NovelToon NovelToon
Perjuangan Driver Ojol Poligami

Perjuangan Driver Ojol Poligami

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.

Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.

Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Senja

Keesokan harinya, suasana di rumah terasa seperti ruang bertekanan tinggi. Rani lebih pendiam dari biasanya. Ia tidak lagi bercerita tentang konten atau keluhan receh tetangga.

Tugas-tugasnya dilakukan dengan presisi yang dingin. Arman pun berhati-hati, seperti berjalan di atas pecahan kaca. Ancaman Rani bergaung di kepalanya, namun di sudut lain, rasa penasaran dan pembenaran yang ia kumpulkan dari internet terus menggerogoti.

Pagi itu, ritual mengantar Aldi sedikit berbeda. Rani ikut serta.

“Aku yang bayar SPP-nya langsung. Mau sekalian ngobrol sama wali kelas Aldi tentang persiapan kenaikan ke SD,” jelas Rani, sudah berdandan rapi dengan hijab satin warna peach dan tunik polos.

Kalung dan anting emasnya berkilau. Ini adalah Rani versi ‘siap tempur’—versi yang akan ia tampilkan di depan publik, terutama di sekolah.

Sepanjang jalan ke TK, Aldi yang ceria menjadi satu-satunya penghubung. “Bapak, nanti jemput pake motor ya? Aku mau keliling!” pinta Aldi.

“Iya, sayang. Bapak jemput nanti sore,” janji Arman, mencium kening anaknya.

Rani diam saja, hanya memegangi pundak Arman dari jok belakang dengan pegangan yang longgar, tidak seperti biasanya.

Setelah menurunkan mereka di gerbang TK, Arman merasa lega sekaligus hampa. Ia langsung membuka aplikasi dan mulai menerima orderan. Target hari ini hanya satu: mencoba operasi di sekitar apotek tempat Mira bekerja.

Ia tidak berharap banyak, hanya ingin… melihat. Mengamati lingkungannya. Mungkin saja mendapatkan konfirmasi lagi bahwa kehidupan poligami itu bisa berjalan normal.

Seharian ia mondar-mandir di wilayah itu. Area apotek Mira berada di kawasan perkantoran dan ruko yang cukup ramai. Dua kali ia mendapat orderan dari gedung perkantoran di seberangnya.

Setiap kali melintas, matanya menyapu cepat ke arah apotek bertanda hijau salib itu. Ia melihat pegawai berjas lab putih lalu lalang, tapi tidak ada tanda-tanda Mira.

Sore menjelang, lelah mulai menyergap. Arman bergabung dengan beberapa driver ojol lain yang nongkrong di trotoar dekat halte bus, menunggu orderan sekaligus berbagi cerita.

Obrolan mereka kali ini tidak menarik perhatian Arman. Pikirannya tertambat di apotek itu. Apakah Mira sudah pulang? Apakah suaminya sudah kembali dari Sukabumi? Ia merasa seperti penguntit, dan rasa bersalah membelit, tapi rasa penasaran lebih kuat.

Ketika langit mulai berwarna jingga, Arman memutuskan pulang. Ia menghidupkan motor, dan dengan hati berat, melintas sekali lagi di depan apotek itu. Kali ini, lampu di dalamnya masih menyala terang. Dan di balik kaca, ia melihat seorang wanita berjas lab putih sedang membereskan sesuatu di belakang kasir. Rambut tinggi, postur tubuh yang familiar. Mira.

Jantung Arman berdegup kencang. Tanpa pikir panjang, ia memarkirkan motornya agak jauh, di depan warung kopi yang sudah tutup. Ia berdiri tak tentu arah, berpura-pura memeriksa ponsel, padahal matanya terus mengawasi pintu keluar apotek.

Tidak lama kemudian, Mira keluar. Ia sudah melepas jas labnya, mengenakan kaus katun polos warna abu-abu dan celana jeans. Tas kanvasnya masih di pundak. Wajahnya terlihat sangat lelah. Ia mengunci pintu apotek, lalu berjalan pelan ke arah halte.

Ini kesempatan. Arman memberanikan diri, menghidupkan motornya dan meluncur pelan mendekat.

“Mba Mira?” panggilnya, mencoba tersenyum.

