NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31 - Playing With Fire

Mama dan Papa masih terdiam, terpaku mendengar ucapanku.

Hening itu tiba-tiba pecah oleh suara langkah kaki dari arah tangga.

“Lia…”

Kami semua menoleh bersamaan.

Ana turun dari lantai atas mengenakan gaun putih. Wajahnya pucat, matanya membesar. Ia terlihat jauh lebih terkejut dibanding saat Mama mengumumkan perjodohannya dengan Henry.

“Lia… apa maksudmu?” suara Ana bergetar. “Ian pacar kamu?”

“Ana… itu—” Julian mencoba bicara.

Aku menggenggam tangan Julian dengan erat.

Julian terkejut. Ana pun sama.

“Iya,” ucapku tegas. “Kak Ian pacar aku.”

Ana menggeleng pelan, seperti tak percaya.

“Nggak. Nggak mungkin. Kamu bercanda, kan, Li?”

“Nggak,” jawabku singkat. “Aku nggak bercanda.”

“Ian…” Ana menatap Julian, matanya memohon jawaban. “Bilang ke aku kalau itu nggak bener.”

Genggamanku pada tangan Julian menguat.

“Ana…” suara Julian tertahan.

“Kak, udah deh,” potongku cepat. “Kenapa sih nanya-nanya terus? Kakak fokus aja sama acara hari ini.”

“Lia, bener, Na,” Mama ikut menengahi. “Lebih baik kita ke taman belakang dulu. Ayo.”

Belum sempat Ana menjawab, suara dari arah depan rumah terdengar.

“Permisi. Selamat siang.”

Kami semua menoleh.

Henry dan keluarganya datang.

“Ya ampun… akhirnya kalian datang juga.” ucap Mama lega.

“Ada apa kalian ngumpul di sini?” tanya Tante Cyntia heran.

Aku melihat Henry. Ia tampak terkejut, jelas bingung. Pandangannya turun ke arah tanganku yang masih menggenggam tangan Julian.

“Oh… ini—” Mama hendak menjelaskan, tapi suara Agnes lebih dulu menyela.

“Ini katanya Lia sama Dokter Julian pacaran.” ucap Agnes enteng.

“Apa?!” Henry refleks bersuara.

“Kenapa kamu kaget gitu, Ry?” Tante Cyntia menoleh curiga.

“Ehm… itu—” Henry tampak panik. “Aku cuma heran aja. Lili kan sukanya sama oppa-oppa Korea. Kok sekarang tiba-tiba punya pacar.”

“Soalnya Kak Ian bisa bikin aku lupa sama oppa-oppa Korea,” jawabku cepat, tersenyum tipis. “Kak Ian juga baik banget sama aku.”

Bohong.

Dan aku tahu itu.

Julian hanya diam. Raut wajahnya menunjukkan kebingungan, seperti sedang mencoba mencerna semua yang terjadi.

“Ya sudah,” Mama menepuk tangan pelan. “Ayo ke taman belakang. Sebentar lagi acaranya dimulai. Ayo, Na.”

Mama menarik tangan Ana. Agnes, Kenzo, dan Marsha mengikuti di belakang.

Henry dan keluarganya berjalan paling akhir.

Saat Henry melewatiku, ia menatapku tajam.

Tatapan itu membuat dadaku sesak.

Dia pasti bingung.

Tapi aku tetap melakukan ini.

Karena aku sakit hati.

Karena selalu Ana. Tentang apa pun—termasuk jodoh—harus Ana yang dapat.

Aku memilih diam saat tatapan Henry menelanku. Aku tak boleh bereaksi. Sedikit saja salah, orang-orang bisa curiga.

Begitu semua orang menjauh, Julian melepaskan genggamanku.

“Lia,” suaranya rendah. “Apa-apaan tadi? Kenapa kamu bilang aku pacar kamu? Apa kamu suka aku?”

“Nggak.” jawabku datar.

“Terus kenapa?”

“Biar aku nggak ditanya soal pacar,” kataku jujur setengahnya. “Apalagi sekarang Kak Ana tunangan. Kalau aku bilang masih jomblo, nanti pasti disuruh cari pacar.”

