NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05.BAYANGAN SANG GURU

Hutan Kelam biasanya hanya menyisakan sunyi dan bau darah, tapi hari ini, hutan itu menjadi panggung bagi sebuah kegilaan. Lima ekor Shadow Wolf Level 50 bergerak seperti kilat hitam, mengepung tiga remaja yang gemetar.

Jiro mencengkeram Greatsword Obsidian-nya. Tangannya basah oleh keringat. Saat seekor serigala melompat dengan taring terbuka, sebuah suara tiba-tiba bergema langsung di dalam tempurung kepalanya.

(“Jiro, jangan lawan berat pedangmu. Putar badanmu tiga puluh derajat ke kiri, biarkan momentumnya yang bekerja. Tebas!”)

Itu suara Arka. Tenang, santai, tapi penuh otoritas. Jiro bergerak refleks. SLASSSHH! Pedang raksasa itu membelah udara—dan tubuh serigala itu—menjadi dua bagian sempurna. Darah hitam muncrat, namun Jiro tak sempat menghela napas. Dua serigala lain langsung menyerbu, satu mengarah ke kakinya, satu lagi melompat ke arah lehernya.

(“Kael! Tembak yang di kaki! Elara, siapkan bekuan es untuk yang di udara! Jiro, lompat ke belakang!”)

Kael, dengan Busur Angin Senyap-nya, menarik napas dalam-dalam. Anak panah angin melesat tanpa suara, menembus mata serigala yang mengincar kaki Jiro. Serigala itu meraung kesakitan dan ambruk. Hampir bersamaan, Elara mengangkat Staf Kayu Giok-nya. Sebuah lingkaran es terbentuk di udara, membekukan serigala kedua yang melompat di tengah udara. Tubuh beku itu jatuh ke tanah dengan bunyi krak, pecah berkeping-keping.

Satu serigala tersisa, menggeram rendah, Ketiga murid mengepung Serigala. mereka mulai menemukan ritme, sebuah tarian kematian yang dipandu oleh suara tak terlihat. Mereka tidak tahu bahwa setiap gerakan presisi mereka adalah hasil instruksi telepati Arka dari atas pohon.

Di kejauhan, di balik rimbunnya semak berduri, seorang pria berjubah perak dengan lencana emas di dadanya mematung. Dia adalah Zenos, Petualang Peringkat S yang sedang melacak anomali di hutan ini.

Mata Zenos membelalak. "Mustahil... tiga pemula level rendah memiliki sinkronisasi tempur selevel ksatria kerajaan? Strategi mereka terlalu rapi, seolah-olah ada komandan perang yang menggerakkan mereka."

Tiba-tiba, dari kegelapan yang lebih pekat, Alpha Shadow Wolf (Level 60) muncul. Tubuhnya lebih besar, bulunya lebih gelap, dan matanya memancarkan aura haus darah yang berbeda. Dia mengendus udara, lalu menerjang langsung ke arah Elara, yang kehabisan mana setelah serangan terakhirnya.

"Elara, awas!" teriak Jiro, mencoba menutupi, tapi gerakannya terlalu lambat. Kael bersiap menembak, tapi dia tahu, panahnya tidak akan mampu menghentikan Alpha itu sendirian.

(“Elara, jatuhkan stafmu! Gulir ke kanan! Kael, hantam punggung Alpha! Jiro, siapkan panah api!”)

Elara menjatuhkan stafnya dan menggulir ke kanan, nyaris menghindari gigitan mematikan Alpha. Jiro mengaum, mengangkat Greatsword Obsidian-nya tinggi-tinggi, dan menghantam punggung Alpha. Sebuah suara GRRAANKK! bergema, tapi pedang itu hanya berhasil menggores tebal bulu Alpha. Alpha itu mengibas, mengirim Jiro terlempar beberapa meter.

Zenos hendak melompat keluar dengan pedang cahayanya. "Sial, mereka berbakat, tapi Alpha itu terlalu kuat untuk mereka! Bakat mereka tidak boleh mati sia-sia di sini!"

TAK!

