Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Bolos
Rani otomatis memundurkan tubuhnya hingga mepet ke pintu mobil, namun Adimas terus mendekat. Rani menutup matanya, dia sedikit memajukan bibirnya, dia sudah membayangkan hal yang selalu ada dalam gambaran drama China yang dia tonton.
“Ternyata di sini,” Adimas menghela napas, namun sejenak dia melihat ekspresi wajah Rani sebelum akhirnya melotot ke arahnya.
“Kamu kenapa?” tanya Adimas lagi. Rani mengepalkan tangannya, dia melepaskan sabuk pengaman dengan kasar dan membuka pintu mobil itu dengan wajah masam. Namun, kakinya tak melangkah keluar saat sadar dirinya berada di tempat asing.
"Ini dimana?" Tanya Rani makin kesal, dia kini justru di bawa kabur lagi sama Adimas.
"Bengkel, mau ambil barang dulu." Ucap Adimas, dia membuka jendela kaca mobilnya dan seseorang nampak datang menghampiri Adimas. Sedangkan Rani kembali menutup pintu mobil itu, dan kembali mengenakan sabuk pengaman.
"Bos, mobil itu sudah dibenerin dan bisa di pakai lagi besok. Ini kuncinya bos," Ucap seorang montir.
"Oke," Adimas mengambil kunci itu dan menutup jendelanya lagi, dia kembali tancap gas. Sedangkan Rani masih dengan wajah kesal dan malu setengah matinya berusaha mati-matian agar tidak terlihat oleh Adimas.
Adimas yang beberapa kali melirik ke arah Rani ingin sekali tertawa, namun diapun menahan tawanya. Namun wajah manis itu tampak begitu menggemaskan. Hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah Rani.
"Makasih Mas, saya istirahat dulu." Ucap Rani keluar dari mobil itu.
“Ingat besok sekolah,” peringat Adimas. Rani berhenti sejenak.
“Dah tau!” kesal Rani sembari bergegas meninggalkan Adimas. Setelah pintu rumah itu tertutup, sontak saja wajah Adimas memerah.
“Hahaha, apa barusan? Hahaha...” tawanya. Wajah Rani yang mundur dengan bibir manis itu yang mengharapkan sesuatu darinya. Dan wajah manis dengan pipi memerah dalam diam itu, ah agaknya hal itu tak dapat dilupakan oleh Adimas.
“Seberapa manis bibirnya ya?” gumamnya lagi di tengah tawanya, perasaan aneh menggeliat liar di dadanya.
Adimas meninggalkan tempat itu untuk kembali melanjutkan pesta malam di pernikahan Leon dan Elyra, sedangkan Rani di kamarnya kini sedang mengucapkan jampi-jampi karena mulutnya komat-kamit tiada henti sejak pulang tadi.
“Ah sial! Untung dia nggak sadar gua berharap sesuatu. Ya ampun, malunya!” Rani menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Sebuah jas tergantung di gagang pintu lemari baju Rani. Rani cengengesan lagi dan guling-guling di atas kasurnya. Wajahnya memerah, senyuman tak lepas dari bibirnya dan perasaannya campur aduk tak karuan.
Malam hari mulai gulita, Adimas masih setia dalam acara malam itu. Hingga ponselnya berdering dengan nama emote hati warna merah di sana.
“Baby, aku nggak bisa datang ke acara pernikahan adikmu, sayang. So sorry, but aku nanti kasih hadiahnya belakangan.” Ucap suara dari seberang telepon terdengar manja.
“Never mind, honey, masih di mana?” tanya Adimas. Wanita itu terdengar bercakap-cakap sejenak dengan seseorang di sana.
“Ya, baby? Apa?” tanya ulang wanita itu yang tak mendengar ucapan Adimas barusan.
“Tidak, sudah makan?” tanya lagi Adimas.
“Aku lagi diet, baby. Ini udah malam, aku nggak makan dong, sayang. Aku sibuk banget nih mau lanjut pemotretan, baby. Love you, muah.”
Tuut...
Tuuut...
Panggilan ditutup. Adimas menghela napas kasar. Elin Rose, seorang model yang tengah naik daun. Dia adalah kekasih Adimas, sudah sekitar dua tahun mereka merajut kasih.
Dulu Elin adalah sosok gadis pemalu yang manis dan menggemaskan di mata Adimas. Adimas jatuh cinta pada Elin karena sifat perhatiannya yang manis dan cara Elin memperlakukan dirinya istimewa.
Namun setelah Elin mengenal dunia modelling, semuanya seolah luntur begitu saja. Jadwal yang dibuat seolah sesibuk mungkin, gaya hidup elit, dan cara dia memperlakukan tubuhnya sendiri saja membuat Adimas meringis dan membatin.
“Berasa jadi jomblo ya, Bro?” senggol David yang kini duduk di sampingnya.
“Minimal nggak jadi dudes macam kamu, Bang,” jawab Adimas. David terkekeh memperhatikan Hai Ran, gadis yang dulu sangat dicintainya dan mantan istrinya juga, kini nampak bermesraan dengan seorang pria bule asal Jerman.
