"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Malam hari, pukul 20.00 WIB.
Suasana di dalam kontrakan terasa sangat mencekam. Abdi yang sudah pulang dari kantor kini sedang duduk di kursi ruang tamu dengan napas yang memburu. Di tangannya ponselnya terlihat menyala dan menampilkan foto-foto hasil kiriman Andi. Foto Disa yang sedang tertawa bersama Rio dan foto saat Rio membukakan pintu mobil untuk Disa di parkiran kantor.
Dalam pikiran Abdi yang sudah dipenuhi hasutan ibunya, foto-foto itu adalah bukti tak terbantahkan bahwa Disa telah berkhianat. Ada rasa cemburu, tapi lebih banyak rasa "puas" karena ia merasa akhirnya punya alasan untuk menginjak Disa kembali.
Cklek.
Pintu kontrakan terbuka, terlihat Disa melangkah masuk dengan wajah yang tampak lelah namun tetap tenang. Ia membawa tas kerja dan sebuah kantong belanja berisi buah-buahan. Begitu ia menyalakan lampu, ia mendapati Abdi sudah berdiri tepat di depannya dengan wajah yang merah padam.
"Bagus ya, jam segini baru pulang. Sibuk kerja atau sibuk melayani laki-laki lain?!" bentak Abdi tanpa basa-basi.
Disa berhenti melangkah lalu menatap Abdi dengan tatapan dingin, lalu berjalan menuju meja makan seolah tidak mendengar apa-apa. "Mas aku baru pulang, jangan mulai dengan drama yang nggak penting."
"Drama kamu bilang?!" Abdi menyambar ponselnya dan membantingnya ke atas meja tepat di depan mata Disa. "Lihat ini! Apa ini yang namanya kerja profesional? Senyum-senyum sama laki-laki lain, dibukain pintu mobil... Kamu pikir aku bodoh, Dis?! Kamu pakai mobil dari kantor itu buat jemput selingkuhanmu, kan?!"
Disa melirik layar ponsel itu sejenak lalu melihat foto-foto buram yang diambil dari kejauhan. Sebuah senyum tipis hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya.
"Jadi ini kerjaan Andi sore tadi? Menjadi mata-mata amatir?" tanya Disa tenang.
Abdi tertegun sejenak. "Nggak usah bawa-bawa Andi! Intinya, kamu sudah berzina di belakangku! Kamu sudah nggak pantas jadi istri! Serahkan kunci mobil itu sekarang dan kamu harus minta maaf ke Ibu karena sudah mempermalukan keluarga kami!"
Disa meletakkan tasnya, lalu duduk di kursi makan dengan santai. Ia melipat tangannya di dada. "Sepertinya kamu ini memang harus di jelaskan ya Mas Satu, itu namanya Rio dia rekan kerjaku. Dua, dia membukakan pintu karena tanganku penuh membawa berkas audit Artha Logistik yang nilainya miliaran rupiah. Dan tiga... Mas benar-benar mau bawa ini ke jalur 'moral'?"
"Iya! Kamu sudah kotor, Disa!" teriak Abdi lagi.
"Oke," Disa merogoh tasnya, lalu mengeluarkan ponselnya sendiri. "Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang lebih kotor."
Disa langsung mengambil ponselnya dan memutar sebuah video di ponselnya. Video itu diambil dari dashcam mobil SUV barunya yang memiliki fitur kamera 360 derajat. Di sana terekam jelas motor Andi yang mengikuti mobil Disa, lengkap dengan wajah Andi dan satu orang temannya yang sedang sibuk memotret dengan ponsel.
Tidak hanya itu, Disa juga memutar rekaman suara. "Ini rekaman pembicaraan Andi dengan temannya di parkiran saat aku sengaja berhenti di minimarket tadi sore. Karena aku buka kaca sedikit, sensor suara mobil ini bisa menangkap suara mereka cukup jelas."
