Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Leon berjalan santai menyusuri pasar yang ramai saat perjalanan pulang. Suara hiruk-pikuk pedagang yang menjajakan dagangan memenuhi udara.
"Buah segar! Mari, Nyonya, Tuan, buah yang baru dipetik!" teriak seorang pedagang.
"Daging sapi segar! Daging kualitas terbaik hari ini!" sahut pedagang lainnya dari seberang jalan.
Leon terhenti tepat di depan lapak daging. Ia menatap potongan daging sapi yang merah dan menggoda. Penjual daging itu segera menyambutnya dengan senyum lebar.
"Silakan, Tuan! Apa Anda ingin membeli daging?" tanya si pedagang penuh harap.
Leon mengangguk pelan. Ia merogoh saku dan mengeluarkan sekeping koin emas yang berkilau di bawah sinar matahari. Mata si pedagang membelalak, ia hampir tidak percaya melihat koin berharga itu keluar dari tangan pemuda di depannya.
"Berikan aku potongan yang paling besar itu," ucap Leon sambil menunjuk sebongkah daging paha sapi yang segar.
"Tentu saja, Tuan! Segera saya siapkan!" sahut si pedagang dengan semangat berapi-api. Ia dengan cekatan membungkus daging tersebut, lalu menyerahkan sisa kembalian berupa beberapa koin perak kepada Leon.
Setelah Leon pergi, si pedagang masih berdiri terpaku. Ia menggosok-gosokkan koin emas itu ke pipinya dengan wajah penuh kebahagiaan.
Tak lama kemudian, Leon sampai di depan gubuknya. Dari kejauhan, ia melihat sosok Eiryn yang berdiri gelisah. Gadis itu tidak bisa diam, matanya terus menyapu jalanan dengan cemas.
Begitu melihat sosok Leon muncul, tubuh Eiryn mendadak kaku. Ia mengembuskan napas panjang, terlihat sangat lega. Leon berjalan mendekat dengan santai.
"Tuan! Anda dari mana saja? Kenapa pergi tanpa pamit?" cecar Eiryn. Suaranya sedikit bergetar, wajahnya merona kemerahan dan ia tampak canggung menatap Leon karena ingatan tentang kejadian panas mereka sebelumnya masih membekas jelas.
"Aku hanya jalan-jalan sebentar," jawab Leon singkat.
Eiryn menyipitkan mata, meneliti penampilan tuannya dari atas sampai bawah. "Jalan-jalan? Tapi kenapa penampilan Tuan berantakan dan kotor seperti ini?"
Leon hanya tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangan, mengusap lembut puncak kepala Eiryn. "Sudahlah, tidak perlu khawatir."
Eiryn tersentak kecil. Sentuhan tiba-tiba itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia segera menundukkan kepala, tidak berani menatap mata Leon yang terasa berbeda dari biasanya.
"Lihat, aku membawakan daging yang bagus. Bisakah kau memasakkannya untukku?" tanya Leon sambil menunjukkan bungkusan besar di tangannya.
Eiryn mendongak sedikit, wajahnya masih terlihat khawatir. "Tapi... Tuan benar-benar baik saja, kan?"
"Ya, aku baik," sahut Leon mantap. Ia mengangkat sebelah tangannya, memamerkan otot lengannya yang kini terasa lebih padat dan bertenaga.
Leon menyerahkan bungkusan daging itu ke tangan Eiryn yang masih bingung. "Masaklah yang enak. Aku mau mandi dulu untuk membersihkan diri."
Eiryn hanya bisa mengangguk patuh, menatap punggung Leon yang melangkah masuk ke dalam gubuk dengan perasaan yang campur aduk.
Tak lama kemudian, aroma gurih daging panggang memenuhi seisi gubuk. Leon turun dari kamarnya dengan pakaian bersih dan rambut yang masih sedikit basah.
"Harum sekali," puji Leon sambil menarik kursi dan duduk di meja makan.
Eiryn melangkah mendekat, wajahnya masih tampak malu-malu. Ia perlahan menuangkan teh hangat ke dalam gelas Leon. Namun, sebelum gadis itu sempat menjauh, tangan Leon bergerak cepat menarik lengan Eiryn.
"Ah!" Eiryn tersentak saat tubuhnya ditarik hingga terduduk tepat di pangkuan Leon. "Tu-tuan?"
"Bisakah kau menyuapiku hari ini? Aku sedang tidak mood makan sendiri," ucap Leon dengan nada rendah, memberikan alasan yang jelas-jelas hanya modus belaka.
"Menyuapi?" Eiryn membelalakkan mata, jantungnya berdegup kencang. "Tapi... posisi ini, ... sangat tidak sopan."
Leon tidak menjawab. Ia hanya membuka mulutnya sedikit, menatap Eiryn dengan pandangan menuntut yang tidak membiarkan adanya penolakan.
Eiryn menghela napas pasrah. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai memotong daging, menusuknya dengan garpu, lalu perlahan menyuapkannya ke mulut Leon.
"Wah, ini lezat sekali," gumam Leon sambil memejamkan mata, menikmati tekstur daging yang lumer di lidahnya.
Ia menoleh ke arah Eiryn yang wajahnya sudah semerah tomat. Leon melingkarkan tangannya dengan posesif di pinggang langsing Eiryn, menarik tubuh gadis itu agar lebih merapat. "Kau memang yang terbaik, Eiryn."
Satu suapan, dua suapan, hingga pada suapan berikutnya, gerakan tangan Eiryn mendadak membeku. Gadis itu merasakan gejolak yang nyata dan bertenaga dari raga tuannya tepat di bawah posisinya duduk.
Eiryn tersentak, matanya melebar karena kaget. Ia refleks menoleh ke arah tuannya dengan ekspresi tidak percaya. "Tuan... i-ini..." suaranya tercekat di tenggorokan.
Leon hanya menaikkan sebelah alisnya, seringai tipis muncul di sudut bibirnya. Ia justru semakin mempererat pelukannya. "Bisakah kita melakukannya lagi?" bisik Leon dengan suara rendah yang serak.
Napas hangat Leon yang menerpa telinganya membuat tubuh Eiryn gemetar hebat di atas pangkuan tuannya. Jantungnya berdegup begitu kencang, seolah ingin melompat keluar. "Tuan... Anda..." Eiryn tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Tatapan intens Leon benar-benar mengunci seluruh keberaniannya.
.....