NovelToon NovelToon
Braja Geni

Braja Geni

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Pusaka Ajaib
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Lahir pada malam 1 Suro setelah dikandung dua belas bulan, seorang bayi menjadi incaran para pendekar aliran hitam dan putih. Di tengah pertumpahan darah, ia menghilang dari dunia manusia.
Diasuh oleh makhluk mitos di rimba purba, ia tumbuh dengan ilmu yang tak dikenal perguruan mana pun. Ia belajar dari angin, dari api, dan dari naluri alam.
Saat dewasa, Braja Geni kembali ke dunia persilatan.
Kehadirannya menggemparkan jagat kanuragan. Jurusnya tak berpihak pada putih maupun hitam—ia adalah kekuatan baru yang mengancam keseimbangan.
Namun di balik kesaktiannya, tersembunyi rahasia kelahiran dan takdir besar yang akan menentukan arah dunia persilatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Kepala kelabang raksasa itu melenggak perlahan, bergerak ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang ganjil namun teratur. Sungutnya yang panjang dan tebal bergetar-getar, meraba udara, mengendus sisa hawa pertempuran yang masih menggantung pekat di antara pepohonan.

Saat pandangannya menangkap sosok pedati yang ambruk tak jauh dari sana, kedua matanya yang kehijauan mendadak menyala lebih terang. Cahaya itu berpendar redup di balik kabut malam. Tanpa suara selain gesekan kaki-kakinya di tanah, makhluk itu kembali merayap mendekat.

Tubuhnya yang panjang berliku mengitari pedati. Lalu, dengan satu sentakan kuat dari kepala dan rahangnya, atap pedati itu terkuak. Kayu-kayu patah berderak pelan. Di dalamnya tampak sesosok wanita hamil yang telah terbujur kaku, wajahnya pucat diterpa sinar bulan sabit kemerahan.

Makhluk itu mengeluarkan desis panjang dan dalam.

“Shhhhhhh…”

Sekejap, hutan yang tadi dipenuhi suara malam mendadak senyap. Burung hantu berhenti bersuara. Jengkrik membisu. Angin pun seperti menahan napas.

Dari sela-sela sisiknya yang besar dan keras, perlahan muncul puluhan kelabang hijau seukuran belati. Tubuh mereka ramping dan berkilau, kaki-kaki kecilnya bergerak cepat berderap di atas tanah. Mereka merayap turun, mengerumuni mayat wanita itu seperti pasukan kecil yang patuh pada satu komando tak terdengar.

Kelabang raksasa itu kemudian merendahkan tubuhnya hingga hampir menyentuh tanah. Puluhan anak kelabang itu bekerja serempak. Mereka menyelip di bawah tubuh sang wanita, mencengkeram kain dan anggota tubuhnya dengan capit kecil namun kuat. Perlahan, dengan gerakan terkoordinasi, mereka mengangkat jasad itu—bagai barisan semut yang mengangkut potongan kue jauh lebih besar dari tubuh mereka sendiri.

Sedikit demi sedikit, tubuh wanita itu bergeser naik ke punggung kelabang raksasa. Setelah berada di atasnya, puluhan kelabang kecil itu memosisikan diri di sekeliling jasad, mencengkeram erat agar tak tergelincir saat induk mereka bergerak.

Segalanya terjadi tanpa suara selain gesekan kaki-kaki kecil di sisik keras.

Ketika semuanya siap, kelabang raksasa itu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, menatap ke arah dalam hutan yang gelap gulita. Matanya kembali berpendar kehijauan.

Lalu ia pun berbalik.

Tubuh panjangnya meliuk dan mulai merayap menjauh dari lokasi pembantaian, membawa sesosok mayat wanita hamil di atas punggungnya—menghilang perlahan ke dalam lebatnya hutan yang seakan menelan mereka tanpa jejak.

Hutan yang gelap itu benar-benar sunyi ketika kelabang raksasa merayap menyibak semak belukar. Tak ada suara lain selain gesekan daun yang terbelah oleh tubuhnya yang panjang dan desis halus dari mulutnya yang beracun. Sepasang matanya yang bersinar kehijauan menyorot sudut-sudut hutan yang gulita, memantulkan cahaya redup bulan sabit di langit.

Sesekali makhluk itu tidak hanya merayap di tanah, tetapi juga memanjat batang-batang pohon tua yang menjulang tinggi, melilitinya dengan lincah sebelum kembali meluncur turun. Pergerakannya nyaris tanpa suara, namun setiap jejak yang ditinggalkan terasa menyisakan hawa dingin yang ganjil.

Tak lama kemudian ia menanjak menuju sebuah perbukitan terjal. Tebing-tebing batu menjulang seperti dinding raksasa yang mengurung rahasia kuno. Di sela-selanya tampak beberapa gua—ada yang kecil seperti liang, ada pula yang menganga lebar seperti mulut raksasa yang siap menelan apa pun yang mendekat.

Wilayah itu belum pernah terjamah manusia. Desa terdekat pun tak berani mendekat. Para leluhur menyebutnya sebagai Hutan Larangan. Tak seorang pun berani berburu, apalagi membuka lahan di sana. Konon, pernah ada sekelompok pemburu yang nekat melanggar pantangan. Mereka masuk dengan congkak, menertawakan cerita orang-orang tua. Namun sejak hari itu, mereka tak pernah kembali. Seolah-olah bumi sendiri telah menelan mereka hidup-hidup.

