NovelToon NovelToon
DARI MAFIA JADI CEO

DARI MAFIA JADI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Persahabatan
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang yang miskin dan berubah rekrut menjadi mafia dan dipercaya menjadi CEO perusahaan besar
perebutan takhta dan warisan.
Aryo adalah karakter underdog yang kuat—seorang anak yatim piatu yang bukan sekadar beruntung, tapi memang memiliki kualitas "Dewa" yang diakui oleh sang kakek. Ini menciptakan dinamika yang berbahaya dengan Paman Budiono yang merasa memiliki "hak lahir" sebagai anak tertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 31

Aan menatap keponakannya dengan tatapan yang sulit diartikan—setengah bangga, setengah ngeri. "Mengajari dunia untuk mendengar? Lar, kau tahu sendiri bagaimana politik di Jakarta. Mereka tidak akan mau mendengar suara apa pun selain suara keuntungan dan kekuasaan."

"Mereka tidak akan punya pilihan, Paman," Laras berjalan menuju meja holografik di tengah ruangan. Jari-jarinya bergerak di atas sensor, namun ia tidak menyentuhnya; cahaya dari meja itu justru melengkung mengikuti gerakan tangannya seolah-olah mesin itu adalah perpanjangan dari sarafnya sendiri.

"Dio, bantu aku memetakan koordinat seluruh pemancar Arca di lima benua," perintah Laras.

Dio segera bergabung, jemarinya menari di atas keyboard. "Sudah terkunci, Lar. Tapi kita butuh daya pancar yang luar biasa besar untuk menembus protokol keamanan global. Astra Mawar tidak punya energi sebesar itu."

"Astra Mawar memang tidak punya," Laras menatap keluar jendela, ke arah Europa yang kini sudah tertinggal jauh di belakang. "Tapi Europa punya. Dan aku masih terhubung."

Tiba-tiba, pendar biru di mata Laras semakin intens. Di layar monitor, grafik energi "Mawar Hitam" melonjak melampaui batas maksimal, namun tidak ada alarm yang berbunyi. Kapal itu justru mulai bersenandung—sebuah suara rendah yang menenangkan, membuat bulu kuduk semua orang di hanggar berdiri.

"Pandu, jaga pintu hanggar. Siapa pun yang datang, jangan biarkan mereka mengganggu proses ini," Laras memejamkan matanya.

"Kau bisa mengandalkanku, Lar," Pandu mencabut senjata kejutnya dan berdiri sigap di depan gerbang otomatis. "Tapi cepatlah. Sensor jarak jauh mulai menangkap pergerakan kapal-kapal patroli pemerintah yang mendekat dari orbit bulan. Mereka pasti mendeteksi lonjakan energi kita."

Laras mulai melakukan sinkronisasi. Di dalam pikirannya, ia tidak lagi melihat Astra Mawar. Ia melihat jaringan cahaya yang menghubungkan Jupiter, Bumi, dan hatinya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, membayangkan bau tanah Amazon yang basah dan kesunyian Palung Jawa.

"Sekarang!" teriak Laras.

Sebuah pilar cahaya biru vertikal melesat dari antena komunikasi Astra Mawar, menembus ruang hampa, dan dalam hitungan milidetik, menghantam satelit-satelit relai di sekitar Bumi.

Di Bumi, di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tidak pernah tidur, di laboratorium-laboratorium sunyi di Eropa, dan di pertambangan energi Arca yang gersang di Afrika, segala sesuatu berhenti. Semua layar—mulai dari papan iklan raksasa hingga ponsel pribadi—berubah menjadi biru jernih. Mesin-mesin pabrik yang bising mendadak senyap.

Bukan suara manusia yang keluar dari speaker, melainkan sebuah denyut.

Deg-puk... Deg-puk...

Itu adalah detak jantung Bumi yang diperkuat oleh frekuensi Europa. Setiap orang yang mendengarnya merasakan sensasi yang sama: rasa rindu yang mendalam pada alam yang mereka rusak, dan ketakutan yang murni akan sesuatu yang jauh lebih besar dari manusia.

