MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.
Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.
Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.
Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai 4, Part 3 [MASA LALU MERIEL KOSIN]
Kepulan asap perlahan menghilang. Tiga tubuh tergeletak di tanah, tidak berdaya.
Marva berdiri di tengah, pedang masih menyala. Napasnya naik turun. Api di cincin Leo perlahan meredup.
"...berlebihan juga, Bos."
"Anggap saja itu simulasi."
Pedang Leo kembali menjadi cincin. Lalu berjalan mendekati mereka satu per satu, menuangkan potion ke mulut mereka.
Kaela batuk, lalu membuka mata. "...Katanya tidak ingin melukaiku. Gimana si?"
Marva lalu memeluknya dan meminta maaf. "Terkadang dilapangan, kita harus bersiap pada situasi apapun Key."
Red lagi-lagi mengolok. "Pacaran terus, mending aku balik aja ke lantai 3."
Meriel tertawa lemah. "Begitulah nasib jomblo."
Marva tertawa, Kaela tertawa, mereka semua tertawa. Hari itu hubungan Marva dan Kaela resmi terjalin walaupun tidak ada kata-kata afirmasi yang keluar. Tapi mereka sadar sepenuhnya, harus menjadi hati. Anggota RRX semakin kompak dan solid, kini mereka siap untuk menghadapi GOF.
Meriel menyaksikan semua kehangatan itu, senyum hangat terpancar di wajahnya. "Jadi... aku lulus tes Nyonya?"
Kaela lalu menoleh. "Kamu bisa mengimbangi Red. Dan yang utama, kamu tidak menyerah. Oke kamu diterima."
Meriel hanya tertawa. "Seharusnya Leader yang mengucapkan itukan."
"Sudahlah, jangan ganggu orang pacaran," ledek Red.
Mereka kembali ketawa bersama.
Beberapa saat berlalu.
"Lega rasanya," ucap Red sambil meregangkan tubuh. "Tidak ada duyung, tidak ada kepiting baja."
"Jangan santai dulu," kata Kaela. "Kita akan menghadapi Guardian of Floor pertama kita. Tidak ada yang tahu seberapa kuat dia."
"Terus kapan kita akan ke Lantai 5," lanjut Red.
Marva yang mendengar hal itu hanya terdiam. Pikirannya melayang sejenak, ia kepikiran pada Fragment of Aquarius yang tersimpan di inventory nya. Leo mengetahui isi pikiran nya.
"Kau tahu, Bos. Aquarius adalah Cincin yang sangat cerewet, mungkin setelah mendapatkannya. Hidupmu tidak akan setenang dulu."
"Emank apa yang membuat Aquarius cerewet Leo?" tanya Marva.
"Begitulah sifat tomboy jika digabung dengan feminim."
"Dia perempuan?" Marva semakin penasaran.
"Sebenarnya kami tidak punya Gender. Kecuali Virgo, tapi sifat dan perilaku kami bisa dibilang mirip seperti manusia."
Marva yang terlihat diam dari tadi, padahal sibuk berbicara dengan Leo. Ditegur oleh Kaela: "Kita butuh persediaan untuk bertarung di Lantai 5 nanti Va."
"Oh iya Key, kamu atur saja. Untuk saat ini kamu adalah Wakil Kapten nya," Marva menyerahkan semua urusan pada Kaela.
"Eeiiisstttt, terus aku Lead?" tanya Red yang sebenarnya menginginkan posisi itu sejak awal.
"Kalahkan dulu Kaela, baru kamu bisa jadi Wakil Kapten juga," jawab Marva.
Red hanya bisa cemberut, Meriel hanya bisa jadi penonton.
"Oke sebagai Wakil Kapten, arahan pertama dari ku adalah farming sebanyak-banyaknya untuk mengumpulkan Xilo lebih banyak," perintah Kaela.
Mereka pun pergi berburu dan meninggalkan Marva.
Dengan agak malu, Kaela berpamitan pada Marva "Sayang, aku pergi dulu ya."
Setelah mengucapkan itu, Kaela langsung berlari, karna itu adalah ungkapan sayang pertamanya pada Marva. Marva hanya bisa tersipu malu. Leo lalu mengejeknya.
