Axel Bahng adalah dokter jenius yang percaya bahwa semua racun memiliki penawar — hingga satu kesalahan kecil mengubah cinta dalam hidupnya menjadi mimpi buruk yang tak bisa disembuhkan.
Tunangan yang paling ia cintai, Lusy Kim, tanpa sengaja meminum racikan eksperimen ilegal buatannya. Sejak hari itu, tubuh Lusy tak lagi mengenali rasa lapar seperti manusia. Saat kelaparan menyerang, kesadarannya hilang, digantikan naluri brutal yang hanya bisa diredakan oleh darah.
Demi melindungi Lusy dari dunia — dan dunia dari Lusy — Axel menyekapnya dalam ruang rahasia di bawah rumahnya, mempertaruhkan karier, moral, dan kewarasannya sendiri. Ia mencuri darah dari rumah sakit, membohongi keluarga, dan melawan hukum, yakin bahwa cinta dan sains akan menemukan jalan keluar.
Namun seiring waktu, kebohongan runtuh satu per satu. Ketika kebenaran akhirnya terungkap, tak ada lagi yang bisa diselamatkan — bukan reputasi, bukan keluarga, bukan bahkan cinta itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Tiga jam telah berlalu sejak insiden gelas jus yang tercemar zat kimia eksperimental itu terjadi. Waktu merayap dengan kecepatan yang sangat lambat, seolah sengaja memperpanjang setiap detiknya agar bisa menjadi beban yang menindih pundak Axel dengan semakin berat.
Setiap gerakan jarum jam yang terdengar lembut dari jam dinding di sudut ruangan membuat hatinya berdebar lebih cepat, selalu mengharapkan sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi kapan saja. Namun, seiring dengan berputarnya jarum jam menuju arah sore hari yang semakin menjelang, ketegangan yang tadi begitu mencekik dan membuat seluruh tubuhnya tegang perlahan mulai melonggar sedikit demi sedikit.
Lusy tampak benar-benar normal, tidak ada tanda-tanda sama sekali dari sianosis atau kejang yang selama ini selalu ditakutkan oleh Axel. Bahkan gerakannya yang biasa berjalan dengan anggun juga tidak menunjukkan adanya kelainan apa pun.
Suara derit pintu depan yang terdengar jelas di dalam rumah yang mulai kembali tenang, diikuti oleh langkah kaki yang berat dan mantap, menandakan kepulangan sang tuan rumah setelah seharian bekerja di rumah sakit.
Doni masuk ke ruang tengah dengan wajah yang masih menunjukkan tanda-tanda kelelahan akibat aktivitas sehariannya, kedua tangannya masih menenteng tas kerja yang terlihat cukup berat. Ia melangkah lebih jauh ke dalam ruangan dengan langkah yang santai, namun kemudian mendadak mematung di ambang pintu saat pandangannya jatuh pada sosok wanita yang sedang duduk dengan tenang di sofa kain tebal yang terletak di dekat jendela. Matanya yang sudah mulai menunjukkan garis-garis usia langsung membelalak lebar, ekspresi wajahnya yang tadinya lelah langsung berubah menjadi penuh dengan kegembiraan yang luar biasa.
"Lusy?! Apakah ini benar-benar kamu?" Ucap Doni dengan penuh kejutan dan kegembiraan. Senyum lebar yang hangat segera menghiasi wajahnya, menghapus seluruh guratan lelah yang ada di sana dengan cepat.
"Astaga, Axel tidak bilang kalau kamu akan sampai hari ini! Kenapa kamu sudah berada di sini, Nak? Kamu tidak memberi tahu kita sebelumnya supaya kita bisa menyiapkan sesuatu untuk menyambutmu."
Lusy segera bangkit dari tempat duduknya, kemudian menghampiri Doni dengan langkah yang ceria untuk memberikan pelukan hangat yang penuh hormat dan kasih sayang. "Ini kejutan kecil untuk Axel, Yah. Aku ingin melihatnya sesegera mungkin setelah mendapatkan izin cuti semester lebih awal. Tapi sepertinya aku malah membuatnya hampir mengalami serangan jantung tadi karena datangnya yang tidak terduga itu."
Doni terkekeh dengan suara yang hangat dan penuh dengan kebahagiaan, kemudian menepuk-nepuk bahu Lusy dengan penuh kasih sayang sebelum akhirnya menoleh perlahan ke arah Axel yang masih berdiri dengan wajah yang sedikit kaku di dekat meja kerja laboratorium. Ia melihat dengan ekspresi yang penuh dengan pengertian pada putranya yang sudah dewasa itu, kemudian menggelengkan kepalanya dengan lembut sambil tersenyum.
"Lihat anakku itu, Lusy. Dia pasti sangat merindukanmu sampai tidak bisa berkata-kata sama sekali. Wah benar sekali ya, rumah ini benar-benar terasa berbeda dan jauh lebih hidup kalau ada kamu yang berada di sini."
Axel mencoba dengan sekuat tenaga untuk memaksakan sebuah senyum yang bisa dianggap normal pada wajahnya yang masih tampak sedikit pucat. Ia menarik napas dalam-dalam sebanyak mungkin, berusaha untuk mengubur rasa takut yang masih tetap bersisa dan mengganggu di sudut terdalam batinnya. Ia mengangguk perlahan sebagai tanggapan terhadap kata-kata ayahnya. "Ayah benar sekali. Aku hanya... terlalu senang sampai sedikit bingung dan tidak tahu harus berkata apa."
"Nah, karena hari ini adalah hari yang sangat istimewa dengan kedatanganmu, kita harus merayakannya dengan meriah!" Ujar Doni dengan semangat. Ia segera meletakkan tas kerja kantornya di atas meja kecil yang terletak di dekat pintu, kemudian mulai menggulung lengan kemejanya yang putih bersih dengan cepat.
"Ayah akan segera memesan daging sapi kualitas terbaik dari pedagang yang sudah aku kenal sejak lama, dan kita akan makan malam besar bersama di rumah ini. Tidak ada riset apapun, tidak ada bicara soal rumah sakit atau pasien malam ini. Apakah kamu setuju dengan keputusan ini?"
"Setuju sekali, Yah! Aku sudah sangat merindukan masakan Korea yang otentik sejak aku pergi ke Australia beberapa bulan yang lalu." Sahut Lusy dengan suara yang riang dan penuh semangat. Ia bahkan mengangkat kedua tangannya dengan ceria sebagai tanda bahwa ia sangat setuju dengan rencana itu. "Aku sudah tidak sabar untuk mencicipi kimchi yang dibuat olehmu sendiri lagi, Yah. Tidak ada yang bisa menyamai rasanya."
Suasana rumah yang tadinya sangat tegang dan penuh dengan ketakutan kini berubah secara drastis menjadi hangat dan penuh dengan kebahagiaan. Suara tawa Doni yang riang dan cerita-cerita menarik dari Lusy tentang pengalamannya selama tinggal di Australia mulai mengisi setiap sudut ruangan yang tadinya hanya diisi oleh kesunyian dan suara mesin laboratorium.
Axel mulai merasa sedikit lebih tenang dan rileks. Ia mulai berpikir bahwa mungkin saja obat penetral yang ia berikan kepada Lusy tadi bekerja dengan sangat sempurna, atau mungkin saja percikan zat kimia eksperimental yang masuk ke dalam jus itu memang terlalu sedikit untuk bisa menimbulkan dampak yang fatal pada tubuhnya.
𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘱𝘢𝘳𝘢𝘯𝘰𝘪𝘥 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘩𝘢𝘸𝘢𝘵𝘪𝘳 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴.
Namun, di tengah perbincangan mereka yang semakin meriah mengenai rencana makan malam yang akan mereka lakukan—bahkan sudah mulai membicarakan tentang hidangan apa saja yang akan disiapkan dan apakah mereka akan menambahkan makanan penutup seperti patbingsu atau tidak—Lusy tiba-tiba terdiam sepenuhnya.
Ekspresi wajahnya yang tadinya penuh dengan keceriaan langsung hilang, digantikan oleh ekspresi yang sedikit bingung dan tidak nyaman. Ia perlahan meletakkan kedua tangannya di atas perut bagian atasnya, wajahnya menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak biasa yang sedang ia rasakan di dalam tubuhnya. Ada sensasi aneh yang mulai perlahan merayap di dalam sana.
𝘒𝘳𝘶𝘺𝘶𝘶𝘶𝘬𝘬!
Suara perut Lusy terdengar sangat keras dan panjang. Bunyi itu begitu kuat hingga bisa terdengar jelas. Getaran dari suara itu bahkan bisa dirasakan sedikit oleh Axel yang berdiri beberapa meter jauhnya dari tempat Lusy berdiri.
Lusy tersentak kaget dengan suara yang keluar dari dalam tubuhnya itu, wajahnya yang cerah seketika memerah padam karena rasa malu yang luar biasa. Ia segera tertawa dengan suara yang canggung dan sedikit terkesan dipaksakan, sambil terus menekan bagian perutnya. "Ya ampun... maafkan aku. Sepertinya jetlag yang aku rasakan dan perut yang hampir kosong sejak tadi benar-benar tidak bisa diajak kompromi sama sekali. Aku sungguh memalukan diri sendiri."
Doni tertawa terbahak-bahak dengan suara yang penuh dengan kegembiraan, menganggap hal yang terjadi pada Lusy sebagai sesuatu yang lumrah dan biasa terjadi pada orang yang baru saja melakukan perjalanan jauh lintas benua. Ia menggelengkan kepalanya sambil masih terus tertawa, kemudian menepuk-nepuk bahu Lusy dengan penuh kasih sayang.
"Wah, sepertinya kamu benar-benar sangat lapar ya, Nak! Tenang saja, Ayah akan segera menghubungi pedagang dagingnya dan memesan semua yang kita butuhkan. Kemudian Ayah akan segera menyiapkan semuanya dengan cepat. Sepertinya lambungmu sudah mulai berteriak protes karena sudah terlalu lama tidak mendapatkan makanan yang cukup."
Namun, berbeda dengan ayahnya yang bisa tertawa dan menganggapnya sebagai hal yang tidak penting, Axel tidak ikut serta dalam tawa itu. Ia hanya bisa berdiri dengan tenang di tempatnya, menatap Lusy dengan pandangan yang penuh dengan rasa ingin tahu dan sedikit khawatir yang mulai muncul kembali.
Sebagai tunangannya yang sudah bersama selama bertahun-tahun, ia tahu dengan sangat jelas bahwa porsi makan Lusy biasanya sangat kecil dan ia jarang sekali merasa lapar hingga tingkat yang harus mengeluarkan suara seperti itu dari perutnya.
"Kamu merasa sangat lapar sekali, Lusy?" Tanya Axel. Ia melangkah sedikit lebih dekat ke arah Lusy, matanya yang dalam tetap terpaku pada ekspresi wajah wanita itu yang masih menunjukkan rasa malu dan sedikit tidak nyaman.
"Iya, Sayang. Tapi rasanya sangat aneh sekali. Rasanya seperti aku sudah tidak makan sama sekali selama tiga hari berturut-turut. Perutku benar-benar... sangat kosong sekali. Bahkan terasa sedikit perih karena kekosongan itu."
Lusy mencoba untuk memberikan senyum yang bisa membuat Axel merasa lebih tenang, namun ekspresi wajahnya yang sebenarnya tidak bisa menyembunyikan adanya sedikit gurat kegelisahan yang mulai muncul di dalam matanya yang besar itu. Rasa lapar yang ia rasakan saat ini bukan lagi sekadar keinginan biasa untuk makan sesuatu, namun rasa lapar yang sangat primitif dan kuat, yang dengan sangat keras menuntut untuk segera dipuaskan dengan makanan dalam jumlah yang besar, seolah-olah ada sesuatu yang baru saja terbangun dari dalam tubuhnya dan kini sangat membutuhkan asupan energi dalam jumlah yang tidak biasa besar.
Axel hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri, mata tidak pernah lepas dari sosok Lusy yang terus memegangi bagian perutnya dengan ekspresi wajah yang semakin menunjukkan ketidaknyamanan, sementara firasat buruk yang sudah lama hilang itu kembali merayap pelan namun pasti di bagian punggungnya seperti es yang mencair dan menusuk kulitnya dengan dingin.
"Yah, tolong segera siapkan makanannya ya. Sepertinya Lusy memang benar-benar sangat membutuhkan energi tambahan... dan itu harus diberikan sekarang juga."
.
.
.
.
.
.
.
ㅡ Bersambung ㅡ