NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 27 - Hubungan Unik

Alexa dan Steven berdiri menghadap layar laptop milik Daffa. Melihat beberapa foto yang tersebar di media sosial saat kejadian malam itu di kontrakan Alexa. Memang tidak ada video dan foto yang benar - benar memiliki kualitas gambar yang sangat jelas.

Meski begitu, gambar itu sangat bisa dipastikan bahwa itu adalah Steven dari perawakan dan bentuk wajah. Selain itu, banyak juga komentar yang membenarkan itu.

"Huft..." Daffa menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang didudukinya sambil menatap Steven heran.

"Bisa dicari orang yang upload foto ini nggak, Bang?" tanya Steven.

"Lo cari masalah terus, Stev. Bisa nggak sih bikin agensi 'tuh tenang sedikit?" timpal Daffa yang malah marah, bukannya menjawab pertanyaan Steven.

Daffa membuka gorden ruangan itu yang langsung memperlihatkan area depan gedung Fire Corp yang dipenuhi oleh wartawan—mengharapkan kejelasan langsung dari Steven.

Sementara Alexa hanya bisa diam. Dia memang sudah menduga kalau itu akan terjadi jika Steven menunjukkan diri. Itulah alasan Alexa melarang Steven melepas maskernya.

"Biarlah, Bang. Rame kok," cetus Steven acuh.

Daffa sampai menepuk keningnya tak habis pikir dengan jalan pikiran Steven yang sama sekali tidak banyak memikirkan apa pun sebelum bertindak.

Sesaat, mata Daffa dan Alexa bertemu dalam beberapa detik sebelum akhirnya Alexa menunduk menatap lantai.

Dia sangat takut melihat tatapan tajam Daffa yang tampaknya sedikit mengintimidasi Alexa karena Alexa lagi - lagi terlibat. Atau bahkan, Alexa - lah yang menjadi alasan Steven banyak membuat masalah akhir - akhir ini.

"Kalian sebenarnya ada hubungan apa sih?" tanya Daffa, menjadikan tangannya penopang dagunya—serius.

"Teman."

"Tidak ada hubungan apa - apa."

Jawab Steven dan Alexa bebarengan namun berbeda.

"Nggak mungkin nggak ada hubungan apa - apa. Steven datang loh ke rumah kamu." Kini Daffa hanya fokus berbicara pada Alexa.

Alexa semakin dalam menundukkan kepalanya. Dia juga tidak pernah mengundang Steven secara pribadi untuk bermain atau sekedar mampir karena tahu diri.

Yang ada, Alexa justru merasa menyesal sudah mengajak Steven masuk ke kontrakannya waktu itu.

"Saya—"

"Aku datang karena aku beli makanan terlalu banyak, Bang. Terus niatnya mau ngasih ke dia juga biar Alexa makan malam. Tapi dari pada makanannya sampai dingin, aku numpang makan di kontrakannya." Steven menjelaskan dengan setengah kebohongan.

"Nggak ada yang bicara sama lo," ucap Daffa melirik Steven sinis.

"Tapi Abang bikin Alexa takut."

"Kenapa harus takut kalau nggak salah?"

Tidak begitu sarkas tapi membuat Alexa semakin tak tahu harus berbicara apa.

Ucapan Daffa benar. Alexa harusnya tidak merasa takut ketika tidak melakukan kesalahan tapi dia tidak bisa mengontrol itu. Alexa selalu merasa takut ketika berhadapan dengan banyak orang.

Selama ini dia hanya berusaha melawan ketakutannya agar tetap bisa bekerja dan memiliki teman di tempat kerja. Dia tahu tidak mungkin menjalani hidupnya benar - benar menjauhi semua orang.

"Alexa, aku bicara denganmu. Bisa tatap mataku?" Daffa mulai kehilangan kesabaran.

Perlahan Alexa mengangkat kepalanya sambil menelan ludahnya—sakit.

"Maaf." Kalimat pertama yang bisa Alexa ucapkan setelah akhirnya bertatapan dengan Daffa.

"Bukan masalah maaf. Aku cuman mau tahu, kenapa Steven begitu peduli sama kamu? kamu apain dia?"

"S - saya cuman pernah menyelamatkan Steven dari kejaran penggemar. Dan... dan saya selamat... kecelakaan karena Steven," jawab Alexa belepotan karena saking paniknya.

Namun Daffa mengangguk mengerti. Kemudian dia menunjukkan rekaman siaran langsung entah akun milik siapa tapi siaran itu menunjukkan tempat di mana Alexa tinggal.

