"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.
"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"
Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.
"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia kemarin siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.
"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.
Gilang Putra Candra, mahasiswa semester 4 andalan Universitas Gama dalam setiap lomba karya tulis nasional tak sengaja bertemu dengan Jeny Mau Riska Atlit Karate-Do sabuk hitam yang juga mahasiswi semester 4 Universitas Gama di gang belakang kampus.
Pertemuan tak sengaja itu, perlahan menjadi rumor di kalangan mahasiswa angkatan mereka.
Akankah rumor itu menjadi awal rahasia mereka?
Ikuti kisah mereka dalam RAHASIA DUA BINTANG KAMPUS
Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, lokasi hanya kebetulan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan
"Lang, aku heran. Kenapa kamu selalu ketempelan si Mona sih? kalian itu ada masa lalu bagaimana gitu? " tanya Indra tiba-tiba.
Jari Gilang menggantung di udara, ia menoleh menatap indra yang juga menatapnya menunggu jawaban.
"Ceritanya panjang, " sahut Gilang disambut kecewa oleh indra. Ia lanjut mengetik diatas keyboard dan menatap layar.
"Di bikin singkat aja. Atau kasih cluenya gimana? "
"Kami teman sejak kecil, papaku dibantu sama papanya. tapi papanya juga mnt tlong sama papaku."
"Okelah, aku bisa bayangkan. Biasanya serial drama pendek cina selalu ceritakan soal cinta masa kecil."
"Beda lah, biasanya cinta masa kecil jadi jodoh, kalau aku ogah. Aku tau wataknya, jadi aku jengah dia dekat aku terus. Heran juga sih, nggak bosen apa? "
"Yah, namanya juga cinta."
"Eh kalau di pikir-pikir, harusnya bener jeny dong ya yang layak jadi mahasiswa pertukaran. Bukan si Mona? " tanya indra.
Gilang menghela nafas, ia juga baru terpikir. Apa harusnya dia bisa mengusulkan nama Jeny ke pak rektor atau pak Herman setidaknya. Karena, tak mungkin lewat papanya langsung.
"Coba nanti aku obrolin dengan pak Herman."
***
"Boby, kamu pulang saja. Nanti di cari mamamu. Nenek sudah selesai di dapur. Terima kasih ya sudah bantu temani Jeny. "
"Ya, Nek. Sudah seharusnya Boby jaga Jeny."
Ia tertunduk. Menghela nafas dalam.
"Nek, Boby.. minta maaf."
Rahmi tertegun, melihat Boby yang tiba-tiba memasang wajah memelas.
"Ada apa? " tanya Rahmi. Ia duduk disisi ranjang memegang tangan Boby menenangkannya.
"Boby, sudah mengingkari janji untuk menjaga Jeny. Boby yang buat Jeny jadi sakit, Nek."
Rahmi menghela nafas panjang. Meski ia tak tahu maksudnya, tapi ia bersyukur Boby mengakui kesalahannya itu.
"Ya sudah, Boby. Jangan jadi beban. Kamu tak bisa selamanya menjaga Jeny terus. Dia sekarang juga sudah besar. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Kamu jangan terus merasa bersalah ya."
Rahmi menepuk pundaknya lembut. Tubuh Boby berguncang, ia tak pernah menangis sehebat ini. Pun di hadapan kedua orang tuanya.
"Ya sudah kamu ceritakan saja Boby, biar kamu merasa lebih baik, " saran Rahmi.
Boby menyeka airmata dan menarik nafas panjang. Ia menenangkan diri sebelum akhirnya menceritakan awal mula memberi tahu kejadian masa lalu Jeny pada Mona.
"Boby tak menyangka, akan sebesar ini reaksi teman-teman, Nek. Boby juga tak tahu Mona akan berbuat licik seperti ini."
"Baiklah, Nenek sudah mengerti, kamu dijebak, dimanfaatkan dan juga dibohongi. Kamu juga korban Boby."
"Tapi ada satu hal yang membuat nenek bingung, kenapa kamu berniat menjauhkan Jeny dengan pria itu? mereka cuma berteman. Itu yang Jeny bilang."
