Elysia Sylphy, seorang siswi SMA biasa dari Bumi yang mahir kendo, tiba-tiba terlempar ke dunia fantasi ketika ia pulang dari kegiatan ekskul kendo nya, di dunia fantasi itu, ia harus selalu waspada dengan yg ada di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raphiel-Viel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.6 Bayangan yang Menyala di Malam
Gelap.
Sangat gelap.
Aku melangkah pelan di lorong batu yang sempit. Kaki telanjang menyentuh batu dingin yang licin karena embun atau sesuatu yang lebih lembab. Setiap langkah terasa berat. Seperti ada tangan tak terlihat yang menarik pergelangan kaki ke bawah. Namun aku tidak berhenti. Aku tidak bisa berhenti. Ada sesuatu di dalam dada yang menarikku maju. Bukan rasa takut. Bukan paksaan. Lebih seperti pulang.
Lorong ini tidak lurus. Ia berbelok pelan ke kiri. Lalu ke kanan. Seperti ular yang sedang tidur. Dinding batu hitam mengkilap di sampingku. Kadang terasa hangat. Kadang dingin sekali sampai jari-jariku gemetar. Aku mengangkat tangan kanan. Menyentuh dinding itu secara pelan. Permukaannya halus seperti kaca tua. Namun ada urat-urat kecil bercahaya biru kehitaman yang berdenyut pelan di bawahnya. Setiap denyut itu terasa di telapak tanganku. Seperti detak jantung yang sama dengan detak jantungku sendiri.
Aku berhenti sejenak. Napasku terdengar keras di telinga sendiri. Aku menarik napas dalam. Hembuskan perlahan. Uap putih keluar dari mulut. Namun di sini tidak dingin seperti di luar. Udara di dalam gua terasa tebal. Berat. Seperti bernapas di dalam air hangat yang penuh garam.
Aku melanjutkan maju. Langkahku sangat pelan. Tumit kiri menyentuh batu. Lalu jari kaki kanan. Lalu tumit kanan lagi. Aku tidak ingin buru-buru. Jika buru-buru, aku takut sesuatu akan pecah. Atau aku sendiri yang pecah.
Lorong semakin sempit. Bahuku hampir menyentuh dinding kiri dan kanan. Aku mengangkat tangan. Telapak menyentuh batu di atas kepala. Masih ada ruang. Namun hanya sedikit. Aku jongkok pelan. Merangkak maju. Lutut menyentuh batu dingin. Telapak tangan merasakan urat-urat cahaya yang semakin terang. Denyutnya semakin cepat sekarang. Seperti jantung yang sedang senang bertemu teman lama.
Aku sampai di ruangan kecil. Bukan ruangan besar seperti yang kubayangkan. Hanya lingkaran batu dengan diameter sekitar tiga langkahku. Di tengahnya ada lingkaran kecil yang terukir. Lingkaran Bulan purnama yang sempurna. Cahaya perak samar keluar dari ukiran itu. Menerangi ruangan secara lembut. Tidak menyilaukan. Hanya cukup untuk membuat bayangan tubuhku terlihat jelas di dinding batu.
Aku duduk di depan lingkaran Bulan itu. Lutut ditekuk. Tangan memeluk lutut seperti biasa waktu aku takut di penginapan. Namun sekarang aku tidak takut. Aku hanya penasaran. Dan sedih. Dan rindu.
“Mama…” bisikku pelan. Suaraku bergema kecil di ruangan. “Papa… Kakak… kalian tahu ini akan terjadi, bukan?”
Tidak ada jawaban. Namun urat-urat cahaya di dinding berdenyut lebih cepat. Seperti mengangguk.
Aku mengangkat tangan kanan. Jari telunjuk menyentuh lingkaran Bulan di tengah ukiran. Dingin sekali. Namun bukan dingin yang menyakitkan. Lebih seperti dingin yang menenangkan. Seperti cahaya bulan yang menyentuh kulit di malam yang sepi.
Darah di tubuhku terasa berdesir. Bukan sakit. Hanya seperti ada aliran hangat yang keluar dari dada. Mengalir ke tangan. Ke jari. Aku melihat tetes darah kecil muncul di ujung jari telunjuk. Merah gelap. Hampir hitam. Tetes itu jatuh pelan ke lingkaran Bulan ukiran.
Begitu menyentuh, ruangan bergetar pelan. Bukan gempa. Lebih seperti napas yang dalam dan panjang.
Cahaya perak samar naik dari ukiran Bulan. Merayap ke dinding. Ke langit-langit. Ke tubuhku. Aku tidak takut. Aku hanya menutup mata. Membiarkan cahaya itu menyentuh kulit. Rasanya seperti dipeluk oleh cahaya bulan yang lembut. Cahaya yang tidak menyilaukan. Hanya cukup untuk membuat kegelapan terasa tidak begitu menakutkan.
Aku mendengar suara. Bukan suara orang. Lebih seperti hembusan angin yang membentuk kata-kata di pikiranku.
