Anastasya atau biasa dipanggil Ana, seorang wanita berusia 24 tahun yang tengah mengejar gelar S1.
Pertemuan pertamanya dengan seorang laki laki membuat hidup Ana berubah. Nathaniel Francisco, seorang dosen berusia 30 tahun yang terobsesi dengan dirinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Permainan pertama dimulai dengan basket, siapa yang lebih banyak memasukkan bola maka dialah pemenangnya.
Ana dengan semangat memasukkan bola kedalam ring, namun sepertinya kali ini Nathan lah yang lebih unggul dibandingkan dirinya.
" 1-0 " ucap Nathan dengan gembira
" Tenang baru pemanasan " kata Ana dengan santai
Lanjut ke game berikutnya, kali ini keduanya akan bertaruh siapa yang lebih banyak mendapatkan tiket.
Ana memulai lebih dulu, dan point pertama yang Ana dapatkan 30.
Disusul dengan Nathan, namun sayangnya lagi lagi Nathan yang memenangkannya. Nathan mendapatkan point sebesar 50.
" Curang ih " kata Ana kesal
" Loh curang apasih ? Kan tinggal tekan aja "
" Ya tapi daritadi saya masuknya ke lubang yang kecil, masa punya pak Nathan masuk ke angka besar terus "
" Ya makanya kamu harus konsentrasi, gimana udah 4-0 nih "
" Satu lagi, saya yakin saya bisa " kata Ana dengan semangat
Ana kembali memencet tombol, dan lagi lagi bola masuk ke angka yang kecil.
" 10 point haha " Nathan tertawa lepas
" Mesinnya pilih kasih " kata Ana dengan kesal
" Saya menang kan ? "
" Iyah iya bapa menang, awas aja aneh aneh mintanya"
" Aneh aneh gimana sih ? Engga ko, aman pokoknya "
Ana mengambil tissue salam tasnya, ia mengelap keringat yang membasahi kening Nathan.
" Kalau ga di lap nanti masuk lagi, nanti malah pusing " kata Ana
" Makasih ya Na " kata Nathan dan Ana mengangguk
" Oke, jadi karena 4-0 berarti saya puya 4 permintaan ya Na " kata Nathan dengan wajah gembira
" Banyak banget sih Pak "
" Ga boleh curang, sesuai perjanjian kita Ana. "
" Yaudah oke, emang bapa mau bikin permintaan apa ? "
" Pertama, saya ingin selama satu Minggu ini kamu ga boleh manggil saya Pak. Kalau kamu manggil saya Pak, permintaan saya bertambah 1 " ucap Nathan
" Terus kalau di kampus gimana ? Masa saya ga boleh panggil Pak "
" Ya kalau itu saya boleh kasih toleransi, tapi selebihnya tidak "
" Yaudah iya okee " jawab Ana dengan pasrah
" Kedua, saya mau kamu jadi pacar saya satu Minggu "
Ana terkejut mengenai permintaan kedua Nathan, rasanya Nathan sangat memanfaatkan situasi saat ini.
" Lohh tunggu ko pacaran ? "
" Satu Minggu, ya anggap aja latihan "
" Ya ga bisa dong, kan sesuai kesepakatan 2 bulan "
" Na.. Inget, yang kalah harus setuju permintaan apapun yang menang. Lagian permintaan saya ga aneh ko, cuma minta pacaran satu Minggu "
" Yah tapi kan..."
" Ana... "
" Yaudah iya okey 1 Minggu ga lebih "
" Iyah Iyah "
Nathan pun tersenyum lebar, sedangkan Ana ia tak menyangka jika Nathan akan membuat permintaan seperti itu
" Terus yang 2 lagi apa ? " tanya Ana
" Nanti saya pikirkan lagi "
" Awas ya aneh aneh Pak "
" Pak ? "
" Oiya Om Nathan "
" Om ?? "
" Terus apa dong, Pak ga boleh, Om juga ga boleh "
" Kamu bisa panggil Nathan atau sayang juga boleh "
" Nyebelin " kata Ana yang kemudian berjalan meninggalkan Nathan
Sambil tertawa Nathan langsung mengikuti Ana, ia menarik tangan Ana dan menggandengnya.
" Buru-buru banget sih Na, mau kemana emangnya ? "
" Ya engga tau, udah jam segini juga kan. Saya kan harus kerja sore nanti"
" Hari ini saya mau seharian sama kamu Ana "
" Ya tapi kan saya kerja "
" Yaudah kamu izin untuk hari ini, bisa kan ? "
" Ya bisa tapi kan "
" Satu hari ini aja Na "
" Ini permintaan ketiga yah ? "
" Hmm, yaudah okeey ini permintaan saya ketiga "
Ana mengambil ponselnya, ia mengirim pesan kepada atasannya bahwa ia harus izin hari ini.
