Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Kau.. bagaimana
Bai Xuning sampai di depan kantor polisi tepat saat Hu Lian dituntun keluar oleh Qin Cheng.Mata pria itu langsung menemukan sosok gadis kecil yang sedang berjalan dengan sedikit goyah, lututnya masih terbungkus perban putih dan ada bekas goresan di pipinya.
Hu Lian juga melihatnya datang dan langsung tertegun, mata melebar sedikit. "..Apa yang kamu lakukan disini?" tanyanya dengan suara yang sedikit terkejut.
Bai Xuning tidak menjawab, dia berjalan cepat mendekat dan melihat luka-luka pada tubuh Hu Lian dengan ekspresi wajah yang semakin tegas, rahangnya mengeras.
Tanpa banyak bicara, dia segera mengambil tangan Hu Lian dari pegangan Qin Cheng, lalu dengan lembut namun cepat mengendong gadis itu dalam pose tuan putri.
"......."Qin Cheng dan Wei Yang berdiri membeku dengan wajah penuh terkejut—mereka tidak menyangka pria tampan yang datang itu akan melakukan hal seperti itu.
Bahkan Hu Lian sendiri juga tak bisa bereaksi dengan cepat; dia hanya bisa menggenggam bahu Bai Xuning dengan sedikit kaget.
"Kamu baik-baik saja, Kakak Lian?!" tanya Qin Cheng mengikutinya dengan suara cemas saat Bai Xuning berjalan menuju mobilnya dengan langkah mantap.
"Batuk!Qin Cheng aku baik-baik saja...."Hu Lian mencoba untuk berbicara, namun Bai Xuning sudah mulai berbicara dengan nada yang tegas. "Kita akan segera pergi ke rumah sakit untuk memeriksa lukamu dengan benar. Jangan terlalu banyak bergerak."
Meskipun ingin menolak dan berkata bahwa dia bisa sendiri, Hu Lian merasa tubuhnya sedikit sakit akibat luka dan kejadian tadi.
Dia hanya bisa terdiam dengan wajah yang bercampur antara marah sementara Bai Xuning dengan hati-hati menempatkannya di dalam mobil dan menutup pintu dengan lembut.
Qin Cheng dan Wei Yang hanya bisa menatap mobil hitam yang mulai berjalan menjauh, masih dalam keadaan terkejut dengan apa yang baru saja mereka lihat.
"Siapa pria itu ? Bukankah dia yg waktu itu dengan Kakak Lian?" bisik Wei Yang pelan pada Qin Cheng.
"Aku...juga tidak tau..."jawabannya dengan alis mengerut.
Keduanya tetap diam selama perjalanan menuju rumah sakit. Bai Xuning fokus mengemudi dengan wajah yang serius, sambil sesekali melirik Hu Lian yang duduk di kursi sebelahnya melalui cermin spion.
Sementara itu, Hu Lian hanya menatap ke luar jendela dengan ekspresi yang sulit ditebak, tangan kanannya masih menggenggam bahunya yang sedikit sakit.
Lukanya yang ada di lutut dan pipinya mulai terasa lebih menyakitkan, namun dia tidak ingin menunjukkan rasa sakitnya di depan Bai Xuning.
Dia masih bingung mengapa pria itu datang dan bahkan menggendongnya seperti itu—padahal beberapa waktu lalu mereka sudah menyatakan bahwa hanya menjadi orang asing satu sama lain.
Ketika mobil akhirnya sampai di rumah sakit, Bai Xuning segera turun dan membuka pintu sebelah Hu Lian. Tanpa berkata apa-apa, dia menawarkan tangan untuk membantunya keluar, namun Hu Lian mengabaikannya dan mencoba berdiri sendiri.
Namun karena tubuhnya masih lemah, dia hampir terpeleset sebelum Bai Xuning dengan cepat menopangnya dari belakang.
"Jangan keras kepala," ucap Bai Xuning dengan suara rendah.
"......"Kali ini Hu Lian tidak menolak lagi dan mengizinkan pria itu membantunya berjalan menuju ruang gawat darurat.
Di dalam rumah sakit, dokter segera memeriksa luka-luka pada Hu Lian. Luka di lututnya cukup dalam dan perlu dijahit beberapa jahitan, sementara goresan di pipinya hanya membutuhkan perawatan luka dan antibiotik untuk mencegah infeksi.
Selama proses perawatan, Bai Xuning tetap berdiri di dekatnya, tidak pernah menjauh bahkan sebentar.
Setelah semua perawatan selesai dan Hu Lian diberikan obat-obatan, Bai Xuning membantunya kembali ke mobil.
Kesunyian kembali menyelimuti mereka keduanya saat mobil mulai bergerak lagi—kali ini menuju arah kediaman Hu.
"Berhenti saja didekat kampus..." ucap Hu Lian pelan setelah sekian lama berdiam diri. Suaranya terdengar lemah namun tetap tegas.
Bai Xuning mengerutkan keningnya dengan ekspresi tidak setuju. "..Kamu terlalu lemah untuk berjalan sendiri, lebih baik aku antar kamu pulang ke rumahmu. Atau setidaknya kamu harus minta cuti dari kuliah beberapa hari..."
Hu Lian mengerut bibirnya, lalu melihat ke arah jendela dengan tatapan yang menunjukkan dia sudah mantap.
"Aku akan mengurusnya sendiri, cukup turunkan aku didepan kampus!" ucapnya dengan nada yang lebih keras, menunjukkan bahwa dia tidak ingin diperdebatkan lagi.
