Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.
Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.
Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Rahasia Hujan Abadi 2
Pagi itu, kabut menutupi desa seperti tirai tipis. Tanah basah masih lembek, dan bau sungai yang tergenang bercampur dengan aroma tanah yang baru diguyur hujan. Rina memutuskan untuk menelusuri sungai dan desa sebelah—tempat simbol utama kemungkinan tersembunyi—untuk mencoba memahami ritme hujan abadi.
Ia membawa gulungan arsip kuno dan buku catatan, tangannya masih lecet dari malam sebelumnya. Setiap langkah membuat tanah basah beriak samar, seolah memberi tanda bahwa energi simbol mengikuti jejaknya.
Di tepi sungai, Rina berhenti. Airnya tampak biasa, tapi ia bisa merasakan energi samar yang berdenyut dari dasar sungai. “Simbol utama pasti di sini… atau di sekitar sini,” gumamnya.
Tiba-tiba, tanah di tepi sungai beriak lebih kuat. Rina menoleh cepat. Dari kabut muncul sosok tua, lebih besar dan lebih gelap dari semua arwah yang pernah ia temui. Aura kemarahannya menekan udara, membuat Rina hampir sulit bernapas.
Suara berat bergema di kepalanya:
"Penulis… kau telah menenangkan beberapa arwah… tapi apakah kau mampu menghadapi yang paling tua? Yang menjaga hujan ribuan tahun…?"
Rina menelan ludah. “Aku… akan mencoba…”
Arwah tua itu mengangkat tangannya. Dari arah sungai, bayangan gelap muncul—beribu-ribu titik cahaya seperti arwah yang tertahan, semuanya menatap Rina, menunggu simbol ditulis dengan benar.
Rina duduk di tanah basah, membuka gulungan arsip. Simbol besar terlihat seperti peta desa, sungai, dan tanah di sekitarnya. Garis-garis bercabang ke banyak arah, menghubungkan sungai dengan desa, ladang, dan hutan.
Ia menyadari satu hal simbol utama bukan sekadar pengikat arwah, tapi penentu ritme hujan abadi. Menulis simbol ini dengan benar berarti menenangkan ribuan arwah sekaligus, mengembalikan keseimbangan alam, dan mungkin menghentikan hujan abadi sementara.
Rina mulai menulis garis demi garis, mengikuti ritme yang ia rasakan dari tanah basah. Setiap huruf dan garis membuat tanah beriak, air sungai berputar pelan, dan arwah tua itu semakin mendekat, menatap setiap gerakannya.
Kilatan petir menyambar, menyorot simbol di tanah. Arwah tua itu mengeluarkan suara bergema:
"Penulis… jangan salah… satu langkah salah… seluruh desa akan tenggelam… seluruh hujan akan berubah menjadi kutukan…"
Rina menelan ludah. Tubuhnya gemetar, tangannya panas, tapi ia tetap menulis, mengikuti ritme simbol. Satu demi satu, energi arwah yang menekan mulai menenangkan diri. Arwah-arwah yang lebih kecil di sekitar sungai mulai hilang, menyatu dengan simbol dan tanah basah.
Namun arwah tua itu tetap berdiri, menatapnya. “Kau berhasil menenangkan sebagian… tapi untuk memahami hujan abadi sepenuhnya, kau harus mengetahui asal-usul simbol ini… ribuan tahun lalu… dan siapa yang memulai ritual pertama…”
Rina menatap gulungan arsip. Ada catatan samar tentang pendeta kuno yang pertama kali menciptakan simbol dan mengikat hujan abadi untuk melindungi desa dari bencana. Tapi ada satu peringatan.
"Siapa pun yang mencoba memahami simbol sepenuhnya, akan menghadapi yang paling gelap… arwah yang menunggu di hujan ribuan tahun… dan mereka tidak akan membiarkanmu pergi tanpa membayar harga."
Hujan mulai turun lagi, deras kali ini. Tanah basah berdenyut kuat, simbol di tanah bersinar merah terang, dan Rina merasakan tekanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya arwah tua, ribuan arwah kecil, dan hujan abadi semua menumpuk di tubuhnya.
Rina menutup mata, menarik napas dalam, dan berbisik.
“Jika ini benar… aku harus siap menghadapi semuanya… dan menemukan siapa yang pertama kali memulai hujan abadi… atau semuanya akan hancur.”