" Udah.. " ucap Ana singkat
" Okee " kata Nathan tersenyum sumringah
Puas berkeliling Nathan mengajak Ana untuk berpindah tempat, Ana pun mengiyakan kemana Nathan akan mengajak dirinya.
Langit mendadak gelap, tak lama hujan turun dengan derasnya.
Ana menatap jalanan dari kaca, ia melihat banyak para pengendara yang menepi untuk sekedar berteduh atau memakai jas hujan.
Nathan menepikan mobilnya sejenak, mobilnya berhenti tepat didepan minimarket.
" Kamu mau turun Na ? " tanya Nathan
" Engga, tunggu di mobil aja "
" Yaudah, sebentar ya "
Ana mengangguk, dan Nathan pun turun dari dalam mobil berlari kecil menuju minimarket.
Ana tak paham dengan perasaannya saat ini, Ana mengakui jika bersama dengan Nathan ia merasa nyaman. Tapi Ana juga belum memiliki perasaan apapun kepada Nathan, entah belum atau memang Ana tak menyadarinya.
Hujan masih turun dengan deras, dinginnya angin hujan bisa ia rasakan saat ini.
Nathan yang sudah selesai langsung masuk kedalam mobil, ia meletakan satu kantong berisi belanjaan yang ia beli didalam minimarket.
" Na.. " panggil Nathan pelan
" Ya, kenapa Nat ? " saut Ana menoleh
" Kamu lagi mikirin sesuatu? "
" Engga ko Nat "
" Na, cerita sama saya. Saya sudah bilang kalau kamu bisa berbagi cerita apapun Na "
Ana menatap lekat Nathan, ia pun menghela nafasnya dengan kasar
" Mungkin ga, dua orang yang berbeda agama bisa bersatu ? "
" Na, Ana.."
" Saya takut, ketika perasaan saya sudah terlalu jauh tapi ternyata ga bisa dan akhirnya berakhir gitu aja "
" Ana dengerin saya, saya juga sayang sama kamu Na. Saya akan usahakan untuk kita Na, apapun itu. Saya sayang sama kamu Na, saya cinta sama kamu " ucap Nathan sembari mengusap lembut pipi Ana
" Kamu percayakan Na ? " tanya Nathan kembali
" Iya aku percaya sama kamu Nat " jawab Ana
" Kita jalanin semuanya sama sama ya Na "
Ana mengangguk mengiyakan, Nathan mendaratkan sebuah ciuman dibibir Ana.
Lembut dan hangat, Ana merasakan kehangatan itu bersama dengan Nathan. Ana memejamkan matanya, membuka sedikit bibirnya membiarkan Nathan bermain.
Mungkin ini salah untuk keduanya, tapi Ana tak bisa membohongi perasaannya saat ini.
Ditengah panas keduanya, bunyi dari ponsel Ana mengejutkan dirinya.
" Na.. Ana.. Na "
Ana membuka matanya, begitu ia membuka mata ia melihat Nathan yang tengah membangunkan dirinya.
" Mimpi .. " ucap Ana dalam hati
" Hp kamu bunyi Na, takut penting " ucap Nathan dan Ana hanya menjawab dengan anggukan
Ana melihat sebuah panggilan masuk dari Reyhan, Ana menoleh kearah Nathan sebelum mengangkat panggilan itu.
" Siapa ? " tanya Nathan penasaran
" Reyhan "
" Angkat aja ga apa apa "
Ana pun segera mengangkat panggilan masuk dari Reyhan
" Ya Rey, kenapa ? " tanya Ana lebih dulu
" Lo lagi dimana Na ? Masih di Mall atau udah balik ? " tanya Reyhan dari sebrang sana
" Udah balik Rey, ini gue mau part time biasa "
" Oohh gue kira lo masih disana, tadinya gue mau nemenin lo "
" Gue udah balik ko "
" Yaudah Na, semangat ya "
" Iya Rey "
Setelah panggilan itu berakhir, Ana kembali memasukkan ponselnya kedalam tasnya.
Ana masih tak menyangka akan bermimpi seperti itu, rasanya Ana merasa malu karena mimpinya sendiri.
" Ana.. " panggil Nathan
" Ya, kenapa ? "
" Kalau kamu nikah sama saya, kamu mau ga ? "