NovelToon NovelToon
Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Sekretaris Bar-Bar Pak Bian

Status: tamat
Genre:CEO / Sekretaris / Tamat
Popularitas:232k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

" Tinggalkan saja pacarmu itu. Tampangnya saja seperti tukang galon"

"OHH tidak boleh menghina manusia begitu pak. Biar seperti tukang galon, tapi cinta saya melebihi samudra"

"Halah paling juga nanti kamu nyesal"

Haruna Kojima gadis keturunan Jepang yang biasa di panggil Nana. Setiap hari harus mendengarkan mulut judes bos nya. Siap lagi kalo bukan Abian Pangestu, pria bermulut pedas tidak pandang bulu laki-laki maupun perempuan dimatanya sama. Tapi untungnya Nana punya kesabaran setebal skripsi anak teknik. Jadi ucapan judes sang bos hanya seliweran angin lewat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semua Laki-laki sama saja

Suara isak tangis Nana pecah, memenuhi ruang kabin yang kedap suara. Ia tidak lagi peduli dengan imej sekretaris profesional yang selalu ia jaga. Ia tidak peduli jika maskaranya luntur atau jika ia terlihat menyedihkan di depan bosnya yang paling judes sedunia.

Nana meringkuk di kursi penumpang, menenggelamkan wajahnya di lipatan jas Abian yang masih tersampir di bahunya.

"Semua laki-laki sama saja!" teriak Nana di tengah tangisnya yang tersedu-sedu.

Abian diam, jemarinya menggenggam kemudi dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Nana terisak makin hebat, dadanya sesak mengingat memori masa kecilnya di Jepang yang hancur karena sang ayah memilih wanita penghibur daripada keluarganya sendiri. Dan sekarang, sejarah pahit itu terulang kembali melalui Rian.

"Punya pacar... selingkuh sama LC. Pakai uang saya pula," Nana meratap, suaranya naik satu oktaf.

"Dulu... dulu Bapak saya juga begitu. Meninggalkan Ibu, menghabiskan uang tabungan sekolah saya cuma buat selingkuh sama LC. Kenapa hidup saya harus bertemu laki-laki lo*te terus?!"

"Sudah bicaranya?" tanya Abian dengan suara rendah.

Nana tidak menjawab, ia masih sesenggukan, mencoba mengatur napasnya yang tersengal.

"Dengar, Haruna," Abian memutar tubuhnya menghadap Nana.

"Jangan pernah menyamakan saya dengan laki-laki sampah itu hanya karena kita punya jenis kelamin yang sama."

Nana mendongak dengan mata sembab dan hidung merah. "Tapi kenyataannya begitu, kan? Laki-laki kalau punya uang sedikit saja, yang dicari kesenangan kotor. Kalau nggak punya uang, malah malak perempuan buat nyari kesenangan kotor juga!"

Abian menarik napas panjang. Ia meraih selembar tisu dari dashboard dan menyodorkannya pada Nana dengan kasar tapi gerakannya tertahan, lalu ia justru menyeka air mata di pipi Nana dengan tangannya sendiri.

"Dunia ini tidak hanya berisi Rian dan bapakmu," ucap Abian.

"Ada laki-laki yang bekerja keras karena punya standar tinggi, bukan karena ingin main perempuan."

Nana terdiam, menatap tangan Abian yang masih berada di pipinya.

"Kamu bilang bapakmu selingkuh sama LC dan itu membuatmu menderita? Bagus," lanjut Abian, kembali ke mode judesnya.

"Jadikan itu alasan untuk jadi lebih keras kepala. Jangan jadi lemah dan bilang semua laki-laki sama. Kalau semua laki-laki sama, saya tidak akan repot-repot membuang waktu satu jam di sini hanya untuk mendengarkanmu meraung seperti anak kucing kehujanan."

Abian menarik kembali tangannya, lalu menyalakan mesin mobil.

"Hapus air matamu. Besok kamu harus masuk kantor pukul tujuh pagi. Ada banyak laporan yang harus kamu revisi," ucap Abian sambil melajukan mobilnya kembali ke jalan raya.

"Pak... Bapak nggak mau bilang saya bilang juga apa ke saya?" tanya Nana lirih, teringat ucapan Abian yang selalu meremehkan Rian.

Abian terdiam sejenak saat lampu merah menyala. Ia menatap lurus ke depan. "Saya memang ingin bilang begitu. Tapi melihatmu sehancur ini... rasanya bahkan mulut saya pun punya rasa kasihan yang sedikit lebih besar"

Nana menunduk, merapatkan jas Abian di tubuhnya. Aroma parfum bosnya mulai terasa akrab, memberikan rasa aman yang aneh di tengah badai yang baru saja menghancurkan hatinya.

......................

Nana duduk bersandar di pintu kamar yang terkunci rapat, memeluk lututnya sendiri. Di atas lantai, tersebar lembaran mutasi rekening dan beberapa catatan kecil yang baru saja ia buat.

Nana tertawa getir sambil menghapus air mata yang tak kunjung berhenti. Ia baru saja menghitung kasar total uang yang ia keluarkan untuk Rian selama dua tahun ini. Mulai dari cicilan motor Rian yang katanya hampir ditarik debt kolektor. uang kontrakan yang selalu menunggak, hingga biaya hidup sehari-hari yang selalu Nana tanggung dengan alasan investasi masa depan.

"Apartemen..." bisik Nana lirih. "Kalau uang ini aku tabung, aku sudah bisa bayar uang muka apartemen di tengah kota. Bodoh kamu, Nana. Bodoh sekali."