Hujan turun deras sepanjang malam, menutup desa dalam kabut tebal. Tanah basah bergelombang pelan, seolah ingin menyatu dengan setiap langkah Rina. Ia memegang gulungan arsip kuno erat-erat, matanya menyapu setiap jejak simbol yang tersebar di tanah.
Setelah menelusuri tepian sungai dan beberapa ladang yang dulunya menjadi pusat desa, Rina menemukan tanda samar di tanah—bekas lingkaran besar yang seolah menjadi titik awal ritual hujan ribuan tahun lalu. Simbolnya lebih rumit dari yang pernah ia temui, bercabang dan berlapis hingga membentuk pola seperti mata yang menatap ke segala arah.
Rina berlutut, menempelkan tangan ke tanah basah. Energi yang keluar dari simbol itu sangat kuat—menggetarkan seluruh tubuhnya. Ia bisa merasakan kehadiran arwah paling gelap, arwah yang menunggu selama ribuan tahun untuk menjaga rahasia hujan abadi.
Dari kabut muncul sosok besar, lebih gelap dari malam itu sendiri. Matanya merah menyala, aura kemarahannya menekan udara, dan tanah basah beriak liar di sekitarnya. Suara berat terdengar di kepala Rina.
"Penulis… kau telah menempuh jalan panjang… tapi sekarang kau harus menghadapi yang paling gelap… atau hujan akan menjadi kutukan selamanya."
Rina menelan ludah. Ia tahu ini adalah uji terakhir. Satu kesalahan saja, simbol bisa membebaskan energi arwah yang selama ini terikat, dan hujan abadi akan menjadi bencana tak terkendali.
Ia membuka gulungan arsip, meneliti diagram simbol raksasa yang menutupi tanah. Polanya bercabang ke sungai, desa, dan hutan, menandakan alur energi yang harus ditulis dengan benar agar hujan bisa berhenti sementara dan arwah menenangkan diri.
Dengan napas tersengal, Rina mulai menulis. Setiap huruf, setiap garis, mengeluarkan energi panas yang menembus seluruh tubuhnya. Tanah basah berdenyut kencang, arwah-arwah kecil yang menunggu di sekitarnya mulai memudar, menyatu dengan simbol.
Tapi arwah paling gelap itu tidak bergerak, menatap setiap gerakannya dengan tatapan menembus jiwa. “Satu kesalahan… dan kau akan terikat selamanya… seperti kami…” suaranya bergema.
Rina menelan ludah, menulis lebih cepat, mengikuti ritme simbol yang terpahat di gulungan arsip. Kilatan petir menyambar, memperlihatkan garis-garis simbol yang bersinar merah terang. Tanah basah beriak liar, energi arwah menekan ke seluruh tubuhnya.
Ia menutup mata sejenak, merasakan ritme simbol dan tanah basah, merasakan energi hujan yang turun. “Aku… harus menyatukan semuanya… agar hujan berhenti… dan arwah tenang…” bisiknya.
Setelah menulis garis terakhir, simbol di tanah bersinar lebih terang dari sebelumnya. Arwah paling gelap mengeluarkan suara bergema, keras seperti ribuan petir sekaligus.
"Kau layak… Penulis… kau telah menyeimbangkan ritme hidup dan mati… untuk sementara… hujan akan tenang… tetapi ingat… simbol ini akan memanggilmu lagi… ketika waktunya tiba."
Dengan satu kilatan cahaya, arwah itu lenyap, meninggalkan tanah basah yang perlahan kembali datar. Hujan masih turun, tapi jauh lebih pelan, tenang, dan tidak menimbulkan energi liar.
Rina terduduk lemas, tubuh basah kuyup, napas tersengal, tangan lecet. Tapi satu hal jelas ia telah menemukan rahasia ritual pertama hujan abadi dan berhasil menenangkan arwah paling gelap… setidaknya untuk saat ini.
Di kejauhan, di atas langit desa yang gelap, kilatan cahaya petir terakhir menandai bahwa hujan abadi telah mereda sementara, simbol kuno tetap hidup, dan tugas Rina sebagai penulis penghubung antara hidup, mati, dan hujan abadi baru saja dimulai.
Tanah basah di bawah kakinya beriak samar, seolah berbisik:
"Penulis… hujan mungkin tenang sekarang… tapi arwah akan selalu menunggu… dan waktumu akan datang kembali."