Mira menoleh, agak kaget. Ia membutuhkan beberapa detik untuk mengenali Arman. “Oh… Mas driver kemarin?”

“Iya, betul. Lagi pulang? Kebetulan saya nih, mau pulang ke arah Bekasi juga. Kalau mau numpang, sekalian aja. Langsung aja, tanpa aplikasi,” tawar Arman, berusaha tampak bersahabat.

Mira memandangnya, lalu melihat ke arah halte bus yang sudah mulai dipenuhi antrian. Kelelahan di wajahnya terlihat jelas. “Ke Bekasi mana, Mas?”

“Cikarang Barat. Tapi saya bisa antar sampe depan rumah Mba dulu, gak masalah. Lagi sepi orderan juga.”

Mira tampak berpikir. “Oke, deh. Tapi saya bayar pas ya, sesuai meteran aplikasi biasa.”

“Nggak usah, Mba. Anggep aja temen. Saya juga kebetulan lagi mau istirahat dari aplikasi,” bujuk Arman.

Mira akhirnya naik. “Terima kasih, Mas. Kebetulan banget, badan lagi capek banget hari ini.”

Motor kembali melaju. Arman berusaha mencari pembukaan.

“Lembur ya, Mba? Kok sore begini?”

“Iya, stock opname. Harus hitung ulang semua obat. Capek mata dan pikiran.”

“Wah, harusnya suami jemput nih biar lebih semangat,” seloroh Arman, memasang umpan.

Mira mendesah. “Ah, masih di Sukabumi. Masih 3 hari lagi baru ganti jadwal.”

“Oh… jadi sistemnya seminggu-seminggu gitu ya?” tanya Arman, mencoba terdengar sekadar penasaran biasa.

“Iya. Kadang malah lebih lama kalau ada urusan di sana. Anaknya lagi sakit kemarin, jadi dia perpanjang.”

“Hmm… berat juga ya jadinya. Mba sendiri di rumah.”

“Sudah biasa. Malah kadang lebih tenang sendiri,” jawab Mira, tapi nada kosongnya kembali.

Tiba-tiba, ia bertanya, “Mas, kenapa sih kemarin tertarik banget nanya-nanya soal poligami? Dan sekarang ketemu lagi, kayaknya bukan kebetulan beneran deh.”

Arman tersentak. Ia merasa terbongkar. Darahnya panas dingin. “I… ini… maaf, Mba. Saya memang lagi… punya pikiran ke arah situ. Dan bingung. Ketemu Mba yang menjalanin, jadi pengen tahu langsung gimana rasanya. Tapi nggak enak soalnya nanya-nanya terlalu dalam.”

Mira terdiam sejenak. Motor sudah memasuki jalur menuju perumahannya. “Masih penasaran ya?” tanyanya akhirnya.

“Jujur… iya, Mba.”

“Kalau masih penasaran dan memang mau denger cerita yang nggak cuma manis-manisnya, mampir bentar aja ke rumah. Saya belum mau masak juga. Ada kopi instan. Tapi janji, dengerin aja. Jangan langsung ambil kesimpulan.”

Undangan itu seperti jackpot bagi Arman. Ini lebih dari yang ia harapkan. “Serius, Mba? Nggak ganggu?”

“Nggak. Lagian juga sepi. Mumpung saya juga pengen cerita ke orang yang nggak saya kenal terlalu dekat. Kadang lebih enak,” kata Mira dengan senyum kecil yang getir.

Mereka pun tiba di rumah Mira yang rapi. Taman kecil di depannya masih terawat. Mira membukakan pintu dan mempersilakan Arman masuk.

Interiornya sederhana, bersih, dan terasa… sedikit terlalu teratur. Seperti sebuah showroom yang jarang ditinggali. Tidak ada mainan berserakan, tidak ada jejak kekacauan kehidupan keluarga yang hangat.

Hanya sebuah sofa kecil, meja TV, rak buku berisi buku-buku farmasi dan beberapa novel, serta sebuah foto pernikahan di atas meja. Dalam foto itu, Mira dan seorang pria tersenyum kaku.

“Silakan duduk, Mas. Saya buatkan kopi ya,” ucap Mira, meletakkan tasnya dan masuk ke dapur kecil.

