Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Topeng yang Sempurna
Aaron mencengkeram setir mobilnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Mobil Jeep Rubicon itu melaju membelah jalanan kota yang mulai temaram, namun kecepatan tinggi itu tidak mampu meredam suara-suara yang berdengung di kepalanya.
"Kau tidak akan bisa menipu semua orang, Aaron... Cepat atau lambat, semua orang akan tahu apa yang telah kau lakukan."
Kalimat itu. Bisikan dingin yang terdengar seperti kutukan dari pemuda asing bernama Sirius itu terus berulang di benaknya seperti kaset rusak.
"Sialan!" Umpat Aaron, memukul setir dengan keras.
Apa maksudnya? Apa yang dia tahu? Aaron menggelengkan kepalanya kasar, berusaha mengusir rasa paranoid yang mulai merayap naik ke tenggorokannya. Dia tidak kenal siapa pemuda itu. Tidak mungkin orang asing yang baru muncul entah dari mana yang seolah tahu tentang Aaron hingga kedalam setiap sel tubuh Aaron.
"Dia cuma orang gila," Gumam Aaron pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan logikanya yang goyah. "Dia pasti asal ngomong yang enggak-enggak. Iya, pasti cuma itu. Gak usah dipikirin, Aaron. Lo aman. Rahasia lo aman."
Meski mulutnya berkata demikian, detak jantungnya yang tidak beraturan mengkhianati ketenangannya. Bayangan mata perak Sirius yang berkilat seolah mampu menelanjangi jiwanya masih menghantui.
Dengan napas yang masih memburu, Aaron membelokkan mobilnya memasuki gerbang tinggi sebuah rumah mewah di kawasan elit kota. Rumah keluarga Luxe. Bangunan megah bergaya klasik itu berdiri kokoh, memancarkan aura kekayaan dan kekuasaan yang selama ini melingkupi hidup Aaron.
Aaron memarkirkan mobilnya asal-asalan di halaman depan, lalu keluar dengan langkah gontai. Ia lelah. Fisiknya lelah setelah dua hari mencari Lunaris tanpa henti, dan mentalnya terkuras habis setelah konfrontasi di toko bunga tadi. Yang ia inginkan sekarang hanyalah masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan tidur sampai besok pagi.
Namun, harapan tinggal harapan.
Begitu Aaron membuka pintu utama yang berat, suara tawa renyah langsung menyambut telinganya. Suara tawa ibunya, Nyonya Dimitri, yang terdengar begitu riang, bercampur dengan suara lembut seorang gadis muda.
Aaron mengerutkan kening. Tamu? Di jam segini?
Ia melangkah masuk ke ruang tamu yang diterangi lampu kristal gantung yang mewah. Di sana, duduk di sofa beludru merah marun, ibunya sedang berbincang akrab dengan seseorang.
Seorang gadis yang mengenakan gaun selutut berwarna peach yang manis, dan memamerkan senyum sopan yang sangat terlatih.
Bracia.
Langkah Aaron terhenti mendadak. Rasa lelahnya seketika berubah menjadi kejengkelan yang memuncak.
"Ah! Itu dia pangeran kita!" Nyonya Dimitri berseru riang begitu melihat putranya berdiri di ambang pintu. Wanita paruh baya yang selalu tampil elegan dengan perhiasan berlian itu segera bangkit dan menghampiri Aaron. "Aaron, sayang, kamu dari mana saja? Ponselmu susah sekali dihubungi. Lihat siapa yang sudah menunggumu dari tadi."
Nyonya Dimitri menunjuk ke arah sofa dengan bangga. "Bracia sudah di sini hampir satu jam, lho. Dia membawakan kue cheese tart kesukaan ibu. Kalian memang pasangan yang serasi, sama-sama punya selera bagus."
Bracia berdiri dengan anggun, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, lalu tersenyum manis—senyum yang bagi orang awam terlihat seperti malaikat, tapi bagi Aaron terlihat seperti topeng plastik yang retak.
"Hai, Aaron. Kamu baru pulang?" Sapa Bracia lembut.
Aaron menatap ibunya, lalu beralih menatap Bracia dengan pandangan dingin yang tak ditutup-tutupi. "Ngapain dia di sini, Ma?"
Senyum Nyonya Dimitri sedikit memudar mendengar nada bicara putranya yang ketus. "Aaron, jaga sopan santunmu. Dia tunanganmu, tentu saja dia berhak ada di sini. Sudah, Mama tinggal dulu ke dapur sebentar ya, mau minta pelayan siapkan teh baru. Kalian mengobrol lah."
