NovelToon NovelToon
Rewind: Side B

Rewind: Side B

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Teen Angst / Teen School/College / Romantis / Fantasi / TimeTravel
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: Vorlagh

17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.

Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.

Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.

Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.

Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Tanpa Peta

BRAK!

Pintu besi gudang belakang kantin itu dibanting keras oleh Lian.

Napasnya memburu, paru-parunya terasa seperti dibakar api.

"Kunci! Cari kunci atau balok!" teriak Lian pada Kara.

Kara, yang masih memegang hidungnya yang berdarah dengan lengan seragam, menunjuk tumpukan kursi lipat berkarat di sudut ruangan dengan tangan gemetar.

Lian menyambar satu kursi lipat besi, menyangkutkannya di pegangan pintu tepat sedetik sebelum—

DUM! DUM!

Pintu itu digedor dari luar.

Bukan gedoran tangan manusia biasa.

Suaranya berat, mekanis, dan serempak. Seperti ada sepuluh orang yang memukul pintu bersamaan dengan ritme yang persis sama.

"Siswa dilarang masuk..."

"Siswa dilarang..."

"Dilarang..."

Suara gumaman Pak Surip dan para anggota OSIS itu terdengar tembus lewat celah pintu. Nadanya datar, tanpa emosi, seperti kaset rusak yang pitanya tersendat.

Lian menarik Kara menjauh dari pintu.

Mereka mundur ke tengah dapur kantin yang gelap dan pengap. Aroma minyak goreng jelantah dan sayur basi menusuk hidung.

"K-kak..." Kara terisak pelan. Tubuhnya gemetar hebat. "Mereka kenapa? Itu Pak Surip kan? Itu Kak Andi wakil OSIS kan? Kenapa mereka kayak zombie?"

Lian menangkup wajah Kara dengan kedua tangannya yang kotor. Dia memaksa gadis itu menatap matanya.

"Dengerin gue, Ra. Jangan pikirin kenapa. Anggap aja mereka lagi... kesurupan massal. Yang penting sekarang kita lari."

"Tapi ke mana? Pintu depan dijaga! Pintu belakang pasti juga!"

Lian menyeringai tipis. Seringai Julian Pratama yang mengetahui rahasia kecil sekolah ini. Seringai yang dulu dia gunakan untuk memenangkan debat pemilihan ketua OSIS, tapi kali ini dia gunakan untuk bertahan hidup.

"Lo lupa siapa gue?" tanya Lian, berusaha terdengar percaya diri meski kakinya sendiri lemas. "Gue yang megang semua kunci cadangan sekolah selama dua tahun ini. Gue tau jalan tikus yang bahkan kepala sekolah nggak tau."

Lian menarik tangan Kara lagi. "Ikut gue. Kita ke Lab Bahasa lama."

...----------------...

Lorong Penghubung - Sayap Barat.

Mereka berlari menyusuri lorong sempit yang menghubungkan kantin dengan gedung laboratorium tua.

Tempat ini jarang dilewati siswa karena konon katanya angker. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip suram.

Ctak. Bzzzt. Ctak.

Lian memimpin di depan. Kara di belakang, terseok-seok mengikuti langkah lebar Lian.

Saat mereka berlari, dinding di kanan-kiri mereka mulai berulah.

Poster-poster edukasi tentang rantai makanan dan pahlawan revolusi yang tertempel di dinding, wajah-wajah di dalamnya berubah.

Mata para pahlawan itu bergerak mengikuti lari mereka. Mulut singa di poster rantai makanan menyeringai lebar, memperlihatkan gigi yang tampak tiga dimensi.

"Jangan liat dinding!" bentak Lian tanpa menoleh. "Liat punggung gue aja!"

Kara memejamkan mata sambil terus berlari, mempercayakan nyawanya pada genggaman tangan Lian yang berkeringat.

Tiba-tiba, lantai di depan mereka bergelombang.

Ubin keramik putih itu melunak seperti lumpur hisap.

Kaki Lian terperosok sedalam mata kaki.

"Sial!" Lian tersungkur ke depan.

"Kak Lian!" Kara ikut jatuh berlutut, menahan beban tubuh Lian.

Mereka berhenti sejenak di tengah lorong suram itu.

Dari kejauhan, dari arah kantin, terdengar suara gembok yang dipatahkan paksa. Pasukan itu sudah menembus pertahanan pertama.

"Bangun, Kak! Ayo!" Kara menarik lengan Lian sekuat tenaga. Wajah gadis itu pucat, sisa darah mimisan masih mengering di atas bibirnya, tapi matanya...

Matanya nyalang. Ketakutan telah berubah menjadi insting bertahan hidup.

