Tiga ribu tahun yang lalu, sembilan kultivator legendaris menciptakan teknik kultivasi tertinggi: Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik ini konon bisa membawa pengguna melampaui batas Ranah Pendakian Abadi yang tidak pernah bisa dicapai oleh kultivator manapun, karena "Tribulasi Langit" selalu menghancurkan mereka yang berani mencoba.
Namun menyadari bahayanya, para pendiri memecah teknik ini menjadi sembilan gulungan dan menyebarkannya kepada sembilan klan yang mereka dirikan. Setiap gulungan merepresentasikan satu aspek naga: Petir, Api, Air, Tanah, Angin, Cahaya, Bayangan, Ruang, dan Kekacauan.
Selama ribuan tahun, sembilan klan ini menjadi kekuatan dominan di dunia kultivasi. Namun mereka tidak pernah berani menyatukan gulungan kembali, karena legenda mengatakan: "Siapa yang menyatukan Sembilan Naga, akan menjadi Penguasa Langit atau menghancurkan dunia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Latihan Pertama
Ruang latihan itu jauh lebih besar dari yang terlihat dari luar.
Lantai kayu hitam yang kokoh membentang luas, dinding-dindingnya diperkuat formasi anti-kerusakan, sementara di tengah ruangan berdiri sebuah platform meditasi yang memancarkan cahaya spiritual lembut.
“Coba duduk disana.” perintah Shen Yuan sambil menunjuk platform itu.
Lin Feng segera duduk bersila. Begitu tubuhnya menyentuh permukaan platform, ia langsung merasakan energi lembut mengalir masuk, menenangkan pikiran, memperkuat tubuh dan sekaligus menstabilkan qi di dalam dirinya.
“Hari ini kita hanya akan fokus pada satu hal,” ujar Shen Yuan sambil berjalan mengitari platform. “Kontrol. Kau sudah memiliki kekuatan qi sembilan elemen di dalam dantian-mu. Tapi kekuatan tanpa kontrol hanyalah bencana yang menunggu waktu.”
Ia berhenti tepat di depan Lin Feng.
“Kultivasi normal mengajarkan kontrol dengan berfokus pada satu elemen. Tapi kau berbeda. Kau harus belajar mengendalikan sembilan elemen sekaligus. Itu jauh lebih sulit.”
“Bagaimana caranya?” tanya Lin Feng.
“Dengan meditasi khusus.” Shen Yuan duduk bersila di hadapannya. “Tutup matamu. Fokuskan kesadaranmu ke dantian. Rasakan sembilan elemen yang berputar di dalamnya.”
Lin Feng menutup mata, tenggelam ke dalam kesadaran nya.
Ia melihat dantian-nya sebuah fondasi Orkestrasi berputar perlahan dengan sembilan warna yang memukau. Setiap elemen bergerak dengan ritmenya sendiri, namun semuanya menyatu dalam harmoni sempurna.
“Sekarang, pisahkan kesadaranmu menjadi sembilan bagian. Satu untuk setiap elemen.”
Pisahkan kesadaran?
Lin Feng belum pernah mencoba teknik seperti itu. Namun ia tetap mencoba. Ia kemudian membayangkan kesadarannya yang utuh mulai terbelah, satu menjadi dua, dua menjadi tiga, lalu semakin banyak.
Rasa sakit langsung menghantam kepalanya. Seolah pikirannya dipaksa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan jiwanya.
“Jangan memaksa,” suara Shen Yuan menenangkannya. “Biarkan mengalir secara alami. Kesadaranmu sudah terhubung dengan sembilan elemen melalui fondasi Orkestrasi. Kau hanya perlu membiarkan koneksi itu menjadi lebih jelas.”
Lin Feng menarik napas dalam-dalam. Ia melepaskan paksaan dan membiarkan pikirannya rileks.
Dan perlahan lahan sesuatu berubah.
Ia merasakan api yang panas, agresif dan penuh dorongan untuk menghancurkan.
Namun di saat yang sama, ia juga merasakan air yang dingin, mengalir, tenang namun tak terbendung.
Tanah yang kokoh, stabil, tegas dan tak tergoyahkan.
Sembilan sensasi berbeda hadir bersamaan tanpa saling menekan.