Keduanya terdiam bersamaan, menikmati suara musik yang masih berdentum dan aroma pembakaran yang mengepul sana-sini. Adimas teringat dengan wajah Rani yang tadi terpejam, dia terkekeh tiba-tiba dan berdiri dari duduknya.
“Udah malam nih, Bang. Besok aku harus ngajar. Aku pulang duluan ya,” ucap Adimas pergi dengan senyum mengembang di bibirnya.
“Oke,” jawab David masih dalam sad moment-nya. Entah kapan dia akan move on, namun dia juga berusaha mengalihkan hatinya. Mencari inspirasi lain dalam hidupnya.
.
.
.
Keesokan paginya, Rani langsung mencari nomor kontak Adimas. Apa kabar dengan sepeda motornya? Rani pagi itu jelas harus berangkat sekolah.
Rani menghubungi Elyra beberapa kali, tak ada yang diangkat. Maklum pengantin baru, hingga akhirnya Rani pun menghubungi seorang guru Bahasa Sunda.
“Assalamu’alaikum, Pak. Maaf, apa Bapak punya nomor Pak Adimas?” tanya Rani harap-harap cemas.
“Wa’alaikumussalam. Gak punya, Neng Rani,” jawabnya. Rani menghela napas kasar.
“Oke deh, Pak. Makasih. Wassalamu’alaikum,” ucap Rani dan menutup panggilannya. Dia akan kembali menghubungi nomor guru yang lain hingga di huruf A di bagian paling atas kontaknya, dia menemukan sebuah nama yang agak asing di kontaknya.
“Adimas?” Rani mengangkat alisnya bingung. Sejak kapan dia kenal nama Adimas selain gurunya itu?
Rani pun hendak menghapusnya, namun urung saat dia sadar bila foto profil kontak itu adalah foto Adimas Aditiya. Rani menghela napas dan menghubungi nomor itu.
“Assalamu’alaikum, Mas?” Rani menelepon harap-harap cemas.
“Wa’alaikumussalam, Ran?” suara serak Adimas, nampaknya dia baru bangun tidur.
“Iya, ini Rani. Mas Adimas, motor aku di mana? Aku harus buru-buru ke warnet dan berangkat sekolah nih,” ucap Rani khawatir.
“Ya ampun, saya lupa. Kamu bisa naik taksi online atau sejenisnya dulu nggak? Nanti pulang sekolah kita ambil sama-sama,” tanya Adimas. Rani sontak saja cemberut.
Naik taksi online, itu bukan style-nya. Namun menggerutu pun percuma, dia pun bangkit dari duduknya setelah menggunakan sepatu. Jarak warnet dan ke rumahnya sekitar 3 km, Rani memantapkan hati.
“Mah, Rani berangkat. Assalamu’alaikum.” Rani mengecup tangan sang Mamah. Pagi itu matahari belum keluar sepenuhnya. Namun Rani harus ke warnet karena ada hal yang harus dia kerjakan di sana.
Rani berlari, dia melewati minimarket di mana dia meninggalkan motornya semula. Motornya tidak ada di sana. Bantuan yang diberikan Adimas justru menjadi beban berat bagi Rani. Bila saja Adimas tidak membawa sepeda motornya, pasti sekarang dia sudah bisa naik motornya lagi.
“Sabar, Rani,” ucap Rani pada dirinya sendiri. Suara tadarus masih dalam surat Ar-Rahman terdengar di telinganya. Larinya kian kencang saat sudah sampai di depan warnet.
Rani masuk dan langsung tersenyum saat melihat proyeknya ternyata berhasil. Robot yang dia buat kini nampak sudah merapikan semua ruangan di lantai satu, bahkan robot di lantai dua juga sudah melakukan tugasnya dengan baik.
Rani melihat jam dinding di warnet itu, sudah jam setengah tujuh. Rani berdecak, dia malas sekolah. Toh kemarin sudah buat surat izin ke sekolah dan tenggang surat itu kan tiga hari, jadi meski sekarang Rani tidak membuat surat keterangan lagi, surat sebelumnya masih berguna agar tidak tercatat bolos di sekolah.
Rani langsung berjalan menuju lantai tiga dan tersenyum bahagia. Inilah kebahagiaan yang sangat luar biasa bagi Rani. Menikmati momennya bersama para kabel dan benda-benda elektronik.
.
.
.
Sedangkan Adimas yang siang itu mengajar di jam pelajaran ketiga melihat bangku Rani yang kosong. Saat absen, Rani dinyatakan izin. Setelah keluar dari kelas, Adimas langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Rani.
“Rani!” suara Adimas terdengar kesal dari balik panggilan itu.
“Assalamu’alaikum, kenapa ya, Pak?” tanya Rani. Sekarang Dimas menghubungi dirinya sebagai wali kelas. Jadi sudah pasti panggilan Rani pada Adimas juga berbeda.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang