NovelToon NovelToon
LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

LAUREN Sumpah Di Ambang Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan yang Menghantui

Lauren merosot di balik pintu kamarnya, membiarkan kayu jati yang dingin itu menopang punggungnya yang gemetar. Napasnya tersengal, meninggalkan uap tipis di udara kamar yang mendadak berubah menjadi beku. Di luar, bisikan-bisikan itu tidak lagi terdengar seperti desau angin. Mereka terdengar seperti ribuan serangga yang merayap di kaca jendela, menuntut untuk masuk.

"Mereka sudah di sini, Lauren. Menembus batas yang kau bangun," suara Herza terdengar parau.

Arwah remaja itu muncul di dekat meja belajar. Pendar peraknya berfluktuasi liar, menunjukkan kegelisahan yang sama besarnya dengan ketakutan Lauren. Herza menatap sudut-sudut plafon di mana bayangan hitam mulai mengental, seolah tinta tumpah dan merayap melawan gravitasi.

"Aku sudah mengunci rumah ini, Herza. Seharusnya mereka tidak bisa masuk semudah ini," bisik Lauren. Ia mencengkeram medali di dadanya, mencari sisa kehangatan yang kini seolah tersedot habis oleh suhu ruangan yang anjlok di bawah titik beku.

"Kuncimu adalah Banyu, Lauren. Dan kau baru saja membuka celahnya di taman tadi," Herza melayang mendekat, wajahnya tampak sangat pucat di bawah temaram lampu meja yang berkedip.

"Energi yang kau ledakkan untuk menyelamatkannya adalah undangan terbuka bagi mereka. Kau baru saja memberikan peta menuju jantung pertahananmu."

Lauren memejamkan mata, mencoba mengatur detak jantungnya. Tenang, Lauren. Fokus. Namun, setiap kali ia mencoba memusatkan pikiran, bayangan Banyu yang tercekik di taman tadi kembali menghantuinya. Rasa bersalah itu menjadi celah yang sempurna.

Dug. Dug. Dug.

Suara itu berasal dari dalam lemari pakaiannya. Lauren tersentak berdiri. Itu bukan suara langkah kaki Adiwangsa yang berat, melainkan ketukan jari-jari panjang yang berirama dari balik pintu kayu lemarinya.

"Lauren, jangan dibuka," perintah Herza tajam.

"Aku tahu!" Lauren berteriak, suaranya pecah di tengah sunyi.

Pintu lemari itu bergetar hebat. Aroma tanah makam yang basah dan bau anyir darah mulai memenuhi ruangan. Secara perlahan, celah pintu lemari itu terbuka. Bukan kegelapan biasa yang ada di sana, melainkan kabut merah yang berputar-putar.

Dari dalam kabut itu, sepasang mata merah besar terbuka dengan sentakan yang mengerikan. Mata itu tidak memiliki pupil, hanya bara api yang membara dengan kebencian murni. Lauren membeku. Ia mengenali mata itu. Itulah entitas yang memeluk punggung Banyu, yang telah mengawasinya sejak ia masih balita.

"Kenapa kamu di sini?" tanya Lauren, suaranya bergetar hebat.

Mata merah itu berkedip lambat. Sebuah suara masuk ke dalam kepala Lauren, bukan melalui telinga, melainkan seperti besi panas yang ditekan ke syarafnya.

Dia... adalah... milik kami...

"Banyu bukan milik siapa pun!" Lauren mengangkat tangannya, memanggil energi biru. Namun, cahayanya hanya berkedip redup sebelum akhirnya padam.

Herza mencoba menerjang mata merah itu, namun arwah mentornya terlempar kembali oleh gelombang tekanan yang tidak terlihat.

"Lauren! Dia mencoba memecah konsentrasimu melalui emosimu terhadap Banyu! Jangan biarkan dia masuk lebih dalam!"

Kau... yang... menghancurkannya... suara itu kembali bergema, kali ini menyerupai suara Banyu yang merintih kesakitan.

Lihat... apa... yang... kau... lakukan... padanya...

Di dalam kabut merah itu, Lauren melihat visi yang mengerikan. Ia melihat Banyu terbaring di jalanan gelap, tubuhnya perlahan-lahan berubah menjadi debu hitam, dan di atasnya, Lauren berdiri dengan tangan bersimbah cahaya biru yang menghanguskan pemuda itu.

"Tidak! Itu tidak nyata!" Lauren memegang kepalanya, berlutut di lantai. Air mata mulai mengalir deras di pipinya.

"Lauren, lihat aku! Itu manipulasi!" Herza berteriak, mencoba menembus kabut batin yang mulai menyelimuti Lauren.

"Aku menyakitinya, Herza. Jika aku tidak ada di sana, dia mungkin akan aman," isak Lauren. Ketabahan mentalnya yang selama tiga tahun terakhir ia bangun seolah runtuh dalam sekejap. Serangan ini tidak menyerang fisiknya, melainkan menyerang satu-satunya titik lemah yang baru saja ia sadari: rasa kesepiannya yang ia proyeksikan pada Banyu.

Lepaskan... medalinya... dan... dia... akan... selamat...

Tangan Lauren perlahan bergerak menuju lehernya. Jemarinya meraba rantai medali perunggu itu. Ia merasa sangat lelah. Jika dengan menyerahkan kekuatannya Banyu bisa hidup normal, bukankah itu yang ia inginkan selama ini?

"Lauren! Berhenti!" Herza melesat dan secara paksa menabrakkan esensi arwahnya ke batin Lauren. Ledakan energi dingin dari Herza menyentakkan Lauren kembali ke realitas.

Lauren terengah, tangannya terlepas dari medali. Mata merah di lemarinya melotot, mengeluarkan raungan yang membuat kaca jendela kamarnya retak. Kabut merah itu perlahan menyusut, ditarik kembali ke dalam kegelapan lemari saat Lauren kembali mengunci batinnya dengan kemarahan.

"Pergi dari rumahku!" teriak Lauren. Ia menghantamkan telapak tangannya ke ubin. Gelombang energi biru yang murni, meski lemah, menyapu lantai dan menutup paksa pintu lemarinya.

Hening kembali menguasai. Suhu ruangan perlahan naik, meski sisa-sisa hawa es masih terasa di sudut mata. Herza mendarat di lantai dengan lemas, pendar peraknya tampak sangat tipis.

"Dia pergi?" tanya Lauren lirih.

"Untuk saat ini," jawab Herza, suaranya terdengar sangat letih.

"Tapi dia sudah berada di dalam, Lauren. Dia tidak perlu pintu lagi. Dia sudah menanam benih ketakutan itu di dalam batinmu."

Lauren merangkak menuju tempat tidurnya, tubuhnya terasa seberat timah. Setiap otot di tubuhnya merintih karena kelelahan emosional yang luar biasa. Ia merebahkan diri tanpa melepaskan jaketnya, menggulung tubuhnya menjadi bola kecil di bawah selimut tebal.

"Herza, tetaplah di sini," gumam Lauren.

"Aku tidak akan pergi, Lauren. Tidurlah. Kau butuh memulihkan energimu," sahut Herza pelan.

Lauren memejamkan matanya yang panas. Kegelapan tidur segera menjemputnya, namun itu bukan tidur yang tenang. Ia merasa seolah-olah sedang tenggelam di dalam air hitam yang sangat dalam. Ia mencoba berenang ke permukaan, namun kakinya terasa sangat berat.

Dalam mimpinya yang kabur, Lauren merasakan suasana kamarnya kembali berubah. Ia merasa seolah-olah sedang diawasi oleh ribuan mata dari balik dinding. Rasa kantuknya begitu berat, seolah ia sedang dibius oleh mantra kuno.

Tiba-tiba, Lauren tersentak di tengah tidurnya. Ia masih dalam posisi berbaring miring, namun ia merasa kesadarannya telah kembali sepenuhnya. Ruangan itu sangat gelap. Lampu tidurnya mati. Herza tidak terlihat di mana pun.

Lauren mencoba menggerakkan kakinya, namun ia merasa ada sesuatu yang menahannya.

Sesuatu yang sangat dingin.

Lauren menahan napas. Ia bisa merasakan sentuhan jari-jari yang sedingin es menyentuh pergelangan kakinya di balik selimut. Sentuhan itu tidak kasar, melainkan perlahan dan pasti, seolah-olah sedang mengukur suhu tubuhnya. Rasa dingin itu menjalar naik ke tulang keringnya, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri tegak.

Ia memberanikan diri untuk membuka matanya sedikit.

Di ujung tempat tidurnya, di tengah kegelapan yang pekat, berdiri sesosok bayangan yang sangat tinggi. Bayangan itu tidak memiliki bentuk yang jelas, namun Lauren bisa melihat siluet kepala yang memanjang. Dan di sana, tepat di depan wajahnya yang berjarak hanya beberapa meter, sepasang mata merah itu kembali terbuka.

Kali ini, mata itu tidak berada di dalam lemari. Sosok itu berdiri tepat di atas tempat tidurnya, menunduk menatapnya dengan diam.

Lauren ingin berteriak, namun suaranya seolah dicuri dari tenggorokannya. Ia mencoba meraih medali di dadanya, namun tangannya terasa kaku seperti kayu. Bayangan itu terus menatapnya, dan sentuhan es di kakinya kini mulai mencengkeram lebih kuat, menariknya perlahan menuju ujung tempat tidur, menuju kegelapan yang tak berdasar di bawah sana.

"Herza..." bisik Lauren dalam hati, air mata ketakutan mengalir ke telinganya.

Bayangan itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi yang hitam dan tajam di tengah kabut kegelapannya.

1
`|aley|`
Semangat kak
Laila ANT: tunggu kak lagi nulis ini 🙂‍↕️🙂‍↕️
total 2 replies
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
cerai aja laki bloon gt ajarin lah anak mu arahin ke yg paham soal indigo oon bgt ibunya
Laila ANT: hi kak sabar kak sabar ini masih permulaan 💪💪
total 1 replies
falea sezi
q suka neh horor gini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!