Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 21
Setelah syuting selesai, satu per satu anggota tim mulai meninggalkan lokasi, kembali ke rumah dan hotel masing-masing. Area yang tadinya ramai perlahan menjadi lengang. Lampu-lampu set dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari beberapa sudut ruangan.
Karin masih berada di sana.
Ia berdiri di depan meja kerjanya, merapikan barang-barangnya dengan gerakan yang tenang. Berkas-berkas naskah ia susun satu per satu—sebagian dimasukkan ke dalam laci, sebagian lagi ia masukkan ke dalam tas. Ia berniat membawanya pulang, ingin memeriksanya kembali. Barangkali ada bagian yang perlu diperbaiki, atau kalimat yang masih terasa kurang pas.
Saat semuanya hampir selesai, gerakannya terhenti.
Pandangan Karin terangkat, menyapu sekeliling ruangan tanpa benar-benar ia sadari. Seolah ia sedang mencari sesuatu—atau seseorang.
James.
Namun ruangan itu sudah kosong. Tak ada lagi suara langkah kaki, tak ada sosok yang ia cari. Hanya sisa-sisa aktivitas yang tertinggal, dan kesunyian yang perlahan turun.
Karin menarik napas pelan. Ia mengambil tasnya, lalu berjalan keluar dari lokasi syuting.
Kini ia berada di jalanan. Udara malam Inggris terasa sejuk, menyentuh kulitnya dengan lembut. Lampu-lampu kota menyala redup, dan langit terbentang luas di atas kepalanya.
Malam ini, Karin memutuskan untuk berjalan kaki pulang.
Hotel tempatnya menginap memang cukup jauh, tetapi ia tidak keberatan. Ia ingin menikmati udara malam, membiarkan pikirannya mengalir pelan, sambil sesekali menengadah—mencari bintang di langit Inggris.
Langkahnya pelan, namun mantap.
Seolah ia sedang memberi dirinya sendiri waktu.
Sementara itu, beberapa langkah di belakangnya, ternyata ada seseorang yang berjalan perlahan.
Ia menjaga jarak.
Cukup dekat untuk melihat, tapi cukup jauh untuk tidak disadari.
Orang itu memperhatikan punggung Karin dari kejauhan—cara langkahnya yang santai, bahunya yang sedikit terangkat saat udara malam terasa dingin, rambutnya yang sesekali tertiup angin.
Siapa lagi kalau bukan Arka.
Entah sejak kapan, beberapa hari terakhir ini, perhatiannya selalu tertarik pada Karin. Ia sendiri tidak benar-benar mengerti kenapa. Ia tidak pernah berniat mengikutinya. Tidak pernah merencanakan apa pun. Namun setiap kali melihat Karin berjalan menjauh, hatinya selalu melangkah lebih dulu.
Seperti malam ini.
Arka melihat bagaimana Karin sesekali menengadah, menatap langit, seolah mencari bintang di antara cahaya kota. Ia melihat Karin berhenti sebentar, mengambil sehelai daun yang jatuh di pinggir jalan, memainkannya di antara jemarinya sebelum akhirnya membiarkannya jatuh kembali.
Lalu Karin melemparkan tasnya sedikit ke udara—ceroboh, kekanak-kanakan—dan tertawa kecil saat menangkapnya lagi.
Arka tak sadar, sudut bibirnya ikut terangkat.
Ia tertawa pelan.
Bukan karena ada yang lucu—melainkan karena pemandangan itu terasa terlalu familiar, terlalu hangat.
Hanya dengan melihat punggung Karin saja, dadanya terasa ringan.
Dan untuk sesaat, ia lupa alasan mengapa mereka pernah berpisah.
Melihat Karin seperti itu, Arka tiba-tiba terhenti di tempatnya.
Ingatan itu datang begitu saja—tanpa aba-aba.
Ia teringat masa lalu.
Masa ketika semuanya masih sederhana.
Hari pertama ia bertemu Karin.
Saat itu, Arka adalah orang pertama yang diam-diam menyukai gadis itu. Perasaan yang tumbuh tanpa alasan besar—hanya karena Karin terlihat berbeda di matanya. Sejak hari itu, Arka sering berjalan beberapa langkah di belakang Karin setiap pagi, saat mereka berangkat ke sekolah.
