Tak ada yang menyangka bahwa seorang jenius kepolisian seperti Song Lang akan lenyap dari dunia yang pernah ia kuasai. Namun setelah sebuah peristiwa kelam yang dipicu oleh musuh bebuyutannya, ia menghilang tanpa jejak—dan muncul kembali bertahun-tahun kemudian dengan nama baru: Chen Shi, seorang sopir biasa di kota yang tak pernah berhenti bergerak.
Chen Shi hanya ingin hidup tenang, jauh dari sorotan, jauh dari masa lalu. Namun takdir seolah menolak memberinya ketenangan. Suatu malam, sebuah kasus pembunuhan mengusik hidupnya, dan semua bukti justru mengarah kepada dirinya. Dalam sekejap, orang yang berusaha melupakan dunia kriminalitas kembali menjadi pusat perhatian.
Dipaksa membuktikan bahwa ia bukan pelaku, Chen Shi bekerja sama dengan seorang polisi muda yang gigih. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa kasus tersebut bukanlah kebetulan. Ada tangan-tangan gelap yang bergerak, dan jejaknya terasa terlalu familiar bagi Chen Shi. Terlalu mirip dengan seseorang ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Misi Darurat
Ruang rapat pagi itu terasa lebih berat dari biasanya. Para polisi datang satu per satu dengan mata sembab, wajah letih, namun tetap berusaha tersenyum, menyapa, dan bercanda ringan sambil menyalakan rokok. Tidak ada yang benar-benar beristirahat semalam; semua orang bekerja dengan tekanan kasus pembunuhan brutal itu.
Di pojok ruangan, Lin Dongxue duduk sambil menunduk pada ponselnya, menuliskan laporan singkat kepada Chen Shi mengenai hasil DNA yang baru ia dapatkan. Sudah dua belas jam berlalu, tetapi pria itu masih belum membalas satu pesan pun.
Ia mendecak pelan. Ke mana perginya orang itu? Kenapa hilang di saat kritis begini?
Belum sempat ia menambah keluhan, ruangan yang sebelumnya riuh mendadak sunyi total. Secara reflek semua orang duduk tegap. Lin Dongxue ikut menegakkan punggung.
Lin Qiupu telah masuk.
Dengan langkah tegap dan wajah setegang papan kayu, ia melihat seluruh anggota tim, lalu berkata, “Jika semua hadir, kita mulai rapat.”
Ia mengulas kembali hasil pemeriksaan forensik. “Dari DNA, sidik jari, saliva, dan jejak sepatu, tidak ada indikasi adanya orang luar di TKP. Pelaku tidak meninggalkan satu pun jejak yang bisa dipakai.”
Nada suaranya menurun, menjadi lebih tegas. “Itu berarti ia sangat berhati-hati. Dan orang yang berhati-hati seperti ini biasanya berada dalam lingkaran hubungan dekat korban.”
Xu Xiaodong mengangkat tangan dengan percaya diri yang membuat Lin Dongxue langsung ingin menutup wajah. “Kapten, saya pikir pelaku memakai lem 502 untuk melapisi jarinya. Itu sebabnya tidak ada sidik jari.”
Beberapa polisi menahan tawa. Seorang petugas senior menepis, “Meski benar pun, lem 502 tidak bisa dijadikan bukti di pengadilan. Mencarinya akan buang-buang waktu.”
Xu Xiaodong mengempis, duduk kembali seperti balon bocor.
Lin Qiupu mengisyaratkan teknisi untuk menyalakan proyektor. Foto-foto, diagram, dan bagan hubungan sosial keluarga korban muncul. Dengan rapi, ia memaparkan tiga orang yang paling mungkin memiliki motif. Nama pertama yang diperbesar di layar: Big Tiger, rentenir yang punya catatan kriminal panjang.
“Riwayatnya buruk. Pernah terlibat beberapa kasus kekerasan. Dan sekarang tidak jelas keberadaannya. Menurut saya, besar kemungkinan dia pelakunya.”
Baru saja akan melanjutkan, tangan Lin Dongxue terangkat.
Semua orang menoleh. Itu langka. Lin Qiupu tak punya pilihan selain mengangguk. “Lin Dongxue?”
“Saya hanya ingin menanyakan satu hal. Tuan rumah meminjam uang kepada rentenir untuk… diperas, bukan dibunuh. Kalau tak bisa bayar, biasanya mereka diculik atau disekap. Jarang ada rentenir yang langsung membunuh debitor. Apa motifnya?”
Lin Qiupu menjawab cepat, “Ada alasan yang belum kita ketahui. Hanya Big Tiger sendiri yang bisa menjelaskan.”
Lin Dongxue belum selesai. “Kalau rentenir membunuh seluruh keluarga untuk memberi peringatan, kenapa anak kecil itu dibiarkan hidup?”
Suasana menegang. Para polisi saling pandang.
Lin Qiupu mengembuskan napas tajam. “Saya bilang, kita akan mengetahuinya setelah menemukan Big Tiger. Jangan membuang waktu dengan pertanyaan yang belum relevan.”
“Kapten, saya hanya—”
“Cukup!”