Boby terhenyak, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum malu.
Setelah Boby pamit, tak lama Jeny bangun. Demamnya sudah turun, hanya terasa lemas karena kelaparan.
"Makan dulu, semoga kamu cuma demam karena terlambat makan."
Jeny menerima mangkok bubur dari neneknya. Memakannya perlahan.
"Jeny, kamu ada masalah dikampus ya? "
"Oh.. emmm.. masalah biasa aja kok Nek. Biasalah pergaulan pasti ada salah paham."
"Boby sudah cerita semua ke nenek."
"Eh, ada Boby ke sini nek? "
"Loh, kamu malah meluk dia, merengek kenapa dia ga ada di dojo? apa kamu mengigau tadi? "
Jeny tersipu. "Jeny kira itu dalam mimpi, Nek."
Rahmi menggeleng sambil tersenyum.
"Boby bilang apa aja Nek? "
"Dia cerita semua, soal kasus lama kamu di SMP yang rame sampai di kampus. Tapi sepertinya, masalahnya sudah teratasi ya? "
Jeny mengangguk. "Teman Jeny yang waktu itu buat klarifikasi, Nek karena dia pemilik sepatu itu."
Rahmi mengangguk mengerti. " Syukurlah."
"Terus, Nek apa lagi? "
"Dia minta maaf karena seharusnya nggak cerita soal itu ke Mona. Dia dimanfaatkan, dibohongi dia juga korban Jen. "
"Kenapa juga dia sampai mau dimanfaatin begitu? "
"Dia sebenarnya sudah lama suka sama kamu, Jen."
UHUKUHUKUHUK
Rahmi mengambilkan gelas air untuk Jeny. Ia tersenyum, baru kali ini Jeny disukai seseorang jadi dia maklum reaksi Jeny begitu kaget.
"Nenek jangan bercanda?
"Nenek serius, dia sendiri yang bilang. Dia cemburu kamu dekat dengan cowok itu. "
Jeny tiba-tiba salah tingkah. Dia sampai bingung mau meletakkan gelas atau mangkuk ke nakas. Lama ia menatap kedua benda itu, akhirnya Rahmi mengambil gelas di tangannya. Jeny tersenyum geli.
Suara dering ponsel Jeny terdengar nyaring. Ia mengambil ponselnya di dalam tas.
"Gilang? " gumamnya lirih.
Jeny menggeser tombol hijau.
"Halo, " jawabnya dengan suara parau.
"Jen, kamu kenapa? kamu sakit? "
"Cuma telat makan, Lang. Demam sebentar."
"Sekarang bagaimana kondisi mu? "
"Sudah lebih baik. Ada apa? "
"Oh iya, aku coba diskusikan soal mahasiswa pertukaran dengan pak Herman. Beliau minta aku tanya padamu, kamu kira-kira berminat tidak aku daftarkan?"
Jeny melirik ke arah neneknya.
"Maaf Lang, aku tidak bisa. Aku... alasannya nanti aku kirim pesan saja ya. Terima kasih membantuk sudah membantuku."
"Oh baiklah.. aku tunggu alasannya. Ini kesempatan baik, Jen. Aku juga akan ke sana. Hanya dua orang. Kalau kamu mau, kita bisa pergi bersama. Sebaiknya kamu pi---"
"Lang, aku bukannya tidak mau. Aku tidak bisa. Nanti aku jelaskan ya. Maaf aku tutup dulu, aku lagi makan."
"Oh iya, maaf. Kalau begitu, aku tunggu pesanmu. Semoga cepat sembuh, Jeny."
"Terima kasih, Lang."
Jeny mematikan telponnya dan meletakkan ponsel di atas kasur.
"Ada apa? " tanya Rahmi melihat ekspresi Jeny yang gelisah.
"Nggak apa-apa, Nek. Cuma tanya kondisi, Jeny aja."
"Ya sudah, setelah makan minum vitaminnya ya. Biar badannya lebih enak."
