NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 29 - Barter

Kedua mata Steven berbinar ketika melihat Alexa keluar dari ruang penyimpanan barangnya dengan tas yang menempel di pundaknya.

Secara otomatis, dia mendekati cewek yang tampaknya lelah itu.

"Mau ku antar pulang nggak?" tawarnya.

Alexa menoleh kemudian memutar bola matanya tampak tidak ingin menanggapi Steven yang entah sejak kapan ada di sana. Seingatnya, Steven belum benar - benar memutuskan untuk keluar atau kembali ke NOVA.

"Nggak perlu. Aku sudah pesan ojek online." Alexa menolak sembari mengikat tali sepatunya.

"Ih, nolak..." ujarnya kesal.

"Lagian kamu nggak ada kerjaan selain gangguin aku?" cetus Alexa yang sudah muak mendapatkan masalah karena Steven.

Steven tertawa kecil sembari menarik rambut Alexa yang dikuncir kuda itu.

"Aku bosen sama kerjaan aku," katanya, curhat.

"Kalau boleh milih, aku juga nggak mau jadi cleaning service. Tapi, kadang kita emang dikasih kerjaan sesuai kapasitas diri kita. Bukan sesuai pilihan kita."

Kembali ke opsi awal, Alexa harus bertanggung jawab dan membuat Steven kembali ke NOVA.

"Ey, dapat kata - kata dari mana itu!" Steven menjentikkan jarinya cukup tertegun dengan cara Alexa merangkai kata.

Alexa mencibir pelan sambil berjalan keliar gedung meninggalkan Steven.

Tapi Steven tetaplah Steven Si Pengganggu, dia mengikuti Alexa. Entah dari mana dia mendapatkan julukan Beruang Kutub. Dia lebih mirip kucing suka mengintil tuannya ketimbang seekor beruang.

Mereka berhasil menarik atensi orang - orang di lobi. Tak ada satu mata pun yang tidak tertuju pada mereka.

"Steven, kamu juga mau pulang?" tanya Alexa basa - basi.

"Mau antar kamu. Hari ini aku harus menginap di asrama." Steven menjawab tanpa ragu.

Alexa berhenti tepat di ambang pintu masuk gedung sembari menatap layar ponselnya memeriksa apakah ojeknya sudah sampai atau belum.

Steven mengintip ponsel Alexa ikut menonton gambar motor yang berjalan di peta menuju ke titik lokasi fu mana Alexa berada.

"Jangan ikut campur, Steven!" tegur Alexa.

"Aku kira kamu nggak punya ponsel," ujarnya.

"Aku hanya tidak banyak menggunakan ponsel."

Steven kemudian mengambil ponsel layar retaknya dan menyodorkannya pada Alexa.

Sesaat, Alexa hanya memandang ponsel Steven itu. Dia sepertinya ingat alasan layar ponsel itu menjadi seperti sekarang. Tapi jika diminta untuk mengganti, Alexa bahkan tidak memiliki uang dari setengah harga ponsel merk itu.

"Apa?" tanya Alexa akhirnya.

"Minta nomor telepon," jawab Steven.

Ekor mata Steven menangkap beberapa orang tampak berisik - bisik tak jauh dari tempat mereka berdiri.

"Nggak." Alexa langsung menolak tegas.

Steven mendengus kesal. Dia memainkan ponselnya beberapa saat, kemudian menunjukkan pada Alexa lagi layar ponselnya kini yang berisi kode QR kontak miliknya.

"Kalau gitu, aku kasih nomorku." Dia tidak menyerah.

"Memangnya kamu nggak takut aku sebarin nomor kamu?" ancam Alexa.

"Nggak masalah."

Yang menjadi target Steven adalah mendapat nomor Alexa. Meski pasa akhirnya nomornya tersebar, dia bisa mengganti nomor dan tetap bisa menghubungi Alexa dengan nomor baru itu.

Tiba - tiba sebuah notifikasi masuk ke ponsel Alexa. Ternyata pesan pembatalan dari ojol yang dipesannya karena motornya mengalami masalah di tengah jalan.

"Yah..." keluhnya.

"Ada apa?" Steven hendak mengintip ke ponsel Alexa lagi tapi Alexa melangkah mundur.

"Ada urusan mendadak. Aku duluan!" Alexa berlari pergi untuk menghindari tawaran Steven mengantarnya pulang jika tahu ojol yang dia pesan mengalami masalah.

Steven hendak mengejar tapi baju belakangnya dicengkeram seseorang.

"Asrama punya aturan, Steven."

Seperti biasa, itu Abi yang selalu mengganggu kehidupannya.

"Gue sudah ikut latihan hari ini. Itu nggak cukup?" balas Steven sembari menepis tangan Abi.

