Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Malam semakin larut, namun kegelisahan di hati Akhsan tidak kunjung padam.
Bayangan Aruna yang salah menyebutkan warna mobilnya terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
Ia tidak bisa diam saja. Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponselnya dan menghubungi Indri.
"Halo, Indri? Maaf mengganggu malam-malam. Aku hanya ingin tanya. Apakah Aruna pernah ke rumah sakit akhir-akhir ini selain pemeriksaan kandungan?" tanya Akhsan, berusaha menekan nada cemasnya.
Di seberang telepon, suara Indri terdengar lemas. "Kemarin Kak Aruna pingsan, Mas. Kami membawanya ke rumah sakit. Tapi kata dokter hanya kelelahan dan tekanan darah rendah karena hamil muda. Kenapa, Mas?"
Akhsan tidak menjawab pertanyaan Indri. Ia langsung menutup ponselnya setelah bergumam terima kasih.
Firasatnya mengatakan ada yang disembunyikan.
Tanpa membuang waktu, ia melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang sepi menuju rumah sakit tempat Aruna dirawat kemarin.
Akhsan menggunakan pengaruh nama keluarganya untuk bisa bertemu dengan dokter yang menangani Aruna.
Di dalam ruang praktik yang sunyi, Akhsan menatap dokter itu dengan pandangan menuntut.
"Katakan yang sebenarnya, Dok. Apa yang terjadi dengan adik saya?"
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Akhsan dengan serius.
"Nyonya Aruna meminta saya merahasiakannya, tapi karena Anda keluarganya. Anda harus tahu. Beliau mengalami tumor di belakang saraf mata. Kondisinya kritis. Beliau harus segera memulai perawatan dan melakukan operasi transplantasi kornea sambil menunggu donor mata yang cocok."
Akhsan terasa seperti dihantam godam besar.
"Tumor? Bagaimana bisa?"
"Sepertinya ia pernah mengalami kecelakaan hebat atau trauma fisik di bagian kepala. Dari hasil pemindaian, di kepalanya pernah ada paku yang menancap dan merusak jaringan saraf secara permanen," jelas dokter itu tenang.
Akhsan terdiam. Seluruh persendiannya terasa lemas.
Dunianya seolah runtuh seketika. Ingatannya melesat kembali ke tahun-tahun kelam saat ia masih buta oleh kebencian.
Ia mengingat malam itu, saat ia kehilangan kendali dan memukul kepala Zahra dengan kayu balok di gudang yang gelap.
Ia ingat Zahra menjerit kesakitan sebelum pingsan bersimbah darah, namun saat itu ia tidak peduli.
Ia tidak tahu jika di kayu yang ia gunakan terdapat paku tua yang menancap jauh ke dalam tengkorak gadis malang itu.
"Astaghfirullah. Ya Allah, apa yang sudah aku lakukan?" bisik Akhsan parau.
Air mata penyesalan yang paling perih jatuh membasahi pipinya.
Ternyata, pria yang menyebabkan Aruna terancam buta bukanlah Sisil, bukan orang asing, melainkan dirinya sendiri.
Dialah yang menanamkan benih kematian di kepala wanita yang kini baru saja mulai merasakan kebahagiaan.
Akhsan jatuh terduduk di kursi rumah sakit, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Isak tangisnya pecah di ruangan yang dingin itu. Ia telah menghancurkan hidup Zahra dua kali; dulu dengan siksaan, dan sekarang dengan luka yang perlahan merenggut penglihatannya.
Suasana kamar apartemen terasa begitu tenang, hanya terdengar suara napas teratur Christian yang tertidur pulas karena kelelahan setelah seharian menjaganya.
Aruna duduk di tepi ranjang, menatap wajah pria yang sangat ia cintai itu untuk terakhir kalinya dalam kejernihan yang tersisa.
Baginya, wajah Christian adalah memori terakhir yang ingin ia simpan sebelum dunianya benar-benar menggelap.
Dengan air mata yang mengalir tanpa suara, Aruna membungkuk dan mencium kening suaminya dengan lembut.
"Maafkan aku yang harus pergi bersama anak kita, Christian," bisiknya sangat lirih, hampir seperti embusan angin.
"Aku tidak ingin kamu melihatku menderita dan kehilangan penglihatanku. Aku tidak ingin kamu terpaksa memilih antara nyawaku atau nyawa anak kita. Aku akan menjaganya, Christian. Terima kasih atas semuanya."
Dengan tangan gemetar, Aruna mengambil tas kecilnya yang sudah ia siapkan.
Ia melangkah keluar kamar dengan sangat hati-hati, meraba dinding koridor karena pandangannya mulai goyah dan buram akibat cahaya lampu apartemen yang remang-remang.
Di luar gedung apartemen, Akhsan melihatnya dari kejauhan.