Arman duduk di ujung sofa, merasa tidak pada tempatnya. Matanya menelusuri ruangan. Ini adalah rumah seorang yang hidup sendiri, meski statusnya bersuami.

Mira kembali membawa dua cangkir kopi hitam. Ia duduk di kursi tunggal di seberang sofa, memeluk bantal kecil. “Jadi, apa yang mau Mas tahu?” tanyanya langsung.

Arman gugup. “Saya… saya cuma bingung, Mba. Saya lihat teman saya yang poligami, kayaknya bahagia. Istrinya kayaknya akur.

Tapi saya denger cerita lain bilangnya sengsara. Lalu ketemu Mba yang… yang kelihatan tegar. Jadi mana yang bener?”

Mira menyeruput kopinya. “Dua-duanya bener, Mas. Tergantung sudut pandang dan tergantung apa yang mau dilihat. Teman Mas lihat yang bahagia karena mungkin dia yang dapat manfaatnya.

Istri-istrinya? Belum tentu. Saya kelihatan tegar karena saya memilih untuk tegar. Kalau nggak, saya sudah depresi atau gila.”

“Tapi Mba rela? Menerima saja?”

“Awalnya nggak,” jawab Mira tajam.

“Saya marah. Saya mogok. Saya minta cerai."

"Tapi waktu itu saya masih belum punya apa-apa, secara finansial sangat bergantung. Keluarga saya jauh, nggak support. Lalu saya mikir, buat apa? Kalau cerai, saya kembali ke nol. Suami saya baik secara materi, dia tetap menafkahi. Cuma… waktunya yang dibagi."

"Saya memutuskan untuk ambil jalur aman: bertahan, tapi membangun diri sendiri. Saya selesaikan profesi apoteker saya, kerja, kumpulkan uang. Rumah ini pun atas nama saya sendiri, dia yang bayar DP dan cicilan. Itu ‘kompensasi’ yang saya minta.”

“Jadi… tidak ada cinta lagi?” tanya Arman pelan.

Mira tertawa pendek, sinis. “Cinta? Cinta itu habis dia bilang mau nikah lagi. Yang ada sekarang mungkin… rasa sayang sisa, atau lebih tepatnya, kesepakatan bisnis. Dia dapat kebahagiaan dan keluarga yang dia mau."

"Saya dapat keamanan finansial dan kemandirian. Tapi setiap kali dia ke Sukabumi, atau setiap saya lihat foto anaknya dari istri kedua di media sosial, tetep aja sakit, Mas. Sakitnya tuh di sini,” ia menepuk dadanya.

“Dulu. Sekarang sudah kebas. Sudah seperti bagian dari pekerjaan: menjadi istri pertama yang ‘pengertian’.”

Arman terdiam. Cerita ini jauh dari kisah sinergi dan memberkahkan rezeki yang ia baca.

“Kalau… boleh tau, kenapa suami Mba mau poligami?”

Mira memandangnya lama. “Alasannya klasik. Saya mandul, Mas. Sudah empat tahun nikah, nggak ada tanda-tanda. Dia ingin keturunan. Itu alasan utamanya. Dan istri keduanya, anak pertama langsung dapat laki-laki.” Ada air mata yang mengkilat di mata Mira, tapi ia cepat mengusapnya.

“Jadi, poligami saya bukan karena saya kurang baik, atau karena dia bosan. Tapi karena ‘kekurangan’ yang ada di diri saya. Dan itu… itu yang membuat saya nggak punya hak untuk melarang. Cuma bisa menerima dengan segala kepedihannya.”

Arman merasa dadanya sesak. Ia membayangkan Rani. Rani memberinya Aldi, anak yang sehat. Ia tidak punya alasan ‘besar’ seperti itu. Alasannya hanya… keinginan. Kebosanan. Dan mungkin, gengsi melihat Budi.

“Mas sendiri, kenapa kepikiran poligami? Istri kurang baik? Nggak punya anak?” tanya Mira balik, menatapnya tajam.

Arman menunduk. “Istri… baik. Punya anak satu. Cuma… hidup kayak mentok, Mba. Nggak berkembang. Liat temen sukses punya dua istri, kayaknya hidupnya lebih semangat. Saya pikir, siapa tau dengan poligami, rezeki malah terbuka. Ada yang bantu-bantu.”