"Hahahahahaha, Dasar anak muda."
"Diam kau Leo!!!" Marva marah sambil senyum-senyum sendiri.
Sementara Kaela, Red dan Meriel bertarung melawan monster. Kaela membuka pembicaraan.
"Jadi, kenapa kamu sangat ingin menjadi anggota Guild RRX, Meriel?" tanya Kaela.
Sambil menghindari serangan monster. Meriel lalu bercerita.
"Kamu tahu, di RIS dulu... aku ini memang Wakil Ketua OSIS. Orang mengira aku populer, kaya, punya segalanya."
"Tapi..." Meriel tertawa kecil. "...kayaku adalah versi paling bawah. Cukup untuk masuk sekolah elite, tapi tidak cukup untuk dianggap 'selevel' dengan Elrian dan yang lain."
"Maksudnya?" tanya Red.
"Ya. Tidak cukup miskin untuk mendapatkan simpati, tidak cukup kaya untuk dianggap pantas. Aku hanya orang kaya biasa. Elrian dan teman-temannya... selalu memperlakukanku seperti aksesoris OSIS. Berguna untuk kerja, tapi tidak pernah benar-benar berada satu lingkaran dengannya."
Meriel menarik napas panjang. "Aku benci itu. Dan setelah masuk Menara ini... aku sadar, aku tidak ingin kembali ke kehidupan seperti itu. Aku tidak ingin berpura-pura menjadi bagian dari sesuatu yang sebenarnya menolakku."
Kaela memperhatikan wajah Meriel. Tidak ada topeng, tidak ada sandiwara. Hanya rasa lelah, dari seseorang yang sudah lama berjalan sendiri. Dia paham karena itu juga yang dirasakan Marva selama ini.
"Di Menara ini," lanjut Meriel, "Status tidak berarti apa-apa. Kekuatanmu, pengalaman, Item bagus, itulah yang akan menentukan. Dan kalian... Kaela, Red... beruntung bisa bersama Marva."
"Kau salah," ucap Kaela tiba-tiba.
Meriel menatapnya, sedikit terkejut.
"Semua orang berharga. Bukan hanya kekuatan atau sekedar item langkah, Marva mengajarkan kami arti kebersamaan dan kepedulian," lanjut Kaela.
"Betul yang dikatakan Kaela, Leader adalah orang baik. Dan dia ingin menghilang perbedaan status, agar tidak ada lagi penghalang antara si miskin dengan si kaya," sambung Red.
Meriel menatap Kaela dan Red dengan mata sedikit berkaca.
"Kami menerima mu Meriel," ucap Kaela lembut.
Meriel tersenyum haru.
Red lalu memecah keheningan itu. "Oke, seperti nya ini sudah cukup."
"Baiklah kalau begitu, kita akan membeli potion dan perlengkapan. Meriel jika kamu butuh sesuatu, kata saja," senyum Kaela padanya.
Potion Hp (Medium): 16 pack
Potion Mp (Small): 8 pack
Shield Tier C+
Total Xilo keluar: 85.000
Kaela mengangguk. "Oke ini cukup, btw ini shield baru buatmu Meriel. Ayok kita kembali."
"Serius guys, ini buat aku?" ucap Meriel memastikan.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Itulah keunikan Guild RRX dan sekali lagi selamat bergabung Riel," ucap Kaela akrab.
"Yoi brother, Welcome to ERAREX" tambah Red.
Meriel semakin yakin dengan Guild ini. Mereka pun kembali menemui Marva.
"Va, semua yang dibutuhkan udah ada nhe. Bagaimana? Kita ke lantai 5 sekarang?" ucap Kaela.
"Oke kalau Nyonya sudah ngomong," tiru Marva mengulangi ucapan Meriel.
"Meriel gimana? Aman?" tanya Marva.
"Aman Lead, aku juga udah dibelikan Perisai baru oleh Nyonya," lagi Meriel juga memanggil Kaela dengan sebutan itu.
Mereka pun tertawa bersama. "Baiklah, kalau semua sudah siap, kita menuju lantai 5!"
[BERSAMBUNG]