"Apa yang kau lakukan, Lar?" bisik Aan, melihat dunia di layar monitornya membeku.

"Aku memberikan mereka kesadaran kolektif," jawab Laras, keringat mengalir di pelipisnya. "Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia merasakan apa yang dirasakan planet ini. Jika mereka tetap memilih untuk berperang setelah ini, maka 'Para Pencipta' benar... kita memang hama."

Namun, di tengah momen transendental itu, sebuah peringatan merah berkedip di layar Dio.

"Lar! Gangguan! Seseorang memotong transmisi dari arah Mars!"

Laras tersentak, koneksinya goyah. "Siapa?"

"Bukan The Hollow," Dio menelan ludah, wajahnya memucat. "Itu kode identifikasi dari armada 'Penjaga Kedaulatan' Jakarta. Mereka tidak mencoba mematikan sinyalmu... mereka mencoba membajaknya untuk mengirimkan gelombang balik yang bisa menghancurkan jantung Arca!"

"Mereka ingin menggunakan frekuensi ini sebagai senjata?" Pandu berteriak tidak percaya.

"Mereka pikir mereka bisa mengendalikan 'Pencipta'," Laras membuka matanya, dan pendar biru itu kini berkilat tajam dengan kemarahan. "Paman, kita harus berangkat ke Bumi. Sekarang juga. Jika mereka memicu gelombang balik itu, Bumi tidak akan menunggu 'Pembersihan'... Bumi akan meledak dari dalam."

"Mereka tidak akan pernah belajar," desis Laras sambil mencengkeram tepian meja holografik. "Keserakahan sudah menjadi sistem operasi di kepala mereka."

"Mawar Hitam" bergetar hebat saat Dio memaksa mesin bio-organik kapal itu melakukan sinkronisasi dengan Astra Mawar. "Lar, armada 'Penjaga Kedaulatan' sudah masuk ke orbit tinggi. Mereka menggunakan stasiun relai di puncak Merapi sebagai titik fokus gelombang balik. Jika mereka menembakkan frekuensi distorsi itu, mereka akan membunuh 'Jantung' yang ada di Palung Jawa!"

"Paman Aan, tetap di sini dan jaga transmisi Europa tetap stabil. Jangan biarkan mereka memutus koneksi kita dengan 'Tukang Kebun'," Laras berbalik, jubahnya berkibar saat ia berlari menuju palka.

"Lar, kau mau ke mana?!" teriak Aan.

"Jakarta. Aku harus menghentikan tembakan itu dari sumbernya," sahut Laras tanpa menoleh.

"Kita tidak akan bisa menembus blokade mereka dengan kapal yang tampak seperti tanaman bercahaya begini, Lar!" Pandu menyusul, sambil memeriksa sisa amunisi pada peluncur kinetiknya. "Kita akan ditembak jatuh bahkan sebelum memasuki stratosfer!"

"Siapa bilang kita akan lewat jalur udara?" Laras berhenti di depan pintu palka yang kini berdenyut seperti jantung. "Dio, siapkan protokol 'Selam Ruang'. Kita akan masuk melalui titik buta mereka."

"Maksudmu... melompat langsung ke dalam atmosfer?" Dio ternganga. "Suhu gesekannya akan membakar kita menjadi abu!"

"Gunakan energi Arca dari Europa untuk membungkus lambung kapal dengan lapisan es abadi. Kita akan jatuh seperti meteor, bukan sebagai kapal."

Hanya butuh beberapa detik bagi "Mawar Hitam" untuk melepaskan diri dari dok Astra Mawar. Kapal itu tidak lagi meluncur dengan api pendorong, melainkan terisap ke dalam lipatan ruang dan muncul kembali di langit Bumi yang menghitam.