Di rekaman itu terdengar suara Andi: "Sip, dapat fotonya! Ibu pasti senang. Pokoknya kita buat Mbak Disa kelihatan selingkuh biar Mas Abdi bisa sita mobilnya. Ibu butuh uang buat bayar utang bank yang tempo hari itu."
Wajah Abdi mendadak pucat dan terlihat Pucat pasi hingga ke telinga.
"Mas tahu nggak apa hukumnya melakukan penguntitan dan fitnah terencana untuk merusak reputasi seseorang?" suara Disa merendah, namun setiap kata seperti belati yang menusuk. "Ditambah lagi, Andi melakukannya untuk tujuan pemerasan secara tidak langsung."
"Dis... itu... itu mungkin Andi cuma salah paham," gagap Abdi, nyalinya menciut seketika.
"Salah paham?" Disa berdiri, ia melangkah mendekati Abdi hingga suaminya itu mundur beberapa langkah sampai membentur tembok. "Mas, aku ini auditor. Tugasku adalah mengumpulkan bukti sebelum menjatuhkan vonis. Dan sekarang, bukti fitnah keluarga Mas sudah lengkap. Mau aku kirimkan video ini ke Pak Baskara, pengacaraku?"
Abdi gemetar. Ia tahu jika video ini sampai ke pengacara, Andi bisa dipenjara dan ibunya akan terseret kasus pencemaran nama baik.
"Jangan, Dis... tolong. Jangan bawa ke polisi," mohon Abdi, suaranya kini terdengar seperti cicitan tikus.
"Maka diamlah," desis Disa. "Berhenti bertingkah seolah kamu punya harga diri untuk menghakimiku. Besok, aku mau kamu telepon Ibumu dan Andi. Suruh mereka datang ke sini untuk minta maaf secara resmi padaku. Kalau tidak, video ini akan viral di grup keluarga dan sampai ke meja polisi."
Disa mengambil ponsel Abdi, menghapus semua foto fitnah itu dengan satu gerakan, lalu melemparkan ponsel itu ke sofa.
"Oh ya, satu hal lagi," Disa menoleh sebelum masuk ke kamar. "Besok jam tujuh pagi, aku mau sarapan nasi uduk yang enak. Mas yang beli pakai uang lima puluh ribu yang aku kasih tadi pagi. Jangan sampai telat, karena Aku harus berangkat pagi untuk cari uang yang selama ini kamu korupsi."
Disa langsung masuk kedalam kamarnya dan membuat Abdi diam seribu bahasa.
Pagi hari, pukul 07.00 WIB.
Abdi benar-benar menjalankan perintah Disa. Ia bangun subuh, mengantre nasi uduk di pasar, dan menyajikannya di meja makan bahkan sebelum Disa keluar dari kamar. Ia berdiri di dekat meja dengan wajah tertunduk, seperti pelayan yang takut pada majikannya.
Disa keluar dengan pakaian yang sangat rapi. Ia duduk dan mulai makan dengan tenang.
"Dis... soal Ibu dan Andi... mereka nggak mau datang ke sini kalau bukan Mas yang jemput," bisik Abdi.
"Kalau mereka nggak datang sampai jam dua belas siang ini, surat somasi dari Pak Baskara akan sampai ke rumah Ibu sore nanti," jawab Disa sambil mengunyah kerupuknya. "Pilihan ada di tangan mereka, Mas. Mau minta maaf dan selamat, atau mau sombong dan masuk penjara?"
Abdi tidak berani membantah. Ia segera keluar rumah dengan motor buntutnya menuju rumah ibunya, merasa seolah ia sedang menuju tiang gantungan.
Kantor Firma Audit, pukul 10.00 WIB.
Di kantor, Disa bekerja dengan sangat produktif. Ia baru saja menyerahkan laporan awal proyek Artha Logistik kepada Pak Heru.
"Disa, performa kamu luar biasa. Klien sangat puas. Oh ya, besok sabtu kamu ada waktu? Ada undangan makan malam dari direksi Artha Logistik untuk tim kita. Mereka ingin berterima kasih secara pribadi," ujar Pak Heru.
