NovelToon NovelToon
Kebangkitan Istri

Kebangkitan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kebangkitan pecundang / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KI 2

Miranda tidak bisa melamun terlalu lama. Pekerjaan rumah masih banyak, sebentar lagi para penghuni rumah akan bangun dan Miranda harus sudah siap seperti biasa.

Miranda melangkah ke dapur lalu menyajikan makanan ke meja makan. Piring dan sendok tak lupa ditata dengan rapi, semuanya ia susun seperti aturan tak tertulis.

Setelah itu Miranda kembali ke dapur lalu mengambil plastik sampah yang sudah penuh. Ia berjalan melalui samping rumah menuju depan, mengambil plastik sampah yang ada di teras.

Miranda melangkah keluar menuju bak pembuangan sampah perumahan. Udara pagi masih lembap, sisa hujan malam membuat jalan sedikit licin dan berbau tanah basah.

“Masyaallah, rajin sekali kamu, Mir,” ucap Pak Haji Imron yang sedang menyapu halaman rumahnya.

Miranda hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Miranda memang anak yang pemalu, kurang percaya diri jika harus berbicara lama dengan orang lain.

Miranda kembali menganggukkan kepala lalu berbalik akan pergi menuju rumahnya. Langkahnya kecil dan cepat, seolah ingin segera menghindar dari percakapan.

“Miranda,” panggil Pak Imron lagi.

Miranda menoleh dan menatap Pak Imron sebentar, kemudian menundukkan kepala lagi. Tangannya meremas ujung mantel yang sedikit basah oleh gerimis.

“Mir, bilang sama suami kamu untuk rajin berjamaah lagi,” ucap Pak Imron dengan suara lembut.

“Baik, Pak, nanti saya sampaikan,” ucap Miranda lalu berjalan setengah berlari menuju rumahnya.

Miranda juga ingin melihat Raka rajin salat seperti dulu saat masih jadi karyawan kontrak. Raka dulu dikenal sebagai anak muda yang rajin ibadah dan sopan.

Sekarang Raka sepertinya jarang salat. Miranda ingin menegur, tetapi tidak punya keberanian untuk mengucapkan satu kalimat pun di hadapan suaminya.

Dan sekarang Pak Imron meminta menyampaikan pesan pada Raka. Tentu saja Miranda tidak akan menyampaikannya karena Miranda takut akan reaksi suaminya.

Hujan turun rintik-rintik, rambut Miranda sedikit basah. Miranda masuk ke dapur melalui pintu samping yang langsung terhubung dengan ruang cuci.

“Miranda,” suara melengking Rina menggelegar dari ruang tengah.

Itu adalah ritual di pagi hari, penanda waktu beranjak siang. Sehari saja Rina tidak berteriak memanggil Miranda, seolah ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.

“Ya, Bu, ada apa?” tanya Miranda sambil menyeka air hujan bercampur keringat di dahinya.

“Dari mana saja kamu, dari tadi saya panggil tidak menyahut,” ucap Rina memandang tajam pada Miranda.

“Saya habis buang sampah, Bu,” jawab Miranda pelan.

“Buang sampah lama sekali, dasar tidak berguna,” ketusnya tanpa menahan nada meremehkan.

Miranda sudah terlalu kebal mendengarkan hal itu. Sepuluh tahun sudah ia diperlakukan seperti itu tanpa pernah ada yang berubah sedikit pun.

Rina akan memarahi Miranda lagi, tetapi suara Budi terdengar dari teras.

“Miranda,” panggil Pak Budi dengan suara berat.

“Baru saja bangun yang pertama dipanggil malah Miranda,” muka Ibu Rina langsung masam.

“Memang Ibu mau buatkan Bapak kopi?” Pak Budi melihat wajah Rina dengan tatapan malas.

“Ada Miranda, kenapa Ibu yang harus bikin kopi?” jawab Rina ketus.

“Ya makanya jangan marah kalau bangun tidur aku panggil Miranda,” ucap Pak Budi datar.

Wajah Rina semakin masam, bibirnya mengerucut menahan kesal.

“Miranda, buatkan Ayah kopi,” ulang Pak Budi.

“Baik, Yah,” ucap Miranda lalu bergegas ke dapur menyiapkan air panas.

Rina yang kesal melangkah ke meja makan, melihat makanan sudah tersaji rapi. Selama sepuluh tahun Miranda melayani mereka tanpa celah sedikit pun.

Sebagai menantu sebenarnya Rina mengakui Miranda sudah mengurus mereka dengan baik. Namun status pendidikan Miranda dan asal-usulnya membuat Rina sulit menerima.

