Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Ada Dalang yang Lebih Besar
"Menyedihkan," desis Sawitri, bersiap melemparkan jarum peraknya ke arah leher pimpinan prajurit itu.
Namun, sebelum Sawitri sempat bergerak, sebuah bayangan hitam melesat dari atas dahan pohon beringin, mendarat dengan dentuman keras tepat di tengah-tengah kepungan prajurit Demak.
Itu Raden Cakrawirya.
Ia tidak masuk ke dalam terowongan.
Ia bersembunyi di atas pohon, menunggu momen ini.
"Sudah kubilang, kulo mboten suka jika objek penelitianku diganggu tikus-tikus kecil," suara Cakrawirya menggelegar, matanya menyala dengan aura membunuh yang buas.
Pedang di tangan kirinya berkelebat dengan kecepatan yang tak kasat mata.
Dalam satu putaran mematikan, ia menangkis tiga tusukan tombak sekaligus, lalu menyayat dada para penyerangnya dengan presisi yang mengerikan.
Darah muncrat membasahi tanah berumput.
Para prajurit Demak menjerit kesakitan, mundur teratur melihat kelihaian pemuda kidal yang bertarung layaknya iblis lepas dari neraka itu.
"Sak Jane Kowe sopo?!" pimpinan prajurit itu gemetar, melangkah mundur perlahan.
Cakrawirya tersenyum miring, sebuah senyum yang sangat dingin.
"Sampaikan pada pangeran gila kalian," ucap Cakrawirya, mengibaskan sisa darah dari mata pedangnya.
"Bahwa Raden Cakrawirya dari Mataram ora kiro ngejarne barang miliknya disentuh oleh tangan kotor Kadipaten Demak."
Kata "barang miliknya" memicu denyut aneh di ulu hati Sawitri, namun ia segera menepisnya dengan rasionalitas.
"Masuk ke terowongan, sekarang!" teriak Cakrawirya pada Sawitri tanpa menoleh, terus mendesak mundur prajurit Demak dengan sabetan pedangnya.
Sawitri tak membuang waktu.
Ia melompat masuk ke dalam terowongan air yang gelap dan dingin itu, namun otaknya terus menganalisis sosok pemuda yang baru saja mengklaim dirinya itu.
"Raden Cakrawirya dari Mataram," batin Sawitri, menyusuri terowongan.
Sawitri menghela napas panjang, aroma lumpur dan air sungai yang dingin menyerbu paru-parunya.
"Rasionalitasnya benar-benar di luar batas prediksi," batin Sawitri, mengingat aksi pembantaian singkat Cakrawirya barusan.
"Keterampilan pedangnya bukan untuk melumpuhkan, tapi untuk membunuh."
"Dia prajurit garis depan."
Mereka terus berjalan menembus terowongan air bawah tanah itu selama hampir setengah jam.
Air yang semula hanya setinggi lutut, perlahan naik hingga sebatas dada Nyi Inggit.
Cakrawirya masih memanggul pemuda batur itu tanpa terlihat kelelahan, sementara Sawitri menjaga ritme langkahnya agar tetap stabil.
Akhirnya, secercah cahaya rembulan terlihat dari ujung terowongan.
Mereka keluar di tepian Kali Tuntang, tersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon nipah.
"Kita aman di sini untuk sementara," ucap Cakrawirya, membaringkan pemuda batur itu di atas rerumputan kering.
"Prajurit Demak ora kiro wani menyusuri terowongan ini di malam hari tanpa tahu arah arusnya."
Sawitri langsung memeriksa kembali kondisi pemuda itu.
"Dia kehilangan banyak darah, tapi katup buatan kulo masih berfungsi," gumam Sawitri datar, memeriksa daun pisang yang merekat di dada pemuda itu.
"Kita butuh tempat untuk menjahit lukanya secara permanen."
"Kulo punya pesanggrahan rahasia di perbatasan Demak dan Mataram."
"Kita bisa menggunakan pedati kulo yang kusembunyikan mboten jauh dari sini," sahut Cakrawirya efisien.
Pemuda itu bersiul pelan menembus malam, sebuah kode yang hanya dipahami oleh kusir kepercayaannya.
Tak lama, sebuah pedati tertutup muncul dari balik kegelapan hutan.
Perjalanan kembali ke wilayah Mataram terasa sangat sunyi.
Nyi Inggit dan Ndari tertidur karena kelelahan ekstrem, sementara pemuda batur itu masih tak sadarkan diri.
Sawitri dan Cakrawirya duduk berhadapan.
Di bawah cahaya temaram pelita pedati, Sawitri menatap pemuda itu dengan tatapan analitis yang tajam.
"Sabetan pedangmu tadi," ucap Sawitri, memecah keheningan.
"Kau memotong otot deltoid dan arteri brakialis mereka dalam satu gerakan menyilang."
"Itu bukan ilmu pedang Mataram."
Cakrawirya tersenyum tipis, membalas tatapan Sawitri.
