Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Tembok Pertahanan
Jakarta yang biasanya bising terasa begitu sunyi namun mencekam bagi Cindy. Sudah empat hari ia tidak berani melangkah keluar dari unit apartemennya yang terletak di lantai dua puluh. Tirai jendela ditutup rapat, membiarkan cahaya matahari hanya masuk melalui celah-celah kecil, menciptakan garis-garis cahaya yang menari di atas debu yang mulai menumpuk.
Setiap dering ponsel membuatnya tersentak hebat, dan setiap ketukan di pintu terasa seperti vonis mati yang datang menjemput.
Apartemen yang dulunya ia banggakan sebagai simbol kemewahan hasil kerjanya memoroti Indra, sebuah hunian mewah yang dipenuhi barang-barang bermerek, kini berubah menjadi penjara yang menyesakkan.
Teror tidak lagi hanya datang dari dunia maya, di mana fotonya mulai tersebar luas di media sosial sebagai penghancur rumah tangga dan pelakor dan pelacur kelas teri, tetapi juga secara fisik.
Tok! Tok! Tok!
Suara gedoran pintu yang kasar menggetarkan pintu kayu mahoni itu.
"Cindy! Keluar lo! Jangan pura-pura nggak ada orang! Jangan kira lo bisa sembunyi di balik pintu itu selamanya!"
Itu suara penagih utang, orang-orang bayaran yang mencari keberadaannya dan ditekan atasan-atasan mereka terkait kredit macet juga kini para orang-orang lain juga yang melampiaskan amarahnya pada Cindy karena rekeningnya menjadi penampung utama aliran dana korupsi Indra.
Cindy meringkuk di sudut ruangan, memeluk lututnya, menangis tanpa suara hingga dadanya sesak. Ia tahu, polisi akan segera mengetuk pintunya, dan kali ini bukan untuk menagih utang, melainkan untuk membawanya ke balik jeruji besi.
Ia adalah kambing hitam yang sempurna. Indra menghilang, sementara ia terjebak di tengah pusaran hukum yang siap menghancurkannya.
Di sisi lain kota, Indra seperti pria yang kehilangan akal sehatnya. Ia berdiri di depan pintu rumah Gendis yang megah, menatap tumpukan koper miliknya yang sudah diletakkan di teras dengan kasar oleh asisten rumah tangga. Pakaiannya yang dulu necis kini tampak kusut dan tidak terurus, mencerminkan kekacauan di dalam pikirannya.
"Gendis! Buka pintunya! Kita bisa bicara, Sayang. Aku khilaf, aku cuma laki-laki bodoh yang terjerat rayuan wanita itu. Aku janji, aku akan putuskan dia sekarang juga dan kita mulai semuanya dari nol lagi. Gendis, tolong, jangan hancurkan karierku, jangan bawa ini ke kepolisian!" teriaknya, suaranya parau dan bergetar, memecah ketenangan kawasan perumahan elit itu.
Gendis, yang berada di balik pintu kaca, hanya menatap suaminya itu dengan tatapan datar. Tidak ada air mata, tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Ia sudah mengeluarkan seluruh amarahnya di ballroom hotel malam itu. Sekarang, ia hanya merasa hampa, seolah-olah ia sedang melihat seekor hewan yang terluka dan sekarat di halaman rumahnya.
Ia membalikkan badan, membiarkan Indra terus meracau. Ia tidak peduli lagi. Bagi Gendis, Indra hanyalah masa lalu yang harus segera dibersihkan dari hidupnya.
Indra akhirnya menyeret kopernya menuju rumah orang tuanya dengan langkah gontai. Sesampainya di sana, ia justru disambut oleh makian ibunya yang tak henti-henti, sementara ayahnya hanya bisa memijat pelipis dengan frustrasi. Rumah itu yang dulunya tenang, kini berubah menjadi medan perang.
"Jual aset, Pa! Hanya itu cara supaya aku nggak masuk penjara. Pakai uang hasil penjualan rumah ini untuk mengembalikan dana yang aku pakai ke perusahaan, kalau tidak, mereka akan memenjarakanku!" pinta Indra dengan putus asa, hampir berlutut di kaki ayahnya.
