NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Auvy

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Skandal

Siang itu, matahari tepat berada di puncaknya, memanggang aspal runway. Pangkalan Udara hingga menciptakan fatamorgana yang bergetar. Raka Aditya berdiri di tengah kebisingan mesin jet, wajahnya tertutup masker oksigen dan helm saat ia sibuk mengecek detail teknis pada sayap pesawat tempur bersama tim mekaniknya. Beberapa pilot junior sedang melakukan pemanasan mesin, menciptakan deru yang memekakkan telinga bagi orang awam, namun bagi Raka, itu adalah musik harian yang menenangkan.

Hingga sebuah getaran di saku celana seragamnya membuyarkan fokusnya.

Raka merogoh ponselnya, mengabaikan protokol keamanan sejenak. Sebuah pesan singkat dari Putra muncul di layar, menghantam kewarasannya lebih keras daripada ledakan sonik mana pun.

Putra: "Cewek yang lu pake terakhir lagi hamil, anjing lah!"

Seketika, rahang Raka mengeras. Ia mengatupkan gigi begitu rapat hingga urat di lehernya menonjol. Napasnya terbuang kasar, bercampur dengan aroma avtur yang menyengat. Ia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Tanpa sepatah kata pun, Raka bergegas menjauhi area lapangan, mengabaikan seorang junior yang sedang mencoba menanyakan jadwal latihan terbang. Suara sang junior tenggelam begitu saja karena bagi Raka, saat ini pesan Putra jauh lebih nyaring dan mengancam daripada mesin jet di belakangnya.

Raka melangkah lebar menuju sebuah ruangan sunyi di sudut hanggar, lalu langsung menekan tombol panggil ke nomor Putra. Begitu panggilan diangkat, Raka tidak memberikan ruang untuk basa-basi.

"Lu tahu dari mana?" tanya Raka, suaranya dingin dan menginterogasi, seolah sedang sidang tawanan perang.

"Ah? Apa? Enggak denger gue!" teriak Putra di seberang sana. Suara dentuman musik techno dari bar yang ia kunjungi jauh lebih menguasai pendengarannya daripada suara Raka.

Geram, Raka langsung mematikan sambungan secara sepihak. Menurutnya, percuma saja berteriak pada orang yang sedang tenggelam dalam alkohol dan kebisingan. Dengan jemari yang gemetar karena amarah, ia mengetik pesan singkat seperti ini "Temuin gue di markas."

Tanpa menunggu balasan, Raka langsung mengambil kunci mobilnya dan banting setir menuju sebuah rumah di pinggiran kota. Tempat itu terletak di kawasan yang asri, jauh dari pemukiman penduduk, dengan taman yang tertata indah. Sebuah aset rahasia yang ia sebut sebagai Markas. Rumah itu adalah tempat terakhir yang ia injak sesaat setelah malam terkutuk yang ia sebut sebagai bulan madu dengan wanita asing itu terjadi. Rumah itu nampak bersih, karena setiap prajurit junior memiliki jadwal rutin untuk membersihkannya sebagai bentuk pengabdian pada sang komandan.

---

Di sisi lain kota, Putra menatap layar ponselnya dengan malas. Ia tahu pesan Raka adalah perintah, tapi ia sedang tidak ingin mengeluarkan energi untuk urusan serius. Baginya, memberikan informasi saja sudah cukup. Mengapa harus bertemu dan menerima perintah baru?

Kecuali... ada imbalannya.

'Ting!' Pesan lanjutan masuk.

Raka: "Lima juta kalau informasi lu akurat."

Putra menyeringai. Raka memang paling tahu cara menjinakkan anjing pelacaknya. Uang adalah satu-satunya bahan bakar yang membuat Putra mau bergerak. Dengan gesit, ia berpamitan pada Cika dan beberapa wanita lain yang mengelilinginya.

"Gue cabut duluan, ada urusan," ucapnya singkat lalu berlari menuju motornya.

Sesampainya di markas, suasana tegang langsung menyambut Putra. Raka berdiri di balik jendela, menatap taman dengan punggung yang kaku. Putra mulai menceritakan kronologi tentang bagaimana ia bertemu Cika di bar dan bagaimana wanita itu berbisik padanya dengan nada mengejek.

"Ngomong-ngomong, temen lu badass juga ya, sampai tuh cewek hamil, anjir," celetuk Cika siang tadi.

Putra menceritakan betapa kagetnya ia saat mendengar hal itu. Ini adalah fenomena pertama dalam sejarah permainan Raka. Sepanjang yang Putra tahu, Raka selalu bermain rapi dan tidak pernah meninggalkan jejak, apalagi menghamili seseorang. Cika juga menceritakan bagaimana gadis itu datang mengemis, mencari petunjuk siapa pria yang bersamanya malam itu, sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

"Lu tahu identitasnya?" tanya Raka setelah mendengar penjelasan panjang lebar itu.

