akhir zaman tiba, gerbang dimensi terbuka dan monster menghancurkan dunia, Rey kembali ke waktu sebelum gerbang pertama terbuka dan memiliki kekuatan baru untuk menghadapi zaman Akhir. Dia diberi kesempatan kedua untuk hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsyTamp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 – Kebangkitan di Tengah Teror
Suara sirene kembali menggema di seluruh kota.
Kali ini lebih keras, lebih panjang, dan lebih panik dari sebelumnya.
Rey yang sedang berdiri di atap gedung pusat komando langsung menoleh ke arah selatan kota. Udara bergetar aneh, seperti ada sesuatu yang merayap keluar dari dalam bumi.
“Datang…” gumamnya.
Leoni yang berdiri di sampingnya menegang.
“Monster kedua?”
Boy berdiri dari duduknya, api kecil menyala di telapak tangannya.
“Kayaknya bukan yang kecil.”
Belum sempat mereka bergerak, sebuah ledakan mengguncang kejauhan. Tanah bergetar, dan teriakan warga terdengar samar dari arah permukiman.
Sebuah pesan darurat muncul di layar kota:
PERINGATAN: OBJEK RAKSASA TERDETEKSI DI DISTRIK BARAT.
EVAKUASI SEGERA.
Rey langsung membelalakkan mata.
“Distrik barat…”
“Itu arah rumahku.”
Leoni menoleh cepat.
“Rumah kamu di sana?!”
Rey mengangguk.
“Dan adikku… masih di sana.”
Boy langsung menyeringai tipis.
“Kalau begitu kita nggak punya waktu.”
Mereka bertiga berlari menuruni tangga darurat dan melompat ke jalan. Sebuah kendaraan militer yang ditinggalkan segera mereka ambil alih.
Boy yang menyetir memacu kendaraan itu tanpa ragu.
“Pegangan!”
Boy dengan mahir melajukan kendaraan ditengah kota yang hancur.
Saat mereka mendekati distrik barat, pemandangan mengerikan terbentang di depan mata.
Bangunan-bangunan rendah mulai runtuh. Mobil-mobil terbalik. Jaring putih raksasa menempel di dinding dan tiang listrik.
Di tengah jalan utama, seekor laba-laba raksasa berdiri tegak.
Tubuhnya setinggi dua lantai rumah. Delapan kakinya menancap ke aspal seperti tombak. Matanya yang banyak memantulkan cahaya merah dari lampu darurat.
Monster itu mengeluarkan suara mendesis panjang.
SREEEEKKK…
Leoni menelan ludah.
“Itu… gede banget.”
Boy membuka pintu kendaraan.
“Arah geraknya jelas.”
Rey mengamati jalur kehancuran di belakang monster itu.
“Dia menuju ke kawasan perumahan.”
Ke arah rumahnya.
Rey melompat turun lebih dulu.
“Kita harus hentikan dia di sini.”
Leoni mengaktifkan sniper otomatisnya.
Boy menyalakan api di kedua tangannya.
Mereka berdiri sejajar.
“Pertarungan pertama kita bertiga,” kata Boy sambil tersenyum.
“Jangan mati dulu, ya.”
Monster itu menoleh, merasakan kehadiran mereka.
Lalu… melompat.
BUMM!!
Aspal pecah saat tubuh besarnya menghantam tanah.
Rey langsung membentuk tameng besar di depan mereka.
KRAAANG!!
Kaki monster menghantam tameng itu dengan kekuatan mengerikan. Rey terdorong mundur beberapa meter.
“Berat… banget…!” serunya.
“Rey, jaring!” teriak Leoni.
Dari mulut monster, jaring lengket melesat seperti peluru.
Rey memperluas tamengnya menjadi kubah.
Jaring itu menempel dan mengeras di permukaan tameng.
Boy melompat ke samping dan melempar bola api ke salah satu kaki monster.
BOOM!
Api meledak, membakar bulu kasar di kaki monster.
Monster menjerit dan mengangkat satu kakinya.
“Bagus, Boy!” teriak Leoni.
Leoni membidik sendi kaki monster.
DUARR!!
Cahaya biru menghantam persendian. Salah satu kaki monster patah dan membuat tubuhnya miring.
Namun monster itu tidak jatuh.
Ia justru melompat tinggi, melewati mereka.
“Dia kabur!” seru Boy.
Rey membelalakkan mata.
“Bukan kabur… dia tetap menuju perumahan!”
Monster itu mendarat beberapa puluh meter di depan, lalu berlari cepat di antara gedung-gedung.
Rey mengepalkan tangan.
“Dia mengincar wilayah tempat banyak manusia.”
Dan rumah Rey ada di sana.
