NovelToon NovelToon
Business, Love And Lies

Business, Love And Lies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25 - Mine

Pagi itu aku bangun lebih cepat dari biasanya. Entah kenapa rasanya tubuhku ringan sekali. Setelah mandi sebentar dan mengganti baju, aku langsung menuju dapur. Perutku mulai lapar, jadi aku memutuskan untuk memasak nasi goreng.

Aroma bawang yang ditumis mulai memenuhi dapur. Aku mengaduk-aduk wajan sambil bersenandung kecil, sampai tiba-tiba—sepasang lengan hangat memeluk pinggangku dari belakang.

“Pagi, sayang…” suara Henry terdengar serak—suara orang yang baru bangun tidur.

Aku refleks kaget. “Ihh… apa sih manggil-manggil gitu?”

Henry menempelkan dagunya di pundakku. “Karena aku sayang sama kamu.”

“Aneh aku dengernya, Kak…” ucapku malu-malu.

“Itu karena kamu belum terbiasa. Makanya mulai sekarang kita biasain.” Henry mengeratkan pelukannya sedikit. “Kamu juga harus ubah panggilanmu ke aku. Masa manggil aku ‘Kakak’ terus? Aku kan bukan kakak kamu.”

Aku mengerjap. “Terus aku harus manggil kamu apa? Kamu kan lebih tua dari aku.”

“Sayang?” jawab Henry santai.

“Ih… nggak, nggak…” aku langsung protes.

“Kenapa? Kamu nggak sayang sama aku?” tanyanya sok sedih.

“Aku sayang. Tapi… aneh, Kak…”

Henry menghela napas dramatis. “Ya ampun, Lili… Ya udah—‘Mas’ aja gimana?”

Aku menoleh sedikit, menatapnya. “Mas?”

Henry mengangguk mantap. “Hmm.”

“Ya udah… aku coba deh. Tapi kalau di depan kamu aja ya aku manggil gitu. Di depan keluarga kita aku tetap manggil kakak.”

“Iya, boleh.”

Aku mendorong bahunya pelan. “Ya udah sana mandi.”

“Iya, sayang.” ucap Henry sambil mencium pipiku sebentar. Lalu ia melepaskan pelukannya.

“Kak Henry!” seruku saat dia sudah hampir masuk kamar mandi.

Henry menoleh sambil tersenyum nakal. “Mas… panggil aku mas.”

Aku menghela napas panjang. “Iya, Mas.”

Henry makin lebar senyumnya, lalu masuk ke kamar mandi.

Aku hanya bisa menggeleng sambil kembali mengaduk nasi gorengku yang hampir gosong.

Aku lanjut masak sambil sesekali mengintip ke arah kamar mandi. Begitu nasi gorengnya selesai, aku menaruh di dua piring. Tak lama Henry keluar kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit dipinggangnya.

“Wah, wangi banget masakan pacarku.” katanya sambil senyum santai.

“Udah sana cepat pakai baju.” jawabku tanpa melihatnya.

“Iya, sayang.”

Aku hanya menghela napas kecil. Dia masuk kamar lagi, dan aku menaruh dua piring nasi goreng di meja ruang tengah. Aku juga menyiapkan air minum, lalu duduk di lantai depan sofa, makan duluan sambil menyalakan TV.

Tak lama, Henry keluar dengan pakaian kerjanya yang rapi banget. Dia duduk di sampingku.

“Gimana?” tanyaku pelan saat dia mulai makan nasi goreng buatanku.

“Hmm… nggak enak.”

Aku langsung berhenti mengunyah. “Oke.”

Aku kembali fokus makan, tapi detik berikutnya Henry menyandarkan badannya dan berbisik tepat di telingaku.

“Enak kok.”

Aku refleks nengok, dan wajah kami cuma sejengkal. Aku buru-buru melihat ke depan lagi.

“Kalau nggak enak, udah nggak usah dimakan.” gumamku sambil manyun.

Henry ketawa kecil. “Enak kok. Jangan marah gitu dong.”

“Siapa juga yang marah?”

“Lha itu, cara kamu ngomong gitu.”

Aku noleh lagi. “Saya tidak marah, Pak Henry Pratama yang terhormat.”

“Tuh kan kamu marah…”

“Nggak, kak…”

“Iya deh iya.”

“Udah makan aja.”

“Iya, sayang…”

“Udah kak… stop manggil aku kayak gitu. Nanti aku kepikiran terus. Kalau aku kepikiran terus dan nggak fokus kerja gimana?”

“Wah, senangnya ada orang yang nggak fokus kerja karena mikirin aku.”

“Kak, aku serius…”

“Mas. Kamu lupa terus.”

“Iya, Mas Henry. Tolong, jangan manggil aku sayang.”

“Tapi aku sayang kamu, Lili.”

“Iya, tapi kalau aku jadi nggak fokus kerja, gimana?”

“Ya udah deh iya. Aku nggak manggil kamu sayang lagi.” Dia berhenti sebentar lalu bertanya, “Oh iya… gimana kalau nanti sepulang kerja kita nonton?”

“Nonton? Tumben.”

“Tiba-tiba aku kepikiran ajakan Arvin ke kamu kemarin. Kalau nonton sama aku kamu mau kan?”

“Nggak mau.”

“Kenapa?”

“Nanti pacar saya cemburu, Pak. Pacar saya orangnya cemburuan.”