"Kita ada acara besok pagi." Abi memberitahu.

"Gue nggak bilang nggak akan datang besok. Tenang saja."

Abi menghela nafas panjang. Mulutnya terbuka hendak berbicara tapi saat itu anggota lainnya muncul dan melewati mereka begitu saja menuju asrama.

Jo sempat menepuk pundak Abi beberapa kali tanpa berbicara. Tapi seolah sedang berbicara melalui telepati sehingga Abi sedikit lebih tenang.

"Oke. Selama lo nggak ingkar," pupus Abi.

Mendengar itu, Steven langsung berlari. Dia - ingin - mendapatkan - nomor - ponsel - Alexa, itu saja sebenarnya.

Dan tentu saja dia tidak belum memutuskan untuk kembali pada NOVA atau tidak. Hanya karena Jo sempat bilang dia akan melibatkan Alexa di penulisan lagu comeback selanjutnya, Steven jelas tertarik.

Senyum Steven merekah ketika melihat Alexa tampak sedang mampir membeli jajan di pedagang kaki lima.

"Alexa!" panggilnya.

Alexa menoleh, tapi dia seketika panik. Dengan cepat dia berlari ke arah Steven dan mengambil tisu dari sakunya untuk menutupi wajah Steven.

Ya, Steven lupa kalau dia harus sangat hati - hati ketika keluar.

"Ngapain ngikut lagi sih?!" omel Alexa.

"Kamu belum ngasih nomor kamu." Steven menjawab sambil terkekeh.

"Kan, udah kubilang. Aku nggak mau."

"Kalau gitu kita pakai sistem barter deh. Kamu kasih nomor aku, aku kasih sesuatu ke kamu." Steven mengembalisn tisu milik Alexa dan memaksi maskernya sendiri.

Alexa tampak menimang - nimang tawaran Steven. Dia bisa menggunakan kesempatan itu untuk membuat Steven sedikit menjauh darinya. Paling tidak, mereka tidak perlu menunjukkan kedekatan satu sama lain di depan banyak orang.

Mendapatkan masalah karena terlibat dengan seorang idola itu terlalu menyebalkan.

"Neng, telur gulungnya." Pedagang memanggil Alexa.

"Eh, iya, Pak." Alexa kembali ke pedagang itu mengambil telur gulungnya dan membayarnya.

Steven ikut mencomot telur gulung Alexa dan memakannya tanpa ragu sambil terus mengikuti langkah Alexa, kemudian berdampingan sambil menikmati telur gulung itu.

Alexa juga tidak memprotes selama Steven tidak ketahuan karena harus membuka maskernya saat makan.

"Tawaranku gimana?" tanya Steven menagih jawaban.

"Oke deh." Alexa menyetujui perjanjian barter itu.

"Nomorku kan ada dua belas digit. Berarti aku bisa minta dua belas permintaan dong. Setiap satu permintaan, kamu dapat satu digit nomor."

Seketika langkah Steven berhenti mendengar itu. Dia menatap kesal pada cewek yang terus berjalan tanpa menoleh itu.

"Itu curang namanya!" keluh Steven.

"Kalau nggak mau ya sudah," tukas Alexa.

Steven mengejar Alexa lagi. Dia mengeluarkan ponselnya dan menulis 08 di note ponselnya.

"Aku sudah dapat 0 dan 8. Jadi, permintaan kamu cuman sepuluh."

"Sip."

"Permintaan pertama?" Steven kembali menyimpan ponselnya dan lanjut mengunyah telur gulung yang ada di tangannya.

Alexa berpikir sejenak. Hal yang paling mengganggunya adalah... Abi. Abi yang bilang kalau Ayahnya adalah korban p3mbunuhan Alex.

"Kamu tahu soal keluarga Abi?"

"Aku nggak menyebarkan informasi soal Bang Abi. Selain Bang Abi tidak masalah." Steven berbicara cepat.

"Nggak bisa gitu dong. Kan, sistemnya barter."

"Lagian kenapa tanya soal Abi. Aku lebih keren. Kamu suka ya sama dia?"

"Enak aja! Siapa yang mau sama cowok mulut lemes?" sanggah Alexa.

Steven terkekeh pelan. Dia pikir, Alexa mungkin memang sudah lebih dekat dengan Abi setelah banyak kejadian yang melibatkannya.

Tapi tetap saja aneh karena yang pertama kali Alexa ingin tahu adalah mengenai keluarga Abi.

"Dia bukan anak kandung keluarganya yang sekarang. Setahuku begitu karena dia tertutup soal keluarganya." Steven akhirnya menjawab.

"Lalu... ayah kandungnya?"

"Ah, dibun*uh! Aku nggak tahu masalahnya apa. Tapi ayahnya meninggal karena dibu*uh." [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!