatap asistennya tajam. "Aku baru aja lepas dari satu parasit. Kamu pikir aku mau nampung parasit baru? Richard itu cuma mau merger perusahaan lewat jalur nikah. Big No."
"Baik, Nona. Saya buang ke kompos," jawab Maya takut-takut.
Kara menghela napas. Sejak berita perceraiannya dan identitas aslinya terungkap, dia mendadak jadi "Janda Kembang Paling Diincar" di Jakarta. Semua anak konglomerat antre ingin melamarnya. Padahal dulu waktu dia menyamar jadi gadis miskin, dilirik pun tidak.
"Dasar laki-laki. Semuanya sama aja. Cinta itu omong kosong. Yang nyata cuma cash flow," gumam Kara sambil menyemprotkan parfum Chanel No. 5.
Grand Ballroom Hotel Kempinski Jakarta. Pukul delapan malam.
Acara Annual Business Charity Gala sedang berlangsung meriah. Lampu kristal berkilauan, musik orkestra mengalun lembut, dan gelas-gelas champagne berdenting.
Kara berjalan masuk, dan seketika puluhan pasang mata tertuju padanya. Bisik-bisik terdengar.
"Itu Kara Anindita kan?"
"Cantik banget ya aslinya. Nggak nyangka dia pernah tinggal di kontrakan."
"Sst, jangan bahas itu. Sekarang dia megang kendali penuh Anindita Group."
Kara memasang "Topeng Sosialita"-nya. Senyum tipis yang sopan tapi berjarak. Dia menyapa beberapa rekan bisnis tua ayahnya, berbasa-basi soal saham dan properti.
Namun, pikirannya tertuju pada satu hal: Proyek Resor di Uluwatu, Bali.
Tanah itu harus jadi milik Anindita Group. Tapi rumornya, ada pesaing berat yang juga mengincar tanah itu. Cakra Corp.
"Pa, itu siapa?" bisik Kara pada Papanya, Pak Gunawan, sambil menunjuk ke arah sudut ruangan yang agak gelap.
Di sana, berdiri seorang pria muda dengan setelan tuksedo hitam velvet. Dia memegang gelas wine, dikelilingi beberapa pengusaha tua yang tampak segan padanya.
Pria itu tinggi, tegap, dengan rahang tegas dan tatapan mata yang... dingin. Sangat dingin. Seolah dia sedang menatap tumpukan angka, bukan manusia.
"Oh, itu Damian Cakra," bisik Pak Gunawan. "CEO Cakra Corp. Hati-hati sama dia, Ra. Dia itu dijuluki 'Raja Midas Bertangan Dingin'. Apa yang dia pegang jadi emas, tapi siapa yang ngalangin dia bakal beku."
Kara menyipitkan mata. Jadi ini sainganku.
Ganteng sih. Tapi auranya red flag parah.
Tiba-tiba, mata Damian bertemu dengan mata Kara dari kejauhan.
Damian tidak tersenyum. Dia justru mengangkat alisnya sedikit, seolah menantang.
Darah Kara berdesir. Jiwa kompetitifnya terusik. Kara memutuskan untuk menghampirinya.
"Permisi, Pa. Kara mau 'say hello' sama saingan," ucap Kara, lalu melangkah anggun membelah kerumunan menuju Damian.
Damian melihat Kara mendekat. Dia tidak bergerak sedikit pun. Dia membiarkan Kara masuk ke dalam radius personalnya.
"Selamat malam, Pak Damian," sapa Kara, mengulurkan tangan. "Kara Anindita."
Damian menatap tangan Kara, lalu menatap wajah Kara. Dia tidak membalas uluran tangan itu. Dia hanya menyesap wine-nya pelan.
Sombong banget.
"Anindita..." suara Damian berat dan deep, tipe suara yang bisa bikin wanita leleh, tapi nadanya sarkas. "Saya dengar banyak soal kamu."
"Oh ya? Kuharap hal-hal baik," Kara menarik tangannya kembali dengan elegan, tidak mau terlihat canggung.
"Tergantung," jawab Damian. Sudut bibirnya terangkat sinis. "Saya dengar kamu wanita cerdas lulusan Ivy League. Tapi saya juga dengar kamu menghabiskan tiga tahun terakhir menyamar jadi upik abu demi laki-laki tidak berguna yang bahkan nggak punya aset."
Jleb.
Senyum Kara kaku. Orang ini... mulutnya setajam silet.
"Itu masa lalu, Pak Damian. Pembelajaran hidup," jawab Kara diplomatis.
"Pembelajaran?" Damian terkekeh meremehkan. Dia meletakkan gelasnya di meja cocktail.
"Bagi saya, itu bukan pembelajaran. Itu bukti poor judgment (penilaian buruk). Seorang pemimpin bisnis yang baik bisa menilai karakter orang dalam lima detik. Kamu butuh tiga tahun untuk sadar suamimu sampah?"
Damian mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap Kara intens.
"Kalau menilai laki-laki saja kamu gagal total, apa jaminannya kamu becus mengurus proyek Uluwatu? Sebaiknya Anindita mundur. Jangan buang uang Papa kamu buat mainan baru."
Darah Kara mendidih.
Wajahnya memanas. Seumur hidup, belum ada yang berani menghinanya sefrontal ini di depan muka. Bahkan Rio pun tidak secerdas ini dalam menghina.
Kara menarik napas panjang. Tahan, Kara. Jangan emosi. Dia mancing.
Kara tersenyum manis. Sangat manis sampai terlihat mematikan.
"Pak Damian yang terhormat," Kara melangkah maju satu langkah, mempersempit jarak mereka. Dia mendongak menatap mata Damian.
"Anda benar. Penilaian saya soal laki-laki dulu memang buruk. Makanya sekarang saya belajar."
"Belajar apa?" tanya Damian.
"Belajar membedakan mana laki-laki yang sampah, dan mana laki-laki yang..." Kara menumpahkan sedikit wine dari gelasnya ke sepatu kulit mengkilap Damian.
Crass.
Cairan merah membasahi sepatu mahal itu.
"...laki-laki yang sombong dan butuh pelajaran sopan santun," lanjut Kara santai. "Ups. Maaf. Tangan saya licin."
Orang-orang di sekitar mereka terkesiap. Hening.
Damian menatap sepatunya yang basah, lalu menatap Kara.
Alih-alih marah, kilatan di mata Damian berubah.
Dari dingin... menjadi intriguing (tertarik).
"Menarik," gumam Damian pelan. "Ternyata Sang Putri punya cakar."
"Saya bukan Putri, Pak Damian," bisik Kara tajam. "Saya Ratu. Dan tanah Uluwatu itu bakal jadi milik saya. See you in the battlefield."
Kara berbalik badan, mengibaskan rambutnya, dan berjalan pergi meninggalkan Damian yang masih berdiri diam dengan sepatu basah.
Damian menatap punggung Kara yang menjauh.
Untuk pertama kalinya malam itu, dia tersenyum tulus. Senyum predator yang menemukan lawan seimbang.
"Asisten!" panggil Damian.
"Ya, Pak?" Asistennya muncul tergopoh-gopoh.
"Cari tahu semua tentang janda itu. Jadwalnya, kesukaannya, kelemahannya. Semuanya."
"Baik, Pak. Untuk dihancurkan?"
"Bukan," Damian menyesap sisa wine-nya. "Untuk ditaklukkan."
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️...
...****************...
kanjooot..
terus kemaren2 sblm kara pergi, ibunya tinggal dimana?
nanya lho thor, bkn menghujad.. 🤭🙏