Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Tarian Pedang Kayu dan Lorong Sunyi
Kabut merah muda yang dilepaskan Lilith menyelimuti gang sempit itu, berputar pelan seperti asap dupa yang memabukkan. Bau manis bunga persik menyamarkan bau darah yang akan segera tumpah.
Di dalam kabut, kelima pembunuh dari Organisasi Mata Satu bergerak dengan formasi punggung saling menempel. Mereka adalah profesional. Mereka menahan napas, menutup pori-pori, dan mengandalkan Kesadaran Spiritual untuk melacak musuh.
"Jangan panik," bisik pemimpin mereka, si pria kurus (Spirit Severing Tingkat 8). "Ini hanya ilusi visual. Fokus pada fluktuasi Qi."
Namun, mereka melupakan satu hal.
Ye Chen saat ini sedang dalam proses konversi energi. Qi di tubuhnya bercampur antara Qi Roh dunia bawah dan Qi Dewa. Fluktuasinya tidak stabil dan sulit dilacak.
Terlebih lagi, dia tidak berniat menggunakan Qi untuk membunuh.
Ye Chen berdiri tiga langkah di depan mereka, tak terlihat di dalam kabut.
Dia tidak mencabut Pedang Naga Langit yang berat. Suara logam akan menarik perhatian penjaga kota.
Sebagai gantinya, dia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan Pedang Kayu Kecil—hasil pahatan latihannya bersama Dugu di Hutan Kematian.
Pedang itu tumpul, ringan, dan tidak memancarkan niat membunuh sedikitpun. Itu adalah senjata "Hampa".
"Satu," hitung Ye Chen dalam hati.
ZING!
Ye Chen melangkah maju. Tanpa suara pijakan.
Dia mengayunkan pedang kayu itu ke leher pembunuh yang paling kiri.
Tidak ada suara tebasan angin. Pedang kayu yang dialiri Niat Kehampaan itu memotong ruang di sekitar leher pembunuh itu.
Pluk.
Kepala pembunuh itu jatuh ke tanah. Darah belum sempat menyembur karena pembuluh darahnya tertutup oleh tekanan ruang yang terpotong.
Empat pembunuh tersisa tersentak. Mereka merasakan "hilangnya" kehadiran satu teman mereka, tapi tidak mendengar suara kematiannya.
"Sebelah kiri!" teriak salah satu pembunuh, menebas membabi buta ke arah kiri.
Ye Chen sudah pindah ke kanan.
"Dua."
Tusukan pedang kayu menembus jantung pembunuh kedua dari punggung. Tembus zirah kulit, tembus jantung, tanpa merusak pakaian luarnya.
Pembunuh itu ambruk tanpa suara.
"Di mana dia?! Kenapa sensor Qi tidak mendeteksinya?!" Pemimpin pembunuh mulai panik. Keringat dingin menetes di pelipisnya.
Ye Chen bergerak seperti hantu. Dia tidak menikmati pembantaian ini, dia hanya bekerja efisien. Seperti tukang jagal yang memotong daging di pasar yang sunyi.
Tiga... Empat...
Dalam sepuluh napas, empat anak buah pembunuh itu tewas. Mayat mereka tergeletak di gang tanpa suara gaduh.
Hanya tersisa si Pemimpin.
Dia berdiri sendiri di tengah kabut, memegang dua pedang pendeknya dengan gemetar. Dia tahu dia sedang menghadapi monster.
"Keluar kau!" desis Pemimpin itu. "Lawan aku jantan!"
Kabut di depannya perlahan menipis.
Ye Chen berjalan keluar. Jubah abunya bersih tanpa noda. Di tangan kanannya, dia memegang mainan kayu kecil.
"Jantan?" Ye Chen bertanya datar. "Kalian menyerangku lima lawan satu, dan sekarang kau bicara soal jantan?"
Pemimpin itu menatap pedang kayu di tangan Ye Chen.
"Kau... membunuh pasukanku dengan ranting kayu itu?"
"Kayu atau besi, sama saja. Yang memotong adalah niatnya," jawab Ye Chen.
"Mati kau!"
Pemimpin pembunuh meledakkan aura Tingkat 8-nya. Dia tidak peduli lagi dengan penjaga kota. Dia ingin membunuh Ye Chen sebelum dia sendiri mati.
Teknik Mata Satu: Silang Maut!
Dia menyilangkan kedua pedangnya, menciptakan gelombang energi berbentuk X yang tajam dan cepat, mengarah ke dada Ye Chen.
Ye Chen tidak menghindar. Dia melangkah maju, menyongsong serangan itu.
Dia mengangkat pedang kayunya vertikal.
Niat Pedang: Pemutus Aliran.
Ye Chen memukulkan pedang kayunya tepat ke titik tengah persilangan energi itu.
POOF!
Serangan energi si Pemimpin buyar seketika, seperti lilin ditiup angin. Struktur Qi-nya dihancurkan dari dalam.
"Mustahil!"