"Ya, Nek. Terima kasih. Nenek istirahat saja, nanti Jeny antar mangkuknya ke dapur."
Rahmi mengangguk, lalu beranjak meninggalkan Jeny ke kamarnya.
***
"Bagaimana, Lang? " tanya Herman.
"Katanya tidak bisa, Pak. Nanti dia kirim alasannya."
suara notifikasi pesan masuk ke ponselnya.
Gilang membuka pesan Jeny.
[Maaf Lang, Aku bersama nenekku tadi. Jadi aku tak bisa sampaikan langsung di telpon. ]
[Aku tidak bisa meninggalkan nenek ku. Aku sudah pernah cerita kan kondisi kesehatannya. Dan aku tak mungkin egois meninggalkan nya hanya untuk menuruti kemauan ku. ]
[Aku berterima kasih sekali, kamu peduli menyampaikan peluang untukku itu pada pak Herman. Aku menghargainya, tapi aku tak mungkin bisa tenang disana nanti kalau aku tetap meninggalkan nenekku. Kalau ia tahu, pasti ia mendesakku untuk tetap ikut. Semoga kamu bisa mengerti.]
Gilang menatap lama pesan Jeny. Ada rasa kecewa, tapi juga rasa maklum.
"Apa kata Jeny? "
"Jeny tidak bisa meninggalkan Neneknya Pak. Kesehatan neneknya kurang baik."
Herman mengangguk paham.
"Ya, sudah. Memang kesempatan ini bukan untuk Jeny, Lang."
Herman melihat gurat kecewa di wajah Gilang. Ia tersenyum.
"Lang, boleh saya tanya sesuatu? "
"Ya , Pak. Silahkan."
"Apa kamu tertarik dengan Jeny? Karena Saya lihat sejak kalian sama-sama bertemu disini, kamu sering menatapnya lama saat ia bicara. Seperti berusaha untuk bisa dekat dengannya tapi kamu terlihat ragu."
Gilang menghela nafas, lalu mengangguk mantap.
"Benar, Pak. Tapi sayang, Jeny hanya ingin berteman dengan Saya. Bahkan awalnya dia ingin saya menjaga jarak dengannya, supaya rumor negatif soalnya tak berpengaruh buruk juga pada Saya."
"Jadi, soal kalian waktu SMP itu juga benar memang hanya salah paham? "
"Betul, Pak. Dan itu salah saya sudah melabelinya seperti itu. Padahal saya yang salah paham. "
"Yang penting semua sudah di lurus kan. Kamu tidak perlu berlarut-larut dalam perasaan bersalah. Jeny juga pasti sudah memaafkanmu, kan? "
Gilang mengangguk.
"Bahkan sebelum saya meminta maaf langsung. Dia sudah merelakan masalah itu katanya."
"Baguslah. Yang penting kalian tetap menjaga prestasi kalian. Biar Jeny terus berprestasi disini, dan kamu harus buktikan kamu layak menjadi mahasiswa pertukaran. Kamu juga harus bisa berprestasi disana, Lang."
"Baik, Pak. Saya akan berusaha."
Herman menepuk pundak Gilang lembut. Gilang pamit keluar dari ruangan Herman. Langkahnya gontai menyusuri lorong gedung rektorat.
"Bagaimana? " tanya Indra yang menunggunya di luar.
Gilang menggeleng lemah, ia kecewa tapi tak bisa berbuat apa-apa.
"Pak Herman nggak setuju? " tanya Indra lagi.
"Jeny yang tidak bisa, dia berat meninggalkan neneknya."
"Ah, benar juga."
"Kalau begitu, kamu harus maksimalkan enam bulan ke depan lebih dekat dengannya Lang. Kalau perlu, nyatakan perasaanmu, " bisik Indra di telinga Gilang.
Gilang menatap Indra ragu.
'Benar juga, setelah selesai pertukaran mahasiswa. Pasti kaminsudah sama-sama lulus dan tak ada peluang bertemu lagi, ' batin Gilang.
Gilang mengendikkan bahu, dan menghela nafas.