“Bagus,” suara Shen Yuan mengandung kepuasan. “Kau mulai memahaminya. Sekarang pertahankan. Jangan biarkan satu elemen mendominasi yang lainnya. Keseimbangan adalah kunci.”
Lin Feng berkonsentrasi penuh. Setiap kali elemen yang paling agresif seperti api atau petir mencoba merebut perhatian lebih, ia dengan lembut menenangkannya, lalu mengalihkan fokusnya ke elemen lain.
Seperti seorang pemeran orkestra, memastikan tak ada satu instrumen pun yang bermain terlalu keras atau terlalu pelan.
Waktu berlalu tanpa ia sadari.
Menit berubah menjadi jam.
Keringat membasahi dahinya, tubuhnya gemetar menahan beban mental yang luar biasa. Namun ia tidak menyerah.
“Sudah, cukup.”
Suara Shen Yuan membuat Lin Feng membuka mata dengan tersentak.
Ruangan terasa berputar sesaat. Napasnya terengah-engah, tubuhnya lemas seolah baru saja menempuh perjalanan panjang tanpa henti.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Di dalam dirinya segalanya terasa lebih rapi dan lebih terkendali.
“Ini sudah berapa lama?” tanya Lin Feng dengan suara serak.
“Empat jam,” jawab Shen Yuan sambil menyerahkan segelas air. “Lebih lama dari yang kuduga untuk sesi pertama.”
Lin Feng meneguk air itu dengan tergesa gesa. “Apa yang berhasil kita capai dalam sesi ini?”
“Langkah pertama dari Meditasi Harmoni Sembilan Naga,” jelas Shen Yuan. “Teknik dasar yang wajib kau kuasai sebelum mampu melakukan kombinasi elemen tingkat lanjut. Dengan latihan rutin, setidaknya dua jam setiap hari kau akan mampu mempertahankan kesadaran terbagi bahkan di tengah pertempuran.”
“Dan itu benar-benar akan membuat perbedaan?”
“Perbedaan yang sangat besar,” tegas Shen Yuan. “Bayangkan menyerang dengan api, bertahan dengan tanah, bergerak dengan angin, dan menyembuhkan diri dengan air, semuanya pada saat yang sama. Itu mustahil bagi kultivator biasa. Tapi bagi pemegang Gulungan Naga Kekacauan itulah fondasi kekuatan sejati.”
Lin Feng mengangguk pelan.
Ia mulai mengerti. Ini bukan sekadar memiliki sembilan elemen, melainkan menguasainya secara bersamaan dengan efisiensi sempurna.
“Istirahat lima belas menit,” kata Shen Yuan. “Setelah itu, kita lanjut ke latihan fisik.”
“Latihan fisik?” Lin Feng terkejut. Ia mengira hari ini hanya tentang meditasi dan kultivasi.
“Kultivasi memperkuat qi,” jawab Shen Yuan tenang. “Tapi tubuh harus cukup kuat untuk menampungnya. Kau akan mempelajari Seni Tubuh Naga, teknik penempaan tubuh yang diciptakan Lin Tian.”
Shen Yuan tersenyum tipis. Senyum yang entah kenapa membuat Lin Feng merasa waspada.
“Dan perlu kau tahu, ini akan jauh lebih menyakitkan daripada meditasi.”
Seni Tubuh Naga adalah siksaan murni.
Setelah istirahat selesai, Lin Feng langsung dipaksa berdiri dalam posisi kuda-kuda rendah sambil memanggul batu raksasa di pundaknya, batu yang diperkuat formasi sehingga beratnya terus bertambah setiap menit.
Di saat yang sama, ia harus mengalirkan qi melalui seluruh meridian tubuhnya dalam pola yang rumit, memaksa energi itu meresap ke otot, tulang, hingga organ dalam.
Rasanya seperti tubuhnya dibakar, dihancurkan, lalu dibangun kembali… semuanya dalam waktu bersamaan.
“Kau harus bertahan!” teriak Shen Yuan. “Jika kau berhenti sekarang penguatan tubuhmu tidak akan sempurna!”
Lin Feng menggertakkan giginya. Kakinya gemetar hebat dan keringat mengalir deras. Namun ia tidak berhenti.