Ye Chen sudah berada di dalam jangkauan.
Dia menempelkan ujung pedang kayunya ke tenggorokan si Pemimpin.
"Tidur."
JLEB!
Pedang kayu tumpul itu menembus tenggorokan si Pemimpin dengan mudah, memutus tulang leher dan saraf pusat.
Pemimpin pembunuh itu menjatuhkan senjatanya. Dia mencengkeram lehernya, mata melotot, lalu jatuh berlutut dan mati.
Pertarungan selesai. Durasi: 30 detik. Suara yang dihasilkan: Hampir nol.
Ye Chen menyimpan pedang kayunya.
"Kerja bagus, Lilith. Hilangkan kabutnya."
Lilith menghisap kembali kabut merah mudanya. Dia menatap mayat-mayat di tanah dengan ngeri.
"Tuan... Kau semakin menakutkan," kata Lilith jujur. "Teknik pedangmu... itu bukan teknik manusia."
"Ambil cincin mereka. Cepat," perintah Ye Chen. "Kali ini periksa segel pelacaknya. Hancurkan di tempat."
Ye Chen dan Lilith bergerak cepat menjarah mayat-mayat itu. Setelah memastikan tidak ada jejak yang tertinggal (Ye Chen menggunakan sedikit Api Ungu untuk membakar sisa aura mereka), mereka meninggalkan gang itu.
Lima menit kemudian, patroli Penjaga Kota lewat. Mereka hanya menemukan lima mayat misterius tanpa luka luar yang jelas, mati dengan wajah ketakutan.
Kasus itu dicatat sebagai "Serangan Hantu" dan segera dilupakan di kota yang keras ini.
Penginapan "Mata Air Gurun".
Ye Chen menyewa sebuah kamar di penginapan kelas menengah yang tersembunyi di sudut pasar. Tidak terlalu mewah, tidak terlalu kumuh.
Di dalam kamar, Ye Chen duduk di atas tempat tidur batu. Dia menumpahkan isi cincin para pembunuh itu.
Total jarahan:
8.000 Batu Dewa Rendah.
Beberapa botol racun dan penawar.
Sebuah Token Identitas Palsu yang berkualitas tinggi.
"Token ini berguna," Ye Chen mengambil plat besi yang bertuliskan nama acak. "Kita bisa menggunakannya untuk mendaftar ujian sekte tanpa menggunakan nama asli."
Tapi yang paling penting sekarang adalah kultivasi.
Ye Chen mengeluarkan 20 butir Batu Dewa yang dia tambang sendiri, ditambah tumpukan batu dari hasil rampasan.
"Lilith, jaga pintu. Aku akan masuk meditasi tertutup (seclusion) selama tiga hari. Aku harus meningkatkan persentase konversi Qi-ku."
"Siap, Tuan."
Ye Chen memejamkan mata.
"Mutiara Penelan Surga... Mode Konversi Maksimal!"
Dia menyedot energi dari tumpukan batu dewa di sekitarnya.
Kali ini, prosesnya lebih lancar. Tubuhnya sudah mulai beradaptasi dengan Hukum Alam Dewa.
Konversi Qi Dewa: 15%... 20%... 25%...
Setiap persen kenaikan membuat Ye Chen merasa tubuhnya semakin ringan. Kekuatan aslinya perlahan kembali.
Tiga hari kemudian.
Ye Chen membuka matanya. Sinar keemasan memancar dari tubuhnya, menerangi kamar yang gelap.
Huuuuh...
Dia menghembuskan napas keruh.
Konversi Qi: 40%.
Tingkat Kultivasi (Dikonversi): Setara Spirit Severing Tingkat 2 Alam Dewa.
Meskipun secara teknis tingkatannya turun (dari Tingkat 9 dunia bawah), namun kualitas dan kepadatannya jauh lebih tinggi. Dengan kekuatan fisik Tulang Emas-nya, Ye Chen yakin dia sekarang bisa melawan Spirit Severing Tingkat 6-7 secara frontal tanpa trik.
"Cukup untuk mendaftar," Ye Chen berdiri, merenggangkan ototnya.
"Lilith, ayo."
"Ke mana, Tuan?"
"Ke Utara. Menuju Sekte Pedang Bintang Jatuh."
Ye Chen mengambil token identitas palsu itu.
"Mulai hari ini, aku adalah Ye Gu, seorang pendekar pedang pengembara dari gurun."
Tujuannya jelas: Masuk ke dalam sekte besar, mendapatkan akses ke sumber daya tingkat tinggi, dan mencari informasi tentang lokasi Kunci Bulan (yang terdeteksi samar di wilayah utara).
Dan mungkin... menemukan jejak orang tuanya. Karena nama "Bintang Jatuh" mengingatkannya pada liontin kalung peninggalan ibunya yang hilang.
Ye Chen keluar dari penginapan, melangkah menuju gerbang utara kota. Petualangan di Alam Dewa baru saja memasuki babak berikutnya.
(Akhir - Bab 16)