"Ilmu pedangku berasal dari pengalaman, Ndara Tabib."
"Bukan dari padepokan."
"Pengalaman membantai manusia?" Sawitri menaikkan sebelah alisnya.
"Pengalaman bertahan hidup," koreksi Cakrawirya.
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kulo sudah bilang, rahasia identitasku lebih berbahaya dari yang kau kira."
"Kulo mboten peduli bahayanya," desis Sawitri.
"Kulo hanya mboten suka bekerja sama dengan variabel sing mboten kulo ketahui."
Cakrawirya terdiam sejenak.
Ia menyadari bahwa gadis ini tidak bisa diintimidasi atau dialihkan perhatiannya dengan mudah.
"Baiklah, Ndara Tabib."
"Kulo akan memberikan satu variabel padamu," ucap Cakrawirya pelan, nadanya sangat serius.
"Namaku mboten hanya Raden Cakrawirya."
"Kulo adalah Pangeran Angkawijaya, komandan pasukan bayangan Mataram."
Sawitri mematung.
Otaknya memproses informasi itu dengan kecepatan tinggi.
Pangeran Angkawijaya.
Putra kedua Sultan Mataram, yang dikabarkan menghabiskan sebagian besar waktunya di medan perang perbatasan, menumpas pemberontak dengan tangan besi.
Pria yang ditakuti bahkan oleh para Adipati.
"Masuk akal," gumam Sawitri akhirnya, wajahnya kembali datar.
"Itu menjelaskan refleks membunuhmu, otoritasmu atas Adipati Sasongko, dan kesombonganmu yang mboten tertolong."
Cakrawirya tertawa pelan, tawa yang tulus.
"Kowe benar-benar mboten punya rasa takut, ya?"
"Gadis biasa akan langsung bersujud mendengar gelarku."
"Kulo seorang dokter forensik," sahut Sawitri dingin.
"Di mataku, semua manusia sama."
"Hanya tumpukan tulang, daging, dan darah yang menunggu waktu untuk membusuk."
Cakrawirya menatap gadis itu dengan kekaguman yang semakin dalam.
"Kau benar-benar unik, Sawitri," bisiknya, sengaja menyebut nama gadis itu tanpa gelar kebangsawanan.
Malam berikutnya, di pesanggrahan rahasia Cakrawirya.
Sawitri telah berhasil menjahit luka pemuda batur itu.
Kondisinya mulai stabil, meski ia masih butuh waktu berhari-hari untuk pulih sepenuhnya.
"Ndara Tabib," panggil Cakrawirya, masuk ke ruangan tempat Sawitri sedang membersihkan peralatannya.
"Prajurit bayanganku baru saja membawa kabar dari Mataram."
Sawitri menoleh, wajahnya datar.
"Tumenggung Danurejo murka karena kulo melarikan diri?"
"Lebih buruk dari itu," Cakrawirya mengerutkan kening.
"Nyai Selir Sukmawati menyebarkan rumor bahwa kau diculik oleh perampok."
"Dan Tumenggung Danurejo... dia sudah menyetujui agar Raden Ajeng Wandira menggantikan posisimu sebagai istri Dhaniswara."
Mata Sawitri memicing tajam.
"Bodoh."
"Mereka pikir gelar Adipati Demak lebih penting daripada nyawa Wandira?"
"Ambisi membutakan rasionalitas, Sawitri," sahut Cakrawirya.
"Dan ada hal lain."
"Prajuritku menemukan fakta baru tentang kasus pembunuhan Raden Mas Danuarga."
"Sepupunya, Dananjaya, sudah tertangkap?" tanya Sawitri cepat.
"Sudah."
"Tapi dia bersikeras mboten membunuh Danuarga," jawab Cakrawirya.
"Dia mengaku memang meminjamkan jarum akupunturnya... pada adik tirimu, Raden Rara Ratih Kumala."
Hening menyergap ruangan itu.
Otak Sawitri berputar cepat, menyusun kepingan-kepingan teka-teki yang berserakan.
Ratih Kumala memiliki jarum akupuntur.
Ratih Kumala mencoba menaruh kalajengking di kamarnya.
Dan kini, nama Ratih terseret dalam kasus pembunuhan pewaris Demak.
"Anatomi leher Danuarga yang membusuk... racun arsenik palsu... dan jarum perak yang patah," gumam Sawitri, matanya menyala dengan deduksi.
"Ratih mboten cukup pintar untuk merencanakan pembunuhan serumit itu," simpul Sawitri telak.
"Ada dalang yang lebih besar di balik semua ini."
"Seseorang yang memanipulasi Ratih dan menggunakan pengetahuannya tentang racun."
"Dan siapa orang itu?" tanya Cakrawirya, meski ia sudah bisa menebak arah pikiran gadis itu.
"Seseorang yang paling diuntungkan dari kekacauan ini," Sawitri tersenyum sinis, senyum yang sangat dingin.
"Nyai Selir Sukmawati."