Rania Felisya, seorang istri yang selama ini mempercayai pernikahannya sebagai rumah paling aman, dikejutkan oleh kenyataan pahit ketika tidak sengaja mengetahui perselingkuhan suaminya dengan sahabatnya sendiri.
Pengkhianatan ganda itu menghancurkan keyakinannya tentang cinta, persahabatan, dan kesetiaan.
Di tengah luka dan amarah, Rania memutuskan untuk segera berpisah dengan suaminya—Rangga. Namun, Rangga tidak menginginkan perpisahan itu dan malah menjadikan anak mereka sebagai alat sandera.
"Kau benar-benar iblis, Rangga!" ucap Rania.
"Aku bisa menjadi iblis hanya untukmu, Rania," balas Rangga.
Akankah Rania berhasil melepaskan diri dari Rangga dan membalas semuanya, atau malah semakin terpuruk dan hancur tak bersisa?
Yuk ikuti kisah mereka selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Seorang Pengacara.
Rania bergidik ngeri, tubuhnya langsung bergetar memikirkan hal buruk yang baru saja melintas di kepalanya, sampai dia tidak sadar jika saat ini Kenzo kembali menghampirinya dan berdiri tepat di hadapannya.
"Kenapa diam di sini?"
Rania terlonjak kaget, kakinya tiba-tiba terasa lemas membuat tubuhnya terhuyung ke belakang. Namun, dengan cepat Kenzo menangkap tubuh Rania yang nyaris terjatuh ke lantai.
Deg.
Jantung Rania berdegup kencang saat berhadapan langsung dengan wajah Kenzo, apalagi saat ini tubuhnya berada dalam pelukan laki-laki itu yang mendekapnya dengan erat.
Untuk beberapa saat, mereka berdua saling pandang dengan jarak yang sangat dekat. Kenzo memperhatikan wajah cantik Rania, apalagi saat melihat bola mata wanita itu yang sangat indah mempesona, sementara Rania terdiam kaku seakan terhipnotis oleh apa yang Kenzo lakukan. Sampai akhirnya dia tersadar dan berusaha untuk keluar dari pelukan laki-laki itu.
"Te-terima kasih," ucap Rania dengan gugup, dadanya berdebar dan wajahnya tiba-tiba terasa panas.
Kenzo mengangguk. "Aku sudah menunggu di meja makan." katanya memberitahu, kedua tangannya terlipat di depan dada.
"Ah, maaf. Saya harus segera pergi," balas Rania, dia memalingkan wajah karena tidak ingin bersitatap mata dengan Kenzo, apalagi dadanya terus berdebar entah karena apa.
Kenzo kembali diam, memperhatikan Rania yang sepertinya merasa tidak nyaman. "Aku sudah memanggil pengacara untukmu." katanya, membuat Rania langsung melihat kearahnya.
"Kenapa?" tanya Rania. "Kenapa Anda memanggil pengacara untuk saya? Apa yang Anda inginkan?" ucapnya dengan menggebu-gebu. Dia harus menanyakannya secara langsung agar tidak merasa bingung.
Kenzo menghela napas, apalagi saat melihat tatapan Rania yang seolah meminta penjelasan. "Aku hanya membantumu, katanya kau mau ke kantor pengacara."
"Tapi kenapa Anda membantu saya?" tanya Rania kembali. "Apa yang Anda inginkan dari saya?" Tatapannya menajam.
Kenzo terdiam, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai. Dia melangkah maju semakin mengikis jarak dengan Rania membuat wanita itu tersentak, lalu mencodongkan tubuhnya sampai ke wajah Rania.
"Kau tidak mau menerima bantuanku?" tanyanya.
Rania terdiam, merasakan hembusan napas Kenzo menyapu wajahnya menguarkan aroma mint yang menyegarkan. "Tidak, kendalikan dirimu, Rania. Dia hanya seorang laki-laki yang jauh lebih muda darimu."
"Aku hanya ingin membantu karena sepertinya kau membutuhkan bantuan," sambung Kenzo, dia menegakkan tubuhnya kembali dan menunduk melihat ke arah Rania yang hanya setinggi dadanya saja.
Rania kembali diam, mencerna semua ucapan Kenzo. Tiba-tiba dadanya berdesir, tubuhnya bergetar, napasnya mulai terasa sesak, dan kedua matanya berkaca-kaca.
"Membutuhkan bantuan?" Rania mengepalkan kedua tangannya dengan erat, air mata sudah lolos dari sudut matanya yang sekuat tenaga ia tahan.