Di bawah mereka, pulau Jawa terlihat seperti hamparan sirkuit listrik yang berpendar. Namun, di tengah-tengahnya, Gunung Merapi memancarkan cahaya merah yang tidak alami. Sebuah struktur logam raksasa—Menara Kedaulatan—berdiri tegak di puncaknya, mengumpulkan energi Arca mentah untuk diledakkan ke perut bumi.

"Target terkunci! Meriam frekuensi mereka sedang melakukan pengisian daya! Tiga menit lagi sampai peluncuran!" teriak Dio, tangannya gemetar menahan guncangan saat kapal mereka mulai membara karena gesekan atmosfer.

"Pandu, siapkan muatan tanah Amazon yang tersisa. Kita tidak akan menghancurkan menara itu dengan ledakan," Laras berdiri di tengah kokpit, tangannya merentang lebar, matanya kini tidak lagi biru, melainkan putih cemerlang. "Kita akan memberikan 'nutrisi' pada mesin mereka sampai sistemnya kelebihan beban oleh kehidupan."

Tiba-tiba, selusin jet tempur tak berawak melesat dari awan, melepaskan rudal-rudal pencari panas.

"Lar! Kita terkunci!"

"Abaikan mereka, Pandu! Fokus pada menara!" Laras memejamkan mata. Ia bisa merasakan setiap baut, setiap aliran listrik, dan setiap tetes energi Arca di menara itu. Ia mulai bernyanyi—sebuah nada yang tidak memiliki vokal, namun terdengar seperti deru angin di hutan purba.

Di permukaan Bumi, orang-orang di Jakarta mendongak ke langit. Mereka melihat sebuah meteor biru yang dikelilingi oleh ribuan serpihan es, meluncur tepat menuju puncak Merapi.

"Satu menit menuju peluncuran gelombang balik!" suara operator di Menara Kedaulatan terdengar melalui sadapan radio Dio. "Tembakkan sekarang!"

"Jangan sekarang!" teriak Laras dalam pikirannya.

Tepat sebelum laser merah dari menara itu ditembakkan, "Mawar Hitam" meluncur tepat di atas ujung pemancar. Pandu melepaskan tabung terakhir tanah Amazon, dan Laras menyalurkan seluruh sisa energi Europa ke dalamnya.

Bukan ledakan api yang terjadi.

Dari puncak Menara Kedaulatan, ribuan akar tanaman raksasa yang bercahaya tiba-tiba tumbuh dengan kecepatan mustahil. Logam-logam menara itu retak, hancur terlilit oleh tanaman merambat yang terbuat dari energi murni. Mesin frekuensi itu macet, tercekik oleh kehidupan yang dipaksakan tumbuh di dalamnya.

"Transmisi gagal! Sistem korosif biologis terdeteksi!" teriak suara di radio sebelum akhirnya senyap.

"Mawar Hitam" mendarat darurat di lereng gunung dengan dentuman keras. Asap mengepul dari lambungnya yang kini tertutup lumut hijau subur.

Laras keluar dari kapal, kakinya menginjak tanah Jawa untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Di depannya, Menara Kedaulatan yang sombong itu kini telah berubah menjadi pohon cahaya raksasa setinggi satu kilometer.

Namun, kegembiraan itu sirna saat sebuah helikopter militer hitam mendarat di depan mereka. Pintu terbuka, dan seorang pria dengan seragam tinggi melangkah keluar, wajahnya penuh amarah yang tertahan.

"Kau menghancurkan pertahanan terakhir kami, Larasati," katanya dengan suara rendah. "Kau baru saja membiarkan 'Para Pencipta' itu masuk tanpa hambatan."

Laras menatap pria itu, lalu menatap langit yang kini mulai dipenuhi oleh bayangan kapal-kapal kristal yang jauh lebih besar dari yang ada di Europa.

"Aku tidak membiarkan mereka masuk," jawab Laras dingin. "Aku memberikan alasan bagi mereka untuk tidak membasmi kita. Sekarang, pertanyaannya adalah: apakah kau mau ikut berlutut bersama kami, atau mati sebagai hama?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!