Lela dan Lusi datang ke meja makan masih menggunakan baju tidur, lalu mencicipi makanan tanpa mencuci muka lebih dulu.

“Dasar pemalas, mandi dulu kalian baru makan,” ucap Rina melotot.

“Galak sekali sih, Bu,” ucap Lela sambil mengambil tempe.

“Kamu lagi, Lela, sudah umur tiga puluh tahun masih saja malas,” balas Rina semakin kesal.

“Biar malas yang penting aku punya suami yang lagi kuliah di luar negeri,” jawab Lela santai.

“Baik, baik, pokoknya Ibu tunggu suami kamu pulang. Sesuai janji dia akan membuatkan kamu rumah,” ucap Rina penuh harap.

“Tenang saja, Bu,” ucap Lela lalu mengambil tempe dan kembali masuk ke kamar.

Miranda membawa kopi ke teras. Pak Budi duduk di kursi memandang taman kecil yang selalu bersih karena rutin dibersihkan Miranda.

“Ini kopinya, Pak,” ucap Miranda sambil menyodorkan cangkir.

Pak Budi mengisap rokoknya lalu menghembuskannya pelan. Asap putih mengepul di udara pagi yang masih dingin.

“Bapak jangan banyak merokok, nanti sesak napas lagi,” ucap Miranda dengan suara pelan penuh khawatir.

Pak Budi hanya melihatnya tajam tanpa menjawab. Tatapan itu membuat Miranda langsung menundukkan kepala.

Miranda menunduk lalu pergi ke dapur. Ia mengutuk mulutnya sendiri karena merasa telah lancang mengingatkan mertuanya.

Miranda melihat sendiri saat Pak Budi sesak napas dan hampir meninggal. Seminggu penuh Miranda menunggui Pak Budi di rumah sakit tanpa digantikan siapa pun.

Mengingat hal itu Miranda ingin memberi peringatan pada Pak Budi. Namun ia lupa bahwa dirinya hanyalah menantu yang tidak dianggap di rumah itu.

Miranda melangkah ke ruang cuci lalu membilas cucian dan memasukkannya ke pengering. Tangannya bergerak cepat seperti sudah hafal irama pekerjaan.

Terdengar sayup-sayup percakapan dari ruang makan antara Raka, Rina, Lela, dan Lusi.

“Jadi kan Kak Lina nanti malam ke sini,” ucap Lusi dengan nada antusias.

“Jadilah, pokoknya kamu harus mau, Raka. Jangan mengecewakan Ibu lagi,” suara Rina terdengar tegas.

“Ya,” jawab Raka singkat.

Miranda hanya bisa mendengarkan sayup-sayup karena tercampur dengan suara dengungan mesin cuci yang berputar tanpa henti.

“Lina lagi, Lina lagi. Siapa sebenarnya Lina, kenapa ibu mertua dan ipar-iparku antusias membicarakannya,” ucap Miranda dalam hati.

Dan tentu saja pertanyaan itu hanya bisa Miranda pendam sendiri. Ia takut mengungkapkannya, takut dianggap cemburu tanpa alasan.

Mereka asyik sarapan, dan selama sepuluh tahun tinggal di rumah itu Miranda tidak pernah diajak makan bersama.

Miranda selalu makan setelah semua keluarga selesai makan. Mereka akan merasa jijik jika Miranda ikut duduk bersama hanya karena ia tidak berpendidikan.

Miranda menjemur pakaian yang sudah dikeringkan dengan cepat dan rapi. Setiap helai baju ia kibaskan agar tidak kusut.

Miranda kembali ke dapur, mengintip ke meja makan. Semua sudah selesai, piring berserakan menunggu dibereskan.

Miranda buru-buru berlari ke teras. Tampak Raka sudah duduk di kursi teras bersiap berangkat kerja.

Miranda menghampiri, berjongkok di depan Raka lalu mengelap kaki suaminya dengan kain bersih, memakaikan kaos kaki dan sepatu.

Sedangkan Raka tidak pernah melihatnya, ia sibuk dengan ponselnya. Pak Budi yang ada di samping Raka hanya menggelengkan kepala pelan.

Setelah sepatu terpakai Miranda melangkah ke gerbang lalu membukakan pintu. Ia menunggu Raka keluar dari garasi seperti kebiasaannya.

Miranda selalu memastikan Raka keluar dengan aman, mobilnya tidak lecet sedikit pun. Itu bentuk tanggung jawab yang ia pegang teguh.