Benar, saat ini Rania memang sangat membutuhkan bantuan. Apalagi untuk melawan keluarga Rangga, dia sama sekali tidak punya kekuatan dan tidak ada satu pun orang yang bisa membantunya.
Rania sendirian, tak ada seorang pun yang berada di sisinya. Jangankan membantu, dia bahkan tidak punya tempat untuk berkeluh kesah, dia juga tidak sempat berduka atas pengkhianatan suami dan sahabatnya karena harus memikirkan Dafa, itupun sekarang Dafa sudah diambil paksa darinya.
"Anda benar-benar akan membantu saya?" tanya Rania dengan suara serak, tangisnya nyaris pecah. Dia menatap Kenzo dengan mata memerah. Persetan dengan apapun niat laki-laki itu padanya, yang penting dia bisa kembali mendapatkan Dafa dan membalas dendam pada Rangga.
Kenzo mengangguk. "Ya." jawabnya datar, matanya terus menatap ke arah mata Rania yang sudah basah.
Rania lalu menunduk, perlahan menarik napas dan mencoba untuk menenangkan diri. Setelahnya dia kembali mendongakkan kepala, menatap Kenzo yang tetap setia memperhatikan.
"Kalau gitu bantu saya," ucap Rania pelan, suaranya nyaris tak terdengar karena bibirnya bergetar.
Tanpa menjawab ucapan Rania, Kenzo langsung menarik tubuh wanita itu dan memeluknya dengan erat membuat Rania terkesiap. Namun, sedetik kemudian, tangisnya pecah dan dia membalas pelukan Kenzo dengan gemetaran.
"Huhuhu." Rania menangis dengan tersedu-sedu dalam dekapan Kenzo, dekapan lelaki asing yang baru beberapa hari dia kenal. Rania menumpahkan segala sakit yang bersarang dalam hatinya, menumpahkan segala duka yang sedang dia rasakan.
"Jahat, mereka jahat sekali padaku," ucap Rania dengan terisak, mengingat semua perbuatan yang Rangga dan Vita lakukan padanya, juga perlakuan mertua dan fitnah yang mereka layangkan. Sungguh rasanya sangat sakit sekali dan menghancurkan seluruh hidupnya.
Kenzo menggertakkan gigi mendengar ucapan Rania. Mulutnya tetap diam, tapi sorot matanya berubah tajam. Rahangnya mengeras, urat-uratnya menonjol kepermukaan.
Damian yang sejak tadi diam memperhatikan tampak menelan salive dengan kasar, dia mengalihkan pandangan ke arah lain karena tidak mau menatap sorot tajam sang tuan. Sampai kedatangan seseorang mengalihkannya dan dia bergegas menuju pintu depan.
Beberapa saat kemudian, Rania sudah kembali tenang dan duduk di meja makan bersama dengan Kenzo. Kedua matanya sembab, wajahnya memerah karena habis menangis, juga karena merasa malu karena sudah menangis seperti itu dalam pelukan Kenzo.
"Makanlah," ucap Kenzo.
Rania mengangguk dan mulai menikmati makanan dan minuman yang sudah tersaji di hadapannya. Rasa malu yang sejak tadi dia rasakan mulai menguap, dan dia menikmati makanan dengan tenang.
Setelah selesai makan, Kenzo mengajak Rania kembali ke ruangan tadi. Terlihat Damian sudah menunggu di sana bersama dengan seorang lelaki bernama Andre.
"Selamat siang, Tuan muda, " ucap Andre seraya menundukkan kepalanya di hadapan Kenzo.
Kenzo mengangguk, lalu menyuruhnya untuk duduk. "Dia butuh pengacara, jadi uruslah kasusnya." katanya sembari melirik ke arah Rania yang duduk tepat di sampingnya.
Andre melihat sekilas ke arah Rania, dia tersenyum dan dibalas dengan senyum juga oleh wanita itu. "Baik, Tuan." ucapnya. Dia bergegas membuka tas kerjanya untuk mengambil sesuatu, lalu beralih pada Rania. "Maaf, Nona. Bisakah Anda menceritakan semuanya pada saya?"
Rania mengangguk dengan ragu, dia melirik sekilas ke arah Kenzo yang juga meliriknya, lalu kembali melihat ke arah Andre. "Akan saya ceritakan semuanya." Dia lalu mulai menceritakan semua yang telah terjadi dalam hidupnya, termasuk laporan yang sudah dia buat di kantor polisi.
"Anda tidak perlu khawatir, Nona. Saya akan melakukan yang terbaik untuk Anda."
*
*
*
Bersambung.
dah nurut aja kenapa sama tuan muda