"Kamu gila, Indra? Kamu pikir harta ini jatuh dari langit?" bentak ayahnya. Mereka terjebak dalam dilema yang kejam, merelakan aset keluarga yang sudah dibangun puluhan tahun demi menyelamatkan putra kesayangan yang tidak tahu diri, atau membiarkan Indra hancur di tangan hukum.
Ibunya menangis tersedu-sedu, benci melihat Gendis yang mempermalukan keluarga mereka, namun mereka sadar sepenuhnya bahwa bukti-bukti yang dibawa Gendis terlalu kuat untuk dibantah di pengadilan.
Sementara itu, Baskara duduk di dalam mobilnya, memarkir kendaraan di bawah rindangnya pohon, tepat di seberang gedung psikiater tempat Gendis baru saja keluar setelah lelah menghadapi rengekan sialan Indra seharian.
Ia melihat Gendis berjalan menuju mobilnya dengan langkah yang tampak berat namun pasti. Baskara tahu, di balik wajah dingin dan tenang itu, Gendis sedang berjuang melawan kehancuran mental yang luar biasa.
Ia memberikan jarak. Ia tidak mendekat, tidak menelepon, dan tidak mengirim pesan. Ia hanya mengawasi. Ia tahu Gendis butuh waktu untuk merangkai kembali kepingan dirinya yang telah lama mati dan terinjak-injak selama lima tahun pernikahan.
Di dalam mobil, Gendis menarik napas panjang. Ia mengambil secangkir kopi yang sudah dingin, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Hidupnya kini terasa asing. Tidak ada lagi rutinitas melayani suami, tidak ada lagi kebohongan yang harus ia tutupi.
Ia merasa kesepian, namun ia juga merasakan kebebasan yang mencekam. Ia tahu, di sela-sela jadwal sidang cerai yang akan datang, ia harus tetap kuat.
Ia membuka ponselnya, membuka file daftar nomor kontak kerabat jauh keluarga Cindy di Bandung yang telah disimpannya sejak perang dimulai secara diam-diam.
Jemarinya menari di atas layar, menyusun narasi yang sangat rapi dan mematikan. Ia akan mengirimkan bukti-bukti itu, bukan kepada polisi saja, tapi kepada komunitas kecil di kampung halaman Cindy. Ia akan menghancurkan reputasi Cindy sampai ke akar-akarnya. Ia tidak akan membiarkan wanita itu memiliki tempat untuk kembali.
"Ini baru permulaan, Cindy," bisik Gendis dingin kepada bayangannya sendiri di kaca spion.
Gendis menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah kemacetan Jakarta. Pikirannya melayang pada sesi konseling dengan psikiaternya tadi. Dokter itu menyarankannya untuk tidak memendam semuanya sendiri, namun Gendis adalah wanita yang terbiasa menangani masalahnya dengan tangannya sendiri.
Bagi Gendis, kepercayaan adalah barang mewah yang tidak ingin ia beli lagi dalam waktu dekat. Di kejauhan, ia melihat mobil Baskara yang masih terparkir. Ia mengenali plat nomor itu. Gendis sedikit tersenyum sinis. Ia tahu Baskara memantaunya. Ia tahu pria itu menunggu celah untuk masuk ke dalam hidupnya.
Namun, Gendis belum siap. Keinginannya saat ini hanyalah melihat kehancuran total pihak-pihak yang telah mengkhianatinya.
Malam itu, di dalam apartemennya yang sunyi, Cindy mencoba memberanikan diri untuk keluar sekadar mencari air minum.
Namun, baru saja ia membuka sedikit pintu, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Bukan polisi, bukan pula penagih utang, melainkan kurir yang menempelkan amplop cokelat di depan pintunya.
Cindy membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat foto-foto dirinya yang sedang berselingkuh dengan Indra, disertai dengan tulisan tangan yang sekarang sangat ia kenal.
"Selamat menikmati hasil dari kebohonganmu, Cindy. Bandung akan segera tahu siapa kamu sebenarnya."
Seketika itu juga, dunia Cindy terasa runtuh. Ia sadar, Gendis tidak sedang bermain-main. Gendis adalah monster yang baru saja ia bangunkan, dan kini monster itu tidak akan berhenti sebelum Cindy benar-benar tidak memiliki apa-apa lagi di dunia ini.
Sekarang Gendis berada di titik krusial. Gendis mulai memulihkan diri dengan caranya sendiri, namun ambisinya untuk menghancurkan Cindy belum tuntas.
..