Mira menggeleng pelan, dengan ekspresi iba bercampur jengkel. “Mas, jangan. Percayalah sama saya. Poligami bukan solusi untuk masalah ekonomi atau kebosanan. Itu justru akan jadi masalah yang jauh lebih besar."

"Masak iya, masalah nafkah buat satu keluarga aja belum kelar, mau nambah beban lagi? Itu namanya bunuh diri finansial. Dan perasaan istri pertama… percayalah, Mas."

"Sakitnya bukan main. Saya yang mandul dan punya ‘alasan’ saja sakitnya sampai mau mati. Apalagi istri Mas yang sudah memberikan segalanya, tiba-tiba diberi alasan ‘hidup mentok’ atau ‘pengen semangat baru’. Itu penghinaan yang dalam.”

"Kata-kata Mira seperti gayung air dingin di tengah terik khayalannya. Ia melihat langsung ke dalam mata seorang yang menjalani. Bukan teori, bukan potongan media sosial. Ini adalah realita yang pahit, penuh kompromi dan luka yang ditutupi dengan kemandirian.

“Saya… cuma bingung aja, Mba. Pengen keluar dari situasi kayak gini,” aku Arman, suaranya kecil.

“Carilah cara lain, Mas. Diskusi sama istri. Cari usaha sampingan berdua. Jangan malah nambah orang. Rumah tangga itu sudah cukup rumit untuk dua orang, apalagi tiga.” Mira berdiri, menandakan percakapan usai.

“Terima kasih sudah mau dengerin curhat saya. Tapi tolong, jangan jadikan cerita saya sebagai inspirasi. Jadikanlah sebagai peringatan.”

Arman pun berdiri, malu dan tercerahkan sekaligus. “Terima kasih banyak, Mba. Maaf udah nyusahian.”

“Nggak apa-apa. Semoga Mas dapat pencerahan.”

Arman berjalan keluar, diantar Mira sampai ke pintu pagar. Senja telah berubah menjadi kelam.

Saat ia akan menyalakan motor, Mira berkata lagi, “Mas, satu hal terakhir. Cinta dan kepercayaan itu sekali pecah, susah banget disambung lagi. Bahkan dengan superglue sekalipun, bekas retakannya tetap kelihatan. Pikirkan itu sebelum membuat keputusan.”

Perjalanan pulang Arman terasa sangat panjang. Pikirannya kalut. Di satu sisi, ada Budi dengan kebahagiaan sempurna di Instagram.

Di sisi lain, ada Ibu Sari dengan penyesalan mendalam, dan sekarang Mira dengan kehidupan yang dingin dan penuh kompromi menyakitkan. Mana yang benar? Dan Rani.

Rani dengan ancaman cerainya yang tiba-tiba terasa sangat masuk akal. Ia membayangkan rumah ini menjadi sepiku seperti rumah Mira.

Ia membayangkan Aldi harus bergantian waktu dengannya. Ia membayangkan Rani yang tegas itu, mungkin akan menjadi seperti Mira: mandiri, dingin, dan penuh luka yang tak terlihat.

Ketika ia tiba di rumah, lampu warung sudah padam. Hanya lampu teras dan kamar tidur yang menyala. Rani sudah tidur bersama Aldi. Di meja makan, ada sepiring nasi dan lauk yang ditutup tudung saji. Tidak ada pesan, tidak ada tanda.

Arman duduk di teras, seperti biasa. Tapi malam ini, kopinya terasa lebih pahit dari biasanya. Fatamorgana di layar ponselnya, yang tampak seperti oasis kebahagiaan, mulai bergetar dan memudar, digantikan oleh bayang-bayang rumah sepi Mira dan tatapan dingin Rani.

Benih "andai saja" yang merambat subur, kini mulai layu diterpa angin kenyataan yang berhembus dari mulut seorang istri pertama yang pahit. Namun, akarnya yang sudah terlanjur dalam, apakah bisa dengan mudah dicabut? Atau justru akan tetap bersembunyi di bawah tanah, menunggu kesuburan berikutnya dari ilusi baru?

