Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di titik nadir
Cassia menatap layar ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat. Jantungnya berpacu, memukul rongga dadanya seirama dengan detak jarum jam dinding yang terasa memekakkan telinga. Siapa yang bisa mengirim pesan ini? Galaksi selalu menjaganya, dan Kalingga baru saja pergi bersamanya.
Tanpa membalas pesan itu, Cassia segera bergerak. Ia melepas wignya, mengenakan jaket kulit hitam yang ia sembunyikan di balik tumpukan baju kotor, dan memakai helm matte black-nya. Ia harus tahu siapa orang ini sebelum rahasianya menjadi senjata yang menghancurkannya.
Dermaga 4, Pukul 21:00.
Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam dan besi berkarat. Cassia memarkirkan Nyx di bawah bayangan lampu jalan yang berkedip redup. Ia tidak mematikan mesinnya, bersiap untuk melesat kapan saja jika ini adalah jebakan.
"Keluar! Aku sudah di sini!" teriak Cassia dari balik helmnya.
Dari balik tumpukan kontainer biru yang usang, sesosok pria melangkah keluar. Cahaya lampu menyinari wajahnya perlahan, menampakkan senyum miring yang sangat familiar namun penuh racun.
Zidane Kaizen Malik.
Zidane berdiri di sana, memegang sebuah foto di tangannya. Cassia menyipitkan mata. Foto itu diambil dari jarak jauh—menampilkan sosok seorang gadis berambut pendek yang sedang melepas helm di bengkel Mang Dadang. Meskipun wajahnya sedikit buram, siapa pun yang mengenal Cassia akan tahu itu dia.
"Jadi benar..." Zidane tertawa sinis, langkahnya mendekat. "Si 'Manekin' polos kesayanganku ternyata adalah hantu yang bikin aku hampir mati di pelabuhan semalam. Luar biasa, Cassia. Aku nggak nyangka kamu punya sisi seliar ini."
Cassia turun dari motornya, membuka kaca helmnya perlahan. Matanya menatap Zidane dengan kebencian murni. "Apa maumu, Zidane? Uang? Atau kamu mau lapor pada Kak Lingga?"
Zidane mendengus, memainkan foto itu di jemarinya. "Uang? Aku nggak butuh uangmu. Aku cuma mau kamu kembali jadi Cassia yang dulu. Kembali jadi pacarku yang penurut, yang selalu bisa kubanggakan di depan teman-temanku."
"Kamu sakit," desis Cassia. "Setelah kamu berselingkuh dengan Elara, kamu pikir aku mau kembali padamu?"
"Elara itu cuma selingan, Cass. Dia cuma buat bersenang-senang," Zidane melangkah lebih dekat hingga jarak mereka hanya satu meter. "Tapi kamu... kamu adalah trofi terbaikku. Dan sekarang, setelah tahu kamu punya 'bakat' seperti ini, aku malah makin tertarik. Bayangkan kalau kita jadi pasangan penguasa jalanan."
"Nggak akan pernah," sahut Cassia tegas.
Zidane mendadak mengubah ekspresinya menjadi dingin. "Kalau begitu, foto ini akan sampai ke tangan Kalingga dalam lima menit. Kamu tahu kan apa yang akan dilakukan ketua Acheron itu kalau tahu adiknya bertaruh nyawa di sirkuit setiap malam? Dia akan mengurungmu, Cassia. Dia akan menghancurkan motormu dan membuang semua teman-teman barumu ke penjara."
Cassia terpaku. Zidane benar. Kalingga bisa menjadi sangat mengerikan jika menyangkut keselamatannya.
"Pilih, Cassia. Jadi milikku lagi, atau hidupmu hancur malam ini," ancam Zidane.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan yang pelan dan ritmis terdengar dari kegelapan di belakang Cassia.
"Drama yang menarik, Zidane. Tapi naskahmu terlalu murahan."
Zidane tersentak. Cassia menoleh cepat. Arsheq Zhafran Galaksi muncul dari bayangan dermaga. Ia tidak sendirian. Di belakangnya, Talishia (Vesta) dan Zelene (Oracle) berdiri dengan tangan bersilang di dada, lengkap dengan seragam Valkyries mereka.
"Sheq?! Kenapa lo ada di sini?" Zidane mulai panik, tangannya merogoh saku, hendak mengambil ponselnya.
"Gue yang kasih tahu mereka, Zidane," ucap Zelene sambil mengangkat sebuah perangkat tablet. "Lo pikir lo bisa kirim pesan anonim tanpa gue lacak? Gue sudah memantau ponsel lo sejak lo berani mendekati Cassia di sekolah tadi."
Galaksi berjalan dengan tenang ke arah Zidane. Aura kepemimpinannya sebagai ketua Acheron terpancar begitu kuat, membuat nyali Zidane menciut seketika. Galaksi merebut foto di tangan Zidane, lalu merobeknya menjadi serpihan kecil di depan wajah cowok itu.
"Lo mengancam dia?" tanya Galaksi dengan suara rendah yang sangat berbahaya.
"Gue... gue cuma mau dia balik sama gue!" Zidane membela diri, namun suaranya bergetar.
Galaksi mencengkeram kerah jaket Zidane, mengangkatnya hingga kaki cowok itu berjinjit. "Dengar baik-baik, Pecundang. Cassia bukan trofi. Dan dia bukan milik lo lagi. Kalau gue lihat lo atau Elara mendekati dia lagi, atau berani membocorkan satu kata pun soal rahasia ini..."
Galaksi mendekatkan wajahnya ke telinga Zidane, membisikkan sesuatu yang membuat wajah Zidane berubah pucat pasi seputih kapas.
"Pergi. Sekarang. Sebelum gue berubah pikiran untuk nggak membuang lo ke laut malam ini," Galaksi melepaskan cengkeramannya.
Zidane lari tunggang langgang tanpa menoleh lagi, meninggalkan dermaga dengan ketakutan yang luar biasa.
Hening sejenak. Cassia menatap Galaksi, lalu menatap kedua sahabatnya. "Kalian... kalian mengikutiku?"
"Kami nggak akan biarkan Valkyrie-ku sendirian menghadapi ular seperti dia," ucap Talishia sambil merangkul Cassia.
Galaksi menghela napas, menatap Cassia dengan pandangan yang sulit diartikan. "Lo ceroboh, Cassia. Tapi gue rasa, itu bagian dari rencana pertumbuhan lo."
Cassia menatap sisa-sisa foto yang hancur di lantai dermaga. "Terima kasih, Kak Galaksi. Dan... Zelene, Tal, maaf aku sempat mau menghadapi ini sendirian."
"Jangan diulangi," sahut Zelene tegas. "Besok, kita pindahkan motor ke gudang sekolah. Oracle sudah siapkan sistem keamanan baru."
Galaksi menaiki motornya, menatap ke arah laut lepas. "Ini baru permulaan. Zidane mungkin lari, tapi Elara masih punya koneksi dengan Vipers. Kalian harus lebih siap dari ini."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...