Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Persimpangan ambisi.
Kantor hukum Aska & Co. terletak di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit dengan dinding kaca yang memperlihatkan kesibukan kota Jakarta dari ketinggian. Suasananya hening dan profesional, hanya terdengar denting mesin kopi dan langkah kaki para asisten yang bergerak efisien. Di dalam ruangannya, Aska sedang menatap layar monitor, meninjau berkas gugatan perdata yang rumit, saat pintu diketuk.
"Masuk," jawabnya singkat tanpa menoleh.
Sekretarisnya melangkah masuk dengan raut wajah ragu. "Maaf, Pak Aska. Ada seorang wanita bernama Elli yang ingin bertemu. Dia bilang dia adalah teman masa kecil Pak Tris dan ingin menyampaikan sesuatu yang penting."
Aska menghentikan gerakan jemarinya di atas keyboard. Ia menyandarkan punggung ke kursi kulitnya, matanya menyipit. "Elli? Untuk apa dia ke sini?"
"Katanya ingin mengantarkan titipan dan ... sedikit ucapan terima kasih atas nama keluarga," lapor sekretaris itu.
Aska terdiam sejenak. Ia tahu persis siapa Elli dari cerita Ria dan pengamatannya sendiri malam itu. Wanita yang menjadi alasan adiknya bertingkah seperti bajingan. "Suruh dia masuk. Berikan dia waktu lima menit."
Pintu terbuka, dan Elli melangkah masuk dengan gaun formal yang modis, menonjolkan kesan wanita karier yang elegan. Ia memasang senyum paling manis, senyum yang biasanya membuat Tris bertekuk lutut. Namun, saat matanya bertemu dengan tatapan dingin Aska, senyum itu sedikit goyah. Aura Aska jauh lebih mengintimidasi daripada yang ia bayangkan.
"Selamat siang, Kak Aska," sapa Elli dengan nada lembut yang dipoles sempurna. Ia meletakkan sebuah paper bag kecil berisi kopi premium di meja Aska. "Maaf mengganggu waktumu. Aku hanya ingin mampir sebentar. Tris bercerita betapa sibuknya Kakak, jadi aku pikir sedikit kafein terbaik bisa membantu."
Aska tidak menyentuh pemberian itu. Ia hanya menatap Elli datar, seolah sedang membedah motif di balik wajah cantiknya. "Tris punya kaki dan tangan. Jika dia ingin memberiku sesuatu, dia bisa datang sendiri. Jadi, apa tujuanmu sebenarnya ke sini, Elli?"
Elli sedikit tersentak. Ia tidak menyangka Aska akan se-langsung itu. "Ah, Kakak tegas sekali. Sebenarnya aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena Kakak sudah menjaga Nana selama ini. Aku merasa tidak enak karena hubungan Nana dan Tris sedang merenggang, aku tidak ingin Kakak merasa direpotkan oleh drama mereka."
"Direpotkan?" Aska terkekeh sinis, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Elli meremang. "Nana bukan beban bagiku. Dia jauh lebih berguna daripada adikku yang hanya tahu cara membuang waktu. Dan jika kau ke sini hanya untuk membicarakan Nana, kau baru saja menyia-nyiakan lima menitmu."
Di belahan kota yang lain, Nana sedang bergelut dengan deadline. Tangannya bergerak cepat di atas tablet grafis, menciptakan bayangan-bayangan kelam pada latar belakang sebuah adegan pembunuhan di komiknya. Gani, si Colorist yang tadinya skeptis, kini berdiri di belakang Nana dengan tangan bersedekap, memperhatikan setiap goresan.
"Garis rahang karakter ini, kau membuatnya terlihat sangat tertekan. Bagus," komentar Gani pendek. Itu adalah pengakuan pertama yang jujur dari pria sinis itu.
Nana menyeka keringat di dahinya, matanya masih terfokus pada layar. "Dia baru saja kehilangan dunianya, Gani. Dia tidak punya pilihan selain menjadi tajam agar tidak hancur. Garis ini harus terlihat seperti luka," sahut Nana tanpa menoleh.
Hadi berjalan mendekat, menepuk bahu Nana. "Kerja bagus untuk hari pertama, Nana. Progresmu luar biasa. Kau boleh pulang sekarang, simpan energimu untuk besok."
