Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Suami!
Keesokan harinya, Jakarta dikejutkan oleh sebuah pengumuman besar. Di layar-layar LED raksasa yang tersebar di sepanjang ibu kota, wajah Karina Wijaya terpampang dengan anggun. Bukan sebagai istri seorang pengusaha material, melainkan sebagai Chairwoman Grup Wijaya, pengambilalihan proyek Mega City secara resmi diumumkan dan pasar modal bergejolak menyambut kembalinya sang Putri Mahkota.
Sementara itu, di sebuah sudut kumuh di pinggiran Jakarta, Agus sedang duduk di sebuah warung kopi kecil dengan pakaian yang sudah sangat kotor dan menatap layar televisi di warung itu yang menyiarkan berita tentang Karina.
"Itu... itu istriku," gumam Agus dengan suara serak dan matanya menatap nanar ke arah layar.
Orang-orang di warung kopi itu menoleh lalu tertawa terbahak-bahak, "Istrimu? Hei, bung! Itu Karina Wijaya, wanita terkaya di Jakarta. Kamu jangan mimpi di siang bolong, lihat saja tampangmu itu, mirip gelandangan!" ejek orang tersebut.
Agus meremas gelas plastik di tangannya hingga rusak, rasa sakit di hatinya kian menjadi. Agus teringat bagaimana ia dulu membentak Karina di rumah mewah mereka dan memaki Karina sebagai wanita yang tidak punya selera hiburan. Sekarang, wanita yang ia maki itu berada di puncak dunia, sementara ia harus bersembunyi dari kejaran lintah darat.
Agus menatap layar televisi itu dengan napas yang memburu, setiap kali wajah Karina muncul dalam balutan busana mewah, setiap kali penyiar berita menyebutkan nilai aset Grup Wijaya yang melonjak, sebuah duri menusuk jantungnya.
Agus tidak bisa menerima kenyataan ini, wanita yang selama dua puluh tahun ia injak-injak harga dirinya, kini menjadi matahari yang menyilaukan mata seluruh negeri.
"Dia pasti masih punya perasaan padaku, dua puluh tahun bukan waktu yang singkat. Dia hanya sedang marah, dia hanya sedang pamer kekuasaan agar aku memohon. Ya, benar. Dia menungguku memohon!" gumam Agus dan mengabaikan tawa mengejek orang-orang di warung kopi itu.
Logika Agus yang sudah diisi oleh keputusasaan mulai membangun skenario baru, ia yakin bahwa seluruh kehancuran yang ia alami adalah cara Karina untuk menjemputnya kembali ke dalam kendalinya.
Dengan sisa uang beberapa puluh ribu di sakunya, Agus pergi ke sebuah pasar loak untuk membeli sebuah kemeja putih bekas yang tampak sedikit lebih layak dan berusaha merapikan rambut serta janggutnya dengan gunting seadanya di toilet umum.
"Aku harus menemuinya sekali lagi. Bukan di parkiran, tapi di kantornya. Dia tidak akan tega mengusir Ayah dari anak-anaknya di hadapan publik," ucap Agus penuh percaya diri yang berlebihan.
Keesokan paginya, Gedung Grup Wijaya tampak lebih megah dari biasanya. Karangan bunga ucapan selamat atas pengambilalihan proyek Mega City memenuhi lobi, Agus berdiri di seberang jalan dan menatap gedung itu dengan rasa haus yang membara.
Agus mencoba melangkah masuk, namun penampilannya yang masih terlihat kusam langsung dihadang oleh barisan petugas keamanan di pintu putar.
"Saya suami Ibu Karina! Saya Agus Wijaya! Biarkan saya masuk!" teriak Agus saat petugas keamanan mencoba mendorongnya keluar.
"Pak, tolong jangan membuat keributan. Nyonya Karina tidak memiliki janji dengan siapa pun hari ini, terutama dengan orang seperti anda," ucap kepala keamanan yang sudah mendapat instruksi khusus dari Yessi.
"Orang seperti aku? Saya ini CEO Agus Materialindo! Saya yang membangun masa depan wanita itu!" teriaknya histeris hingga menarik perhatian para karyawan dan wartawan yang sedang meliput di area lobi.