Aku sudah bertahan sepuluh tahun dalam hinaan dan ejekan, pikirnya keras. Ini tidak akan menghentikanku.
Lima belas menit yang terasa seperti lima belas jam.
Shen Yuan akhirnya mengizinkannya untuk berhenti.
Lin Feng seketika ambruk ke lantai, napasnya tersengal, seluruh tubuhnya berteriak kesakitan. Namun ketika ia mencoba bangkit kembali ia menyadari sesuatu yang aneh.
Tubuhnya terasa lebih ringan dan lebih kuat. Seolah tekanan yang ada di dunia ini berkurang.
“Itu efek dari penempaan tubuh,” jelas Shen Yuan sambil membantu Lin Feng berdiri. “Setiap sesi akan memperkuat tubuhmu sedikit demi sedikit. Dalam beberapa bulan, kau bisa menahan serangan kultivator satu tingkat di atasmu hanya dengan tubuh fisik.”
“Beberapa bulan…?” Lin Feng mengerang lemah.
“Jika kau rajin,” Shen Yuan tersenyum. “Jika malas, bisa bertahun-tahun.”
Lin Feng langsung memutuskan ia akan sangat rajin.
Hari itu dihabiskan dengan berbagai latihan lain. Latihan kontrol qi untuk menyerang target kecil dari berbagai jarak.
Latihan kombinasi elemen dengan perintah rumit seperti menciptakan pedang es yang diselimuti api dan diperkuat angin.
Latihan kesadaran spiritual untuk mendeteksi benda tersembunyi.
Di sela-selanya, Shen Yuan mengajarkan teori tentang sejarah sembilan klan, politik dunia kultivasi, serta karakter dan lokasi para pemegang gulungan lainnya.
Saat matahari mulai tenggelam, Lin Feng duduk di halaman rumah Shen Yuan. Tubuhnya lelah, namun pikirannya dipenuhi pemahaman baru.
“Hari pertama selesai,” kata Shen Yuan sambil menyerahkan secangkir teh herbal untuk memulihkan tenaga. “Bagaimana rasanya?”
“Melelahkan,” jawab Lin Feng jujur. “Tapi sangat berarti. Aku merasa mulai benar-benar memahami Orkestrasi.”
“Bagus,” kata Shen Yuan. “Karena ini baru permulaan.”
Ia menatap langit senja.
“Dalam beberapa minggu, kita akan memulai latihan pertarungan. Dalam beberapa bulan, kau akan siap menghadapi misi berbahaya. Dan dalam setahun…”
“Dalam setahun?” tanya Lin Feng.
“Dalam setahun, kau mungkin sudah siap mencari gulungan keduamu.”
Semangat baru menyala di dada Lin Feng. “Gulungan mana yang sebaiknya kucari lebih dulu?”
Shen Yuan terdiam lama sebelum menjawab.
“Itu keputusanmu sendiri. Tapi ingat, tidak semua pemegang gulungan adalah musuh. Beberapa bisa menjadi sekutu jika didekati dengan cara yang benar.”
“Seperti siapa?”
“Kuil Cahaya Suci,” jawab Shen Yuan. “Mereka dikenal paling bijaksana dan paling sedikit masalah. Jika ada yang mau mendengar tentang misi besar demi dunia, kemungkinan besar adalah mereka.”
Lin Feng teringat Yue Lian dan yang lainnya. Ya… mereka memang tampak seperti orang-orang yang akan peduli pada kebaikan yang lebih besar.
“Namun itu masih jauh,” lanjut Shen Yuan. “Untuk sekarang, fokuslah menjadi lebih kuat. Kuasai Orkestrasi. Kuasai tubuhmu dan Kuasai pikiranmu.”
“Aku akan terus berlatih,” janji Lin Feng.
Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman, memandangi matahari terbenam di atas Danau Giok.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Lin Feng merasa ia tidak hanya bertahan hidup.
Ia benar-benar hidup.
Benar-benar tumbuh.
Benar-benar melangkah menuju sesuatu yang lebih besar.
Tunggulah aku, pikirnya pelan. Suatu hari, aku akan datang. Dan dunia akan berubah.
💪💪💪💪