Tanpa menunggu jawaban Aaron, Nyonya Dimitri menepuk bahu putranya pelan lalu berlalu pergi, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang canggung.
Begitu sosok ibunya menghilang di balik pintu koridor, bahu Aaron merosot. Ia tidak punya energi untuk berbasa-basi. Ia berjalan melewati Bracia menuju tangga, berniat mengabaikan gadis itu sepenuhnya.
"Aaron, tunggu!"
Bracia segera menghadang langkahnya. Senyum manis tadi sudah lenyap, digantikan ekspresi terluka yang dibuat-buat. "Kamu kenapa sih? Aku datang jauh-jauh ke sini buat ketemu kamu, tapi kamu malah nyuekin aku kayak gini?"
Aaron menghela napas kasar, memijat pelipisnya yang berdenyut. "Gue capek, Bracia. Gue gak punya waktu buat drama lo hari ini. Mending lo pulang."
"Drama?!" suara Bracia meninggi satu oktaf. Matanya mulai berkaca-kaca—air mata buaya yang sudah sering ia gunakan untuk memanipulasi guru dan orang tua. "Kamu yang drama, Aaron! Kamu gak ada kabar dua hari ini. Kamu gak bales pesan aku. Dan yang paling parah, kemarin kamu nuduh aku macem-macem soal hilangnya si cewek miskin itu!"
Bracia melangkah maju, menatap Aaron dengan tatapan menuntut. "Kamu nuduh aku nyakitin dia padahal gak ada buktinya sama sekali. Kamu ngancem bakal bikin aku nyesel kalau sampai Lunaris kenapa-napa. Harusnya kamu minta maaf sama aku gara-gara udah nuduh aku sembarangan, Aaron! Tuduhan kamu itu nyakitin hati aku gak!"
Aaron menatap Bracia datar. Ia melihat gadis di depannya ini—cantik, kaya, populer, tapi hatinya busuk. Aaron tahu betul sifat asli Bracia di balik wajah polosnya.
"Minta maaf?" Aaron tertawa hambar, tawa yang kering tanpa humor. "Bracia, lo pikir gue bego? Gue emang gak punya bukti fisik sekarang, tapi gue tau lo terlibat. Semua orang jelas bilang kalo terakhir lo sama temen-temen lo yang bawa Lunaris."
Wajah Bracia memucat sedikit, tapi ia segera menutupinya dengan ekspresi tersinggung. "Jahat banget kamu... Terus aja kamu nuduh aku."
"Gue gak peduli lo mau bilang gue jahat atau apa," potong Aaron tajam. "Denger ya, pertunangan ini cuma keinginan orang tua kita. Di mata gue, kita gak pernah ada hubungan apa-apa. Jadi stop bersikap seolah lo korban di sini."
Aaron menatap tajam tepat ke manik mata Bracia. "Dan satu lagi. Kalau sampai gue tau lo beneran nyentuh Lunaris sedikit aja sebelum dia ilang kemarin... gue gak akan segan-segan ancurin reputasi lo dan keluarga lo. Camkan itu." Ucap Aaron sambil menatap dalam mata Bracia, hingga membuat gadis itu untuk seperkian detik seperti orang linglung.
Setelah mengucapkan ancaman itu, Aaron berbalik dan menaiki tangga dua langkah sekaligus, meninggalkan Bracia yang mematung di tengah ruang tamu mewah itu.
"Aaron! AARON!" Teriak Bracia setelahnya, tapi pemuda itu tidak menoleh lagi. Pintu kamar di lantai atas terbanting keras, menjadi jawaban final atas penolakannya.
Bracia berdiri gemetar. Bukan karena takut, tapi karena amarah yang meledak-ledak.
Hatinya hancur. Harga dirinya sebagai primadona sekolah, sebagai putri tunggal keluarga kaya, baru saja diinjak-injak oleh tunangannya sendiri demi seorang gadis yatim piatu yang miskin dan kotor.
"Kurang ajar..." Desis Bracia. Air mata palsunya mengering seketika, digantikan oleh sorot mata penuh kebencian yang murni.
Ia menyambar tas branded-nya dari sofa, lalu berjalan keluar rumah tanpa pamit pada Nyonya Dimitri. Ia tidak peduli lagi dengan sopan santun. Pikirannya dipenuhi kabut merah amarah.