Bukan untuk apa-apa.
Hanya untuk melihat.
Ia melihat cara Karin berjalan sambil menendang kerikil kecil di jalan. Cara ia sesekali berhenti hanya untuk memperhatikan sesuatu yang sepele. Cara tawanya muncul begitu saja, ringan, tanpa beban.
Arka tersenyum kecil mengingatnya.
Anak itu tidak pernah berubah, katanya dalam hati.
Ia terdiam sesaat, lalu mengoreksi pikirannya sendiri.
Bukan… gadis itu.
Gadis itu tidak pernah berubah.
Cara Karin menikmati hal-hal kecil, caranya hadir dengan dunia seolah semuanya baik-baik saja—semuanya masih sama. Seperti dulu. Seperti Karin yang pertama kali ia sukai.
Dan entah kenapa, menyadari hal itu justru membuat dada Arka terasa sedikit sesak.
Dan dada Arka semakin terasa sesak.
Dari kejauhan, ia melihat seorang pemuda—James—datang menghampiri Karin. Terlalu dekat. Terlalu tiba-tiba. Dengan gerakan yang begitu natural, James merangkul pundak Karin dengan ramah, seolah itu hal yang paling wajar di dunia.
Arka menahan napas.
Yang membuat dadanya semakin berat bukan hanya pelukan itu, tapi apa yang terjadi setelahnya.
Karin tidak menjauh.
Tidak kaku.
Tidak menolak.
Sebaliknya, ia malah merangkul balik pundak James.
Mereka berjalan berdampingan, langkah mereka selaras, tubuh mereka terlalu dekat untuk sekadar disebut rekan kerja. Dari kejauhan, mereka tampak seperti sepasang kekasih—pasangan yang sudah lama saling mengenal, saling memahami, dan merasa nyaman satu sama lain.
Arka menggenggam tangannya sendiri.
Ia tahu betul seperti apa Karin dulu. Karin bukan tipe orang yang mudah dekat dengan siapa pun. Terlebih dengan orang asing. Karin selalu menjaga jarak—bahkan pada orang-orang yang menyukainya.
Tapi yang ia lihat malam ini… berbeda.
Dan perlahan, Arka menyadari sesuatu yang membuat dadanya semakin sakit.
Karin telah berubah.
Dalam waktu satu tahun saja, gadis itu ternyata sudah benar-benar berubah. Bukan hanya caranya berjalan, caranya tersenyum, atau caranya tertawa—tetapi caranya membiarkan seseorang masuk ke ruang pribadinya.
Arka tidak mengejar.
Tidak memanggil.
Tidak melakukan apa-apa.
Ia hanya berdiri di sana, memperhatikan Karin dan James berjalan semakin jauh, hingga siluet mereka perlahan ditelan gelapnya malam.
Dan untuk pertama kalinya, Arka benar-benar merasa—
ia telah tertinggal.
James dan Karin akhirnya tiba di hotel.
Sejak awal Karin sudah menolak. Ia mengatakan bisa pulang sendiri. Tapi James bersikeras—berisik, keras kepala, dan sama sekali tidak mau mendengar alasan Karin. Dan entah sejak kapan, Karin membiarkannya.
Kini mereka berdiri di depan pintu hotel Karin.
Karin menoleh, menatap James dengan senyum tipis.
“Thank you for walking me home, Mr. Music Producer.”
(Terima kasih sudah mengantar aku pulang, Tuan Produser Musik.)
James langsung tersenyum lebar. Cara Karin menyebut profesinya terdengar seperti pujian—dan jelas ia menikmatinya. Ia membungkuk sedikit, berlebihan, seperti aktor di atas panggung.
“You’re welcome.”
(Sama-sama.)
Karin tertawa melihat tingkahnya. James ikut tertawa. Suara tawa mereka terdengar ringan, menggema pelan di udara malam yang dingin. Sejenak, rasanya dunia di sekitar mereka berhenti—seolah hanya ada tawa itu.
James memandang Karin, lalu berkata dengan nada yang lebih tenang,
“It’s really nice to see you again, Karin.”
(Senang bertemu denganmu lagi, Karin.)
Kalimat itu sudah dua kali ia ucapkan malam ini.
Karin mengangguk kecil.
“Yeah… it’s nice to see you too.”