Baru saja Zenos hendak melangkah, sebuah benda melesat dengan kecepatan supersonik dan menancap tepat di depan ujung kakinya. Sebuah ranting pohon kecil, tapi tertanam hingga setengah meter ke dalam tanah yang keras. Zenos berhenti mendadak. Jantungnya berdebar kencang. "Peringatan?" pikirnya waspada.

Zenos mencoba melangkah lagi, merasa kewajiban moralnya sebagai petualang senior harus melindungi pemula, tapi kali ini, sebuah ranting kedua melesat lebih cepat, memotong helai rambut di pelipisnya sebelum tertancap di tanah.

TAK!

Kali ini, udara di sekitar Zenos mendadak membeku. Langit di atasnya seolah runtuh. Sebuah tekanan aura yang begitu pekat dan mengerikan menyelimuti seluruh indranya. Zenos tidak bisa melihat siapa yang ada di atas pohon besar itu karena rimbunnya daun, tapi dia merasakan keberadaan sesuatu yang bukan manusia.

Lalu, sebuah suara telepati yang dingin dan berat masuk ke jiwanya, membuat lututnya hampir menyentuh tanah:

(“Jangan campuri urusanku jika kau masih ingin melihat fajar esok. Mereka sedang berlatih, dan gangguanmu hanya akan membuatku harus membersihkan satu bangkai lagi di hutan ini.”)

Zenos berkeringat dingin. Dia adalah petualang Peringkat S, namun di depan aura ini, dia merasa seperti seekor semut di depan badai. "Siapa... siapa makhluk yang ada di pohon itu?"

Tanpa menoleh lagi, Zenos mundur perlahan sebelum akhirnya melesat pergi secepat mungkin. Dia tahu, jika dia tetap di sana sedetik saja, nyawanya akan tamat.

Alpha Shadow Wolf itu, kini berbalik dan membuka rahangnya lebar-lebar, bersiap mengigit Elara yang masih terhuyung.

(“Jiro, sekarang! Tembak ke dalam mulutnya!”)

Jiro melepaskan panah api. Panah itu melesat cepat, tapi Alpha itu bergerak lebih cepat, sedikit menggeser kepala, dan panah itu hanya menyerempet sudut rahangnya, membuat Alpha itu meraung marah.

WHIZZ!

Dari atas pohon, sebuah ranting kecil melesat seperti peluru. Ranting itu menghantam hidung Alpha Shadow Wolf dengan kekuatan luar biasa, membuat monster itu menjerit kesakitan dan oleng. Ini memberi cukup waktu bagi Jiro untuk menembakkan panah api kedua, tepat ke dalam mulut Alpha yang terbuka.

BLAARGH!

Alpha Shadow Wolf itu roboh dengan asap mengepul dari mulutnya. Tubuhnya kejang-kejang sebentar sebelum akhirnya tak bergerak lagi.

Di bawah pohon, pertempuran berakhir. Enam bangkai serigala tergeletak kaku. Kael, Jiro, dan Elara terengah-engah, tubuh mereka dipenuhi luka goresan, tapi mata mereka berbinar-binar penuh kemenangan dan rasa tidak percaya.

"Kita... kita menang?" bisik Elara.

Arka melompat turun dari pohon dengan gerakan malas, mendarat tanpa suara di tanah sambil membuang sisa apelnya. Cincin di jarinya kembali ke posisi semula.

"Lumayan," kata Arka sambil meregangkan tubuh. "Tapi Jiro, gerakan kakimu masih seperti bebek lumpuh. Dan Kael, kau hampir saja menembak telinga Jiro. Elara, manamu habis terlalu cepat. Masih banyak yang harus diperbaiki."

"Maaf, Guru!" seru Kael, Jiro, dan Elara serempak dengan mata berbinar. "Tapi instruksi Anda tadi... itu luar biasa!"

Arka hanya menguap lebar, mengabaikan pujian mereka seolah itu bukan apa-apa. "Sudahlah. Misi selesai. Sekarang, mana kopi yang kalian janjikan? Tenggorokanku kering karena terus bicara lewat pikiran kalian."

Ketiga murid itu tertawa, tidak menyadari bahwa beberapa menit yang lalu, guru mereka baru saja membuat seorang pahlawan Peringkat S lari ketakutan hanya dengan dua potong ranting dan sekali sentilan di hidung monster.

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!