Lian menatap lantai yang "memakan" kakinya.

"Sistemnya nggak bolehin gue lewat," desis Lian. "Mereka nge-blokir jalan ke Lab Bahasa."

"Terus lewat mana?!"

Lian menatap langit-langit.

Ventilasi.

Ada saluran udara tua di atas lemari piala usang di samping mereka.

Lian berdiri paksa, menarik kakinya dari lantai yang lengket seperti aspal cair itu dengan suara plop menjijikkan.

"Naik ke sana!" Lian menunjuk lemari kayu jati berisi piala-piala berdebu.

Kara tidak banyak tanya. Dia memanjat lemari itu dengan bantuan dorongan Lian. Roknya tersangkut sedikit, sobek, tapi dia tidak peduli.

Dia menendang kisi-kisi ventilasi berkarat itu sampai jebol.

Klang!

"Cepet masuk!"

Kara merangkak masuk ke dalam saluran udara yang gelap dan penuh sarang laba-laba.

Lian menyusul di belakangnya, tepat saat gerombolan OSIS "Zombie" itu membelok di tikungan lorong.

Mereka melihat Lian.

Sepuluh pasang mata kosong menatap tajam ke arah lemari piala.

Lian masuk ke ventilasi dan menarik kembali kisi-kisi besi itu untuk menutup lubang.

Dia mengintip dari celah besi.

Di bawah sana, wakil ketuanya, Andi, berdiri tepat di bawah lemari.

Andi mendongak. Lehernya patah ke belakang dengan sudut yang tidak wajar—90 derajat—menatap langsung ke mata Lian.

Mulut Andi bergerak, tapi suara yang keluar adalah suara statis radio.

"Ketua... rapat... belum... selesai..."

Lian merinding sekujur tubuh.

Dia mundur merangkak dalam kegelapan.

"Jalan terus, Ra! Jangan berhenti!"

...----------------...

Ruang Audio Visual (Lab Bahasa Lama).

Mereka jatuh berguling keluar dari lubang ventilasi, mendarat di atas tumpukan karpet berdebu di sebuah ruangan kedap suara.

"Uhuk! Uhuk!" Kara terbatuk-batuk, menepis debu dari rambutnya.

Lian segera bangkit dan mendorong lemari berat untuk menghalangi pintu masuk utama ruangan itu. Lalu dia berlari ke jendela, menutup gorden tebal berbahan beludru merah yang berat.

Ruangan itu menjadi gelap gulita.

"Jangan nyalain lampu," bisik Lian.

Mereka duduk bersandar di balik meja operator guru di bagian depan ruangan.

Ruang Lab Bahasa ini adalah peninggalan tahun 80-an. Ada bilik-bilik kecil (booth) kayu dengan headphone besar dan alat pemutar kaset pita di setiap mejanya. Tempat yang ironis untuk bersembunyi bagi dua orang yang diburu gara-gara kaset.

Napas mereka berangsur normal, meski jantung masih berpacu gila-gilaan.

Hening.

Di luar sana, suara langkah kaki terdengar berlarian menjauh. Sepertinya para "penjaga" itu kehilangan jejak. Ventilasi tadi menyamarkan bau dan suara mereka.

"Aman..." Lian menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya ke dinding meja. "Untuk sementara."

Kara memeluk lututnya, meringkuk di samping Lian.

"Kak..." panggilnya lirih. "Sebenernya kita ini ada di mana? Ini bukan sekolahku yang biasa. Temen-temenku nggak mungkin kayak gitu."

Lian menoleh. Dalam remang cahaya yang masuk dari celah gorden, dia melihat Kara. Gadis itu kotor, berantakan, dan hidungnya masih ada bercak merah. Tapi warna di tubuhnya tidak memudar. Kara tetap menjadi objek paling nyata di dunia Lian.

Lian merogoh sakunya, mengeluarkan sapu tangan (yang biasanya dia bawa karena kebiasaan rapi ibunya).

Tanpa permisi, dia menjulurkan tangan, membersihkan sisa darah di bawah hidung Kara dengan lembut.

Kara tersentak sedikit, tapi tidak menepis. Dia membiarkan Lian merawatnya.

"Gue juga nggak tau, Ra," jawab Lian jujur sambil terus mengusap noda darah itu pelan. "Mungkin kita ada di neraka. Atau mungkin gue lagi koma dan ini semua cuma mimpi buruk gue, dan lo terseret masuk."

"Enak aja," Kara cemberut sedikit. "Masa mimpi Kakak nyusahin orang lain?"

Lian terkekeh pelan. "Ya maaf."