Bai Xuning terdiam sejenak, matanya menatap wajah Hu Lian yang tidak mau melihatnya.Dia tahu bahwa gadis itu sangat keras kepala dan tidak akan mau menerima bantuan jika sudah memutuskan sesuatu.
Dengan hati yang sedikit berat, dia mengurangi kecepatan mobil dan mulai mencari tempat untuk berhenti di dekat gerbang kampus.Setelah mobil berhenti dengan pelan, Bai Xuning segera membuka pintu sebelah Hu Lian.
"Izinkan aku antar kamu sampai ke kelas atausetidaknya sampai gerbang kampus saja," pinta dia dengan suara yang lebih lembut.
Hu Lian berdiri dengan hati-hati,Dia melihat Bai Xuning sebentar dengan ekspresi yang sulit ditebak, lalu menggeleng perlahan. "Tidak usah. Aku bisa sendiri. Terima kasih sudah membantuku sampai sini, Tuan Bai."
Kata "Tuan Bai" terdengar begitu dingin dan formal di telinga Bai Xuning.
Tanpa berkata apa-apa lagi, dia hanya mengangguk dan menonton Hu Lian yang berjalan dengan langkah lambat namun mantap menuju gerbang kampus, sendirian.
Setelah sosok gadis itu hilang di dalam kampus, Bai Xuning masih tetap duduk di dalam mobilnya.
Dia menghela napas panjang, merasa ada rasa kosong yang tidak bisa dijelaskan di dalam hatinya.
Bai Xuning awalnya mengemudi pergi dari depan kampus, namun setelah beberapa saat mengemudi, hati nuraninya tidak bisa tenang.
Tanpa berpikir panjang, dia balik arah mobil dan kembali ke arah kampus—hanya untuk melihat Hu Lian berjalan keluar gerbang dengan langkah tertatih-tatih, lututnya yang baru dijahit jelas membuatnya kesusahan berjalan.
Mata Bai Xuning menjadi sedikit gelap melihat kondisi gadis itu. Kemana anak kecil itu ingin pergi dengan keadaan seperti ini? pikirnya dengan rasa khawatir yang semakin besar.
Dia menghentikan mobilnya di tempat yang cukup jauh agar tidak terlihat oleh Hu Lian, untuk mengikutinya dari kejauhan.
Hu Lian sama sekali tidak menyadari bahwa dia sedang diikuti. Dia berjalan dengan hati-hati menuju gang kecil yang dekat dengan apartemennya, sudah sebelumnya berhasil menghubungi dosen untuk meminta cuti beberapa hari agar bisa istirahat dan merawat lukanya.
Setelah sampai di depan gedung apartemen, Hu Lian perlahan masuk dan menuju lift. Saat pintu lift terbuka, dia masuk dengan susah payah dan segera bersandar pada dinding lift untuk menopang tubuhnya yang merasa semakin lelah.
Pipi yang sedikit pucat menunjukkan bahwa dia benar-benar butuh istirahat yang cukup.Bai Xuning yang melihatnya dari luar gedung segera turun dari mobil dan mengikuti dia masuk dengan diam-diam.
Dia tidak mau Hu Lian tahu bahwa dia ada di sana, namun dia juga tidak bisa pergi begitu saja saat melihat kondisi gadis itu yang masih sangat sakit.
Saat lift menunjukkan angka 3, Bai Xuning tahu bahwa apartemen Hu Lian berada di lantai itu. Dia menunggu beberapa saat hingga pintu lift tertutup, lalu mengikuti dengan naik lift lain untuk mengikuti ke arah yang sama.
Saat sampai di apartemennya, Hu Lian dengan hati-hati menaruh tasnya di atas sofa. Meskipun tubuhnya merasa sangat lelah, dia dengan hati-hati melepaskan Hoodie nya dan menaruhnya di sebelahnya.
dia mengenakan kaos berwarna hitam. Saat mengangkat tangan sedikit untuk menarik kerah bajunya, dia melihat bahu kirinya yang memar dengan bercak darah di bagian pundaknya.
"jadi itu sebabnya aku hampir tidak bisa menegangkan bahu,"bisiknya pelan sambil mengerutkan dahi.
Tanpa berlama-lama, Hu Lian melempar Hoodie nya ke atas sofa dan berjalan perlahan ke arah kamar mandi untuk berganti piyama dengan nyaman lalu mencari kotak obat yang dia simpan di lemari rak bawah wastafel.
Setelah menemukan kotak kecil berwarna putih itu, dia kembali ke ruang tamu dan mulai menyiapkan bahan untuk mengobati memar dan membersihkan luka yang mungkin belum terawat dengan baik.
Namun saat dia baru saja membuka tutup kotak obat, suara bel pintu tiba-tiba berbunyi dengan keras.
Hu Lian terkejut dan sedikit terkejut—dia tidak mengharapkan ada tamu yang datang ke apartemennya, terutama di hari ini yang sudah sangat melelahkannya.
Dia melihat ke arah pintu dengan ekspresi bingung, lalu perlahan berdiri sambil menopang tubuhnya pada sandaran sofa.
Siapa yang mungkin datang mengunjunginya saat ini? Adakah Qin Cheng dan teman-temannya yang khawatir padanya Ataukah orang tuanya yang sudah mengetahui kejadian dan datang mengecek kondisinya?
Dengan hati yang sedikit gelisah, Hu Lian berjalan perlahan menuju pintu dan sedikit membukanya sambil mengintip siapa yang berada di luar sana.