NovelToon NovelToon
CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

CIREMAI: THE LAST SURVIVAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Epik Petualangan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.

Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5

Sabtu, 17 Mei : Pukul 09.15 WIB

Pos Pendaftaran Pendaki, Jalur Linggarjati, Kaki Gunung Ciremai

Fajar Anggara tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah-setengah.

Kalimat itu selalu dia ucapkan di setiap video pembuka kontennya. Di depan kamera terdengar seperti motivasi. Tapi orang-orang yang sudah lama mengenalnya termasuk dua orang yang berdiri di sampingnya sekarang tahu bahwa kalimat itu adalah diagnosis, bukan kebanggaan.

Fajar tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah-setengah.

Termasuk hal-hal yang seharusnya dilakukan dengan hati-hati.

“Jar, drone lo masuk carrier kan?” Bagas menyenggol lengan Fajar, keningnya berkerut menatap tumpukan perlengkapan yang sedang diatur ulang di bangku kayu pos pendaftaran. Bagas teman SMA-nya: pendek, berkacamata tebal, dan punya kebiasaan mendelik setiap kali Fajar berencana melakukan sesuatu yang menurutnya gila.

Yang frekuensinya cukup sering.

“Bukan di dalam carrier.” Fajar mengangkat kotak hitam berukuran sedang dengan penuh kehati-hatian, seperti mengangkat bayi prematur. “Gue bikin mount khusus di sisi luar. Biar gampang diambil kalau tiba-tiba ada spot bagus.”

Dimas, yang berdiri agak jauh sambil mengikat ulang tali boot-nya, mengangkat kepala. “Itu drone yang baru lo beli minggu lalu?”

“DJI Air 3S.” Fajar tak bisa menyembunyikan senyumnya. “Empat belas juta. Sensor angin auto-stabilize, obstacle avoidance terbaru, bisa terbang di angin sampai 38 kph. Kamera-nya”

“Empat belas juta,” ulang Bagas dengan nada berbeda. “Fajar. Lo bilang ke gue kemarin itu cicilan dua belas bulan.”

“Iya.”

“Berarti lo belum lunas.”

“Belum lunas, Gas. Baru bayar DP.”

Bagas memejamkan mata sebentar gerakan orang yang sedang meminta kesabaran ekstra. “Dan lo bawa benda seharga empat belas juta yang belum lunas itu ke gunung? Dengan carrier nempel di luar? Di mana angin bisa sekuat apa pun di atas sana?”

“Makanya ada obstacle avoidance ”

“Fajar.” Kini Dimas yang bicara. Suaranya lebih tenang dari Bagas, tapi justru itu yang membuat Fajar berhenti sejenak. Dimas jarang pakai nada serius. “Gue nggak nanya soal drone-nya. Gue nanya soal lo. Lo udah cek cuaca belum untuk hari ini?”

Fajar memasang drone mount di sisi carrier-nya, memastikan kuncinya rapat. “Udah. Pagi ini cerah.”

“Sore?”

Jeda sekecil atom. Tapi Bagas dan Dimas langsung menangkapnya.

“…Agak berawan.”

“BMKG kemarin bilang potensi kabut tebal mulai sore di jalur atas,” kata Dimas datar. “Gue baca sendiri. Lo nggak baca?”

“Kabut bukan hujan, Dim. Gue masih bisa nge-vlog dalam kabut. Malah lebih sinematik”

“Fajar Anggara.” Bagas memotong tanpa basa-basi. “Gue ikut trip ini karena lo bilang ini casual hiking. Santai, nikmatin pemandangan, turun sebelum gelap. Bukan karena gue mau jadi cameo di konten lo yang judulnya ‘NEKAT NAIK CIREMAI DALAM KABUT FT. DRONE 14 JUTA (HAMPIR MATI)’ atau apalah.”

Fajar tertawa tawa lepas yang selalu berhasil membuat orang lain susah marah padanya. “Gas, lo terlalu dramatis. Udah tiga kali gue naik gunung bawa drone, nggak ada yang kenapa-kenapa.”

“Papandayan bukan Ciremai.”

“Gunung tetap gunung.”

Bagas menatap Dimas. Dimas menatap Bagas. Pertukaran pandang dua orang yang sudah terlalu sering menghadapi situasi persis seperti ini.

Fajar sudah mengangkat carrier-nya, memasangnya di punggung dengan gerakan ringan seolah beban tiga puluh kilo itu tak ada. Lalu dia menyalakan action cam kecil di dada harness-nya, mengarahkannya ke wajah sendiri dengan sudut menganga khas vlogger outdoor.

“Guys, selamat pagi dan selamat datang di konten paling epik yang pernah gue buat.” Suaranya langsung berubah lebih hangat, lebih berenergi, seperti menekan tombol ON di dalam dirinya. “Hari ini, gue sama dua sahabat gue, Bagas dan Dimas, bakal naik Gunung Ciremai lewat Jalur Linggarjati. Dan untuk pertama kalinya, gue bawa si bayi baru.” Dia menepuk kotak drone di sisi carrier dengan bangga. “Footage-nya bakal gila, guys. Kalian tungguin aja.”

Bagas, yang tertangkap kamera di sudut belakang, hanya tersenyum tipis dengan ekspresi orang yang sedang berdoa bukan untuk dirinya sendiri.

Sabtu, 17 Mei : Pukul 11.30 WIB

Jalur Linggarjati, Ketinggian ±1.400 mdpl

Gunung Ciremai pada jam sebelas siang adalah dunia yang berbeda dari bawah.