“Siapa yang cemburuan? Aku nggak gitu.”

“Iya, kamu gitu. Waktu pertama kali kamu ketemu Arvin di basement, waktu di kantin, terus yang kemarin.”

“Itu karena aku nggak mau kehilangan kamu.”

Aku diam beberapa detik. Lalu tanpa pikir panjang aku memeluknya.

“Aku juga nggak mau kehilangan kamu.”

Henry memelukku balik dengan napasnya yang hangat di atas kepalaku. “Jadi mau kan nonton sama aku?”

“Mau.”

“Ya udah. Sekarang kita makan lagi terus berangkat kerja.”

Aku mengangguk dan melepas pelukannya. Kami melanjutkan makan, tapi jantungku tetap saja berisik. Semakin dia lembut kepadaku, semakin aku takut kehilangan dia.

Aku dan Henry berangkat terpisah seperti biasa. Setelah membayar ojek online dan masuk ke kantor, aku berdiri di depan lift, menunggu pintunya terbuka.

Begitu pintunya terbuka, Arvin sudah berdiri di dalam.

“Mbak Lia…” panggil Arvin.

Aku hanya diam dan masuk bersama beberapa karyawan lain. Aku benar-benar tak ingin bicara dengannya. Aku tak ingin kejadian kemarin terulang lagi dan Henry salah paham lagi.

Begitu lift berhenti di lantai divisiku, aku langsung keluar tanpa menoleh.

“Pagi…” sapaku ketika memasuki ruangan.

“Pagi…” jawab semua orang.

Aku menuju meja, menyalakan komputer, dan mencoba fokus kerja—walaupun pikiranku masih terbayang panggilan sayang Henry dan wajahnya waktu salah paham.

Laporanku hari ini: customer insight & recommendation.

Aku mulai mengetiknya sampai suara Merry terdengar dari belakang.

“Pak Henry?”

Aku langsung menoleh.

Benar saja—Henry ada di sana.

Kami semua buru-buru berdiri. Pak Arman maju menghampirinya.

“Ada apa Bapak ke sini?” tanya Pak Arman.

“Saya hanya ingin lihat progres kalian. Laporan analisis lanjutan survey kemarin sudah dikerjakan?”

“Sedang dikerjakan, Pak.”

Henry mengangguk. Lalu matanya beralih padaku.

“Lili…”

Jantungku mencelos.

“Kamu sedang mengerjakan apa?”

“Ehm… saya susun bagian customer insight & recommendation, Pak.”

Henry berjalan ke arahku. Dia membungkuk sedikit, melihat layar komputerku. Jaraknya terlalu dekat. Bahkan parfumnya masih sama seperti tadi pagi.

“Coba lihat ini,” ucap Henry sambil menunjuk layarku.

Aku melihat ke layar.

“Ini typo. Kamu lagi mikirin apa sih? Tolong fokus kerja.”

“Maaf, Pak….”

“Fokus kerja. Jangan pikirin hal lain. Apalagi orang yang kamu suka.”

Hah?

Aku langsung menoleh cepat, shock. Henry pura-pura santai. Lalu ia berdiri tegak lagi.

“Lanjutkan pekerjaan kalian.” ucap Henry sebelum pergi.

Begitu pintu ruangan tertutup, Merry langsung bertanya.

“Mbak Lia, kamu suka sama siapa sih?”

“Ehm… mungkin maksud Pak Henry itu Kim Joon, aktor favoritku. Udah, kerja lagi.”

Padahal kepalaku masih panas dingin memikirkan ucapan Henry barusan.

Jam makan siang tiba. Aku dan yang lainnya menuju kantin seperti biasa.

Aku, Fera, dan Riki duduk di meja tetap kami. Tak lama Caca dan Arvin datang setelah memesan makanan.

“Hai guys…” sapa Caca.

“Hai…” jawab kami.

Caca duduk di depanku.

“Mbak Lia…” panggil Arvin lagi.

Aku langsung memotong, “Ca, kamu udah nonton Traces of Love episode terbaru belum?”

Caca mengerjap, “U-udah.”

Dia dan Arvin sama-sama bingung.

Arvin akhirnya pergi dan duduk di meja belakangku.

“Lia, kamu ngindarin Arvin ya?” tanya Caca pelan.

Aku diam.

“Kenapa, Li?”

“Udahlah. Aku nggak mau bahas itu.” jawabku.

Kami makan tanpa banyak bicara sampai akhirnya selesai. Kami berempat berdiri, siap keluar kantin. Aku berada paling belakang.

Tiba-tiba seseorang dari belakang berlari terburu-buru.

“Minggir!” teriak orang itu sambil menabrakku.

Tubuhku oleng dan hampir jatuh, tapi tiba-tiba seseorang menangkapku.

Arvin.

Tangannya menahan pinggangku, tubuhku nyaris menempel padanya.

Kami bertatapan. Beberapa detik. Terlalu lama.

Kantin langsung hening.

Orang-orang melihat.

Aku buru-buru menjauh.

“Makasih.” ucapku cepat sambil menunduk dan keluar dari kantin secepat mungkin.

“Lia! Tunggu!” panggil Caca.

Aku tak mempedulikannya. Rasanya wajahku panas. Bukan hanya malu—aku takut orang salah paham. Aku takut gosip. Aku takut Henry dengar.

Lebih tepatnya… aku takut Henry salah paham lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!