Ternyata selama ini ia bukan membiayai masa depan seorang pria pekerja keras, melainkan membiayai syahwat laki-laki yang bahkan tidak sudi menyebut namanya dengan benar di depan wanita lain.

Di tengah isak tangisnya yang meratapi nasib dan dompetnya yang terkuras, ponsel di sampingnya bergetar. Sebuah nama muncul di layar. Pak Bos Galak .

Nana segera berdehem, mencoba menormalkan suaranya yang serak sebelum mengangkat telepon. "Ya, Pak?"

"Masih menangis?" Suara Abian terdengar di seberang sana.

"Nggak, Pak. Saya cuma... sedang baca laporan keuangan pribadi," jawab Nana berbohong, meski suaranya yang bindeng tidak bisa menipu siapa pun.

"Laporan keuangan pribadi atau daftar kerugian akibat investasi bodoh?" skakmat Abian.

"Sudah, jangan banyak alasan. Dengar, besok kamu tidak usah masuk kantor dulu. Istirahatlah di kamar sempitmu itu sampai matamu tidak lagi bengkak seperti disengat tawon."

Nana tertegun. Hatinya yang sedang hancur mendadak merasakan sedikit kehangatan. "Bapak... kok Bapak baik banget sama saya? Terima kasih ya, Pak, sudah mengerti kondisi saya..."

"Jangan terlalu percaya diri, Na," potong Abian cepat.

"Besok itu hari Minggu. Satu kantor memang libur. Kamu pikir perusahaan saya buka tujuh hari seminggu seperti minimarket?"

Nana terdiam sejenak. Ia baru sadar kalau besok memang hari Minggu. "Oh... iya ya, Pak. Saya lupa."

"Makanya, pakai otakmu untuk mengingat kalender, jangan cuma dipakai untuk mengingat tanggal lahir kurir paket itu," sindir Abian.

"Dan satu lagi. Saya tahu kamu pasti belum makan. Jam segini kamu pasti masih sibuk menangis meratapi kebodohanmu yang setingkat nasional itu."

Nana baru saja ingin membantah ketika Abian melanjutkan.

"Nanti akan ada kurir yang datang membawakan makanan ke kostmu. Jangan tanya siapa yang kirim, dan jangan berani-berani menolak. Tenang saja, saya sudah bayar semuanya. Anggap saja itu kompensasi karena saya terpaksa melihat adegan dewasa gratis di hotel tadi siang yang membuat selera makan saya juga hilang."

"Pak Abian...."

"Sudah, jangan banyak bicara. Makan, lalu tidur. Saya tidak mau asisten saya terlihat seperti zombie di hari Senin nanti. Selamat malam."

Tut.

Telepon diputus sepihak. Nana menatap layar ponselnya dengan bingung. Meskipun kata-kata pria itu pedasnya minta ampun, tapi tindakannya selalu punya cara sendiri untuk melindungi.

Sepuluh menit kemudian, seorang kurir benar-benar datang membawakan paket berisi makanan dari restoran kelas atas yang harganya mungkin setara dengan gaji Rian sebulan. Di dalamnya terdapat sup hangat, steak premium, dan sepotong cokelat mahal.

Nana menyuapkan sup itu ke mulutnya sambil tersenyum tipis di sela air matanya yang masih tersisa.

"Ternyata," gumam Nana, "Mulut pedas Pak Abian jauh lebih jujur daripada janji manis laki-laki itu."

1
Ari Sawitri
lah kamu egois .. Nana baru bertemu dan damai dg ayah nya setelah sekian tahun berpisah. ya wajar dia milih ikut ayahnya ke jepang. kamu jg lebay gt aja marah, br pacaran seminggu dh egois kyk gt 😡😡
Ari Sawitri
psikolog mungkin maksudnya ya?
klu sdh spt itu yg dibutuhkan psikiater karena pasti akan butuh obat obat.
Ari Sawitri
harusnya bukan spt itu dg diceraikan istri dan di kembalikan ke Indonesia. harusnya diberikan perlindungan maksimal spt halnya keluarga keluarga mafia yg banyak musuh. resiko itu jd benar kata Abian Kaito pengecut dg mengambil langkah tersebut 😒😔
Ari Sawitri
sudah kuduga 🤣🤣🤣🤣
Ari Sawitri
🤣🤣🤣🤣 punya bos kayak gini pengen nimpuk dg sandal jepit mulutnya 🤣🤣🤣 hampir sebelas duabelas dg my stupid bos selalu bikin sewot 🤣🤣🤣
mama yogi
⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
Asyatun 1
keren banget thoor
Kamsia
lama sekali upnya thor
mama yogi
🤠🤠🤠
Ambu Rinddiany Thea
bengek punya bos gini 🤣🤣🤣🤣
Ambu Rinddiany Thea
ya Allah malam2 ngakak gara2 bos sableng 🤣🤣🤣 tp aku sukaaa 🤭
Ambu Rinddiany Thea
astaghfirullah s rian mah wajib d cemplungin ke kolam ikan piranha
Ambu Rinddiany Thea
bosnya minta d sleding lama2 ngeselin 😂😂
Ambu Rinddiany Thea
mampir thorr , belum apa2 udh ngakak 🤣
LalanaStr
ciyeee sosweet🤭
LalanaStr
wkwkw.. sepertinya sisa2 bersolo karir papa abiyan dan para keceb*ng itu, ytta. 😄
LalanaStr
wkwkw good na🤣
Aidil Kenzie Zie
👍Abian topcer selagi kuat gas terus 🤭🤭🤭🤭
Kamsia
kira" nmnya siapa y...de" k bayinya
Nur Rsd
lho yaa udah ada lagi dikebut saja mau anak berapa nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!