Di antara gua-gua kecil yang tersebar di tebing curam itu, terdapat satu gua terbesar yang letaknya tepat di tengah dinding batu paling tinggi. Lubangnya menganga gelap, tak terjangkau oleh pijakan biasa. Manusia biasa mustahil dapat mencapainya—kecuali mereka yang memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.

Dari puncak bukit, kelabang raksasa itu merayap turun menuju gua besar tersebut. Tubuhnya yang panjang melengkung mengikuti kontur batu. Mayat wanita hamil itu melekat erat di atas punggungnya, dicengkeram puluhan kelabang kecil yang tak pernah lepas menjaga. Dalam cahaya bulan yang redup, bayangan mereka tampak seperti arak-arakan makhluk dari dunia lain yang tengah membawa persembahan menuju sarang kegelapan.

Tak diperlukan obor untuk menerangi mulut gua itu. Tubuh kelabang raksasa yang berpendar kehijauan memancarkan cahaya redup namun cukup untuk menyibak gelap. Bayangannya memanjang di dinding batu, bergerak mengikuti lenggak-lenggok tubuhnya yang besar.

Makhluk itu tidak berhenti di mulut gua. Di dalamnya terbentang sebuah lorong luas yang menjulur jauh ke perut bukit. Dindingnya kasar, seakan dicabik dan digerus oleh sesuatu yang kuat dan tak kenal lelah. Kelabang raksasa itu terus merayap masuk, semakin dalam, semakin jauh dari cahaya bulan.

Di sepanjang lorong utama, tampak percabangan-percabangan yang tak terhitung jumlahnya. Lorong-lorong sempit dan berliku itu menyilang dan bertemu kembali, membentuk labirin yang membingungkan. Jika manusia biasa memasukinya, niscaya ia akan tersesat tanpa arah, terperangkap dalam kegelapan yang menipu. Tampaknya lorong-lorong itu memang digali oleh makhluk tersebut—jejak kikisan dan bekas gesekan tubuhnya masih tampak jelas di dinding batu.

Namun setiap percabangan pada akhirnya bermuara pada sebuah ruangan gua yang besar. Lantainya dilapisi pasir halus, seolah sengaja diratakan. Di tengah ruangan terdapat tumpukan jerami yang luas dan tebal, menyerupai alas atau sarang raksasa.

Di salah satu sudut ruangan, air merembes perlahan dari celah atap gua, menetes di dinding batu sebelum jatuh ke dasar, membentuk kubangan jernih yang berkilau tertimpa cahaya kehijauan. Dari kubangan itu, air mengalir lagi melalui parit kecil yang mengarah ke salah satu lorong, seakan menjadi urat nadi kehidupan di dalam perut bukit yang sunyi itu.

Kemudian makhluk itu melingkar di atas tumpukan jerami yang luas itu. Tubuhnya yang panjang membentuk lingkaran sempurna, seolah menciptakan batas tak kasatmata di sekeliling pusat ruangan. Dengan satu kibasan halus namun tegas, ia memberi isyarat. Puluhan anak kelabang segera memahami perintah tanpa suara. Mereka menggeser perlahan jasad wanita hamil itu ke tengah lingkaran tubuh induknya.

“Trak… tak tak… shhhhh…”

Desisan panjang menggema di dalam gua, memantul pada dinding-dinding batu yang lembap.

Dalam satu gerakan serempak yang mengerikan, lima anak kelabang merayap naik dan menyusup masuk melalui mulut wanita malang itu. Tubuh-tubuh kecil mereka menghilang satu per satu ke dalam kegelapan rongga yang sunyi. Di balik kulit yang pucat, samar-samar terlihat gerakan merayap di bawah permukaan—seperti bayangan yang berjalan di balik tirai tipis.

Kelima makhluk kecil itu bergerak perlahan menuju perut yang membuncit. Saat mereka berkumpul di sekitar pusar, permukaan kulit tampak berdenyut pelan. Ada geliatan tak wajar dari dalam, gerakan yang bukan lagi milik jasad tak bernyawa.

Kelabang raksasa itu kembali berdesis, kali ini lebih panjang dan dalam. Suaranya berat, seakan mengandung gema kuno yang tak berasal dari dunia manusia.

Tiba-tiba perut yang membuncit itu memendarkan cahaya kehijauan dari dalam. Sinar redup namun tajam menyusup keluar melalui kulit, membuat bayangan bergerak liar di sekeliling ruangan. Anak-anak kelabang di dalamnya tampak semakin aktif, berputar dan menggeliat seperti tengah membangkitkan sesuatu yang tersembunyi.

Udara di dalam gua terasa menegang. Seolah-olah perut bukit itu sendiri sedang menahan napas, menanti apa yang akan lahir dari ritual kegelapan tersebut.

1
raigor
semangat thor...cerita nusantara
👁Zigur👁: thanks 🙏
total 1 replies
abdulR
😍👍💪ok
anggita
like👍2☝☝iklan buat novel laga lokal
👁Zigur👁: thanks kak anggit.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!