"Terima kasih, Pak. Saya selesaikan sedikit lagi bagian rendering-nya," jawab Nana penuh tekad. Saat ia membereskan mejanya, ia baru menyadari sesuatu. Ponselnya tidak ada di tas. Ia teringat tadi pagi ia terburu-buru turun dari mobil Aska. "Sial, tertinggal di mobil Bang Aska."
Nana segera membereskan tasnya dan berpamitan pada rekan-rekannya. Ia harus mengambil ponsel itu sebelum Aska pulang dari kantor.
Sepuluh menit kemudian, Nana sampai di depan kantor Aska menggunakan taksi. Ia sudah beberapa kali ke sini saat masih berstatus "calon adik ipar" yang penurut, mengantarkan bekal yang akhirnya sering berakhir di meja staf karena Aska tidak suka diganggu.
Tepat di depan pintu lift menuju ruangan Aska, ia berpapasan dengan seseorang yang baru saja keluar.
Elli.
Keduanya terpaku. Elli menatap Nana dengan pandangan menilai, matanya tertuju pada kemeja kerja Nana yang simpel namun terlihat profesional. Sementara Nana menatap Elli dengan rasa muak yang kini sudah bisa ia kendalikan.
"Nana? Sedang apa kau di sini?" tanya Elli, nada suaranya berubah menjadi tajam, tidak ada lagi keramahan palsu.
"Harusnya aku yang bertanya, untuk apa kau mengganggu Bang Aska di jam kerja?" balas Nana dingin. Ia tidak lagi menunduk.
Elli tertawa mengejek, merapikan tas bermerek di lengannya. "Aku hanya mengantar kopi untuk Kak Aska. Kami mengobrol banyak hal. Kau tahu kan, Tris dan Kak Aska itu keluarga? Aku merasa perlu memastikan hubungan mereka baik-baik saja."
"Pastikan saja hubunganmu dengan Tris yang berantakan itu, Elli. Jangan bawa-bawa Bang Aska," sindir Nana tepat sasaran. Ia melangkah maju, melewati Elli tanpa ragu.
"Kau pikir kau siapa, Nana?" desis Elli tertahan. "Hanya karena Kak Aska kasihan padamu, kau merasa sudah setara dengan kami? Kau itu cuma pengangguran yang baru saja mencoba mencari kerja, jangan bermimpi terlalu tinggi."
Nana berhenti melangkah, ia menoleh sedikit. "Aku sedang tidak bermimpi, Elli. Aku sedang bekerja. Sesuatu yang mungkin tidak kau pahami karena kau terlalu sibuk mencari sandaran hidup yang kaya."
Nana masuk ke ruangan Aska tanpa mengetuk, karena ia tahu Aska sedang menunggunya (Aska sempat mengirim pesan ke akun chat komputer kantor Nana tadi). Di dalam, ia melihat Aska sedang membuang sebuah kantong kopi ke tempat sampah dengan wajah kesal.
"Bang," panggil Nana.
Aska mendongak, matanya yang tajam bertemu dengan mata Nana. "Lama sekali. Ini ponselmu," ia menyodorkan benda itu ke atas meja.
Nana mengambil ponselnya. "Itu ... Elli...."
Aska mendengus, kembali menatap berkasnya. "Aku tahu. Dia tipe wanita yang haus akan kemewahan yang tidak bisa diberikan Tris. Dia mencoba merayu orang yang salah." Aska melirik Nana sekilas. "Bagaimana hari pertama kerjamu?"
"Lancar. Aku diterima di tim utama," jawab Nana dengan sedikit rasa bangga yang tersirat di suaranya.
"Bagus. Setidaknya kau tidak memalukan namaku," sahut Aska datar, namun Nana bisa merasakan bahwa itu adalah bentuk apresiasi dari pria sekaku Aska.
Saat Nana keluar dari kantor, ia merasa satu hal pasti: Elli sudah mulai mengincar Aska. Tapi Nana juga tahu satu hal lagi: Aska bukan Tris yang bisa dikendalikan hanya dengan senyuman manis dan lipstik merah.
Bersambung....