(Iya… senang juga bertemu denganmu.)
Ia lalu menambahkan, jujur,
“I still can’t believe you’re a producer.”
(Aku masih tidak menyangka kamu seorang produser.)
Karin menatap James.
“Back in Jeju, you never told me that.”
(Waktu di Jeju, kamu tidak pernah cerita kalau kamu seorang produser.)
James menyandarkan punggungnya ke dinding hotel, santai. Tatapannya tertuju pada langit sebentar, lalu kembali ke Karin.
“You never asked.”
(Kamu tidak pernah bertanya.)
Ia tersenyum tipis.
“So I didn’t think I had to tell you.”
(Jadi aku tidak merasa perlu memberitahumu.)
Karin menaikkan alis, lalu ikut menyandarkan tubuhnya di dinding, tepat di samping James.
“Is being a producer not important to you?”
(Emangnya jadi produser tidak penting buat kamu?)
James tertawa kecil, pelan.
“It used to be.”
(Dulu, iya.)
Ia menoleh ke Karin.
“I didn’t like it at first. I forced myself.”
(Aku tidak suka jadi produser awalnya. Aku memaksakan diri.)
Lalu suaranya sedikit berubah—lebih jujur.
“But then I met a girl.”
(Tapi kemudian aku bertemu seorang gadis.)
Karin menatapnya.
“An Indonesian girl.”
(Gadis Indonesia.)
James melanjutkan tanpa tergesa.
“I met her at a concert. Then in Jeju.”
(Aku bertemu dia di konser. Lalu di Pulau Jeju.)
Ia tersenyum.
“And somehow, she made me want to succeed.”
(Dan entah kenapa, dia membuatku ingin berhasil.)
James menegakkan tubuhnya.
“That’s why I’m here. In England.”
(Itulah kenapa aku sekarang ada di Inggris.)
Ia menatap Karin lurus.
“I really loved that girl.”
(Aku sangat mencintai gadis itu.)
Karin terdiam sejenak. Lalu ia menepuk bahu James pelan.
“Stop it.”
(Hentikan.)
Nada suaranya setengah tertawa, setengah gugup.
“You’re joking, right?”
(Kamu bercanda, kan?)
James mengernyitkan dahi pura-pura bingung.
“Why do you always think I’m joking?”
(Kenapa kamu selalu menganggap aku bercanda?)
Namun ketika ia melihat Karin menatapnya serius, James justru tertawa keras.
“Okay, okay.”
(Oke, oke.)
“I’m joking.”
(Aku bercanda.)
Ia melirik jam tangannya.
“It’s late. You should go inside.”
(Sudah malam. Masuklah.)
James melangkah mundur satu langkah, lalu berkata ringan,
“We’ll see each other tomorrow.”
(Kita akan bertemu lagi besok.)
Ia menambahkan dengan nada bercanda, sengaja menggoda,
“Or… should I stay in your hotel tonight?”
(Atau… aku tidur di hotelmu saja?)
Karin langsung memukul pelan lengannya.
“Enough.”
(Cukup.)
“Go home.”
(Sana pulang.)
James tertawa sambil mundur. Mereka masih saling melempar candaan, sampai akhirnya James berbalik.
Namun langkahnya berhenti tepat di samping pintu hotel sebelah.
“By the way,” katanya santai.
“this is my hotel.”
(Ngomong-ngomong, ini hotelku.)
Karin terkejut. Matanya melebar.
“You walked me home because you were going home too?”
(Jadi kamu mengantar aku pulang karena kamu juga mau pulang?)
James tertawa puas.
“Why would I walk you far?”
(Ngapain aku mengantar kamu jauh-jauh?)
“My hotel is right here.”
(Hotelku ada di sini.)
Nada bercandanya sukses membuat Karin kesal.
James masuk ke hotelnya sambil tertawa kecil, jelas menikmati ekspresi Karin.
Sementara Karin berdiri beberapa detik di depan pintu hotelnya sendiri—kesal, tapi tanpa sadar… tersenyum.
Karin kini lebih sering tertawa dan tersenyum. Di tengah hari-harinya yang sibuk, ada satu hal yang diam-diam memberi warna—kembalinya seorang pemuda bernama James ke dalam hidupnya, membawa kehangatan yang sempat ia lupakan.