"Saya akan usahakan hadir, Pak," jawab Disa profesional.
Saat kembali ke mejanya, Rio mendekat. "Dis, sori ya soal kemarin. Aku baru sadar kalau ada yang ngikutin kita pas kita ke diler. Kamu nggak apa-apa?"
Disa tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, Rio. Cuma lalat kecil yang coba cari perhatian. Sudah aku 'semprot' pakai pestisida semalam."
Rio tertawa, meski ia tidak sepenuhnya paham maksud Disa. "Keren kamu, Dis. Kamu kayak punya perisai baja ya sekarang."
Bukan perisai baja, Rio. Tapi luka yang sudah terlalu dalam sampai nggak bisa dirasain lagi, batin Disa.
Kontrakan Asri, pukul 12.30 WIB.
Disa pulang ke rumah saat jam makan siang untuk "menyambut" tamu istimewanya. Benar saja, di ruang tamu sudah ada Bu Ratna, Andi, dan Amel yang wajahnya tampak sangat tertekan. Abdi berdiri di tengah-tengah mereka.
Begitu Disa masuk, ruangan itu mendadak sunyi.
"Silakan duduk," ujar Disa singkat. Ia tidak menawarkan minum, tidak juga basa-basi. Ia langsung duduk di depan mereka dan menyalakan rekaman suara Andi di ponselnya suara saat Andi merencanakan fitnah selingkuh itu.
Bu Ratna membuang muka, wajahnya merah padam karena malu sekaligus takut. Andi hanya menunduk dalam, sedangkan Amel tampak gemetar memegang tasnya.
"Jadi, siapa yang mau bicara duluan?" tanya Disa dingin.
"Mbak... Andi minta maaf. Andi cuma... Andi cuma khilaf," bisik Andi dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Khilaf yang direncanakan itu namanya niat jahat, Andi," potong Disa cepat. "Ibu? Ibu nggak mau bicara apa-apa?"
Bu Ratna menarik napas panjang, ia menatap Disa dengan mata yang masih menyiratkan kebencian. "Ya... Ibu minta maaf kalau cara Andi salah. Tapi kan wajar kalau keluarga khawatir kamu punya laki-laki lain..."
"Wajar?" Disa tertawa sinis. "Wajar memfitnah menantu sendiri demi bisa menguasai hartanya? Ibu dengar baik-baik. Aku belum melaporkan kalian karena aku masih memikirkan nasib Fikri yang punya ayah seorang narapidana jika Abdi aku jebloskan."
Disa berdiri, ia mengambil sebuah dokumen dari tasnya. "Ini adalah surat pernyataan di atas materai. Isinya menyatakan bahwa Andi dan Amel tidak akan lagi mencampuri urusan rumah tanggaku, dan Ibu setuju untuk mengembalikan sisa uang asuransi Fikri secara bertahap setiap bulan lewat potongan jatah dari Abdi. Tanda tangan sekarang, atau kita bertemu di kantor polisi satu jam lagi."
Tanpa banyak bicara, karena ketakutan yang sudah mencapai puncak, mereka satu per satu menandatangani surat itu.
Setelah keluarga parasit itu pergi dengan wajah pecundang, Abdi mencoba mendekati Disa.
"Dis... sudah ya? Mereka sudah minta maaf. Semuanya kembali normal kan sekarang?" tanya Abdi dengan harapan konyol.
Disa menatap Abdi dengan tatapan yang paling dingin yang pernah ia berikan.
"Normal? Mas, yang normal itu adalah suami yang melindungi istrinya, bukan yang ikut memfitnahnya. Mulai detik ini, kita bukan lagi suami istri di mataku. Kita cuma rekan serumah yang terikat hutang nyawa. Dan satu lagi... besok aku mau ke kampung jemput Fikri pakai mobil baruku. Mas nggak diajak."
Disa masuk ke kamar dan membanting pintu, meninggalkan Abdi yang terisak sendirian di ruang tamu yang kini terasa seperti penjara baginya.