Di sana juga tampak sangat ramai. Banyak orang yang datang ke kontrakan tempat Alexa tinggal untuk menemui Alexa secara langsung.

"Kamu akan kena dampak paling buruk dari penggemar." Daffa memberitahu dengan sabar. "Satu - satunya cara, Steven—" Kalimatnya terjada.

"Kamu harus klarifikasi," lanjutnya.

"Tapi... caranya?"

"Papa kamu."

Daffa tak menjelaskan secara detail apa maksudnya tapi Steven hanya mengangguk mengerti.

Dia bisa menggunakan power ayah dan ibunya untuk masalah kali ini. Tidak selesai dengan cepat tapi mungkin, bisa lebih cepat dari pada mengklarifikasi semuanya melalui media lain.

"Kamu punya media sosial, Alexa?" tanya Daffa.

Alexa sempat tersentak kecil kemudian menggeleng cepat.

"Sama sekali nggak punya?!" pekik Steven terkejut.

"Pernah punya. Sekarang tidak," jawabnya singkat.

Daffa mengangguk mengerti kemudian tampak mengetik sesuatu di ponselnya.

Sebenarnya Alexa tahu kalau Daffa sangat tidak menyukainya. Sejak pertama kali melihat, kemudian menemui Alexa sampai akhirnya sudah beberapa kali berhadapan dengan Alexa, Daffa terlihat muak.

Meskipun tidak bicara secara langsung, raut wajah Daffa yang berbicara.

"Nggak usah takut. Masalah kayak gini biasa di dunia hiburan," kata Steven sambil terkekeh—berusaha menenangkan Alexa.

Alexa langsung menginjak kaki Steven kuat - kuat, membuat lutut Steven membentur meja karena terlonjak akibat kesakitan.

Jelas Alexa kesal dengan cara Steven bersikap sesantai itu menanggapi apa yang sedang terjadi. Padahal Alexa sebenarnya sudah menahan tangis karena takut Daffa dan Gavin akan memarahinya.

Untunglah yang menginterogasi hanya Daffa.

"Sakit tahu!" Steven menjitak kepala Alexa.

"Rasain! Padahal waktu itu aku udah bilang, jangan buka masker. Kamu yang nggak nurut!" omel Alexa mengungkit kejadian itu.

"Masalahnya orang - orang waktu itu rese' sih."

"Tapi 'kan jadi aku yang kena!"

"Yeuuu... bukannya bersyukur ikut terkenal."

Sekali lagi, Alexa menginjak kaki Steven lebih kencang dari sebelumnya membuat si empunya berteriak.

Percakapan keduanya disimak baik - baik oleh Daffa yang masih berusaha mencari cara untuk meredakan rumor itu. Awalnya dia terganggu dengan pertengkaran dua orang di hadapannya.

Namun lama - kelamaan, seperti ada lampu menyala di atas kepalanya ketika ide tiba - tiba muncul begitu saja.

"Kalian sering bertengkar ya?" tanyanya langsung to the point.

Alexa dan Steven menoleh pada Daffa.

"Hm... kalau ketemu bawaannya emang pengen jailin dia sih," sahut Steven menunjuk Alexa.

"Kalau kamu Alexa? Apa pendapat kamu tentang Steven?"

"Saya tidak suka sifatnya." Alexa mengatakan itu tanpa ragu sama sekali.

Daffa akhirnya tertawa kecil mendengar pernyataan Alexa yang sangat apa adanya. Daffa sendiri tidak begitu suka dengan karakteristik Steven yang benar - benar tidak patuh aturan sama sekali.

Melihat Daffa tertawa, ketakutan di dalam diri Alexa juga sedikit memudar.

"Dengar, Steven? Lo memang se - menyebalkan itu," ledek Daffa.

"Bodo amat. Yang penting ganteng," kilah Steven sambil menyibakkan rambutnya.

Bukannya terpesona, Alexa justru menatap Steven dengan mata memicing dan meringis seolah muak dengan cara Steven menyombongkan dirinya.

Hal itu membuat Daffa semakin terbahak melihat reaksi Alexa yang terus terang.

"Kenapa kamu lihatnya begitu banget sih?!" Steven tak terima dengan cara Alexa memandangnya jijik.

"Muak aku."

Tawa Daffa kembali menggelegar. Dia memang sempat marah karena bingung harus bagaimana meredakan rumor yang beredar. Apalagi Alexa dikatakan sebagai 'p3lacur' di berita tersebut.

Siapa sangka kalau hubungan keduanya cukup menghiburnya, bahkan membuatnya menemukan jalan keluar. [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!