Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Jejak Sang Predator
Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah-celah jendela kayu yang lapuk di rumah Lunaris. Debu-debu halus menari di udara, tersorot cahaya yang menyilaukan. Di luar, suara pedagang sayur keliling dan deru motor tetangga sudah mulai terdengar, menandakan dimulainya kehidupan warga pinggiran kota.
Lunaris menggeliat di atas tempat tidur kecil miliknya. Sekujur tubuhnya masih terasa remuk redam akibat kejadian beberapa hari terakhir, namun ia memaksakan diri untuk bangun.
Lunaris harus mandi, bersiap, dan mencoba menata kembali kewarasannya yang nyaris hilang.
Gadis itu keluar dari kamarnya dengan mata setengah tertutup, menguap lebar sambil menggaruk rambutnya yang berantakan bak sarang burung. Tangannya membawa handuk kusam yang sudah pudar warnanya.
"Hooaam... Satu lagi pagi yang menyebalkan datang..." Gumamnya pelan.
Lunaris hendak berjalan menuju area dapur kecil yang merangkap jalan menuju kamar mandi. Namun, langkahnya mendadak terhenti.
Mata Lunaris yang tadi setengah terpejam kini membelalak sempurna. Kantuknya menguap tak berbekas dalam sepersekian detik.
Ia mendongak ke atas, menatap langit-langit ruang tamu. Di sana, tepat di balok kayu penyangga atap, Sirius sedang tidur.
Bukan tidur bersandar, bukan pula tidur melayang secara elegan. Pemuda yang malam kemarin berlagak seperti penguasa dunia itu kini menggantung terbalik dengan kedua kakinya mengait pada balok kayu, persis seperti kelelawar raksasa yang sedang beristirahat di dalam gua. Kedua lengannya disilangkan di depan dada, dan wajah tampannya tampak sangat kusut.
Lunaris mengucek matanya dengan keras. "Gue pasti masih mimpi," Gumamnya tak percaya sembari menampar pelan kedua pipinya.
Namun saat ia membuka mata, iblis kuno bermata perak itu masih ada di sana, menggantung dengan jaket bomber-nya yang melorot ke bawah menutupi separuh wajahnya.
"Ngapain lo di atas situ?!" Pekik Lunaris, memecah keheningan pagi.
Mata Sirius terbuka perlahan. Sorot matanya sangat tajam, penuh dengan kekesalan yang mendalam dan gurat kelelahan yang nyata —yang jujur saja tidak pernah Lunaris bayangkan akan dia lihat dari sorot mata perak kelam itu. Ia menatap Lunaris dengan tatapan datar yang membunuh.
"Menurutmu apa yang sedang kulakukan, Manusia?" suara Sirius terdengar serak dan berat. "Aku sedang menghindari teror dari makhluk paling menjijikkan yang pernah diciptakan oleh alam semesta ini."
Lunaris mengernyitkan dahi. "Teror? Teror makhluk apa?"
"Makhluk menjijikan!"
"Ha? Maksudnya?"
Melihat Lunaris yang menampilkan wajah bodoh membuat Sirius menghela nafas panjang.
"Semalam..." Sirius memulai ceritanya dengan nada penuh penekanan, seolah ia sedang menceritakan tragedi perang besar berdarah. "...setelah kau meninggalkanku di ruangan yang kau sebut 'ruang tamu' ini, aku berusaha memejamkan mata di atas sofa yang isinya seperti gumpalan batu itu."
Flashback
Pukul 02.00 dini hari.
Sirius membaringkan tubuhnya di sofa. Ia baru saja akan menyelami ketenangan, ketika telinganya yang tajam menangkap suara gesekan pelan dari sudut ruangan. Srek... srek... srek...
Sirius membuka mata. Dengan penglihatannya yang mampu menembus kegelapan malam, ia melihatnya. Seekor serangga berwarna cokelat mengkilap, seukuran ibu jari, dengan sepasang antena panjang yang bergerak-gerak gelisah.
"Apa itu?"
Makhluk itu merayap dengan kecepatan tak terduga di atas lantai semen yang retak.
"Berani sekali makhluk rendahan sepertimu mengganggu tidurku," Sirius mendengus remeh. Ia memancarkan sedikit aura intimidasi penakluk jiwanya, berharap serangga rendahan itu akan mati ketakutan atau setidaknya menyingkir.
