Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jamuan yang Berbisa
Kehadiran Clara rupanya bukan sekadar kunjungan singkat. Keesokan malamnya, sebuah undangan makan malam formal datang dari kediaman Tuan Waren. Luna awalnya menolak untuk hadir, namun Isaac memohon dengan tatapan yang sulit ia tolak, meyakinkan bahwa ini adalah cara terbaik untuk menunjukkan pada semua orang—termasuk Clara—siapa wanita yang sebenarnya berada di sisi Isaac.
Malam itu, Luna tampil memukau dengan gaun malam berwarna hitam pekat yang elegan, kontras dengan kulitnya yang putih. Isaac mengenakan setelan tuksedo yang sangat serasi dengannya. Namun, ketenangan Luna goyah saat ia melangkah masuk ke ruang makan keluarga Waren dan mendapati Clara sudah duduk di sana, di samping Nyonya Sofia, seolah ia adalah bagian dari keluarga tersebut.
"Ah, Luna! Isaac! Akhirnya kalian datang," sapa Nyonya Sofia dengan nada yang sedikit kaku. "Kalian ingat Clara, bukan? Ayahnya baru saja menjalin kerja sama baru dengan perusahaan kita, jadi Clara akan tinggal di sini untuk sementara waktu."
Luna merasakan tangannya dingin. Ia melirik Isaac yang rahangnya tampak mengeras. Isaac segera menarik kursi untuk Luna dan duduk di sampingnya, menggenggam tangan Luna di bawah meja sebagai bentuk dukungan.
"Kau tampak berbeda, Luna," ujar Clara sembari menyesap wine-nya perlahan. Matanya menatap Luna dengan sorot menilai yang merendahkan. "Terakhir kali aku mendengar tentangmu di London, Isaac bilang kau hanyalah teman masa kecil yang... yah, sedikit emosional."
Luna mengepalkan tangannya. "Benarkah? Mungkin Isaac lupa memberi tahumu bahwa 'teman masa kecil' ini adalah satu-satunya alasan mengapa dia tidak pernah benar-benar bisa menetap di London dengan tenang."
Isaac menatap Clara dengan tajam. "Clara, jaga bicaramu. Luna adalah calon istriku, dan posisinya di hidupku jauh lebih tinggi daripada sekadar rekan bisnis atau kenalan lama."
Clara tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng yang sumbang. "Tentu saja, Isaac. Aku hanya bercanda. Tapi kau tahu sendiri, bukan? Bisnis dan pernikahan adalah dua hal yang sering kali sulit dipisahkan. Ayahmu sangat menyukai rencana ekspansi yang ditawarkan keluargaku."
Suasana makan malam itu berubah menjadi ajang pembuktian kekuasaan. Clara terus-menerus mengungkit kenangan mereka di London, tentang tempat-tempat yang mereka kunjungi dan proyek yang mereka kerjakan bersama, sengaja membuat Luna merasa seperti orang asing di antara mereka. Isaac berusaha membelokkan pembicaraan, namun Clara selalu punya cara untuk menyeret masa lalu kembali ke permukaan.
Luna merasa dadanya sesak bukan karena cemburu, melainkan karena ia menyadari betapa rumitnya dunia yang Isaac tinggali—dunia di mana cinta selalu diadu dengan angka dan kepentingan.
Sepanjang sisa jamuan makan malam, Luna seolah menarik diri ke dalam cangkang yang kedap suara. Ia tidak lagi berusaha membalas sindiran Clara, tidak juga menatap Isaac untuk mencari dukungan. Ia hanya duduk tegak, memotong makanannya dengan gerakan mekanis yang sangat rapi. Kelelahan emosional yang menumpuk selama berhari-hari akhirnya membuat perasaannya mati rasa.
"Luna, bagaimana menurutmu soal rencana liburan musim dingin di resor keluarga kami? Isaac bilang dulu dia sangat menyukainya," tanya Clara, mencoba memancing reaksi Luna sekali lagi.
Luna meletakkan garpunya tanpa suara. Ia menatap Clara dengan pandangan kosong, seolah wanita di depannya hanyalah pajangan dinding yang tidak berarti. "Terserah saja. Jika Isaac menyukainya, silakan pergi," jawab Luna singkat, tanpa nada marah, tanpa nada sedih. Datar.
Isaac mengerutkan kening, ia merasa ada yang salah dengan perubahan sikap Luna. Ia menggenggam jemari Luna di bawah meja, namun Luna tidak membalas genggaman itu. Tangan wanita itu terasa dingin dan lemas, seperti benda mati.
"Luna?" bisik Isaac penuh kekhawatiran.
Luna hanya menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Aku baik-baik saja, Isaac. Aku hanya sedikit mengantuk."
Tuan Waren mencoba mencairkan suasana. "Luna, proyek hotel itu sangat penting. Aku harap kau tetap fokus meskipun ada Clara yang akan membantu di bagian pemasaran nanti."
"Baik, Tuan Waren. Saya akan melakukan tugas saya," jawab Luna formal, kembali menggunakan panggilan resmi seolah ia sedang berada di depan klien asing, bukan di depan calon mertuanya.
Clara yang merasa kemenangannya tidak membuahkan reaksi emosional dari Luna, mulai merasa kesal. "Kau sangat membosankan malam ini, Luna. Apa kau selalu sedingin ini jika sedang tertekan?"
Luna menyesap air putihnya, lalu berdiri dengan anggun. "Mungkin. Jika tidak ada lagi yang perlu dibicarakan soal bisnis, aku mohon izin untuk pulang lebih awal. Kepalaku sedikit pening."
"Luna, tunggu, aku antar," ujar Isaac ikut berdiri dengan tergesa.
"Tidak perlu, Isaac. Kau harus menemani tamu ayahmu dan membahas ekspansi itu, bukan? Aku bisa memesan taksi," ucap Luna pelan. Ia tidak menunggu jawaban, ia hanya membungkuk sopan kepada orang tua Isaac lalu melangkah keluar dari ruang makan tanpa menoleh sedikit pun.
Isaac mengejar Luna hingga ke teras depan, ia menahan lengan Luna dengan lembut namun tegas. "Luna, berhenti! Ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba menjadi seperti ini?"
Luna menatap Isaac dengan tatapan yang sangat asing. Tidak ada binar cinta, tidak ada api amarah. Hanya kekosongan. "Aku hanya lelah, Isaac. Lelah bertengkar, lelah merasa cemburu, dan lelah berharap. Biarkan aku pulang dan tidur. Mungkin besok aku akan kembali menjadi Luna yang kau inginkan untuk sandiwara ini."
"Ini bukan sandiwara bagi kita!" seru Isaac, suaranya parau karena rasa takut yang kembali menyerang.
"Benarkah?" Luna menarik tangannya perlahan. "Saat ini, aku tidak merasakannya. Selamat malam, Isaac."
Luna masuk ke dalam taksi yang baru saja tiba, meninggalkan Isaac yang berdiri terpaku di bawah lampu teras yang temaram. Untuk pertama kalinya, Isaac menyadari bahwa kemarahan Luna jauh lebih mudah dihadapi daripada sikap diamnya yang mematikan.