Ia masih duduk di dalam mobilnya dengan perasaan hancur setelah dari rumah sakit.
Saat ia melihat sosok wanita bertubuh lemah itu keluar sendirian di tengah malam, jantung Akhsan berdegup kencang.
Ia melihat Aruna memanggil taksi. Aruna tampak kesulitan mengenali plat nomor taksi tersebut, namun ia tetap masuk ke dalamnya.
Akhsan segera menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti taksi itu dengan jarak aman.
"Mau ke mana kamu, Aruna? Dalam keadaan seperti ini, ke mana kamu akan pergi?" gumam Akhsan dengan air mata yang masih membekas di pipinya.
Taksi itu melaju meninggalkan hiruk-pikuk kota, bergerak menuju daerah pinggiran yang sunyi. Akhsan menyadari arah tujuannya; taksi itu menuju ke arah rumah mendiang ibunya yang ada di dekat pegunungan.
Itu adalah rumah lama yang sudah bertahun-tahun kosong, tempat yang penuh kenangan pahit sekaligus damai bagi Zahra dulu.
Aruna ingin bersembunyi. Ia ingin menghabiskan masa-masa terakhir penglihatannya di tempat di mana tidak ada yang bisa menemukannya, tempat di mana ia bisa melahirkan anaknya dalam kesunyian, tanpa harus membebani Christian dengan tumor yang menggerogoti nyawanya.
Akhsan terus mengikuti dari belakang, menjaga adiknya dari kegelapan yang ia sendiri ciptakan bertahun-tahun lalu.
Ia bersumpah dalam hati, jika ia tidak bisa mengembalikan penglihatan Aruna dengan kata maaf, maka ia akan memberikan apapun—bahkan matanya sendiri—agar Aruna bisa melihat dunia lagi.
Udara dingin pegunungan menusuk hingga ke tulang saat taksi yang membawa Aruna berhenti di depan sebuah rumah tua yang dikelilingi kabut.
Rumah itu adalah milik mendiang ibunya, tempat yang menyimpan sisa-sisa kenangan masa kecil yang getir namun tenang.
Aruna turun dari taksi dengan langkah gontai. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada ribuan jarum yang menekan saraf matanya.
Baru saja ia melangkah beberapa meter menuju teras rumah yang gelap, dunianya mendadak berputar.
Cahaya bulan yang samar menghilang dari pandangannya, berganti kegelapan total.
Aruna jatuh pingsan di atas tanah yang lembap tepat di depan pintu rumah itu.
Dari kejauhan, sebuah mobil silver berhenti dengan terburu-buru.
Akhsan keluar dengan napas tersengal. Ia berlari menghampiri sosok wanita yang tergeletak lemah di sana.
"Aruna! Bangun, Aruna!" serunya dengan suara parau.
Akhsan segera membopong tubuh Aruna, merasakan betapa ringannya tubuh adiknya itu sekarang.
Ia mencari kunci di tas Aruna, membuka pintu kayu yang berderit, dan membawanya masuk ke dalam rumah yang dingin dan berdebu itu.
Dengan sangat hati-hati, ia membaringkan Aruna di atas sofa tua yang masih tertutup kain putih.
Akhsan menatap wajah pucat Aruna di bawah temaram lampu senter ponselnya.
Tangannya gemetar hebat. Ia mengeluarkan ponselnya, jarinya sempat ragu di atas nama Christian.
"Kalau aku menelepon Christian sekarang, dia akan membawamu kembali ke rumah sakit dan memaksa operasi yang membahayakan bayimu. Tapi jika aku diam..." Akhsan menarik napas panjang, menatap perut Aruna yang masih rata namun menyimpan kehidupan baru.
Ia memutuskan untuk tidak menghubungi Christian.
Ia tahu pria itu kemungkinan besar bahkan belum terbangun dan belum menyadari bahwa istrinya telah melarikan diri.
Akhsan merasa ini adalah satu-satunya cara ia bisa menebus dosanya—dengan menjaga Aruna di sini, di tempat persembunyiannya, tanpa ada tekanan dari siapapun.
Akhsan menyelimuti Aruna dengan jaket tebalnya. Ia duduk di lantai, bersandar pada kaki sofa, menjaga adiknya dalam kegelapan.
"Maafkan Mas, Aruna. Maafkan paku yang aku tanamkan di kepalamu dulu," bisik Akhsan di tengah kesunyian malam pegunungan.
"Biarkan kali ini Mas yang menjagamu, meski dunia tidak akan pernah memaafkanku."
Di kejauhan, matahari pagi mulai bersiap muncul, sementara di apartemen kota, Christian mulai menggerakkan tangannya di atas ranjang yang kosong, belum menyadari bahwa dunianya telah pergi membawa rahasia yang mematikan.
ga mau jujur punya penyakit
mas bacanya, ini aja bacanya langsng lompat