*Guardian… akhirnya pulang.*
Aku membuka mata pelan. Cahaya sekarang lebih terang. Namun tetap lembut. Di depanku, bayangan hitam tipis mulai terbentuk. Seperti asap yang hidup. Bayangan itu membentuk telinga kucing. Lalu ekor panjang. Lalu bentuk tubuh kecil yang mirip aku.
Bayangan itu menatapku. Matanya merah gelap. Namun bukan marah. Lebih seperti rindu.
*Kau sudah siap?*
Aku mengangguk pelan. “Aku… tidak tahu. Namun aku tidak ingin lari lagi.”
Bayangan itu mendekat. Aku tidak mundur. Ia menyentuh pipiku. Dingin sekali. Namun tidak sakit. Rasanya seperti pelukan dari seseorang yang sudah lama hilang.
*Kau adalah aku. Aku adalah kau. Guardian bukan nama. Guardian adalah darah. Darah adalah malam. Malam adalah akhir… dan awal. Namun Bulan tetap ada di tengahnya. Cahaya yang tidak pernah padam sepenuhnya.*
Aku menarik napas pelan. Dada terasa penuh. “Aku tidak ingin akhir. Aku ingin… bersama Kak Ely. Bersama Lyre. Bersama Cae. Bersama cahaya yang masih ada.”
Bayangan itu diam sejenak. Lalu berbisik lagi.
*Maka kita harus menciptakan awal baru. Bukan akhir. Bukan kekosongan. Namun malam yang punya cahaya Bulan. Cahaya yang tetap menyala di kegelapan.*
Aku mengangguk lagi. Air mata jatuh pelan dari mata kiriku. Bukan sedih. Lebih seperti lega.
“Aku siap,” bisikku.
Bayangan itu merayap masuk ke tubuhku. Bukan menyakitkan. Lebih seperti air dingin yang mengalir ke urat nadi. Membawa kehangatan aneh di dada. Aku menutup mata lagi.
Aku merasakan sesuatu berubah. Bukan di luar tubuh. Di dalam. Darahku terasa lebih berat. Lebih hangat. Seperti ada sungai kecil yang mengalir di dalam pembuluh darah. Denyut jantungku semakin kuat. Namun tidak cepat. Hanya lebih dalam. Lebih pasti.
Aku membuka mata. Ruangan sekarang lebih terang. Cahaya perak dari ukiran Bulan tidak lagi samar. Ia berdenyut seperti napas. Seperti hidup. Aku melihat tanganku sendiri. Kulit terasa berbeda. Bukan lebih gelap. Bukan lebih terang. Hanya… lebih kuat. Lebih nyata.
Bayangan itu tidak lagi di depanku. Ia sudah menjadi bagian dari aku. Aku bisa merasakannya. Seperti ekor yang melengkung di belakang. Telinga yang berdiri tegak. Namun bukan hanya bentuk. Ada kekuatan di dalamnya. Kekuatan yang selama ini tersembunyi.
Aku berdiri perlahan. Lutut terasa lebih ringan. Langkahku lebih mantap. Aku menyentuh dinding lagi. Urat-urat cahaya perak berdenyut mengikuti sentuhanku. Seperti menyapa. Seperti mengenali.
Aku menarik napas dalam. Dada terasa lebih ringan.
“Kak Ely…” bisikku pelan. “Aku akan kembali.”
Aku berbalik. Menatap lorong yang membawaku masuk tadi. Lorong itu sekarang terasa lebih pendek. Lebih terang. Aku melangkah maju. Langkah demi langkah. Tumit menyentuh batu. Jari kaki menyentuh batu. Lutut tidak lagi gemetar.
Aku tahu dia sedang menunggu di luar. Dia pasti pegal. Pasti lapar. Pasti dingin. Pasti khawatir. Aku tersenyum kecil sendiri. Sungguh bodoh jika aku tidak segera kembali.
Aku melangkah lebih cepat. Lorong berbelok. Dinding batu terasa lebih hangat sekarang. Urat-urat cahaya perak mengikuti langkahku. Seperti teman yang menemani.
Aku sampai di pintu. Pintu batu besar yang tadi tertutup rapat. Aku menyentuhnya. Dinginnya masih ada. Namun sekarang tidak membakar. Hanya dingin yang menenangkan.
Aku menarik napas dalam. Dada terasa lebih ringan.
Aku mendorong pintu pelan.
Pintu bergerak. Perlahan. Sangat perlahan. Cahaya dari luar masuk. Cahaya bara api kecil. Dan bayangan Kak Ely yang duduk di depan.
Aku melangkah keluar.
Kabut masih tebal. Udara dingin menyentuh kulit. Namun sekarang dingin itu terasa berbeda. Tidak lagi menusuk. Hanya menyapa.
Aku melihat Kak Ely. Dia masih duduk di tempat yang sama. Katana di pangkuan. Selimut di bahu. Matanya terbuka. Menatapku.
Aku tersenyum kecil.
“Kak Ely… aku kembali.”