Mobil Raka keluar perlahan lalu melaju meninggalkan rumah. Miranda menatap hingga mobil itu hilang di ujung jalan.

Miranda kembali menutup gerbang dan masuk ke rumah dengan langkah cepat. Pekerjaan berikutnya sudah menunggu tanpa jeda.

“Ka Miranda,” ucap Lusi tiba-tiba.

Miranda menghentikan langkahnya. Lusi sudah rapi, ia adalah mahasiswa semester tiga yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri.

“Ada apa?” tanya Miranda pelan.

“Bersihkan kamarku ya,” ucap Lusi tanpa rasa bersalah.

“Pekerjaanku masih banyak,” jawab Miranda jujur.

Lusi tampak merengut dan akan memanggil Rina ibunya.

“Jangan panggil Ibu,” ucap Miranda, wajahnya langsung ketakutan.

“Baik, aku akan bersihkan,” lanjut Miranda mengalah.

“Nah, begitu dong,” ucap Lusi lalu pergi keluar rumah dengan langkah ringan.

Miranda masuk ke kamar Lusi lalu mulai membersihkan kamar itu. Pakaian berserakan, gelas bekas minum menumpuk di meja belajar.

Miranda menggelengkan kepala pelan.

“Bagaimana ada anak perempuan sejorok ini,” gumamnya lirih.

Miranda terus merapikan kamar Lusi. Namun tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah benda di dekat laci tempat tidur.

Ada dua benda tergeletak di sana, yang satu tespek dan yang satunya lagi kotak kecil berwarna putih.

Miranda melihat dengan teliti lalu mengejanya pelan.

“Obat penunda kehamilan.

1
nunik rahyuni
kok ikut tegang thor 🤣🤣 sdh ikut ngos ngosan lari tp di gantung /Sleep/
Sunaryati
Miranda kamu akan ada jalan menuju sukses karena menolong Dino dan ibunya
nunik rahyuni
duh jenenge kok podo...🤣🤣🤣 jenenge pasaran..😁
nunik rahyuni: /Joyful//Joyful//Joyful/ klo mau msh ada stok nama yg antik thor..nama bahari tu yg akiranya nik kya anik ...nanik..hanik..yanik .menik
total 2 replies
nunik rahyuni
Cerita yg bagus bikin nguras esmosi..mirip dg zaman q masih jahiliyah 😁😁😅
Sunaryati
Semoga langkahmu lancar, sepertinya pemilik ruko itu saudaramu Miranda
nunik rahyuni
lanjut kk ...makin seru
Asphia fia
itu mah Miranda dijadikan budak yg di byr Thor BKN istri
gemes bgt baca ceeitanya
nunik rahyuni
semangat terus berkarya 💪💪💪💪
nunik rahyuni
lanjut thorr double up klo boleh...suka j baca cerita rakyat jelata g selalu ceo coe atau oce / eco 🤣🤣🤣
nunik rahyuni
tega nya..mknya belajar lah menyanyangi diri sendiri
nunik rahyuni
sumpal mulutnya pake lap kompor mertua kya itu ..sayur nya tak kasih racun tikus ben innalillah
nunik rahyuni
awak capek kerja cm di kadih tempe kok ra pinter jadi orang to mir masak karo ngemplok sing enak enak yg lain kasih sisanya saja wong pemalas
santi damayanti: terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
nunik rahyuni
kok kya anak tk...sesayang sayang nya sm laki q emoh yen kokon kya itu..dia punya kaki punya tangan kok kya orang cacat
santi damayanti: terimakasih
total 1 replies
nunik rahyuni
tahanya smpai 10 th..aq j yg bru sebulan di ikuti mertua ja sdh mo tak racun😁
Sunaryati
Jadi kismin sebentar lagi karena dikuras calon istri
Sunaryati
Kau akan dipecat karena pengadaan mesin dan pekerjaan kamu kacau tidak ada yang beres setelah bercerai dengan Miranda. Semoga Miranda diperkerjakan di ruko tempat ia bermalam
santi damayanti: terimakasih sudah berkunjung dan membaca
total 3 replies
Sunaryati
Arka mengingat Miranda karena sudah tidak punya babu gratis
Sunaryati
Doa orang terdzolimi semoga segera terkabul
Sunaryati
Semangat Miranda kamu orang baik, semoga segera terentas dari kemiskinan
Sunaryati
Semoga langkahmu dilancarkan dan menemukan orang baik yang bisa membawa kesuksesan hidupmu dunia akherat, Nak Miranda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!