Lin Dongxue menegang. Beberapa polisi menunduk, merasa tidak enak. Xu Xiaodong diam-diam menyikutnya agar berhenti. Lin Dongxue mengatupkan bibir dengan kesal. Dalam hati ia tahu—arah penyelidikan kakaknya lagi-lagi melenceng.
Tugas-tugas lalu dibagikan. Seperti yang sudah ia duga, tugas Lin Dongxue dan Xu Xiaodong hanyalah pekerjaan pinggiran; memeriksa saksi kecil yang tidak terkait langsung. Tidak ada akses ke jantung kasus.
Mereka bekerja hingga siang hari, mengunjungi saksi-saksi yang sama lelahnya, namun hasilnya nihil. Ketika akhirnya kembali ke kantor, punggung Lin Dongxue terasa kaku, dan Xu Xiaodong sudah mengeluh sejak dua blok sebelumnya.
Begitu duduk, Xu Xiaodong mengeluarkan sekotak kue dan menyodorkannya seperti menawarkan harta karun. “Ini, coba. Enak. Kerabatku baru pulang dari luar negeri.”
Lin Dongxue mengangkat alis. “Tidak, terima kasih. Aku sedang mengurangi gula.”
“Kau tidak gemuk, santai saja. Satu saja, ya?”
Ia begitu memaksa hingga Lin Dongxue akhirnya mengambil satu. “Baiklah. Satu saja.”
Xu Xiaodong tersenyum seperti kasim istana yang baru saja memenangkan hati putri kerajaan. “Bagaimana rasanya?”
“Tidak enak.”
“Ah, kau bohong.” Ia memasukkan satu ke mulutnya sendiri.
Lin Dongxue kembali menatap ponselnya. Tidak ada balasan dari Chen Shi. Tidak di WeChat, tidak di SMS. Sama sekali tidak.
Ia mendengus. Jangan-jangan dia tidur seharian brengsek itu… di saat seperti ini pula.
Saat ia melirik ke samping, Xu Xiaodong sedang mengintip layar ponselnya. Dengan cepat ia memarahinya, “Apa yang kamu lihat?!”
“Aku cuma… penasaran. Kenapa kamu begitu peduli pada dia?”
“Aku peduli pada kasusnya! Bukan orangnya!”
“Halah. Dia bahkan bukan polisi. Dia hanya dapat satu kasus karena keberuntungan. Jangan terlalu percaya mitos tentang ‘ahli sipil’ atau apa pun itu.”
Lin Dongxue memutar mata, malas berdebat, dan membuka game kecil di ponselnya.
Xu Xiaodong melihat kesempatan. Ia mengeluarkan dua tiket konser Zhang XueYou dari saku, memegangnya dramatis sekali.
“Dongxue, aku—”
Tetapi ia tak sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Semua berkumpul sekarang juga!” suara Lin Qiupu terdengar dari koridor.
Seketika semua polisi di kantor meloncat dari kursi.
“Yang tidak membawa senjata, ke gudang senjata sekarang!”
Lin Dongxue langsung bangkit. Xu Xiaodong memukul meja frustasi—rencananya hancur—lalu berlari menyusul.
Di halaman kantor, puluhan polisi berkumpul. Raut wajah semua berubah serius. Bahkan Xu Xiaodong tidak berani bercanda.
Lin Qiupu mengumumkan, “Baru saja, unit lalu lintas menghentikan sebuah mobil. Di dalamnya, ada empat orang bersenjata dan satu karung penuh uang tunai. Mereka diduga kuat terkait Big Tiger. Sekarang mereka berhadapan dengan polisi lalu lintas, situasinya sangat tegang.”
Semua menarik napas. Bahkan untuk polisi berpengalaman, kasus penyanderaan atau baku tembak adalah hal langka.
Satuan SWAT sudah siap di sisi kanan halaman. Wajah mereka santai, bahkan ada yang bercanda. Sebaliknya, tim kriminal penuh kerut tegang. Semua mengenakan rompi anti peluru, tetapi perbedaannya jelas: helm dan pelat baja SWAT tampak kokoh; sementara rompi tim kriminal lebih seperti jaket renang besar.
Xu Xiaodong menarik salah satu tali rompinya. “Ini… betul-betul bisa menahan peluru, kan?”
Seorang anggota SWAT menjawab sambil menepuk rompinya. “Bisa. Tapi mungkin tulang rusukmu patah.”
“W–bagaimana rasanya kena peluru tapi tidak tembus?”
“Seperti dipukul dengan palu.”
Anggota SWAT lain menambahkan dengan santai, “Kalau kena kaki atau kepala ya tetap mati.”
Xu Xiaodong memucat. “Aku… aku mau ke toilet.”
Polisi lain tertawa. Lin Dongxue menutupi wajah. Ia tidak tahu lagi mana yang lebih berbahaya—penjahat bersenjata atau rekannya sendiri.
Mobil berhenti. Pintu dibuka. Para anggota SWAT keluar dulu dengan sigap. Seorang di antara mereka menepuk punggung Xu Xiaodong. “Ayo. Ini bukan perang. Santai saja.”
Xu Xiaodong berbisik, “Aku tetap harus ke toilet…”
Dan mereka pun turun.