Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20- tuduhan senonoh
Mereka berdua tersentak hebat. Aluna yang masih syok berat perlahan melonggarkan pelukannya, tapi jemarinya masih mencengkeram kuat ujung seragam Arlan seolah takut dilepas sedikit pun. Ia menoleh pelan ke arah pintu dengan air mata yang masih banjir di pipinya.
Di ambang pintu yang sudah hancur itu, berdirilah Bu Lastri, guru BK paling ditakuti seantero sekolah. Wajahnya merah padam dengan napas memburu. Di sampingnya, Lyra berdiri dengan raut muka yang dibuat-buat kaget, tangannya menutupi mulut seolah nggak percaya melihat adegan di depannya.
"Arlan! Aluna! Kalian sadar nggak sih apa yang kalian lakukan?!" teriak Bu Lastri hingga suaranya menggema di koridor. "Di sekolah, di toilet, dan dalam posisi... tidak pantas seperti itu?!"
Arlan langsung pasang badan. Ia nggak melepas Aluna sepenuhnya, malah menarik gadis itu ke belakang punggungnya untuk melindunginya dari tatapan tajam Bu Lastri.
"Ibu, dengarkan penjelasan saya dulu. Aluna dikunci dari luar dan lampunya sengaja dimatikan..."
"Cukup, Arlan!" potong Bu Lastri galak. "Ibu nggak mau dengar alasan apa pun. Lyra lapor ada suara gaduh yang mencurigakan di sini, dan ternyata benar! Ibu lihat sendiri kalian pelukan!"
Lyra menunduk, menyembunyikan seringai kemenangannya. "Iya, Bu... tadi saya cuma mau ke kamar mandi, tapi pintunya tertutup rapat dan saya dengar Aluna teriak-teriak manggil nama Arlan. Saya takut ada apa-apa, makanya saya panggil Ibu," ucap Lyra dengan nada polos yang dibuat-buat, meski matanya melirik sinis ke arah Aluna.
"Kalian berdua ikut Ibu ke ruang BK sekarang! Arlan, karena kamu Ketua OSIS dan ini pelanggaran berat, Ibu akan telepon orang tua kalian!" perintah Bu Lastri mutlak.
Ketegangan di ruang BK makin mencekam. Aroma pengharum ruangan nggak sanggup menutupi aura panas dari wajah Bu Lastri. Aluna masih diam seribu bahasa, bahunya sesekali bergetar hebat, sementara Arlan berdiri di sampingnya seperti batu karang kokoh dan nggak bergeser sedikit pun meski Bu Lastri menatapnya seolah ingin melubangi kepalanya.
Brak
Pintu ruang BK terbuka kasar. Ramma, Papah Aluna, masuk dengan langkah lebar, disusul Mamah Aluna yang wajahnya sudah sepucat kertas.
"Apa lagi yang kamu lakukan, Aluna?!" bentak Ramma tanpa basa-basi. Matanya langsung tertuju pada Aluna yang tampak berantakan dengan jaket OSIS tersampir di bahunya.
"Pah, dengerin Aluna dulu..." suara Aluna pecah. "Aluna dikunciin, Pah. Gelap banget di sana..."
"Jangan cari alasan!" potong Ramma dengan suara menggelegar. Beliau menoleh pada Bu Lastri. "Bu Lastri, langsung saja. Apa hukumannya? Saya nggak akan mentoleransi anak yang merusak nama baik keluarga!"
Bu Lastri berdehem, tangannya memegang surat skorsing yang sudah siap ditandatangani. "Karena ini menyangkut asusila di lingkungan sekolah, pihak sekolah memutuskan untuk men-skors Aluna dan Arlan selama dua minggu. Dan kalau ini sampai viral, kami terpaksa minta salah satu dari mereka mengundurkan diri."
Aluna memejamkan mata rapat-rapat. Kata 'mengundurkan diri' terasa seperti petir di siang bolong. Namun, tepat sebelum Ramma meledak lagi, sebuah ketukan berwibawa terdengar.
Pintu terbuka pelan. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas navy yang sangat rapi masuk. Wajahnya adalah cerminan Arlan dua puluh tahun ke depan tenang, tapi punya tatapan mata yang bisa bikin siapa pun menciut. Ia adalah Abbas, Papah Arlan, sekaligus donatur terbesar yayasan sekolah.
"Maaf saya telat, tadi harus putar balik mobil," suara Abbas rendah tapi memenuhi ruangan. Bu Lastri refleks berdiri dengan sikap hormat yang dipaksakan.
Ramma tersentak. Amarahnya mendadak tertahan di tenggorokan. "Pak Abbas? Jadi... Arlan ini putra Anda?"
Abbas cuma mengangguk singkat, wajahnya datar tapi penuh otoritas. Ia berjalan mendekati meja Bu Lastri, melewati putranya yang masih setia berdiri melindungi Aluna.
"Benar, Ramma. Arlan putra saya," jawab Abbas tenang. Ia lalu menatap Bu Lastri sampai guru itu berkeringat dingin. "Putra saya nggak akan ngerusak pintu sekolah kalau nggak darurat. Dan soal tuduhan Ibu..." Abbas menjeda, menatap surat skorsing di meja lalu merobeknya jadi dua. "...saya rasa Ibu terlalu cepat menyimpulkan rasa takut sebagai tindakan yang nggak benar."
Bu Lastri berdehem canggung. "Tapi Pak Abbas, mata saya nggak salah lihat. Dan Lyra juga bilang..."
"Kesaksian yang bisa diatur nggak ada harganya dibanding bukti fisik," potong Abbas tajam. Ia menoleh ke arah Ramma. "Ramma, nggak nyangka kita ketemu lagi gara-gara urusan anak-anak yang hobi bikin pusing begini."
Ramma menghela napas panjang. Amarahnya mulai mendingin, berganti dengan ekspresi penuh pertimbangan. "Dunia sempit banget, Abbas. Tapi jujur, saya pusing. Mau itu cuma nolongin atau apa, mulut orang di sekolah ini nggak bisa dijaga. Ini bakal jadi noda buat keluarga saya kalau nggak ditangani sekarang."
Suasana makin berat. Abbas berdiri di tengah ruangan dengan sobekan kertas di tangannya. "Makanya, nggak perlu ada skors-skorsan. Masalah ini kami ambil alih," ujarnya mutlak pada Bu Lastri.
Ia lalu menoleh pada Ramma. "Ramma, bawa mobilmu. Kita ke rumah saya sekarang. Istri saya sudah menunggu. Kita beresin masalah ini di sana, jangan di sekolah."