Tapi kecoa itu tidak peduli pada aura iblis kuno. Kecoa tidak punya jiwa untuk ditaklukkan. Makhluk itu justru merayap semakin berani mendekati kaki sofa.
Sirius duduk, menatap makhluk itu dengan tatapan tajam dan jijik. "Menjauh dari wilayahku, Serangga, atau aku tidak segan membinasakanmu!" ancam Sirius pelan.
Seolah menantang, kecoa itu berhenti. Antenanya bergerak liar. Dan kemudian, hal yang paling tidak masuk akal terjadi. Cangkang cokelatnya terbuka. Sayap transparan muncul dari balik punggungnya.
BZZZZT!
Tiba-tiba kecoa itu terbang! Terbang dengan lintasan zig-zag yang sepenuhnya tidak bisa diprediksi, langsung mengarah ke wajah Sirius.
Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, jantung Sirius mencelus —yang sebenarnya jantung itu sudah tidak berfungsi. Matanya membelalak horor. Ia memiringkan kepalanya dengan kecepatan kilat, menghindari serangan tersebut.
Makhluk itu menabrak dinding, lalu jatuh ke balik lemari tua. Hilang dari pandangan.
Sirius berdiri kaku. Suasana menjadi hening. Tidak ada suara apa pun.
Dan justru itulah teror yang sesungguhnya. Kalau makhluk menjijikkan itu terlihat, Sirius masih bisa menghindar. Tapi ketika makhluk bersayap itu hilang dari pandangan, bersembunyi di kegelapan, rasa was-was menyergap sang monster.
"Di mana dia? Apakah dia akan terbang ke rambutnya? Apakah dia sedang merayap di bawah kakinya?"
Merasa harga dirinya terancam (dan sejujurnya, merasa sangat jijik), Sirius akhirnya menjejakkan kakinya ke udara, melompat ke atas, dan mengaitkan kakinya di balok kayu.
Bertahan di atas sana sepanjang sisa malam, menatap waspada ke arah lantai layaknya penjaga pos menara.
Flashback end
"...dan sejak saat itu, aku memutuskan bahwa daratan rumahmu sudah tidak aman untuk ditinggali," Tutup Sirius dengan wajah serius, seolah ia baru saja memberikan laporan intelijen tingkat tinggi.
Lunaris melongo. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha mencerna rentetan informasi barusan.
"Tunggu, tunggu," Lunaris mengangkat sebelah tangannya. "Biar gue perjelas. Lo... makhluk dari mitos, entitas kuno yang punya wujud asli campuran vampir dan serigala jadi-jadian, yang bisa denger suara hati orang, bahkan memiliki kekuatan yang katanya sangat hebat itu... lo takut sama kecoa?!"
"Aku tidak takut!" Bantah Sirius cepat, meski suaranya sedikit meninggi tanda defensif. "Aku hanya... tidak mentoleransi keberadaan makhluk tidak higienis yang bergerak melawan hukum gravitasi dan logika!"
Tawa Lunaris meledak. Ia tidak bisa menahannya. Tawanya begitu keras sampai ia harus memegangi perutnya yang kram. Rentetan kejadian ini terlalu konyol. Pangeran kegelapan yang dikiranya akan mencabut nyawanya kapan saja, ternyata dibuat mati kutu oleh seekor kecoa terbang.
"Berhenti tertawa, gadis bodoh Ini bukan lelucon!" Geram Sirius dari atas, wajahnya sedikit memerah karena gengsinya terkoyak habis-habisan. "Dan jangan lupakan satu hal lagi yang membuat malamku di istana gubukmu ini terasa seperti neraka. Gagak!"
Tawa Lunaris mereda perlahan, digantikan oleh kerutan bingung di dahinya. "Gagak? Gagak apaan?"
"Telingaku ini bisa mendengar jarum jatuh dari jarak satu mil," Sungut Sirius dengan raut wajah sangat menderita. "Semalaman penuh, kawanan burung hitam sialan itu terus-menerus berteriak bersahut-sahutan di sekitar sini. Suara gagak-gagak itu sangat melengking itu seperti paduan suara kematian yang menembus gendang telingaku tanpa henti. Bagaimana bisa kau tidur senyenyak orang mati di tengah kebisingan mengerikan seperti itu?"