Tangan Lian turun, tidak lagi membersihkan wajah, tapi berhenti di pipi Kara. Ibu jarinya mengusap pelan kulit pipi itu. Hangat.

"Ra," kata Lian serius. Tatapannya dalam. "Maafin gue. Gue narik lo ke situasi gila ini cuma karena gue takut sendirian."

Kara menatap Lian balik. Dia melihat kerapuhan di mata cowok itu. Ketakutan anak kecil yang tersesat.

"Kak Lian yang di rekaman itu..." Kara memulai, suaranya bergetar. "Dia bilang dia mau mati. Apa itu bener?"

Lian mengangguk kaku. Dia melepaskan tangannya dari wajah Kara, merasa malu.

"Setiap hari, Ra. Jam 5 sore. Gue selalu ke rooftop. Karena gue ngerasa... capek jadi sempurna. Gue ngerasa kosong."

"Tapi kemarin..." Kara menunjuk saku kemeja Lian yang berisi Walkman. "Di rekaman itu, Kakak kedengeran hidup. Suara Kakak pas ketawa denger aku ngaku suka... itu suara orang yang seneng."

Lian tersenyum sedih. Dia mengeluarkan Walkman perak itu, membelainya dengan ibu jari.

"Karena lo, Ra. Lo ngasih warna di dunia gue yang abu-abu."

Lian menyodorkan Walkman itu pada Kara.

"Pegang ini. Jangan sampai diambil siapa pun. Bahkan kalo gue minta, jangan kasih."

Kara menerima benda dingin itu dengan ragu. "Kenapa?"

"Karena kalau jam 5 sore nanti gue... reset lagi..." Lian menelan ludah susah payah. "...gue butuh lo buat ingetin gue lagi besok pagi. Lo pemegang kuncinya, Ra."

Kara menggenggam Walkman itu erat-erat di dadanya. Sebuah tanggung jawab besar baru saja diserahkan ke bahu kecilnya.

Ting... Nong... Ning... Nung...

Tiba-tiba, suara bel sekolah berbunyi. Tapi bukan bel tanda masuk.

Itu nada pembuka pengeras suara sentral (speaker).

Suara feedback mikrofon berdenging tajam memenuhi ruangan Lab Bahasa.

Nguuuinggggg.

Lian dan Kara reflek menutup telinga.

Lalu, sebuah suara bergema dari speaker di langit-langit.

Suaranya berat, berwibawa, tapi ada distorsi digital di ujungnya. Suara Kepala Sekolah.

"Panggilan ditujukan kepada Saudara Julian Pratama dari Kelas 3 IPS 1 dan Saudari Kara Anjani dari Kelas 2 Sosial 3..."

Lian dan Kara saling pandang. Jantung mereka berhenti berdetak sesaat.

"Kalian telah melanggar Protokol Narasi. Keberadaan kalian dideteksi sebagai Virus. Mohon segera menyerahkan diri ke Ruang Kontrol Utama di Lantai Dasar atau..."

Suara itu berubah menjadi glitch mengerikan, rendah dan serak seperti monster.

"...atau Protokol Pemusnahan Total akan diaktifkan dalam waktu 30 menit. Seluruh area sekolah akan dibakar. Sekian. Terima kasih dan Merdeka."

KLIK.

Hening kembali.

Lian melirik jam tangannya.

07:45 WIB.

Wajah Lian mengeras. Matanya berkilat marah.

"Dibakar..." gumamnya.

Ingatannya kembali ke timeline Kara di bab-bab awal (ide cerita: Rumi dan kebakaran sekolah).

Apakah setiap kali Loop gagal, sekolah ini dibakar untuk menghapus bukti?

"Kita harus apa, Kak?" bisik Kara ketakutan. "Kalau sekolah dibakar... kita mati beneran kan?"

Lian berdiri. Dia tidak lagi gemetar.

Ancaman itu justru memberikan satu hal yang dia butuhkan: Tujuan.

"Ruang Kontrol Utama," ulang Lian. "Gue nggak pernah tau sekolah ini punya Ruang Kontrol. Yang gue tau cuma Ruang Kepala Sekolah dan Ruang Server."

Lian mengulurkan tangannya pada Kara.

"Mereka mau perang? Oke, kita layanin."

"Kita ke Ruang Server. Gue rasa... itu pusat dari semua kaset kusut ini."

"Ra," Lian menatap Kara tajam. "Siap lari lagi?"

Kara menarik napas panjang, menyelipkan Walkman itu ke dalam branya (tempat paling aman yang bisa dia pikirkan), lalu menyambut tangan Lian.

"Siap, Kapten."

1
Adhiefhaz Fhatim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!