Putra menghisap vapenya dalam-dalam, mengembuskan uap putih ke udara sambil mendongak menatap langit-langit markas. "Ah, sialan! Gue lupa tanya namanya siapa."

"Cari tahu," ucap Raka datar, tatapannya kosong namun mematikan.

Wanita itu harus ditemukan. Raka tahu betul taruhannya. Jika wanita itu melapor ke polisi militer atau pihak berwenang, bagaimana nasib jabatannya yang baru seumur jagung? Bagaimana masa depannya jika skandal memalukan ini meledak ke permukaan? Kariernya, kehormatan keluarganya, dan pernikahannya dengan Melani bisa hancur berkeping-keping.

"Lu mau ngapain?" tanya Putra penasaran, ingin tahu solusi apa yang ada di kepala dingin sahabatnya itu. Apakah akan dibuang dengan uang? Atau justru dinikahi secara siri?

Jawaban Raka keluar dengan sangat lantang dan tenang, seolah ia sedang membicarakan target latihan tembak. "Ya bunuh aja."

Raka mengambil puntung rokok dari saku seragamnya, menyalakannya dengan tangan yang stabil.

"Gila lo!" pekik Putra, refleks memukul kepala Raka dengan tangan kosong. Sebajingan apa pun hidupnya, Putra tidak pernah berpikir untuk melenyapkan nyawa seseorang. Paling parah, ia hanya membuat orang masuk UGD, itupun targetnya laki-laki.

"Ya dia juga siapa sih? Main rapi aja, culik, habis itu buang ke sungai kek, ke mana kek," ucap Raka dengan nada bicara yang mulai meracau, seolah ia lebih mabuk daripada Putra meski ia tidak menyentuh alkohol setetes pun.

Putra tertawa getir, menatap Raka dengan tatapan benci sekaligus ngeri. Pria di depannya ini bukan lagi Raka yang ia kenal. Ini adalah seorang pria yang terdesak dan siap melakukan apa pun untuk melindungi statusnya.

"Dan cewek yang kasih tahu lu informasi itu... bawa ke gue! Dia bahaya," ucap Raka sambil merangsek maju, mencengkeram kerah baju Putra dengan kuat.

Mereka saling bertatapan sinis, seperti dua ekor serigala yang siap saling gigit. Putra kembali tertawa kecut, ia menepuk pipi Raka pelan dengan tangan kirinya, lalu berbisik tepat di depan wajah Raka. "Beresin sendiri."

Putra menghentakkan tangan Raka yang bertengger di kerahnya hingga terlepas. Ia melangkah pergi, berniat meninggalkan markas itu. Hatinya yang busuk ternyata masih memiliki batas, ia tidak sudi ikut campur dalam rencana pembunuhan.

"Woi, Putra!" teriak Raka, suaranya mulai terdengar frustasi. "Lu yang kasih dia ke gue malam itu! Lu ikut andil dalam hal ini, brengsek!"

Putra tidak peduli. Ia terus berjalan menuju pintu keluar, mengangkat sebelah tangannya dan melambai tanpa menoleh ke belakang, meninggalkan Raka yang dadanya naik turun karena amarah.

"Jangan lupa utang budi lu, Putra!" teriak Raka dengan suara yang serak dan mengancam.

"Gue yang narik lu dari maut waktu itu! Kalau bukan karena gue, kepala lu sudah bolong di tangan musuh. Jangan pernah pikir lu bisa jalan menjauh, Emang lu bisa bayar nyawa lu, ke gue?"

Langkah Putra berhenti seketika. Kalimat itu menghujam tepat di ulu hatinya, mengingatkan pada kejadian di medan tugas di mana Raka mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya. Putra mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya memutih. Rahangnya bergemeletuk menahan emosi yang berkecamuk. Antara rasa takut, rasa berhutang, dan rasa jijik pada rencana Raka.

Tanpa menoleh, Putra kembali berjalan meninggalkan markas, namun kali ini langkahnya terasa jauh lebih berat, seolah ia sedang menyeret rantai tak kasat mata yang mengikatnya pada dosa-dosa Raka.

1
Siti Amalia
kerennnn novelnya thorrrrr...semoga bela berjodoh sama raka
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Queen: haloo...🥰
total 1 replies
Queen
Hai guys, jangan lupa kasih hadiah dan komen²nya biar author semangat 🥰
Blackforest
ditunggu kelanjutannya thor 😍
Queen: siip ☺️ jangan lupa like, komen, share ke teman² kalian dan giftnya yah 🫰🏻
total 1 replies
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
Queen: halooo terimakasih dukungannya 😊 baca terus yah sampai tamat 🫰🏻
total 1 replies
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!