Lunaris terdiam, wajahnya berubah pias sesaat. Ia menatap Sirius dengan pandangan aneh.
"Sirius... lo ngigo ya?" Ucap Lunaris pelan. "Gue semalem gak denger suara burung apa-apa. Lagian, ini area pemukiman padat. Mana ada burung gagak berkeliaran dan teriak-teriak di sini? Mentok-mentok juga suara kucing kawin di atap."
Sirius mengerutkan keningnya dalam-dalam. "Kau tidak mendengarnya? Mustahil. Suara mereka begitu nyaring dan dipenuhi oleh aroma kematian." Pemuda itu menatap Lunaris lurus-lurus, mencoba mencari kebohongan di mata gadis itu, namun ia hanya menemukan kebingungan murni.
"Ya walaupun emang sebenarnya beberapa hari ini, sering ada burung itu beterbangan di sekitar rumah. Tapi sebanyak yang lo bilang gak ada." Lunaris mengingat kembali jika memang kerap ada burung-burung gagak yang berterbangan beberapa hari terakhir.
Apalagi saat penemuan mayat wanita di dekat sungai khanzaz, sebelum jasad ibunya juga ditemukan di sana.
Memang beberapa burung gagak tampak terlihat berkeliaran di dekat Lunaris.
Menarik, batin Sirius, jadi hanya aku yang mendengarnya semalam. Sesuatu yang gelap sedang berpesta di dekat sini.
"Udahlah, lo pasti halusinasi gara-gara kecapean gelantungan," sahut Lunaris tak acuh, mengibaskan tangannya. "Sekarang buruan lo turun. Kecoanya juga pasti udah kabur keluar cari makan."
"Tidak mau. Aku melihatnya merayap di dekat kaki meja lima menit yang lalu," Tolak Sirius keras kepala. Ia melipat tangannya semakin erat di dada.
Lunaris mendesah kasar. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar lantai. Benar saja, dari balik bayangan kaki meja, makhluk cokelat itu merayap keluar. Antenanya bergerak-gerak mencari sisa makanan.
Kecoa itu merayap santai, berbelok ke arah kaki Lunaris.
Dari atas langit-langit, Sirius menatap makhluk itu dengan ngeri. Ia sudah bersiap melihat Lunaris menjerit ketakutan atau melompat naik ke atas kursi seperti manusia normal pada umumnya.
Tapi apa yang dilakukan Lunaris sungguh di luar dugaan.
Gadis itu hanya menunduk dengan wajah tanpa ekspresi, mengangkat kaki kanannya yang memakai sandal jepit karet warna hijau, lalu dengan gerakan cepat, mantap, dan tanpa ampun...
KRAK! SREEEK.
Lunaris menginjak kecoa itu tepat di tengah badannya. Suara cangkang yang remuk terdengar renyah di udara pagi. Tidak cukup sampai di situ, Lunaris memutar sedikit ujung sandalnya untuk memastikan makhluk itu benar-benar hancur dan rata dengan tanah.
Setelah membinasakan teror malam itu, Lunaris mendongak menatap Sirius dengan wajah santai.
"Tuh, udah mati. Turun sekarang," Perintahnya santai.
Rahang Sirius nyaris jatuh ke lantai. Ia melongo menatap noda kecokelatan di bawah sandal Lunaris, lalu menatap wajah gadis itu bergantian. Tidak ada rasa jijik, tidak ada jeritan. Gadis itu melakukannya seolah ia baru saja membuang bungkus permen.
"Kau..." Sirius menelan ludah, menatap Lunaris dengan pandangan penuh penilaian baru. "Kau memanggilku monster... tapi kau membunuh makhluk sekecil itu dengan telapak kakimu sendiri? Tanpa ragu? Tanpa perasaan? Kau menggilasnya hingga tak berbentuk seolah dia tidak berharga?"
"Ya terus gue harus ngapain? Ngajak dia ngopi dulu?!" balas Lunaris mulai emosi.
"Lagian dia cuma kecoa! Udah ah, lo bersihin lantainya, gue mau mandi. Kalo lo masih gak mau turun, sekalian aja lo jadi lampu gantung di situ selamanya!"
Lunaris melenggang pergi menuju kamar mandi, meninggalkan Sirius yang masih menggantung dengan mulut sedikit terbuka.
Kemudian Sirius turun dari langit-langit dengan gerakan ringan, mendarat mulus di lantai, menghindari jarak satu meter dari area eksekusi barusan.
Sang iblis kuno itu menatap sisa-sisa jasad kecoa di lantai, merenungi kenyataan bahwa manusia terkadang bisa jauh lebih tidak berperikemanusiaan daripada iblis itu sendiri.
.
.
.
Pita kuning bertuliskan POLICE LINE DO NOT CROSS membentang panjang, mengelilingi area semak belukar di dekat pohon beringin tua.
Suara sirine dari tiga mobil patroli yang diparkir sembarangan di tepi jalan raya memecah ketenangan pagi, menarik perhatian warga yang melintas untuk berkerumun di kejauhan.
Di tengah hiruk-pikuk petugas yang sibuk mengambil foto dan memasang marker bukti, berdiri seorang pria jangkung dengan trench coat hitam yang tampak kontras dengan seragam para petugas berseragam.
Namanya Lucas Gilbert. Kepala Detektif Kepolisian Distrik Barat yang baru berusia akhir dua puluhan.
Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan hidung mancung, namun kantung mata yang menghitam di bawah matanya menceritakan kisah tentang tidur yang dirampas selama berbulan-bulan. Tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks memegang sebuah buku catatan kecil, sementara matanya yang tajam menyapu setiap inci tempat kejadian perkara (TKP).
Ini bukan TKP pertamanya di Sungai Khanzaz. Ini adalah yang ketiga belas dalam enam bulan terakhir. Dan yang ketiga dalam minggu ini.
"Sialan," Umpat Lucas pelan, mengusap wajahnya dengan kasar.
Kota ini sedang dilanda teror pembunuh berantai, dan pihak kepolisian berada di bawah tekanan luar biasa dari Wali Kota. Publik mulai resah. Media massa terus menyudutkan divisinya, menuduh mereka tidak kompeten.
Bagaimana Lucas bisa kompeten jika tidak ada satu pun bukti logis yang bisa ia temukan?
Awalnya, saat mayat pertama ditemukan enam bulan lalu, profil kasusnya disimpulkan sebagai perampokan yang berujung pembunuhan. Tapi analisis itu segera rontok. Setiap korban —yang semuanya adalah wanita dari berbagai rentang usia dan profesi— ditemukan dengan barang berharga yang utuh. Perhiasan, ponsel, dompet, semuanya masih ada di TKP.
Lalu, muncul teori pembunuhan bermotif dendam atau asmara. Tapi tidak ada benang merah di antara para korban. Ada yang mahasiswi, ada yang ibu rumah tangga, dan kali ini... Lucas melirik ke arah ID card yang ditemukan di dekat tas korban. Seorang pekerja pabrik bernama Maria.
Namun, hal yang paling membuat Lucas dan tim forensik frustrasi hingga mau gila adalah kondisi jasad para korban.
Tubuh mereka selalu ditemukan dalam kondisi mengering. Kulit mereka pucat pasi, menempel ketat pada tulang. Tidak ada genangan darah di sekitar lokasi. Bahkan saat diotopsi, pembuluh darah para korban nyaris kosong melompong. Seolah-olah seluruh cairan kehidupan mereka telah disedot keluar menggunakan mesin pompa canggih.
"Pak Gilbert."
Panggilan itu membuyarkan lamunan sang detektif. Seorang petugas forensik berpakaian APD lengkap berjalan menghampirinya dari arah jasad korban yang ditutupi tenda kecil.
"Ada apa, Anton? Kau menemukan senjata pembunuhnya? Suntikan besar? Pompa darah?" tanya Lucas dengan nada sarkas yang lahir dari rasa putus asa.
Anton menggeleng pelan, wajahnya terlihat pucat di balik maskernya. "Bukan, Pak. Anda harus melihat ini sendiri. Ada sesuatu yang... ganjil di tubuh korban kali ini. Sesuatu yang luput dari pengamatan awal di korban-korban sebelumnya, atau mungkin pelakunya mulai ceroboh."
