Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 5 KAMAR TAMU YANG TAHU DIRI
Lorong rumah utama itu panjang dan dingin.
Lampu-lampu gantung berkilau, tapi tidak memberi kehangatan.
Langkah gadis itu terdengar pelan, tertinggal setengah langkah di belakang pria yang kini sah menjadi suaminya.
Ia tidak berani mendekat.
Tidak berani menyamai langkah.
Takut salah posisi.
Seorang pelayan perempuan membuka pintu di ujung lorong.
“Ini kamarnya.”
Pelayan itu melirik sekilas, lalu cepat-cepat menunduk.
Bukan hormat—lebih seperti takut salah sikap.
Pemuda itu berhenti.
“Kamu tinggal di sini.”
Gadis itu menatap pintu itu.
Kamar tamu.
Ia mengangguk.
“Iya.”
Pemuda itu berbalik tanpa berkata apa-apa lagi.
Pintu kamar belum sempat ditutup, suara sepatu hak tinggi terdengar mendekat.
Wanita paruh baya—ibu pemuda itu—berhenti tepat di depan pintu.
“Oh, jadi ini kamarmu.”
Nada suaranya datar, tapi matanya penuh penilaian.
“Lumayan,” lanjutnya sambil melangkah masuk tanpa izin.
“Untuk ukuran… orang luar.”
Ia menyentuh meja rias dengan ujung jarinya.
“Mewah, ya? Jangan salah paham. Ini bukan karena kamu istimewa.”
Gadis itu berdiri di dekat pintu.
Diam.
“Kamar ini,” lanjut wanita itu, “biasanya dipakai tamu jauh. Yang numpang sebentar. Mengerti maksudku?”
Gadis itu mengangguk kecil.
“Mengerti, Bu.”
“Bagus. Aku paling malas menjelaskan berulang-ulang.”
Wanita itu duduk di tepi ranjang.
“Kamu tahu tidak kenapa kami setuju pernikahan ini?”
Gadis itu tidak menjawab.
“Karena kamu sederhana,” katanya sambil tersenyum tipis.
“Sederhana itu bagus. Tidak banyak keinginan. Tidak banyak tuntutan.”
Ia menatap gadis itu tajam.
“Perempuan seperti kamu itu cocoknya memang jadi pelengkap.”
Kalimat itu diucapkan pelan.
Jelas.
Tanpa ragu.
“Kamu jangan salah sangka,” lanjutnya, suaranya makin panjang.
“Kami tidak membencimu. Kalau membenci, kamu tidak akan ada di sini.”
Ia berdiri, melangkah mendekat.
“Kami cuma… tahu tempatmu di mana.”
Gadis itu menunduk.
Wanita itu menghela napas kecil, seolah lelah menghadapi sesuatu yang merepotkan.
“Mulai sekarang, hidupmu ikut aturan rumah ini.”
Ia mulai menghitung dengan jari.
“Bangun pagi. Sarapan tepat waktu. Jangan keluyuran. Jangan banyak bertanya.”
Jarinya bergerak lagi.
“Jangan ikut campur urusan keluarga. Jangan merasa punya hak bicara.”
Ia tersenyum.
“Dan yang paling penting—jangan berharap suamimu akan membelamu.”
Kalimat itu jatuh paling berat.
“Dia dibesarkan di rumah ini,” lanjutnya panjang.
“Dia tahu mana yang penting, mana yang bisa dikorbankan.”
Wanita itu melirik ke wajah gadis itu.
“Kamu termasuk yang kedua.”
Hening.
Wanita itu tertawa kecil.
“Kok diam saja? Jangan bilang kamu kaget.”
Ia menggeleng.
“Ah ya, hampir lupa. Kamu memang tipe yang diam.”
Ia berjalan ke pintu.
“Oh ya, satu lagi.”
Gadis itu mengangkat kepala sedikit.
“Kalau kamu merasa tersinggung, tersakiti, atau sedih—simpan sendiri.”
Wanita itu menatapnya tajam.
“Perasaanmu tidak terlalu penting di rumah ini.”
Pintu ditutup.
Belum sempat gadis itu menarik napas, suara lain terdengar.
Lebih muda.
Lebih tajam.
“Jadi ini kamarnya?”
Wanita muda—ipar pemuda itu—bersedekap di ambang pintu.
Tatapan sinisnya menyapu ruangan.
“Lumayan juga,” katanya. “Kirain bakal dapat kamar pembantu.”
Ia masuk tanpa menunggu jawaban.
“Duduk saja,” katanya sambil menunjuk kursi.
“Jangan berdiri seperti tuan rumah.”
Gadis itu duduk.
Wanita muda itu berjalan mengelilinginya, seperti menilai barang.
“Kamu tahu nggak, ya… waktu Kakek bilang mau nikahin Kakakku sama kamu, kami semua kaget.”
Ia berhenti tepat di depan gadis itu.
“Bukan karena senang.”
Ia tersenyum lebar.
“Tapi karena… kok bisa serendah itu?”
Kalimatnya panjang, jelas, tanpa jeda.
“Kami ini keluarga besar. Nama kami dikenal. Harta kami jelas. Garis keturunan kami—”
Ia berhenti sebentar, lalu tertawa.
“Dan kamu datang dari mana? Keluarga kecil? Hidup pas-pasan?”
Ia menggeleng.
“Kontras sekali.”
Gadis itu menunduk.
Tangannya mengepal di pangkuan.
Wanita muda itu melanjutkan, suaranya makin panjang.
“Kalau kamu pintar, kamu tahu diri.”
“Kamu ada di sini bukan karena cinta. Bukan karena pantas.”
Ia mendekat, membungkuk sedikit.
“Kamu ada di sini karena kamu mudah dikendalikan.”
Kalimat itu seperti pisau.
“Kami tidak takut kamu merebut apa-apa,” lanjutnya santai.
“Karena dari awal, kamu tidak punya apa-apa.”
Ia tersenyum puas.
“Dan perempuan tanpa apa-apa,” katanya pelan,
“paling gampang disuruh diam.”
Ia berdiri tegak.
“Makanya jangan coba-coba cari perhatian Kakakku.”
“Dia mungkin sekarang suamimu,” katanya sambil tertawa kecil,
“tapi bukan berarti kamu jadi siapa-siapa.”
Gadis itu tetap diam.
Wanita muda itu mendecak.
“Benar-benar seperti boneka.”
Ia melangkah ke pintu.
“Oh ya. Jangan salah paham juga.”
Ia menoleh.
“Kalau suatu hari kamu diusir dari rumah ini, jangan nangis. Anggap saja itu takdir.”
Pintu tertutup lagi.
Kamar itu kembali sunyi.
Gadis itu duduk lama.
Matanya menatap lantai.
Dadanya terasa sesak.
Ia menarik napas pelan.
Satu.
Dua.
Air mata menggenang, tapi tidak jatuh.
Di luar kamar, di lorong lain, pemuda itu berhenti melangkah.
Ia mendengar sebagian omelan tadi.
Tidak semua.
Cukup banyak.
Tangannya mengepal pelan.
Seorang pelayan berdiri ragu.
“Tuan… apakah perlu—”
“Tidak,” potongnya cepat.
Ia menoleh ke pintu kamar tamu itu.
Tatapannya gelap.
Untuk pertama kalinya, kontrak yang ia anggap sederhana
terasa… terlalu kejam.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid