NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Pelakor jahat / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Langkah Pergi yang Menyelamatkanku

Alya berdiri di tepi jalan dengan koper kecil di samping kakinya. Angin sore mengibaskan ujung jilbabnya, seolah ikut merasakan kegamangan yang masih berputar di dadanya. Ia baru saja keluar dari rumah yang dulu ia sebut “rumah tangga”, namun tak pernah benar-benar menjadi rumah.

Langkahnya terasa ringan sekaligus berat. Ringan karena beban hinaan telah ia tinggalkan. Berat karena masa depan kini terbentang tanpa kepastian.

Ia menengadah ke langit yang mulai memerah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alya menarik napas panjang tanpa rasa takut dimarahi. Tidak ada suara bentakan. Tidak ada perintah. Tidak ada tatapan merendahkan. Hanya dirinya sendiri—lelah, terluka, tapi bebas.

“Aku akan baik-baik saja,” bisiknya lirih, seolah sedang meyakinkan hatinya sendiri.

Alya menumpang bus kecil menuju kota sebelah. Ia tidak punya banyak uang. Hanya tabungan kecil yang selama ini ia sisihkan diam-diam dari uang belanja. Uang yang sering ia kumpulkan sambil menahan lapar, demi berjaga-jaga jika suatu hari ia benar-benar harus pergi. Dan hari itu akhirnya datang.

Bus melaju perlahan. Di balik kaca, pemandangan rumah-rumah dan pepohonan berlari menjauh, sama seperti masa lalu yang tak ingin lagi ia genggam.

Di dalam bus, Alya duduk menunduk. Pikirannya kembali pada satu pertanyaan yang terus mengusiknya sejak tadi: Apa aku salah memilih pergi?

Namun bayangan wajah Bu Ratna yang penuh hinaan, suara Siska yang tajam, dan tatapan dingin Arga segera menjawab keraguannya. Tidak. Pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Alya turun di terminal kecil. Ia melangkah menuju mushola terdekat, menunaikan salat dengan air mata yang jatuh tanpa bisa ditahan. Dalam sujudnya, Alya memohon satu hal.

“Ya Allah, aku tidak minta kaya. Aku hanya ingin dihargai sebagai manusia.”

Doa itu sederhana, namun keluar dari hati yang remuk.

Beberapa hari berikutnya, Alya tinggal di rumah kontrakan kecil milik seorang wanita paruh baya bernama Bu Sari. Wanita itu ramah, tidak banyak bertanya, dan memperlakukan Alya dengan hangat—sesuatu yang hampir membuat Alya menangis setiap kali menerima senyum tulus darinya.

“Kamu istirahat dulu saja, Nak. Wajahmu capek sekali,” kata Bu Sari suatu sore.

Kalimat sederhana itu menusuk hati Alya. Baru sekarang ada orang yang menyadari kelelahan yang selama ini ia sembunyikan.

Untuk bertahan hidup, Alya mulai mencari pekerjaan. Ia tidak gengsi. Selama halal dan layak, ia siap bekerja. Ia melamar ke beberapa tempat—toko kecil, butik, hingga kantor jasa. Banyak yang menolaknya dengan alasan pengalaman. Namun Alya tak menyerah.

Hingga suatu hari, ia diterima bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan besar milik seorang pengusaha ternama: Sultan Rahman.

Nama itu tak asing. Semua orang mengenalnya sebagai pengusaha sukses, dermawan, namun dikenal dingin dan berwibawa. Alya tak pernah menyangka akan bekerja di perusahaan sebesar itu.

Hari pertama kerja, Alya datang lebih awal. Ia mengenakan pakaian sederhana, rambutnya rapi, dan wajahnya terlihat tenang meski hatinya berdebar. Ia bekerja dengan tekun, teliti, dan tidak banyak bicara. Kebiasaan bekerja keras selama menjadi “pembantu tak bergaji” di rumah mertuanya ternyata membuatnya sangat cekatan.

Tanpa Alya sadari, seseorang memperhatikannya dari balik kaca ruang direktur.

Sultan Rahman berdiri dengan tangan di saku jasnya. Tatapannya tajam, namun tertahan lama pada satu sosok perempuan yang sedang membereskan dokumen dengan wajah serius.

“Siapa dia?” tanya Sultan Rahman pada asistennya.

“Pegawai baru, Pak. Namanya Alya.”

Sultan Rahman mengangguk pelan. Ada sesuatu pada perempuan itu. Bukan kecantikannya semata, melainkan ketenangan dalam luka yang tak terucap.

Hari-hari berlalu. Alya semakin menunjukkan kemampuannya. Ia tidak hanya bekerja, tapi bekerja dengan hati. Ia tidak menjilat atasan, tidak pula malas. Sikapnya sopan, tutur katanya lembut, namun pendiriannya kuat.

Untuk pertama kalinya sejak menikah dulu, Alya merasa dihargai. Tidak sebagai istri. Tidak sebagai pembantu. Tapi sebagai perempuan yang memiliki kemampuan.

Suatu sore, Sultan Rahman memanggil Alya ke ruangannya.

“Duduk,” katanya singkat.

Alya menelan ludah, lalu duduk dengan sopan. Jantungnya berdegup kencang.

“Saya memperhatikan kinerjamu,” lanjut Sultan Rahman. “Kamu berbeda.”

Alya terdiam. Tak terbiasa menerima pujian.

“Terima kasih, Pak. Saya hanya berusaha bekerja sebaik mungkin,” jawabnya jujur.

Sultan Rahman menatapnya sejenak, lalu berkata, “Teruskan. Orang seperti kamu pantas berada di tempat yang lebih baik.”

Kalimat itu sederhana, namun membuat dada Alya terasa hangat. Ia keluar dari ruangan itu dengan mata berkaca-kaca. Bukan karena sedih, melainkan karena akhirnya ada seseorang yang melihatnya—bukan sebagai beban, bukan sebagai pembantu, melainkan sebagai manusia utuh.

Di malam hari, Alya menatap pantulan dirinya di cermin kamar kontrakan. Perempuan di sana masih memiliki bekas luka, namun matanya mulai menyimpan cahaya.

“Aku tidak salah pergi,” katanya pelan.

Ia belum tahu bahwa pertemuannya dengan Sultan Rahman bukan sekadar kebetulan. Takdir sedang menata ulang hidupnya. Dari perempuan yang dulu diinjak harga dirinya, Alya perlahan akan bangkit—menuju jalan yang tak pernah ia impikan sebelumnya.

Dan mereka yang dulu merendahkannya… suatu hari akan menyaksikan betapa tinggi Allah mengangkat derajat perempuan yang bersabar dan berani memilih pergi. Alya menyadari pertemuannya dengan Sultan Rahman adalah petunjuk dari Tuhan untuk kebahagiaannya. Laki-laki yang begitu menghargainya, begitu meragukannya beda dengan mantan suaminya yang dulu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!