Julian menggeleng pelan.

“Tolong bantu aku, Kak,” ucapku. “Kali ini aja.”

Julian menghela napas panjang.

“Ya udah. Tapi cuma kali ini.”

Aku mengangguk cepat.

“Kalau kamu bukan adiknya Ana, aku nggak akan mau ngelakuin ini.” lanjutnya.

“Makasih, Kak.” Aku terdiam sebentar, lalu menambahkan, “Oh iya, nanti kalau ada yang nanya sejak kapan kita pacaran, jawab aja belum lama… tapi udah saling suka sejak pertama kali ketemu.”

“Hah?” Julian menatapku.

“Biar meyakinkan.” kataku singkat.

Julian kembali menghela napas. “Baiklah.”

“Ya udah, ayo ke taman belakang.” ucapku.

Aku dan Julian pun berjalan ke taman belakang.

Setelah semua orang berkumpul, acara pertunangan pun dimulai.

Meski hanya dihadiri keluarga besar, Mama tetap menyewa seorang MC.

MC berdiri di tengah aisle—tempat Henry dan Ana akan bertukar cincin.

Keluarga Henry berada di sisi kanan, keluargaku di sisi kiri. Kami semua berdiri.

Henry berdiri dekat aisle.

Aku berdiri agak jauh, merangkul lengan Julian. Dari posisiku, aku masih bisa melihat Henry. Tatapannya beberapa kali mengarah padaku. Sepertinya ia masih belum memahami apa yang kulakukan tadi.

“Selamat siang, Bapak dan Ibu sekalian,” suara MC terdengar formal.

“Di hari yang berbahagia ini, kita akan melangsungkan acara pertunangan putra pertama Bapak Haris Pratama, Henry Pratama, dengan putri pertama Bapak Leo Wiratama, Liana Putri Wiratama.”

MC lalu membacakan susunan acara.

Dilanjutkan doa.

Sambutan dari keluarga Henry, lalu dari keluargaku.

Setelah itu, tibalah acara inti.

Henry dan Ana melangkah maju ke aisle. Tante Cyntia menyusul dari belakang, membawa kotak cincin.

Dadaku terasa sesak.

Mataku panas, air mata sudah menggenang, menunggu jatuh.

Sebelum memasangkan cincin di jari Ana, Henry menoleh ke arahku sebentar.

Hanya sebentar—lalu ia kembali menatap Ana dan menyelipkan cincin di jari kakakku.

Ana terdiam sejenak. Tangannya gemetar saat mengambil cincin satunya.

Sebelum memasangkannya di jari Henry, ia menoleh ke arahku.

Atau… ke arah Julian.

Aku melirik Julian. Ia hanya diam.

Ana akhirnya memasangkan cincin itu.

Tepuk tangan pun memenuhi taman. Wajah-wajah bahagia mengelilingi kami.

Semua orang bahagia.

Kecuali aku.

Hatiku seperti diremas. Aku tak sanggup melihatnya lebih lama.

Aku berbalik dan berlari masuk ke dalam rumah, lalu duduk di kursi ruang makan.

Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya jatuh juga.

Rasanya sakit.

Melihat pria yang kucintai bertunangan dengan kakakku sendiri.

Bahkan lebih sakit daripada semua perlakuan orang tuaku padaku.

Aku tahu Henry mencintaiku.

Aku tahu apa yang ia lakukan hanyalah formalitas.

Tapi tetap saja… sakit.

Andai yang memasangkan cincin di jari Henry tadi adalah aku, mungkin aku akan menjadi perempuan paling bahagia di dunia.

Tapi kenyataannya tidak begitu.

“Lia?”

Suara Julian terdengar.

Aku tetap menangis.

Julian duduk di sampingku.

“Lia, kamu kenapa?”

“Aku nggak kuat, Kak…” suaraku bergetar. “Hiks…”

“Nggak kuat kenapa?”

“Aku nggak kuat lihat Kak Henry tunangan sama Kak Ana.”

“Hah?” Julian bingung. “Kenapa?”

