Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyakit Ayah Naya
Jam makan siang telah usai. Lorong kantor kembali ramai oleh langkah kaki karyawan yang berjalan menuju meja masing-masing.
Adrian, CEO itu keluar dari ruangannya menuju lift.
Ia melangkah keluar bersama asistennya yang berdiri di belakangnya dengan map tipis di tangannya.
Tepat di depan lift saat terbuka, Ia mendapati dua orang, Naya dan Nadira. Langkahnya tertahan.
Nadira yang pertama menoleh. Menatap Adrian mengingatkan kenangan suasana makan malam yang seketika terlintas di benaknya. Tanpa sadar, sudut bibir Nadira terangkat tipis.
Namun CEO itu hanya melirik sekilas. Tatapan yang datar. Sopan. Profesional. Seperti tidak pernah ada makan malam itu. Tidak ada cerita istimewa apapun di baliknya.
"Siang, Pak." Ucap Nadira masih dengan senyumnya yang sama.
Naya ikut menoleh dan hanya menunduk sopan.
Pandangan CEO itu tertuju pada Naya, mengingat wajah Naya yang kemerahan saat memberikan bekal siang itu. Senyumannya hanya sebentar dan kembali lagi dengan wibawanya.
"Siang," Jawabnya singkat.
"Pak, mobil sudah disiapkan. Klien dari Surya Group menunggu di lokasi." Lapor asistennya singkat.
CEO itu mengangguk. Melanjutkan langkah mereka.
Naya bersama Nadira hendak melanjutkan langkahnya ketika CEO itu bersama asistennya pergi. Tiba-tiba ponsel Naya berdering.
Nama 'ibu' muncul di layarnya.
Alisnya sedikit berkerut. Ibunya jarang menelpon di jam kerja.
"Sebentar ya, Dir.... " gumamnya pelan sebelum menjauh beberapa langkah ke sisi lorong.
Naya mengangkat telpon, "Halo, Bu?"
Di seberang sana, suara ibunya terdengar tidak setenang biasanya. Sedikit tergesa. Sedikit bergetar.
"Naya.... Kamu masih di kantor, Nak?"
"Iya, Bu. Ini kan masih jam kerja. Kenapa, Bu?"
Ada jeda diantara mereka yang terasa panjang.
"Ayah, Ayah sekarang di rumah sakit."
Naya membeku, matanya membesar.
"Ayah? Ayah kenapa, Bu?" suaranya langsung berubah, lebih pelan namun tegang.
"Ibu belum tahu, tadi ibu ditelpon. Ayah pingsan dan dibawa ke rumah sakit."
Jantung Naya berdetak lebih keras.
"Ibu di rumah sakit mana?"
Ibunya menyebutkan nama rumah sakitnya, suaranya masih terdengar cemas.
Telepon itu berakhir.
Wajahnya pucat, tangannya sedikit gemetar.
Nadira yang sedari tadi memperhatikannya langsung mendekat. "Nay? Ada apa?"
"Dir, ayahku.... Lagi di rumah sakit." Suaranya nyaris tak terdekat.
"Astaga....?" Nadira refleks menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Dir... " suaranya pelan namun tergesa, "tolong ya, bilang kalau aku izin pulang lebih awal. Aku harus ke rumah sakit sekarang. Aku takut ayah....."
Nadira mengangguk tanpa ragu, menggenggam lengan Naya sebentar, "kamu tenang aja, Nay, biar aku aja yang urus. Kamu hati-hati ya. Jangan lupa kabari aku."
Naya mengangguk lemah, "makasih, Dir."
Naya berlari kecil mengambil tasnya yang terletak di meja kerjanya.
Beberapa karyawan memperhatikan Naya dengan tatapan heran dan penuh tanya.
"Aku tahu pasti Naya sangat takut kehilangan untuk kedua kalinya." gumam Nadira.
Beberapa saat setelah Naya pergi, suasana ruangan kembali seperti biasa. Suara ketikan dan percakapan pelan terdengar samar memenuhi ruang administrasi.
Tak lama, kepala Administrasi ,Arga, turun untuk melakukan pengecekan rutin. Langkahnya tenang namun penuh wibawa, matanya menyapu setiap meja kerja.
Beberapa karyawan langsung duduk lebih tegak.
Ia berjalan perlahan di antara deretan meja, memperhatikan layar komputer satu per satu.
Lalu langkahnya berhenti.
Satu kursi kosong.
Alisnya sedikit terangkat, "Naya kemana?" tanyanya dengan nada datar namun tegas.