Lucas mengerutkan dahi. Ia segera melangkah lebar, mengikuti Anton memasuki area tenda forensik.
Di atas alas terpal biru, jasad Ibu Maria terbaring kaku. Matanya masih terbuka lebar, membeku dalam ekspresi horor dan keputusasaan yang absolut, seolah hal terakhir yang dilihatnya adalah perwujudan dari iblis itu sendiri.
Lucas berjongkok di samping jasad itu. "Apa yang aneh?"
"Di bagian leher, Pak. Sebelah kanan, tepat di atas arteri karotis." Anton menyorotkan senter khusus bernuansa kebiruan ke arah leher korban.
Lucas mencondongkan tubuhnya, memicingkan mata.
Di sana, di atas kulit yang sepucat kertas, terdapat dua lubang kecil yang menganga. Luka itu bersih, tepiannya melesak ke dalam, menandakan adanya tusukan benda tajam dan runcing yang menembus kulit dengan kekuatan penuh. Jarak antara kedua lubang itu presisi, sekitar tiga sentimeter.
"Bekas gigitan?" gumam Lucas, lebih kepada dirinya sendiri. "Binatang buas? Ular berbisa?"
"Ular berbisa tidak menyedot lima liter darah dari manusia dewasa dalam hitungan menit, Pak," jawab Anton logis. "Dan kalau ini gigitan serangga atau hewan kecil, lubangnya terlalu besar dan terlalu dalam. Ini menembus langsung ke pembuluh darah utama."
Lucas terdiam. Pikirannya berpacu keras, memilah-milah data kriminal yang pernah ia pelajari di akademi kepolisian hingga studi kasus internasional. Alat apa yang bisa membuat dua luka tusuk simetris seperti ini dan menyedot darah? Sebuah alat medis khusus? Modifikasi taring besi dari seorang psikopat yang terobsesi pada...
Deg.
Jantung Lucas berdetak lebih cepat saat sebuah kata terlintas begitu saja di kepalanya. Sebuah kata yang sering ia dengar dari dongeng pengantar tidur atau film horor kelas B.
Vampir.
Suasana di dalam tenda itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Lucas menatap dua lubang di leher Ibu Maria itu dengan perasaan merinding yang perlahan menjalar ke tengkuknya. Motif tanpa perampokan, korban yang kehabisan darah, luka tusukan kembar di leher arteri... itu semua adalah ciri khas dari makhluk penghisap darah dalam mitologi kuno.
Mungkinkah...?
Lucas buru-buru memejamkan matanya rapat-rapat, lalu menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia menepis pikiran absurd itu jauh-jauh.
Jangan konyol, Lucas, rutuknya dalam hati, memarahi dirinya sendiri atas hilangnya rasionalitasnya. Ini dunia nyata. Ini abad dua puluh satu. Tidak ada monster terbang, tidak ada manusia serigala, dan pastinya tidak ada vampir berkeliaran di kotamu.
Ia menghela napas panjang, mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi detektif profesional yang hanya percaya pada bukti empiris.
"Ini pasti ulah pembunuh berantai yang sangat terorganisir dan memiliki fetish aneh terhadap darah," kata Lucas tegas, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri. "Dia menggunakan senjata modifikasi. Mungkin semacam alat suntik ganda dengan tabung vakum. Sisir radius lima kilometer dari sini! Cari jejak ban, cari saksi mata. Pembunuh berdarah dingin ini tidak mungkin terbang ke langit setelah menyedot darah korbannya. Dia pasti meninggalkan jejak!"
Meski ia meneriakkan perintah itu dengan suara lantang yang menggema di area sungai, di sudut hatinya yang terdalam, bayangan tentang makhluk mitos itu menolak untuk pergi, tertanam seperti duri di tengah kebuntuan kasus ini.
lunaris ini tipe keras, bagus lah cewek2 begini untuk karakter fantasy. saya kasiab sama ibunya lunaris yg mungkin terlalu lembut. aaron itu kayak gimana ya? penasaran juga
berharap, sekali update itu langsung 3 atau 4 bab gt lho
walau sebagian tentang kilas balik...
segera lanjut kakak, kalau perlu langsung 5 bab🤭🤭🤭