Pepohonan di jalur bawah masih didominasi tanaman perkebunan dan semak belukar yang akrab. Tapi di ketinggian ini, vegetasinya berganti pohon-pohon semakin tinggi, semakin rapat, semakin tua. Akar-akar besar mencuat dari tanah merah lembab, membentuk tangga alami yang tak pernah benar-benar rata. Suara jangkrik dan burung tak dikenal mengisi udara yang semakin bersih sekaligus semakin tipis.

Fajar berjalan di depan. Action cam di dadanya terus merekam.

Setiap lima ratus meter, dia berhenti, mengeluarkan gimbal kecil dari saku samping, dan mengambil shot-shot yang sudah dia bayangkan sejak malam sebelumnya. Close-up akar pohon berlumut. Time-lapse awan bergerak di celah kanopi. Tracking shot dirinya berjalan di antara pohon-pohon besar dengan langkah yang terlihat lebih ringan dari kenyataannya.

Bagas dan Dimas mengikuti di belakang, jarak mereka cukup jauh karena mereka tak berhenti setiap lima menit.

“Lo tau,” kata Dimas, suaranya agak tersengal, “ada penelitian yang bilang orang yang vlog perjalanannya secara psikologis kurang menikmati momen dibanding yang nggak.”

“Itu penelitian siapa?” tanya Bagas.

“Entah. Tapi masuk akal nggak?”

Bagas melirik ke depan, tempat Fajar sedang berlutut mengambil low-shot tanah berlumut. “Sangat masuk akal. Fajar belum sekali pun benar-benar liat pemandangan yang bagus tadi yang ada waterfall kecilnya. Dia malah sibuk setting white balance.”

“GUYS!” Teriakan Fajar dari depan memotong mereka. “Sini, sini! Lihat ini ada jamur gede banget di batang pohon! Bisa buat konten edukasi!”

Mereka mempercepat langkah. Di depan, Fajar sedang menyorot sesuatu di batang pohon besar dengan lampu ring kecil yang dia keluarkan dari saku celana tentu saja dia bawa ring light portabel ke pendakian.

Di batang pohon setinggi dada, tumbuh gugusan jamur pipih berwarna oranye kecokelatan yang menyebar seperti undakan kecil. Tanah di sekelilingnya tampak lebih gelap, lebih lembab, meski tak ada sumber air di dekat situ.

“Itu jamur kayu biasa, Jar,” kata Bagas setelah melirik sekilas.

“Mungkin. Tapi tetap bagus buat konten.” Fajar sudah memframe shot-nya. “Guys, di alam banyak banget organisme yang kita lewatin begitu saja padahal mereka punya cerita luar biasa”

“Fajar.”

“Salah satunya jamur. Jamur itu bukan tumbuhan, bukan juga hewan. Mereka punya kingdom sendiri. Kingdom Fungi. Dan beberapa dari mereka”

“FAJAR.”

Fajar menurunkan gimbal-nya. Menoleh ke Bagas dengan ekspresi guru yang diinterupsi murid.

“Kita masih di kilometer tiga,” kata Bagas. “Puncak di kilometer delapan koma sekian. Kalau berhenti tiap lima menit buat konten, kita sampe puncak jam berapa?”

Fajar melirik jam tangannya. Lalu melirik langit. Langit di atas kanopi masih terang.

“Oke, oke. Lanjut.”

1
Kustri
lanjutkan!!!
Kustri
oalah zidan... zidan orang terbirit" kamu malah nyantai😂
Kustri
semangat buat lanjutin karyamu ini
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
Kustri
hlaa py to, saya jg sdh siap melanjutkan, koq malah mentok😩
Kustri
kamu salah 1 dr mrk, tubuhmu ada zat yg sama dgn mrk zidaaaan... 😁bener gk sih thor🤭
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
Kustri
mayan di swalayan stok makanan & minuman aman👌🤭
Kustri
☕tak sogok biar crazy up🤭😁
Kustri
weh zidan 🎷🎼ada apa dgnmu...
Kustri
ngeyel BGT👊👊👊wae
Kustri
qu msh capek, dok masa iya baru nyampe bawah, istirahat jg blm masak suruh naik lagi😫😫😫
Kustri
ky'a satria gk nyebut zidan, koq sakira tau yg terpapar itu zidan🤔ampe qu ulang baca'a🤭
NR: wkwk, terimakasih kak.
total 1 replies
Kustri
diminumin air kelapa ijo x yaa🤭
Kustri
memukul jgn hanya pukul
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
Kustri
wah zidan ky'a terpapar dr serbuk nih, melihat kondisi'a
Kustri
eumm... dr jamur yg fajar makan waktu kelaparan itu yaa
Kustri
kira" apa obat penyembuh'a ya🤔
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
t-rex
suka banget upnya langsung banyak gini. btw Thor, perkiraan end dibab berapa? wkwk. mau nabung bab😭😭🤭
NR: Up banyak kalo lagi ada ide aja kak wkwk, kalo up nya cuman 1 bab itu lagi stuck alur ceritanya mao dibawa kemana yak ini wkwk,
total 1 replies
Kustri
qu koq deg"an klu zidan terpapar😫
lanjut lagii
Kustri
lanjuuut 👉👉👉
Kustri
bisa gk thor kalimat"nya diperhalus, perasaan dipart" awal kalimat'a enak dibaca
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪
NR: oke kak, terimakasih saran nya, 😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!