Nadira yang sejak tadi sudah bersiap menjelaskan langsung berdiri. "Maaf, Pak. Naya izin pulang lebih awal. Ayahnya masuk rumah sakit, tadi baru dikabari ibunya."
Arga terdiam sesaat, wajahnya tetap serius.
"Jadi pekerjaannya hari ini?" tanyanya.
"Saya yang bantu cover dulu, Pak." Jawab Nadira cepat.
Tanpa komentar tambahan, ia kembali melangkah memantau meja lain.
_
Naya hampir berlari memasuki lobi rumah sakit. Matanya mencari-cari sosok yang dikenalnya.
Di depan ruang IGD, ia melihat ibunya duduk dengan wajah pucat dan air mata yang membasahi pipi.
"Bu.... " panggil Naya sambil berlari.
Ibunya langsung berdiri, "Naya.... " Ia memeluk putrinya erat, seolah baru bisa bernapas lega setelah Naya datang.
"Ayah dimana, Bu?" tanya Naya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Masih di dalam, Nak."
Naya kembali memeluk ibunya, berusaha menenangkan.
Tanpa sadar, ingatannya kembali pada kejadian hari itu. Kejadian yang tak pernah dibayangkan.
"Aku sangat takut, Dam...." ucapnya dalam hati.
Suara pintu terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan. Wajahnya tenang namun serius.
"Keluarga Pak Robito? " tanyanya.
"Iya, Dok." Jawab Ibu Naya cepat, sambil menggenggam tangan putrinya.
Dokter itu mengajak untuk ke ruangannya, berbicara agar lebih tenang.
"Dari hasil pemeriksaan awal dan tes yang kami lakukan, kondisi beliau tidak ringan." Jelasnya hati-hati.
Wajah ibunya semakin terlihat cemas.
"Bu.... " Naya menggenggam tangan ibunya menenangkan.
"Tekanan darahnya sangat tinggi, Bu. Dan ada indikasi gangguan pada pembuluh darahnya. Jadi masih perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikannya."
Ibunya tak bisa lagi berkata-kata.
Naya menelan ludah mendengar kalimat itu.
"Tapi.... Masih ada harapan sembuh, Dok?"
"Tentu ada," jawab dokter tegas. "Namun kesembuhan sangat tergantung pada beberapa hal, seberapa cepat kita menanganinya, kondisi tubuh beliau secara keseluruhan, dan bagaimana responnya terhadap pengobatan."
Ibunya terlihat sedikit lebih tenang, meski matanya masih berkaca-kaca.
Naya menatap dokter itu dengan wajah penuh harap, "apa ayah saya bisa langsung pulang, Dok?"
Dokter menggeleng pelan, tetap dengan nada yang tenang.
"Untuk saat ini belum bisa."
Wajah Naya kembali tegang.
"Kami perlu observasi minimal satu sampai dua hari. Kami juga masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan." Lanjut dokter.
Ibunya menggenggam tangan Naya lebih erat.
"Jadi harus dirawat, Dok?" tanya ibunya pelan.
"Iya, Bu." Jawab dokter tegas namun lembut.
"Lebih aman dirawat dulu. Kalau dipaksakan pulang sekarang, resikonya cukup besar."
Naya mengangguk perlahan. Setidaknya ia tahu pasti ayahnya berada di tempat yang tepat.
Naya dan Ibunya keluar dari ruangan itu, Naya memejamkan mata sebentar, mencoba menguatkan diri.
Pintu ruang perawatan itu terbuka perlahan.
Naya berjalan lebih dulu, diikuti ibunya yang masih gelisah.
Ayahnya terbaring disana. Selang infus terpasang di tangannya. Wajahnya terlihat lebih pucat, namun matanya terbuka.
"Naya.... " suaranya pelan, serak.
Dada Naya terasa sesak melihat pria yang selama ini terlihat kuat kini terbaring lemah.
"Iya, Yah..... Naya disini, " Naya berusaha tersenyum, meski matanya mulai berkaca-kaca.
Ibunya mendekat ke sisi tempat tidur. "Bapak bikin ibu takut.... "
Ayahnya mencoba tersenyum kecil, "cuma pusing sedikit kok.... Nggak perlu khawatir."
Naya mendekat, meraih tangan ayahnya yang terasa lebih dingin dari biasanya.
"Ayah harus istirahat kata dokter. Naya....Naya nggak mau kehilangan lagi... " Ucap Naya lembut menahan air matanya.
Suara hening sejenak. Hanya suara monitor yang terdengar stabil.