NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi

Sistem Penakluk Para Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Playboy
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

“Selama kamu menuliskan nama itu pada ruang kosong di halaman pertama Cermin Pusaka Dewa, maka cermin tersebut dapat menyerap Energi Iman yang diperoleh oleh identitas keduamu,” jawab Roh Buku.

Zhang Yuze mengangguk perlahan. Memang ada satu ruang kosong di halaman pertama Cermin Pusaka Dewa. Dalam benaknya, sosok identitas keduanya akan bergerak di balik kegelapan, beraksi sebagai dewa yang tersembunyi dari dunia. Nama itu pun muncul dengan jelas di pikirannya.

"Iblis Hitam"

Saat dua karakter itu dituliskan, cahaya keemasan memancar dari Cermin Pusaka Dewa. Huruf-huruf tersebut bersinar merah terang sejenak, lalu perlahan menyatu dan menghilang ke dalam permukaan cermin

Pada saat itu, Zhang Yuze merasakan sesuatu yang baru mulai berdenyut di dalam takdirnya—sebuah jalan gelap yang penuh peluang, sekaligus penuh bahaya.

Zhang Yuze menyadari bahwa kini ia memiliki satu sumber Energi Iman tambahan. Ketika kemampuannya kelak semakin matang, ia harus lebih sering turun tangan ke luar—“mengambil” dari mereka yang memiliki pengaruh besar.

Ia melangkah ke ruang tamu, menyeduh secangkir teh, lalu menoleh ke sekeliling. Rumah tampak lengang; kedua orang tuanya belum pulang. Setelah menyesap teh, bayangan wanita yang baru saja ditemuinya tiba-tiba terlintas di benaknya—wajah yang halus, postur tubuh yang anggun, serta aura bermartabat dan mewah yang memancar dari dirinya. Entah mengapa, ingatan itu membuat napas Zhang Yuze terasa sedikit tertahan.

“Entah peringkat kecantikannya apa,” gumamnya dalam hati. “Paling tidak… B.”

Lamunannya terputus oleh bunyi ketukan di pintu. Mengira orang tuanya telah kembali, Zhang Yuze bergegas membukanya. Namun begitu pintu terbuka, ia tertegun.

Di hadapannya berdiri seorang wanita muda berparas cantik, berambut sebahu dengan potongan rapi, kira-kira berusia dua puluh satu atau dua puluh dua tahun. Wajahnya cerah dan lembut, kulitnya bersih, dan sepasang matanya berkilau jernih—kesan segar seorang lulusan perguruan tinggi yang baru menapaki dunia kerja.

“Ehm… Anda sedang mencari siapa?” tanya Zhang Yuze, senyum spontan mengembang di wajahnya.

“A-aku tetangga di seberang. Bolehkah aku minta tolong?” ucap gadis itu agak ragu, menatap Zhang Yuze dengan sopan.

Suara yang lembut, pikir Zhang Yuze.

“Tentu,” jawabnya cepat. Ia membuka pintu besi dan mempersilakan gadis itu masuk, bahkan sebelum sempat menanyakan bantuan apa yang dibutuhkan. Baru setelah kata-kata itu meluncur, ia sedikit menyesal—bagaimana jika permintaannya di luar kemampuannya?

“Lampu neon di kamarku rusak. Aku tidak tahu cara memasangnya,” jelas gadis itu pelan. Matanya yang jernih menatap Zhang Yuze, pipinya memerah samar, tampak sungkan.

Mendengar itu, Zhang Yuze menghela napas lega. Meski sedikit merepotkan, ia pernah beberapa kali mengutak-atik lampu neon. Seharusnya masih bisa ditangani. Ia segera mengangguk setuju.

Wajah gadis itu langsung berseri, senyum lega menghiasi rautnya.

Barulah Zhang Yuze sempat memperhatikannya lebih saksama. Tingginya sekitar satu meter enam puluh senti; dengan sandal bertumit yang dikenakannya, siluet tubuhnya tampak ramping dan menjulang. Ia berpakaian sederhana—atasan putih yang kasual dan rok putih selutut—menampilkan kesan bersih dan rapi. Keseluruhan penampilannya memancarkan daya tarik yang alami.

Mereka berjalan menuju unit di seberang lorong. Zhang Yuze teringat bahwa tempat itu dahulu dihuni keluarga Nenek Liu. Setelah pindah ke Xiamen, unit tersebut tampaknya disewakan. Gadis ini pasti penyewa baru.