Di sisi lain distrik, Sila sedang berjalan pulang dari sekolah dengan tas di punggung. Jalanan sudah sepi. Suara sirene membuat jantungnya berdebar.
“Kenapa kota ribut banget sih…” gumamnya.
Ia melihat orang-orang berlarian menjauh.
“Tante! Ada apa?!” teriaknya pada seorang wanita.
“Monster! Lari, Nak!”
Sila menoleh ke arah suara getaran berat di kejauhan.
Tanah bergetar.
SREEEKK…
Dari balik bangunan, bayangan besar muncul.
Delapan kaki.
Tubuh hitam raksasa.
Mata Sila membesar.
“Mo… monster…”
Kakinya gemetar. Ia mundur beberapa langkah dan terjatuh.
Monster itu merayap cepat ke arahnya.
Sila menutup mata.
“Aku… aku nggak mau mati…”
Dalam ketakutan dan keputusasaan itu, dadanya terasa panas.
Sesuatu seperti arus listrik mengalir di seluruh tubuhnya.
BRZZTT!!
Udara di sekeliling Sila bergetar.
Tanah di bawah kakinya menghitam.
Sila membuka mata.
Listrik biru menyelimuti tubuhnya.
“A… apa ini?”
Monster itu mengangkat salah satu kakinya untuk menghantam.
Sila mengangkat tangannya secara refleks.
“Jangan… mendekat!”
CRAAAKKK!!
Petir menyambar dari tubuh Sila dan menghantam kaki monster.
Kaki itu hangus dan terputus.
Monster meraung kesakitan.
Sila terengah-engah.
“Aku… ada listrik keluar dari tubuhku…”
Tubuhnya masih diselimuti kilatan listrik.
Sementara itu, Rey, Leoni, dan Boy tiba di tikungan terakhir menuju rumah Rey.
Mereka melihat monster itu berhenti di tengah jalan.
Dan di depannya…
Seorang gadis kecil berdiri dengan tubuh diselimuti listrik biru.
Rey membeku.
“Itu…”
Matanya melebar.
“Sila.”
Leoni tersentak.
“Itu adikmu, apa dia juga membangkitkan kekuatan?!”
Boy melotot.
“Dia… dia nyetrum monster?!”
Monster itu meraung dan hendak menyerang lagi.
Rey berlari tanpa pikir panjang.
“SILA!!”
Ia melompat ke depan adiknya dan membentuk tameng besar.
KRAAANG!!
Serangan monster menghantam tameng Rey.
Sila menatap punggung kakaknya dengan mata gemetar.
“K… kakak?”
Rey menoleh sedikit.
“Kamu bangun kekuatanmu…”
Sila menatap tangannya sendiri yang masih berkilat listrik.
“Aku… takut…”
Rey tersenyum tipis meski keringat bercucuran.
“Tenang. Kakak di sini.”
Leoni dan Boy segera mengambil posisi.
“Kita jatuhkan dia sekarang!” teriak Leoni.
Boy mengangkat kedua tangannya, api menyatu menjadi satu bola besar.
Rey memusatkan seluruh energinya ke tameng.
“Sekarang!”
Leoni menembak mata monster.
DUARR!!
Boy melempar bola api ke mulut monster.
BOOOOM!!
Api dan cahaya biru bercampur.
Sila tanpa sadar mengangkat tangan.
PETIR BESAR menyambar dari langit dan menghantam tubuh monster.
BRAAAKK!!
Tubuh monster kejang, lalu ambruk ke aspal.
Asap hitam keluar dari tubuhnya sebelum perlahan menguap.
Hening.
Sila jatuh berlutut.
Rey langsung memeluknya.
“Kamu selamat… kamu benar-benar selamat…”
Air mata Rey menetes tanpa ia sadari.
Sila menggenggam baju kakaknya.
“Aku takut, Kak…”
“Sudah tidak apa-apa.”
Leoni dan Boy berdiri terdiam.
Boy bersiul pelan.
“Listrik… sniper… tameng… api…”
Ia menatap Rey.
“Kita tim keren, ya.”
Namun Rey tidak tertawa.
Ia menatap layar transparan yang muncul di depan matanya:
Anggota baru terdeteksi.
Kekuatan: Tipe Listrik.
Rey mengepalkan tangan.
Dia sudah bangkit lebih awal…
Ini berarti…
Dunia berubah lebih cepat dari yang ia ingat.
Dan bahaya berikutnya akan datang lebih cepat juga.
Ia menatap langit yang mulai gelap.
“Ini baru permulaan…”
Monster laba-laba telah berhasil mereka kalahkan.
Sila membangkitkan kekuatan listriknya lebih awal dari masa depan yang diingat Rey.
Namun dunia mulai bergerak lebih cepat dari yang Rey ingat, dan masa depan… menjadi semakin tidak pasti.