1
falea sezi
enak bgt si arman g dpet karma nya bkin crrai lah trs buat hancur males liat laki. model. kayak arman gini
La Rue
Semangat Arman 👍
Halwah 4g
Karya othor 1 ini suangaatttt keren.. sepertinya menuliskan pengalaman pribadinya sehingga sangat amazing ceritanya.. membolak-balikkan mood emak2 kaya kita.Andai tkohnya ada di depan mata pngen rasanya di bejek2
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 thanks for support nya kaka 👍
total 1 replies
falea sezi
hahaah gt klo pelakor niat emank menguasai
Suhainah Haris
sesuatu yang di paksakan akan berakhir juga dengan keterpaksaan, impian Arman menyatukan istri semakin jauh,bisa jadi malah kehilangan keduanya
La Rue: ada yg experts kah 🤣🤣🤣
total 2 replies
Suhainah Haris
Nadia mulai banyak kehendak,kalau mau suami yang utuh jangan laki orang kamu embat,ini konsekuensi yang harus kamu terima
Lee Mbaa Young
Karma pelakor dong Nadia bangkrut dan istri sah rani usahanya maju.
arman makin blangsak hidup nya.
falea sezi
cerai. lah. oon gagal. move on. laki. yg bekas lakor. situ g jijik. ya dan hadeh btw cinta boleh goblokk. jangannn/Hunger/
falea sezi
mbk. pelakor berasa korban ya haduh kayak. yg lagi viral. dehh uppss/Hey/
falea sezi
arman arman ne lacurmu playing victim bgt nanti lu di buang nadia jangan nanges ya/Shame/ sok. lembut ih lakor
Lee Mbaa Young
wanita baja ki berani ngambil keputusan kl bgini Rani sebagai wanita beragama ya dosa.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
Suhainah Haris: Rani hanya butuh waktu, keputusannya nanti mungkin berdasar pada sikap Arman ke Aldi,apakah dia konsisten dengan perjanjian mereka,
total 1 replies
Lee Mbaa Young
langsung urus surat cerai lah. ngapain mau ma laki model bgitu. Kl aku ya sory ae 🤣. soale sudah merasakan jd ku tendang lah laki ku.
Achnad Asbert: 🙏 maafkan aku sayang... aku khilaf... ,
total 2 replies
Suhainah Haris
thanks for update nya thor,semangat
Bp. Juenk: siap, thanks supportnya
total 1 replies
Suhainah Haris
intinya kamu gak berbakat buat poligami,betul kata Nadia harusnya kamu fokus sama dia,bukannya ini semua keinginanmu,
Bp. Juenk: Maruk Ka 😄
total 1 replies
Suhainah Haris
seandainya Arman dan Rani bercerai,demi mendapatkan simpati Arman kayaknya Nadia bakalan mempergunakan uangnya membantu Arman merebut hak asuh anaknya
Lee Mbaa Young
yakin lah sedih nya laki cm sebentar apalagi istri muda pendai ngambil hati plus bnyak uang🤣.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.
Bp. Juenk: /Whimper//Gosh//Gosh//Gosh/
total 2 replies
Suhainah Haris
aku tebak sih si Arman sedih pasti anaknya di bawa pergi,tapi pasti cuma sebentar,karena Nadia sangat pandai merayu dengan kata kata menenangkan
Suhainah Haris: Nadia itu perempuan manipulatif,dan dengan bodohnya si Arman terjebak,lihat saja nanti dia hanya akan di jadikan jongos
total 3 replies
Suhainah Haris
aku sepertinya sudah faham permainannya Nadia, berpura-pura polos dan pengertian,pada akhirnya tujuannya ingin memiliki Arman seorang diri dan tentu saja Aldi,dia ingin membuat Rani kehilangan suami dan anaknya,dan tentu saja si Arman yang super bodoh itu akan masuk perangkap
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae nih othor horror
total 2 replies
Suhainah Haris
gak ada kebahagiaan bagi manusia rakus
Bp. Juenk: 👍 setuju ka
total 1 replies
falea sezi
urus cerai ran qm berhak bahagia laki g tau diri bkin cerai Thor laki. doyan selangor kayak gini g pantes dpet istri sebaik rani
Bp. Juenk: wkwkwk cerita horror yg sadis itu ya
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!