Begitu masuk, ia melihat dua wanita lain sedang menonton televisi di ruang tamu—jelas rekan satu tempat tinggal. Zhang Yuze melirik sekilas, lalu menahan perasaan hambar. Keduanya tampak biasa saja; tak sebanding dengan gadis yang berdiri di sampingnya. Ia diam-diam merasa beruntung. Andai gadis ini tidak datang mencarinya, mungkin kesempatan berkenalan itu akan berlalu begitu saja.

Gadis itu membawanya ke kamar dan menunjuk ke sebuah lampu neon di bagian dalam langit-langit. “Dik, yang ini. Sudah dua hari tidak menyala, mungkin putus. Aku sudah membeli penggantinya, tapi tidak tahu cara memasangnya. Jadi, merepotkanmu.”

“Tenang saja, Kak. Serahkan padaku. Ini perkara kecil,” jawab Zhang Yuze. Saat ia berdiri cukup dekat, aroma segar dari rambut gadis itu—seperti baru dicuci—tercium lembut. Entah mengapa, tubuhnya terasa sedikit hangat.

“Baik. Aku ambilkan tabungnya,” ujar gadis itu. Ia melepas sandalnya, naik ke atas kursi, lalu meraih tabung lampu yang diletakkan di atas lemari.

Gerakannya sederhana dan spontan. Namun karena sudut ruangan yang sempit, posisi itu sempat membuatnya kehilangan keseimbangan sejenak. Zhang Yuze refleks mengalihkan pandangan, berdeham pelan, lalu melangkah maju untuk membantu—menjaga jarak dengan sopan agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan aman.

Di kamar kecil itu, cahaya sore merambat perlahan, menyertai awal perkenalan yang tak terduga—sebuah momen sederhana yang kelak mungkin akan bergaung panjang dalam perjalanan hidup Zhang Yuze.

Gelombang darah seakan menghantam kepala Zhang Yuze ketika sepasang kaki jenjang bak giok—putih, ramping, dan memesona—serta pemandangan samar di balik rok itu tersaji tepat di hadapannya. Dari betis bulat yang mulus tanpa cela, pandangannya tak kuasa menahan diri untuk terus merambat ke atas. Namun ketika mencapai pangkal paha, tubuh sang nona terus bergerak mengikuti ayunan tangannya yang sedang membongkar tabung lampu. Akibatnya, ujung rok itu membuka dan menutup secara bergantian, memutus dan menyambung pandangan Zhang Yuze, seolah sengaja mempermainkannya. Meski demikian, justru ketidaksempurnaan itulah yang membuat darahnya kian mendidih.

Jantungnya berdegup lebih cepat. Napasnya terasa menghangat. Tanpa ia sadari, bagian tertentu dari tubuhnya—yang selama ini “orisinil pabrik”—kembali mendirikan tenda, membuatnya sendiri terkejut sekaligus gelisah. Sejenak ia mengumpat dalam hati. Ternyata terlalu sering menonton film dewasa sama sekali bukan kebiasaan yang baik; daya tahannya terhadap rangsangan menjadi menyedihkan. Sekadar pemandangan seperti ini saja sudah membuatnya kehilangan kendali. Dan yang lebih memalukan, kali ini ia sedang berada di dunia nyata—bukan layar datar yang bisa ia matikan kapan saja.

Namun, di situlah letak “keindahan” mengintip: kilasan musim semi yang menggoda, setengah tersembunyi, jauh lebih merangsang ketimbang keterbukaan yang vulgar. Imajinasi justru bekerja lebih liar saat pandangan hanya diberi serpihan.

Zhang Yuze mendadak merasa sangat canggung. Tenda di bawah sana terlalu kentara. Ia cepat-cepat menekannya dengan tangan, takut ketahuan—sebuah skenario memalukan yang sama sekali tak ingin ia alami. Sayangnya, keadaan tidak berpihak padanya. Ia berusaha menenangkan diri, tetapi rangsangan yang terlampau kuat membuatnya sulit segera mereda. Pengalaman langsung, nyata, dan hidup jelas jauh lebih mematikan dibanding sekadar tontonan. Hal ini sama sekali tak ia perhitungkan sebelumnya.

Tak lama kemudian, sang nona menurunkan tabung lampu, mengakhiri “jamuan visual” Zhang Yuze. Ia diam-diam mengembuskan napas lega, meski di lubuk hati yang paling dalam, terselip rasa kecewa yang tak bisa ia pungkiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!