Ditengah keributan itu, tiba-tiba suasana lobi menjadi sunyi, suara denting sepatu hak tinggi bergema dari arah lift eksekutif. Pintu lift terbuka dan dan Karina keluar didampingi oleh Yessi dan Faisal yang berjalan di sisinya, Karina tampak luar biasa cantik dengan setelan jas formal berwarna putih gading, sementara Faisal mengenakan jas gelap yang sangat serasi.
Melihat Faisal berada di samping Karina, amarah Agus memuncak. "Karina! Lihat aku!" teriak Agus dari balik barikade petugas.
Langkah Karina terhenti, ia menoleh perlahan dan matanya yang dingin menatap Agus seolah-olah pria itu hanyalah debu yang mengotori lantai marmernya yang mengkilap.
"Lepaskan dia," perintah Karina tenang kepada petugas keamanan.
Petugas melepaskan cengkeraman mereka, Agus segera berlari mendekat, namun Faisal dengan sigap berdiri satu langkah di depan Karina untuk melindungi wanita itu.
"Karina, sayang... lihat aku. Aku sudah sadar, aku meninggalkan semuanya demi menemuimu. Aku akan melakukan apa saja, Karina. Aku akan menjadi asistenmu, aku akan mencuci kakimu setiap hari, tolong... jangan biarkan aku hidup seperti ini. Aku mencintaimu, aku merindukanmu, Ella dan Aisha," ucap Agus sambil mencoba berlutut di tengah lobi.
Karina menatap Agus lalu melirik ke arah kerumunan wartawan yang mulai mengarahkan kamera mereka, ia tidak tampak panik justru sebaliknya, ia terlihat sangat tenang.
"Agus," panggil Karina lembut, namun suaranya membawa otoritas yang mematikan.
"Ya, Karina," jawab Agus.
"Kamu bilang kamu mencintaiku? Kamu merindukanku dan anak-anak?" tanya Karina.
"Iya, Karina! Demi Tuhan, iya!" jawab Agus.
Karina pun tersenyum lalu berpura-pura seolah tengah muntah, sebuah gestur penghinaan hingga membuat beberapa wartawan di lobi tersebut menahan diri mereka untuk tidak tertawa.
Karina menutup mulutnya dengan punggung tangan yang dihiasi cincin berlian murni pemberian Faisal, kilauannya seolah mengejek kekumuhan Agus.
"Maaf, Agus. Mendengar kata cinta dari mulutmu membuat lambungku bereaksi secara alami," ucap Karina setelah kembali tenang dan suaranya jernih dan terdengar ke seluruh penjuru lobi.
"Karina, jangan lakukan ini di depan umum! Aku ini suamimu!" teriak Agus dan wajahnya memerah karena malu yang luar biasa.
"Mantan suami! Dan tolong, jangan bawa-bawa nama Ella dan Aisha lagi. Setiap kali kamu menyebut nama mereka, kamu hanya mengingatkan mereka pada rasa lapar dan air mata yang mereka telan saat kamu mengusir kami demi membawa dan menikahi sekretarismu itu," ucap Karina.
Karina melangkah satu langkah maju dan keluar dari perlindungan Faisal lalu menatap langsung ke mata Agus yang kini bergetar ketakutan.
"Kamu ingin aku tidak membiarkanmu hidup seperti ini? Lalu bagaimana dengan dua puluh tahun hidupku yang kamu sia-siakan? Apa kamu pernah berpikir untuk memberiku satu hari saja tanpa cacian?" tanya Karina dengan nada yang rendah namun menusuk.
Agus tergagap, "I-itu... aku hanya stres karena pekerjaan, Karina! Kamu harus mengerti!" jawab Agus.
Karina tertawa, suara tawa yang begitu elegan namun terasa sangat dingin. "Stres pekerjaan? Pekerjaan yang seluruh laporannya aku yang buatkan? Strategi yang aku yang susun dari dapur rumahmu? Darimana stresnya?" tanya Karina.
Karina kemudian menoleh ke arah kerumunan jurnalis yang masih setia merekam setiap detik drama tersebut, "Teman-teman media, perkenalkan. Ini adalah Agus, pria yang mengklaim dirinya sebagai raja material Jakarta. Namun kenyataannya, dia adalah pria yang menggadaikan rumah masa kecil Ibunya di Solo demi membangun proyek gagalnya dan juga membayar utang judinya sendiri, lalu datang ke sini memelas meminta sedekah dari mantan Istrinya," ucap Karina.
.
.
.
Bersambung.....