Bracia masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu dengan keras. Ia mencengkeram setir, napasnya memburu.
"Ini semua gara-gara Lunaris," Gumamnya, suaranya bergetar menahan tangis kemarahan. "Gara-gara cewek sampah itu, Aaron jadi benci sama gue. Gara-gara dia, Aaron gak pernah liat gue. Dia pikir dia siapa? Cuma sampah yangterlalu beruntung karena dapet perhatian dari Aaron!"
Bracia merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel pintarnya yang mahal. Layar menyala, menampilkan wallpaper fotonya bersama Aaron yang diambil paksa saat acara keluarga—di mana Aaron bahkan tidak tersenyum.
Jari Bracia dengan lincah membuka galeri tersembunyi yang diamankan dengan kata sandi.
Di sana, ada sebuah folder bernama "Trash".
Bracia membuka folder itu. Isinya hanya satu video. Video berdurasi tiga menit yang direkam dua hari lalu di toilet bekas gedung lama sekolah.
Senyum mengerikan perlahan terbit di bibir Bracia yang dipulas lipstik merah muda.
Ia memutar video itu.
Di layar, terlihat tubuh Lunaris yang meringkuk di lantai toilet yang kotor, bajunya robek-robek, rambutnya acak-acakan. Gadis itu menangis, memohon untuk berhenti. Namun, video itu sudah diedit sedemikian rupa.
Bracia telah memotong bagian di mana dia dan teman-temannya menyiksa Lunaris. Ia juga memotong bagian di mana lima siswa laki-laki itu memaksa Lunaris.
Yang tersisa di video itu hanyalah potongan-potongan adegan yang ambigu. Angle kamera yang diambil Bracia sangat licik. Di video itu, Lunaris terlihat seolah sedang "menikmati" sentuhan para siswa laki-laki itu. Suara tangisan Lunaris yang memohon "jangan" diedit dan diperkecil volumenya sehingga terdengar seperti desahan tertahan. Wajah para pelaku laki-laki diburamkan total, sementara wajah Lunaris yang basah oleh keringat dan air mata di-zoom in dengan jelas.
Narasi yang dibangun oleh video editan ini sangat jelas dan memuakkan: Lunaris bukan korban. Lunaris adalah pelacur sekolah yang melayani lima cowok sekaligus di toilet demi uang atau kesenangan.
"Lo mau main-main sama gue, Lunaris?" Bisik Bracia pada layar ponselnya, matanya berkilat sadis. "Lo udah ambil Aaron dari gue. Lo udah bikin gue dipermalukan di depan calon suami gue sendiri. Sekarang... gue bakal ambil satu-satunya hal yang lo punya. Harga diri lo."
Jari jempol Bracia melayang di atas tombol share.
Ia membuka grup obrolan anonim sekolah yang memiliki ribuan anggota—tempat di mana gosip paling liar menyebar lebih cepat dari virus.
"Ayo kita liat, apa Aaron masih mau ngebela lo setelah dia liat video ini. Apa dia masih sudi natap lo setelah seluruh kota tau kalau lo cuma barang murahan."
Tanpa ragu sedikit pun, tanpa setitik pun rasa belas kasihan, Bracia menekan tombol kirim.
Sent.
Status berubah menjadi Delivered.
Dalam hitungan detik, notifikasi mulai bermunculan. Satu, dua, sepuluh, seratus orang melihat pesan itu.
Bracia melemparkan ponselnya ke jok samping, lalu menyalakan mesin mobil. Ia tertawa pelan, tawa yang terdengar sumbang di keheningan malam. Rencananya sudah berjalan. Besok pagi, Lunaris tidak akan punya wajah untuk ditunjukkan pada dunia. Hidup gadis itu akan hancur sehancur-hancurnya, dan Aaron pasti akan kembali padanya dengan rasa jijik terhadap Lunaris.
"Selamat menikmati neraka buatan gue, Lunaris," ucap Bracia sambil menginjak pedal gas, meninggalkan kediaman Luxe dengan kepuasan yang meluap-luap.
Sementara itu di lantai dua, disebuah jendela yang dibiarkan terbuka. Aaron melihat mobil Bracia yang melaju meninggalkan kediaman Luxe dari jendela kamarnya.
Mata pemuda berkilat tajam ketika melihat mobil milik Bracia menjauh.