Aku menatapnya. Air mata masih mengalir di pipiku.

“Aku…” aku menunduk. Dadaku sesak.

“Aku menyukai Kak Henry.”

Aku mengatakannya begitu saja.

Entah kenapa, aku ingin jujur.

Dan aku percaya Julian.

“Kamu… suka sama Henry?” Julian terkejut.

Aku mengangguk.

Julian memegang bahuku. Aku mengangkat wajahku.

“Kalau kamu suka sama Henry, kenapa kamu nggak menghentikan pertunangan ini?”

“Aku nggak bisa, Kak.” Suaraku pelan.

“Mama dan Papa pengennya Kak Ana sama Kak Henry. Katanya aku nggak pantas jadi menantu keluarga Pratama.”

Julian melepaskan tangannya, lalu menghela napas panjang.

“Kayaknya… kita senasib.”

Aku menghentikan tangisku.

“Maksud Kakak?”

“Aku… menyukai Ana.”

“Apa?!” aku terkejut. “Sejak kapan?”

“Sejak pertama kali ketemu.”

Aku terdiam.

Tak menyangka.

“Kalau Kakak suka Kak Ana, kenapa nggak pernah bilang?” suaraku meninggi tanpa sadar.

“Kalau Kakak bilang, mungkin Kak Ana nggak tunangan sama Kak Henry.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena Kak Ana juga suka Kakak.”

“Apa? Ana suka sama aku?” Julian terkejut.

Aku mengangguk.

“Aku kira Ana cuma nganggep aku teman.” ucapnya pelan.

Dadaku langsung panas. Kesal tiba-tiba naik.

Julian dan Ana ternyata sama saja—sama-sama berasumsi tanpa pernah benar-benar mencari tahu. Dan akibatnya sekarang seperti ini.

“Kak Ana juga mikir begitu,” ucapku kesal.

“Kenapa sih kalian berdua bodoh banget?”

Aku menatapnya tajam.

“Kenapa Kakak nggak pernah berani nyatain perasaan Kakak ke Kak Ana?”

Julian tersenyum pahit.

“Aku kira Ana cuma nganggep aku teman.

Dan… perbedaan kami juga bikin aku mundur. Ana dari keluarga kaya. Anak pemilik rumah sakit tempatku bekerja. Aku cuma dari keluarga biasa.”

Ia menunduk.

“Dan setelah lihat Ana bertunangan dengan Henry, makin jelas. Cowok kayak Henry-lah yang diinginkan orang tua kalian. Aku nggak ada apa-apanya.”

“Tapi itu bikin aku sakit, Kak,” suaraku melemah.

“Aku harus lihat kakakku sendiri bertunangan sama cowok yang aku cintai.”

“Aku juga sakit, Lia,” jawabnya pelan.

“Aku belum sempat jujur, tapi Ana sudah hampir jadi istri orang.”

Kami terdiam.

Aku tak tahu harus berkata apa.

Kepalaku penuh. Hatiku berantakan.

Kenapa semuanya jadi seperti ini?

Sekarang rasanya…

Tuhan sedang mempermainkanku.

Di luar sana, suara tawa dan obrolan keluarga masih terdengar.

Pertunangan itu tetap berlangsung—tanpa aku.

Di dalam rumah ini, dua orang yang mencintai dengan cara yang salah hanya bisa duduk diam, menelan luka masing-masing.

Aku menggenggam jemariku sendiri.

Untuk pertama kalinya aku sadar—

cinta ternyata bukan tentang seberapa dalam perasaan itu tumbuh,

atau seberapa lama ia dijalani diam-diam.

Cinta juga soal keberanian untuk memilih,

dan hari ini, aku tidak dipilih.

Aku dan Henry mungkin saling mencintai,

bahkan sudah berbagi ruang, waktu, dan rahasia

yang tak diketahui siapa pun.

Tapi di hadapan keluarga,

di hadapan cincin dan nama yang disebut dengan lantang,

aku tetap tidak punya tempat.

Bukan karena aku datang terlambat,

melainkan karena sejak awal,

aku memang tidak pernah diizinkan untuk berdiri di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!